(Sequel terpisah Bukan Salah Jodoh)
Belum direvisi ⚠️
⚔️⚔️
Bagaimana jadinya, jika seorang mantan agen rahasia FBI, Jubir juga lawyer menjadi seorang singel parent untuk seorang bayi tampan tanpa identitas?
Inilah yang dialami dua pria muda tampan, Galaksi Renand Pradipta dan Gemintang Reynando Padipta.
Ketika memilih lepas dari dunia hitam yang membesarkan namanya, Black Brother ini harus kembali terjerat tanpa terikat. Bocah tampan ditinggalkan tergeletak begitu saja
Didepan rumahnya. Bagaimana kiranya, duo Pradipta ini akan menghadapi pase baru dalam hidup mereka. Menjadi singel parents tanpa
pernah mengalami yang namanya menikah terlebih dahulu.
⚔️⚔️
Baca Cerita Author yang lain juga :
1. Bukan Salah Khitbah (End)
2. Bukan Salah Jodoh (End)
4. Bukan Cinta Terencana (on going)
3. Bukan Dijodohkan ( on going)
5. Mistress (End)
6. Target Rasa Sang Cassanova (On going)
Follow IG Author juga @Karisma022 atau username Author @kaka shan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka Shan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29.Tentang Hati
29-Tentang Hati
"Tingkatan tertinggi dalam mencintai adalah ikhlas."-jalaluddin Rumi
****
Semilir angin pagi,menyambut rombongan yang akan kembali kenegara tempat mereka tinggal. Walaupun terasa sedikit enggan untuk kembali meninggalkan tanah air,mereka tidak bisa berbuat apa apa. Banyak tuntunan pekerjaan yang menumpuk,menunggu sentuhan tangan dan kecerdasan mereka di negeri eropa sana.
Dengan santai,dua pria tampan itu melenggang memasuki area bandara Soetta. Tempat yang pagi ini cukup ramai lancar,antara kedatangan dan keberangkatan. Mereka sudah meninggalkan pulau Dewata semenjak kemarin. Selesai mengepack pakaian dan barang barang yang mereka bawa,ketiganya langsung flight kembali ke Jakarta untuk kembali melanjutkan perjalanan ke London,Inggris.
"Flightnya jam berapa bang?"
"Sekitar pukul sepuluh waktu Indonesia Barat."
"Owh. Berarti bunda jadi nganter kita bang?"
"Hm"
"Sama bang Van'ar juga?"
"Iya"
Deg
Arini mencoba mengalihkan fokusnya sejenak. Sambil mengendong si kecil,wanita cantik berusia 23 tahun yang akan genap menginjak usia 24 tahun itu tersentak kecil tadi. Saat nama seseorang yang dulu begitu berkesan dihatinya kembali terngiang-ngiang dikepalanya.
"Hm,tuan. Apa nanti saya perlu bersembunyi?" Tanyanya.
"Bersembunyi?" Bingung kedua Pradipta bersaudara tersebut.
"Untuk apa?"
"Nyonya Kia,dan yang lainya akan datang. Jadi saya harus menyembunyikan diri."
"Tidak perlu"
"Tapi tuan-"
"Kita sudah menceritakan semuanya sama bunda." Ujar Gemintang mengimbuhkan.
"M-maksud tuan?"
"Iya. Tentang Astronot,dan kamu."
Deg
Arini hampir saja terhuyung kebelakang saking terkejutnya. Apa benar identitasnya sebagai ibu tanpa suami telah diketahui banyak orang?
Dia ibu surogasi-ibu penganti yang memang di Indonesia sendiri awam akan hal tersebut. Hukum dinegara ini tentu melarang praktik ibu pengganti,karena ada beberapa peraturan dan kaidah yang memang melarang praktik tersebut. Berbeda dengan aturan dinegara negara eropa sana,yang memang sebagian diantaranya memperbolehkan adanya praktik ibu pengganti.
"Mm,sebaiknya saya bersembunyi tuan. Biarkan saya pergi terlebih dahulu,tuan bisa menemui nyonya Kia dan yang lainya disini."
"Tidak perlu. Kamu bisa tetap berada disini." Ujar Galaksi menolak.
"Tapi tuan,saya-"
"Apa yang kamu khawatirkan tidak akan terjadi Arini. Semuanya sudah mengetahuinya dengan jelas."
Arini hanya takut,ia takut jika semua orang dalam keluarga itu semakin jijik dan benci kepadanya. Dia hanya tidak mau,orang yang sempat menjadi pelabuhan hatinya selama bertahun tahun juga menatapnya penuh jijik seperti puluhan tahun silam. Terlebih lagi,dia tidak mau merasakan sesak didadanya saat pria itu memperlihatkan kebahagianya dengan keluarga kecilnya yang bahagia.
Walaupun sudah memantapkan hati selama hampir lima tahun lamanya. Tetap saja,kisah kasih bertepuk sebelah tangan dimasalalu selalu membuatnya sakit juga sesak saat mengingatnya kembali.
Dia mencintai pria itu,pria tampan yang juga rupawan. Pria yang secara bibit,bebet,dan bobotnya menjadi incaran banyak kaum hawa. Pria tampan sang abdi negara yang memiliki kesetiaan tinggi terhadap profesi dan cintanya tentu saja. Pria tampan yang telah memiliki bidadari surganya sendiri,walaupun ada perbedaan usia yang membentang jauh diantara mereka. Tetapi tetap saja,wanita cantik bercadar itu adalah tulang rusuk yang memang diperuntukan untuknya.
Bukan masalah belum move on nya,hanya saja Arini masih takut bertemu mereka. Dulu dirinya sempat membuat mereka kecewa dan jijik. Layaknya budak yang sudah diterima dengan baiknya,Arini malah membalasnya dengan kekecewaan yang amat mendalam dengan menjadikan putra mereka yang berharga sebagai cinta matinya. Dia seperti benar benar membuktikan perumpamaan 'air susu dibalas air tuban' itu memang benar adanya. Membuat keluarga besar tersebut kecewa setelah memberikan jasa besar kepada kehidupanya.
"Bunda?"
Deg
Tubuh wanita cantik berwajah babyface itu membatu seketika. Dirinya belum siap untuk bertemu mereka,tetapi dia juga tidak bisa menghindari mereka lagi.
"Assalamualaikum,putra putra bunda."
"Waalaikumsalam,bunda apa kabar?" Antusias Gemintang sambil menyalami sang bunda bergantian dengan sang kakak.
"Alhamdulillah,kami baik bunda. Bunda sendiri?"
"Syukur alhamdulillah,bunda sehat jadi bisa mengantar kalian." Gemintang tersenyum hangat.
Yang ditunggu tunggu olehnya akhirnya datang. Bunda dan kerabat lainya yang ikut mengantar keberangkatan mereka hari ini. Biasanya,mereka tidak diantar seperti ini saat akan kembali kekediaman mereka di New york. Tapi khusus untuk saat ini,mereka merasakan kespesialan dalam perjalanan kali ini.
"Cucu bunda yang tampan itu mana,bunda ingin melihatnya?" Gemintang mengangguk mengerti.
Arkia-wanita paruh baya itu datang bersama Van'ar dan menantunya Aurra. Salah satu alasan Kia datang mengantar adalah Astronot. Iya,setelah menceritakan tentang Astronot kala itu,Kia selalu bertanya kapan bisa bertemu dengan si kecil. Wanita paruh baya itu bahkan sempat meminta mereka untuk tinggal lebih lama di Indonesia,demi mengenal lebih dekat Astronot yang diangap sebagai cucunya sendiri.
"Itu,Astronot." Ujar Gemintang menunjuk kearah Galaksi.
"Itu Galaksi,Gemi." Intruksi pria tampan berseragam tentara angkatan darat RI tersebut.
"Hh,maksudnya dibelakang bang Galak."
Galaksi berdehem kecil,lalu menggeser posisi tubuhnya. Membiarkan sosok wanita bertubuh mungil yang bersembunyi dibelakangnya,memperlihatkan dirinya.
"Arini?" Bingung Aurra.
Wanita berhijab syar'i dengan penutup wajah itu menatap wanita dihadapanya penuh tanya. Namun,rasa penasaranya teredam oleh genggaman lembut dari sang suami ditanganya.
"Nanti mas jelasin dirumah." Aurra mengangguk sebagai jawaban.
Wanita yang berprofesi sebagai dokter itu tidak tahu akan bertemu Arini-putri mantan ART yang dulu sempat bekerja dikediaman Radityan disini. Kia-mertuanya bilang jika ingin ditemani untuk mengantar Duo Pradipta bersaudara,sembari bertemu dengan cucunya.
"Boleh bunda lihat cucu bunda?" Tañya Kia ramah,diiringi senyuman hangatnya.
Arini diam dalam keterkejutanya. Dia memeluk erat Astronot yang masih berceloteh kecil dalam gendonganya.
"Arini,bunda bertanya?" Intruksi Galaksi yang memang berdiri didekatnya.
Arini mendongrak,menatap Galaksi kebingungan. Namun,Galaksi membalas tatapanya dengan penuh keyakinan agar dia memberikan Astronot kepada Kia. Galaksi meyakinkan lewat tatapanya,jika semuanya akan baik baik saja.
"Arini,boleh bunda gendong dia sejenak?" Lagi,Kia memanggilnya dengan lembut.
Kali ini Arini mengangguk,setelah memantapkan hatinya. Bergerak dua langkah lebih maju,lalu memperlihatkan sitampan dalam gendonganya.
"Masya Allah,tampanya cucu bunda ini." Antusias Kia,sambil membelai pipi gembul Astronot.
Si kecil mulai memberi respon,manik hazel cantik yang diduplikasi dari sang ayah ikut bergulir. Menatap wajah Kia lekat,yang menurutnya begitu familiar dimatanya.
"Boleh bunda gendong?" Arini mengangguk samar.
Dia tidak tega,melihat wanita sebaik Kia ditolak begitu saja keinginanya. Lalu,dengan keyakinan penuh ia membiarkan putranya beralih tempat. Memberikan Kia waktu dan kesempatan,agar bisa bercengkrama dengan si kecil.
"Masya Allah,matanya indah sekali." Puji wanita paruh baya tersebut,sambil sesekali mengecup pipi gembul Astronot.
"Assalamualaiku,Astronot. Ini Oma Kia,bundanya Papa Galak dan Papa Gemi."
Gemintang dan Galaksi tersenyum samar. Melihat wanita yang sangat mereka sayangi begitu bahagia dan antusias ketika bertemu dengan Astronot,membuat mereka lega. Setidaknya,keputusan mereka untuk jujur sangatlah benar sejauh ini.
"Jadilah anak yang pintar dan berbakti kepada orang tua ya nak. Astronot punya Papa dan Mama yang hebat."
Arini tertegun,dari sekian banyak kemungkin buruk yang terlintas dikepalanya. Ucapan barusan telah membantah segalanya. Hatinya terenyuh,mantan nyonya besarnya ini memang memiliki hati lapang seluar samudra. Entah terbuat dari apa hati wanita paruh baya tersebut,yang jelas dia adalah sosok yang begitu baik dan berhati mulia.
"Kamu pasti kesulitan ketika mengandungnya Ari." Senyuman hangat Kia kembali tersaji.
Manik teduh wanita paruh baya itu menatap Arini hangat. Yang ditatap hanya bisa berdiri dengan kegugupan yang melingkupi. Bagaimanapun juga,dulu dia pernah mengecewakan hati wanita yang baik ini.
"Setiap ibu punya jalan ceritanya masing masing. Sepahit apapun prosesnya,ketika dia sudah dititipkan didalam rahim kita. Kita akan selalu memiliki cinta yang besar agar selalu bisa menjaga dan merawatnya." Lanjut Kia.
Karena pada dasarnya,wanita paruh baya itu juga dahulu pernah mengalami yang namanya kesulitan saat hamil putra putrinya. Terutama anak pertamanya,yang harus hadir tanpa keinginan dari sang ayah. Kia juga pernah merasakan keadaan tersulit ketika mengandung dahulu. Jadi,sebagai sesama wanita setidaknya dia bisa merasakan apa yang Arini rasakan. Walaupun kasus yang dialami Arini lebih rumit dan pelik,ketimbang apa yang pernah dialaminya.
"Kamu mamah yang hebat Arini,Astronot patut berbangga telah terlahir dari rahimmu."
Setetes air mata berhasil lolos dari manik bening Arini. Dia tidak menyangka,seseorang yang dulu telah dikecewakanya masih bisa begitu baik kepadanya.
"Jangan menangis Ari,kamu tidak bersalah. Setiap manusia itu memiliki jalan yang berbeda untuk berbuat dosa dan mencari ridho dan rahmat-Nya. Tidak ada manusia yang sempurna didunia ini,karena kesempurnaan itu hanya milik Allah."
Kia beranjak,melangkah lebih dekat kearah Arini. Dia tersenyum hangat,ketika telah berada dihadapan wanita muda yang tengah menunduk tersebut.
"Kamu punya putra yang tampan Ari. Jaga dia nak,karena dia adalah Anugrah yang telah Allah titipkan kepadamu. Dari jutaan umat yang ada didunia,hanya kamu yang Allah berikan kesempatan mulia ini."
Arini mendongrak,lalu mengangguk samar. Ia menerima Astronot yang dikembalikan kedalam pelukanya.
"Maaf..." Cicitnya kecil.
Arini tulus meminta maaf,dia belum sempat meminta maaf kepada siapapun dulu. Jadi kini,dia ingin menggunakan kesempatan ini untuk meminta maaf yang sebesar besarnya.
"Tidak perlu Ari. Bunda sudah memaafkan kamu sejak dahulu. Tersenyumlah,jangan menangis lagi. Nanti Astronot sedih melihat mamahnya menangis."
Arini mengangguk,lalu tersenyum tipis ditengah tengah derai air matanya. Dengan sigap,Arkia memeluk Arini walaupun tidak terlalu erat mengingat masih ada Astronot diantara mereka.
"Kamu wanita hebat,bunda akan senang jikalau kamu memang tulang rusuk dari salah satu putra bunda yang sangat bunda sayangi."
Deg
"Kamu dan Astronot,adalah cahaya yang menerangi hidup mereka yang gelap. Bunda bersyukur,jika memang kamu berjodoh dengan salah satunya. Restu bunda selalu menyertaimu Arini."
Setelah bisikan kalimat terakhir itu,Arkia melepaskan pelukanya. Tersenyun hangat,sambil menatap kedua putranya bergantian.
"Penerbangan kita sebentar lagi." Intruksi Galaksi.
"Ish,si abang perusak suasana." Kesal Gemintang yang sudah terbawa suasana yang mengharu biru tersebut.
"Hm,cuma mengingatkan." Ujar Galaksi datar.
"Dasar muka triplek!" Ejek Gemintang lirih.
Kia tersenyum senang melihat interaksi keduanya. Setidaknya,setelah tahu jika keduanya telah menjadi seorang Ayah,Kia menemukan perbedaan pada keduanya. Baik Galaksi maupun Gemintang,keduanya seolah-olah menemukan cahaya baru dalam hidup mereka.
"Yasudah,kalian bisa berangkat sekarang. Rasa penasaran bunda telah terbayarkan sekarang." Galaksi dan Gemintang mengangguk.
Pemberitahuan juga sudah disuarakan lewat pengeras suara jika penerbangan mereka akan segera lepas landas.
"Ayo Arini,kita harus pergi." Ajak Gemintang.
"Sebentar tuan?"
"Kamu mau kemana?" Tanya Galaksi.
Arini menatap keduanya bergantian,memita persetujuan agar mau menunggu sejenak. Melihat itu,baik Galaksi maupun Gemi akhirnya mengangguk menyetujui.
Arini lantas berjalan kearah Aurra dengan segera. Berdiri tepat dihadapan wanita berhijab syar'i yang nampak kebingungan tersebut.
"Maaf,Arini dulu pernah mencintai suami nona dengan sangat tidak wajar." Ungkap Arini.
"Maaf,Arini dulu sempat menjadikan tuan sebagai angan angan tinggi yang kiranya akan mudah tergapai."
Aurra menatap suaminya sejenak,yang langsung dibalas senyuman tipis dari sang suami. Van'ar tahu,istrinya seperti apa dan akan berbuat apa. Jadi,dirinya hanya memberi wanitanya support lewat seulas senyuman.
"Aku sudah memaafkanmu Arini." Ucap Aurra lembut.
Wanita itu meraih satu tangan Arini. Mengengamnya,lalu tersenyum tipis dari balik penutup wajahnya.
"Rasa cinta bukanlah perasaan yang kehadiranya bisa ditentukan atau dikendalikan. Wajar jika kamu mencintai pria seperti mas Van'ar,tetapi tetap saja cara kamu yang tidak benar dalam menyampaikan perasaan kamu."
"Semua itu terjadi dimasalalu,saya sudah memaafkanya sejak dulu. Lagi pula,kamu tidak seutuhnya salah dalam hal tersebut. Saya yakin jika kamu wanita baik baik."
Arini bersyukur didalam hatinya. Dia senang karena pria yang dicintainya memiliki pasangan sebaik ini. Dia bersyukur,dan akhirnya bisa melupakan cintanya dengan ikhlas setelah sekian tahun memendam rasa bersalah kepada mereka.
"Semoga kelak,kamu mendapatkan pria yang lebih baik dan bertanggungjawab. Yang bisa menuntunmu hingga ke Jannahnya Allah."
Arini mengangguk,lalu tersenyum tipis. Setelah mengatakan permintaan maafnya kepada Aurra,dia beralih kepada pria yang dulu bersemayam kuat dihatinya. Menunduk dalam,tidak berani mentapnya sedikitpun. Bibirnya seakan kelu,saat hendak berbicara kepadanya.
"Ada yang mau kamu sampaikan,Ari?"
Tak lama,pria yang berdiri dihadapanya yang angkat bicara. Dengan nada datar khas miliknya,pria tampan beranak dua itu angkat bicara.
"Bicaralah,saya mendengarkan." Ujarnya lagi,sambil mengeratkan gengaman tanganya kepada jemari milik sang istri.
"S-saya," Cicit Arini kecil.
"Saya minta maaf tuan." Ujar Arini memberanikan diri,dalam satu kali tarikan nafas.
"Saya minta maaf karena telah lancang mencintai tuan,bahkan saya sempat berbuat buruk kepada hubungan tuan dan nona."
Arini memberanikan dirinya untuk mendongrak. Untuk kali ini saja,dirinya ingin melihat lawan bicaranya itu secara jelas dari matanya sendiri. Tak dapat dipungkiri,jika jauh dilubuk hatinya yang terdalam ada jutaan ton rindu yang menumpuk dihatinya.
"Saya sudah memaafkan kamu Arini." Ujar Van'ar datar khas miliknya.
Pria tampan itu menatap istrinya sejenak,sambil berujar.
"Ķamu perempuan baik baik,saya percaya itu. Hanya saja,setiap insan itu memiliki jalanya masing masing untuk berbuat dosa." Ujarnya sambil beralih menatap Arini sejenak.
Van'ar menjaga pandanganya,bagaimanapun juga perempuan dihadapanya bukan muhrimnya. Haram baginya,menatap apa yang bukan diperuntukan sebagai muhrimnya. Oleh karena itu,ia memilih memperbanyak menoleh kearah sang pemilik hati-istrinya.
"Saya sudah memaafkan kamu,jadi jangan merasa berkecil hati. Saya cuma manusia biasa,yang terkadang jengkel dengan tingkah laku dunia yang diluar nalar saya."
"Namun,terlepas dari semua itu saya sudah memaafkan kamu. Semuanya sudah berlalu,begitupun dengan peristiwa tersebut."
Ada semacam semilir angin sejuk dipenghujung kalimat pria berseragam abdi negara tersebut. Hati Arini didera kelegaan,setelah akhirnya permohonan maafnya telah sampai kepada yang bersangkutan. Dia bisa tenang sekarang,mengingat sudah tidak ada lagi yang mengganjal dihati.
Karena apapun yang menganjal dihati harus segera dituntaskan. Baik dengan yang bersangkutan,atau dengan kejadian lain yang mengakibatkan ada yang hati menganjal. Tentang hati siapa yang tahu?
Tentang hati siapa yang bisa memprediksi,ketika hati tersakiti namun tak terluka atupun berdarah seketika. Ketika hati terus mengundah ditiap hari,walaupun hari terus berganti,namun hati mengundah tetap hakiki. Hati siapa yang tahu,rasanya terkhianati diri sendiri,ketika segalanya kembali jauh dari jangkauan jemari.
Perkara hati siapa yang bisa mengobati?
Kecuali,hati yang sama sama tersakiti dan saling mengerti dikemudian hari..
****
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejaknya❤❤
Komentar yang banyak ya cemua,biar semangat updatenya🖑🖐
2256 Kata
Sukabumi 28 Sept 2020
#curhat dikit