NovelToon NovelToon
Dibalik Tatapan Profesor

Dibalik Tatapan Profesor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Alena datang ke London untuk mengejar gelar dan masa depan baru di Kingston University. Ia berniat fokus belajar, menjauh dari drama, dan menata hidupnya kembali.

Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Dr. Adrian Vale—dosen muda yang terkenal dingin, pendiam, dan nyaris mustahil didekati.

Di depan semua orang, Adrian adalah pria profesional dengan kendali sempurna. Tetapi di balik tatapan tajam dan sikap tenangnya, tersimpan hasrat gelap yang perlahan hanya muncul saat bersama Alena.

Dimulai dari pertemuan-pertemuan singkat, diskusi malam yang terlalu lama, hingga ciuman terlarang di tempat yang tak seharusnya—hubungan mereka tumbuh menjadi rahasia yang berbahaya.

Semakin dekat, semakin sulit berhenti.

Di antara aturan kampus, reputasi yang dipertaruhkan, dan perasaan yang makin dalam, Alena harus memilih:

Menjaga masa depannya...

atau menyerah pada pria yang mampu membuatnya kehilangan kendali hanya dengan satu tatapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hampir Ketahuan

BAB 23- Hampir Ketahuan

Malam itu, gedung fakultas sudah sepi. Lampu-lampu koridor sebagian besar sudah dimatikan, hanya menyisakan cahaya redup dari lampu darurat yang berwarna kuning kehijauan. Suasana hening, hanya terdengar suara langkah kaki mereka sendiri dan desiran angin malam yang masuk lewat celah jendela.

Alena dan Adrian berada di dalam ruang kerja pribadi Adrian. Pintu sudah dikunci dari dalam, tirai ditutup rapat.

Mereka seharusnya hanya membahas tugas akhir yang menumpuk. Tapi seperti biasa, di saat tidak ada orang melihat, batas antara dosen dan mahasiswi itu mudah sekali kabur.

"Nah, bagian ini harus direvisi lagi penjelasannya," ucap Adrian sambil menunjuk layar laptop di mejanya. Dia berdiri tepat di belakang Alena yang duduk di kursi kantor besar itu.

Tapi tangan pria itu tidak hanya menunjuk layar. Lengan kanannya melingkar di pinggang Alena, menarik tubuh gadis itu agar bersandar nyaman ke dadanya. Sedangkan tangan kirinya bebas bermain-main, jari-jarinya mengelus lembut lengan dan bahu Alena.

"Iya, Pak..." jawab Alena manja, kepalanya bersandar nyaman di dada bidang itu, menikmati hangatnya pelukan di tengah dinginnya malam. "Susah sih bahasanya, bingung mau gimana."

Adrian tersenyum kecil, lalu menunduk mengecup puncak kepala gadis itu. "Nanti aku bantu. Asal kau mau dengerin aku."

"Mauuu... asal Bapak janji jangan galak."

"Aku kan cuma galak di depan kelas. Sama kau kan aku lembut banget..." bisik Adrian menggoda, lalu bibirnya turun mencari leher putih mulus gadis itu.

"Mmm..." Alena mendesah pelan saat bibir hangat itu mulai bekerja, mencium, menghisap lembut, dan bermain-main dengan indra penciuman dan perasaannya. "Adrian... jangan... nanti ketahuan..."

"Sudah jam sembilan malam, Sayang. Gedung ini sudah kosong melompong. Tidak ada siapa-siapa..." gumam Adrian tak peduli, tangannya mulai berani meremas pinggang ramping itu, membuat Alena semakin mendekap padanya.

Suasana semakin hangat, semakin intim, dan mereka berdua mulai larut dalam kehangatan itu, lupa pada segalanya.

 

⚠️ Bahaya Mengintai

Tapi mereka lupa satu hal. Di gedung sebesar ini, mereka tidak pernah benar-benar sendirian.

Di luar koridor, terdengar suara langkah kaki dan suara obrolan dua orang yang semakin mendekat. Itu Pak Herman, staf keamanan yang sedang berkeliling mengecek setiap ruangan sebelum mengunci pintu utama.

"Ruangan Dr. Vale belum dicek, Pak. Lampunya masih nyala kayaknya," suara seorang asisten terdengar jelas.

"Oh iya, cek dulu. Siapa tahu dia lupa matikan komputer atau ada barang tertinggal."

Langkah kaki itu semakin dekat. Tok... tok... tok... Suara sepatu karet di lantai keramik terdengar nyaring di keheningan malam.

Jantung Alena seakan berhenti berdetak!

"Ahhh!!" Alena tersentak kaget, langsung mendorong pelan dada Adrian. "Adrian! Ada orang! Ada orang datang!"

Wajah Adrian yang tadi santai dan penuh gairah seketika berubah serius total dalam sepersekian detik. Dia mendengarkan sejenak, dan benar saja, suara langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu ruangannya!

TOK! TOK! TOK!

Pintu diketuk dari luar!

"Dr. Vale? Dr. Vale masih di dalam, Pak?!" teriak Pak Herman dari balik pintu.

Darah Alena seakan berhenti mengalir. Tubuhnya lemas, kakinya gemetar hebat. Matanya membelalak menatap Adrian panik setengah mati.

"Gimana ini?! Gimana ini?!" bisik Alena nyaris tak bersuara, tangannya mencengkeram lengan Adrian kuat-kuat. "Kita ketahuan! Kita habis!"

Adrian tidak panik. Walaupun jantungnya juga berdegup kencang, tapi pengalamannya membuatnya tetap bisa berpikir jernih.

Dia cepat-cepat melepaskan pelukannya, lalu dengan gerakan sigap dia mengambil jas yang tergantung, dan melemparkannya ke bahu Alena untuk menutupi baju gadis itu yang agak terbuka dan berantakan.

"Diam dan tenang! Biar aku yang handle!" bisik Adrian cepat dan tegas, lalu dia berjalan mundur mengambil posisi duduk di kursi besarnya, seolah-olah dia memang sedang bekerja serius sendirian.

"Sebentar!" teriak Adrian dari dalam, suaranya dibuat terdengar santai dan berat seperti biasa.

 

🛑️ Detik-Detik yang Mencekam

KLIK.

Pintu dibuka sedikit oleh Adrian, hanya cukup untuk menampakkan wajahnya dan separuh badannya saja. Dia sengaja menghalangi pandangan ke dalam ruangan dengan tubuh tingginya.

"Oh, Pak Herman. Masih belum pulang?" sapa Adrian ramah, wajahnya datar dan profesional total. Tidak ada keringat dingin, tidak ada gugup.

Pak Herman tersenyum sopan. "Iya, Pak Dokter, lagi keliling mau kunci pintu utama. Tadi lihat lampu sini masih nyala, jadi saya kira Bapak masih di dalam. Maaf mengganggu."

"Tidak apa-apa. Saya memang lagi kejar target revisi jurnal, jadi agak malam sedikit," jawab Adrian santai, tangannya bersedekap di dada. "Ada apa?"

"Enggak apa-apa kok, Pak. Cuma mau pastiin saja. Oh iya... tadi dari luar kedengaran suara ada orang bicara dan... tertawa gitu, Pak. Saya kira Bapak ada tamu atau ada rekan kerja lain di dalam?" tanya Pak Herman penasaran, matanya mencoba mengintip ke celah pintu.

Jantung Alena di dalam sana rasanya mau meledak! Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan napas sampai dadanya sesak.

Tuhan... tolong kami... batinnya berdoa panik.

Adrian tersenyum tipis, sangat tenang. "Oh itu... itu suara radio atau TV dari lantai bawah mungkin. Atau angin kencang tadi meniup jendela. Di dalam sini cuma ada saya sendiri kok, Pak. Sepi sekali."

"Oh... begitu ya," Pak Herman garuk-garuk kepala. "Maaf ya Pak Dokter, saya kira ada orang. Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu. Bapak hati-hati di jalan nanti pulangnya."

"Siap, terima kasih Pak Herman. Selamat malam."

TUT.

Pintu ditutup kembali dan dikunci rapat-rapat!

Hening.

Hanya terdengar suara napas memburu mereka berdua di dalam ruangan yang gelap itu.

Adrian bersandar di pintu, menutup matanya kuat-kuat, menghela napas panjang sekali seolah baru saja melewati kematian.

Di sudut ruangan, Alena sudah duduk lemas di lantai, wajahnya pucat pasi, air mata ketakutan mulai menetes. Jantungnya berdegup kencang sekali, dum dum dum... rasanya sakit sekali di dada.

 

🥶 Dingin dan Menakutkan

Beberapa menit kemudian, setelah memastikan suara langkah kaki Pak Herman sudah benar-benar hilang dan gedung itu sunyi senyap, baru Adrian bergerak.

Dia berjalan mendekati Alena yang masih duduk di lantai dengan wajah ketakutan.

"Len... kau tidak apa-apa?" tanya Adrian pelan, suaranya terdengar berat dan serius.

Alena mengangkat wajahnya, matanya merah. "Aku... aku takut sekali, Adrian... Kita hampir mati. Kalau dia masuk... habis sudah hidupku. Habis sudah reputasimu."

Adrian berjongkok di hadapan gadis itu, lalu menariknya masuk ke dalam pelukan erat. Dia memeluk Alena sangat kuat, seolah ingin memastikan gadis itu tidak kemana-mana dan aman.

"Iya... kita hampir ketahuan. Maafkan aku. Maaf aku terlalu nekat membawa kau ke sini," bisik Adrian di telinga gadis itu, suaranya bergetar sedikit menahan rasa bersalah dan rasa takut yang baru saja dia rasakan.

Rasa takut kehilangan Alena, rasa takut menghancurkan masa depan gadis itu, dan rasa takut segalanya berakhir buruk.

Mereka diam berpelukan lama di lantai dingin itu, menikmati rasa lega yang luar biasa setelah melewati momen paling menakutkan dalam hubungan rahasia mereka.

 

⚠️ Peringatan Keras

Setelah emosi sedikit mereda, Adrian melepaskan pelukannya. Dia menatap wajah Alena lekat-lekat. Wajahnya kembali menampakkan ekspresi serius dan tegas yang jarang terlihat.

Dia mengangkat dagu Alena agar gadis itu menatap matanya.

"Dengar aku, Alena," ucap Adrian pelan namun penuh penekanan. "Kejadian tadi... itu adalah peringatan terbesar buat kita."

Alena mengangguk pelan, masih terlihat syok.

"Aku tahu kita saling mencinta. Aku tahu kita rindu dan ingin selalu bersama. Tapi kita tidak bisa terus-terusan bermain-main dengan bahaya seperti ini. Risikonya terlalu besar. Harganya terlalu mahal."

Adrian menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang terasa pening.

"Kita ini seperti dua orang yang membawa korek api di tengah ladang jerami kering. Sedikit saja ceroboh, sedikit saja kita lengah... semuanya akan terbakar habis. Kita berdua, karier kita, nama baik kita... semua akan hancur lebur dalam sekejap."

Wajah Adrian tampak sangat lelah dan khawatir. Dia menggenggam kedua tangan Alena dengan lembut namun tegas.

Dengan suara rendah yang terdengar sangat serius dan dingin, dia mengucapkan kalimat itu.

"Kita bermain terlalu dekat dengan api..."

"Dan kali ini kita selamat. Tapi lain kali... aku tidak yakin keberuntungan akan selalu ada di pihak kita."

1
jeakawa loving❤️
masih coba untuk membaca walau agak loncat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!