Di dunia pro-scene FPS yang kejam, satu peluru bisa menentukan segalanya.
Reno, seorang remaja yang bekerja di warnet kumuh, hanya dikenal sebagai "hantu" di server publik. Tanpa tim, tanpa perlengkapan mewah, ia mendominasi setiap pertandingan dengan satu ciri khas: satu tembakan, satu nyawa melayang. Kemampuannya yang tidak masuk akal membuat banyak orang menuduhnya menggunakan cheat.
Namun, nasib Reno berubah saat sebuah tim e-sport yang sedang di ambang kehancuran menemukannya secara tidak sengaja. Di tengah keraguan rekan setim yang tidak mempercayainya dan rival-rival besar yang siap menjatuhkannya, Reno harus membuktikan bahwa [aim] miliknya adalah murni bakat dewa.
Dari turnamen antar-warnet yang penuh asap hingga panggung megah kejuaraan dunia, Reno akan menunjukkan bahwa untuk menjadi yang terbaik, kamu tidak butuh peluru kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ab Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Mahkota yang Runtuh
Ketegangan di arena Suntec Singapura sudah mencapai titik didih. Skor 2-0 untuk Black Viper membuat tim Stars and Stripes berada di ujung tanduk. Di kursi pemain lawan, Apex tidak lagi membanting peralatan; ia terdiam dengan tatapan kosong, mencoba memproses bagaimana seorang pendatang baru bisa membaca setiap gerakannya.
"Ronde terakhir. Jangan beri mereka ruang bernapas sedikit pun," perintah Reno kepada rekan-rekannya. "Mereka akan bermain seperti orang yang tidak punya apa-apa lagi untuk rugi. Waspadai serangan nekat."
Peta berpindah ke *Neon District*, sebuah area perkotaan futuristik yang penuh dengan gang-gang sempit dan gedung pencakar langit. Ini adalah peta favorit Apex. Di sini, pergerakan vertikal adalah kunci, dan Apex adalah rajanya dalam hal mobilitas.
"Reno, mereka semua bergerak ke atas gedung utama!" lapor Marco saat melihat bayangan tim lawan melalui celah jendela.
"Biarkan mereka mengambil ketinggian," sahut Reno sambil mengisi ulang amunisi senjatanya. "Kita akan memancing mereka turun ke tanah. Bimo, pasang jebakan gravitasi di pintu keluar darurat."
Apex benar-benar bermain gila. Ia melompat dari atap gedung setinggi tiga puluh meter, menggunakan fitur stabilisator udara untuk mendarat tepat di belakang barisan Black Viper. Tembakannya sangat membabi buta, menjatuhkan Leo dan Bimo dalam satu sapuan serangan balik yang sangat emosional.
"Tiga lawan satu! Phantom sendirian lagi!" teriak komentator dengan suara parau. "Apakah Apex akan melakukan *comeback* yang mustahil hari ini?"
Apex tertawa di saluran suaranya. "Ini wilayahku, Phantom! Di kota ini, tidak ada tempat untuk bersembunyi bagi tikus warnet seperti kalian!"
Reno tidak lari. Ia justru berdiri di tengah persimpangan jalan yang terang benderang oleh lampu neon. Ia mematikan semua fitur bantuan di monitornya, termasuk petunjuk arah peluru. Ia ingin mengandalkan insting murninya, hasil dari ribuan jam yang ia habiskan di depan layar komputer di Jakarta.
Dua rekan tim Apex menyerbu dari depan. Reno bergerak sangat halus, seolah-olah ia sudah tahu ke mana peluru lawan akan melesat sebelum lawan menarik pelatuknya.
*Klik.*
Satu eliminasi.
*Klik.*
Dua eliminasi.
Reno melakukan *reloading* dengan sangat tenang di tengah desingan peluru. Kini, hanya tersisa Apex yang berdiri di atas atap sebuah mobil yang hancur.
"Cukup!" teriak Apex. Ia melepaskan semua granatnya sekaligus, menciptakan ledakan cahaya dan suara yang mengacaukan seluruh sensor arena. Di tengah kekacauan itu, Apex melesat maju dengan senjata paling mematikannya, membidik langsung ke arah kepala Reno.
Dunia seolah bergerak dalam gerak lambat bagi Reno. Ia bisa melihat butiran peluh Apex yang menetes di layar kamera pemain. Reno tidak membidik Apex. Ia membidik seutas kabel listrik yang menggantung di atas kepala Apex.
Satu tembakan dilepaskan. Kabel itu putus, jatuh menghantam genangan air di bawah kaki Apex, menciptakan efek *stun* singkat yang menghentikan gerakan sang juara dunia itu selama satu detik.
Satu detik sudah lebih dari cukup bagi "One Tap God".
*Klik.*
Layar raksasa di arena berubah menjadi warna emas dengan tulisan besar: *VICTORY - BLACK VIPER*.
Keheningan melanda sejenak, sebelum akhirnya seluruh penonton di Singapura berdiri dan memberikan tepuk tangan yang mengguncang gedung. Apex duduk terpaku, menatap layarnya yang berwarna abu-abu. Mahkotanya telah runtuh. Sang penguasa lama telah digantikan oleh seorang pemuda yang hanya bermodal keberanian dan ketenangan dari sebuah warnet sederhana.
Reno melepas *headset*-nya. Ia berdiri dan berjalan ke arah Apex yang masih syok. Bukannya mengejek, Reno justru mengulurkan tangannya untuk jabat tangan.
"Pertandingan yang bagus," ucap Reno dengan suara rendah namun penuh rasa hormat. "Tapi di dunia ini, tidak ada takhta yang abadi. Kamu hanya lupa caranya belajar, Apex."
Apex menatap tangan Reno, lalu perlahan menjabatnya. Ia tahu, hari ini ia tidak hanya kalah dalam permainan, tapi ia kalah dalam hal mentalitas.
Di tengah sorotan lampu juara, Reno menengadah ke arah langit-langit arena. Total katanya kini telah melonjak jauh melewati angka 12.000. Perjalanannya menuju puncak dunia baru saja melewati satu gerbang besar, dan ia tahu, di Singapura ini, namanya sudah terukir sebagai legenda baru yang tidak akan pernah dilupakan.