Sehari setelah menikah, Ryan kehilangan istri dan mertuanya dalam sebuah kecelakaan. Kemudian ia harus menikahi adik dari istrinya. Namun setelah menikah, ia memperlakukan istri keduanya dengan begitu buruk. Dengan alasan ia tak pernah menginginkan pernikahan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena_Senja🧚♀️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Bab 30
Rey mendekati Anabella. Sembari berpura-pura bertanya tentang bisnis yang dijalani Anabella saat ini. "Kamu udah lama bangun bisnis kuliner ini?" tanya Rey.
"Lumayan, udah hampir 5 tahun." jawab Anabella.
"Wow keren." Rey mengacungkan kedua jempolnya.
"Boleh nggak aku minta tips dan saran cara berbisnis?" Rey berlagak menjadi seorang yang tak tahu mengenai bisnis.
"Pak Rey menghina aku?" Anabella melotot.
"Pak Rey aja seorang pengusaha masak minta aku ajarin. Kalau menghina jangan keterlaluan pak." Anabella marah karena merasa dihina oleh Rey. Padahal itu hanya salah paham.
"Bukan.. Bukan gitu.." Rey mulai kebingungan karena Anabella tiba-tiba marah.
"Mending bapak kembali ke tempat duduk bapak! Jangan ganggu aku!" ucap Anabella lagi.
Rey pun tidak berani mengganggu Anabella lagi. Ia segera kembali ke meja dengan wajah ditekuk.
Ryan yang melihat wajah kusut Rey pun terbahak. "Kamu kenapa? Ditolak?" tanyanya sembari tertawa riang.
"Pak Rey kenapa?" tanya Luna. Dia juga ingin ketawa tapi tidak enak hati. Luna tahu pasti Rey kena omel Anabella. Karena Anabella emang sulit untuk didekati. Apalagi seorang playboy seperti Rey. Dia tidak akan masuk dalam daftar kriteria Anabella.
"Bos kamu tuh kaku banget ya? Masa aku minta di ajari cara berbisnis, dia malah marah." gerutu Rey.
"Lagian rayuan kamu tuh katrok tahu nggak. Wanita tuh lebih suka sama lelaki yang dingin, tapi sebenarnya perhatian. Kayak aku gini." kata Ryan dengan percaya diri.
"Dih.." olok Luna. Dia tertawa setelah mendengar perkataan Ryan.
"Tapi iya kan? Kamu suka cowok playboy atau cowok kayak aku?" tanya Ryan.
"Jelas kamu lah, orang kamu suaminya." Rey mendengus.
Ryan terus menatap Luna yang hanya tersenyum kecil. Dia tak menyangka jika Ryan bisa senarsis itu. Karena salah tingkah terus ditatap oleh Ryan. Luna pun mencari bahan untuk ditanyakan. Kebetulan dia tidak melihat Dito bersama dengan Ryan. Jadi dia memiliki kesempatan untuk mengalihkan tatapan Ryan. "Dito nggak ikut?" tanya Luna.
"Kamu nanyain Dito nggak takut aku marah?"
"Orang cuma nanyain. Kamunya aja yang suka aneh." Luna mendengus. Ia tak menyangka jika suami dinginnya ternyata sangat kekanakan.
"Hei, hei, inget ada orang!" gerutu Rey yang merasa dicuekin oleh Ryan dan Luna.
Seketika Ryan menoleh menatap Rey yang berada di sebrang meja. "Oh orang? Kirain setan karena kalau ada orang berduaan-"
"Ketiganya setan, gitu? Nj*r, pamer.." Rey memotong perkataan Ryan.
Ryan dan Luna pun terbahak melihat Rey yang ngomel dengan komuk yang lucu. Namun pada saat itu, Ryan tidak pernah melepaskan genggaman tangannya.
Tak lama Ryan pamit kembali ke kantor. Namun dia masih enggan meninggalkan istrinya. "Kamu harus bekerja. Biaya hidupku mahal loh." kata Luna.
Ryan hanya tersenyum kecil sembari terus menatap Luna. Faktanya selama menjadi istri Ryan, Luna sama sekali tidak pernah minta ini itu. Malah Rose yang meminta dibeliin barang-barang mahal terus. "Aku juga mau kerja, nggak enak sama Anabella." imbuh Luna.
"Kalau dia berani marahin kamu, aku beli ini restoran. Nggak ada yang boleh marahin atau nindas kamu tanpa seijinku." ucap Ryan. Padahal dia sendiri yang suka menindas Luna.
Sesaat, Luna merasa dilindungi. Dia sempat tersenyum mendengar perkataan Ryan. Dia merasa suaminya sangat berbeda dengan sebelumnya. Dia seperti menemukan sisi berbeda dari suami dinginnya. Luna pun teringat masa kecil mereka. Saat itu Ryan juga begitu sangat perhatian kepadanya.
"Ya udah, aku balik kantor dulu!" Ryan berpamitan. Dia menyentuh kepala Luna dengan lembut.
"Ry," Luna memanggil Ryan yang hendak pergi. Seketika Ryan berhenti.
"Makasih gelangnya." kata Luna sembari tersenyum manis.
Ryan hanya tersenyum sembari menganggukan kepalanya. Kemudian ia menarik baju Rey, membawanya keluar dari restoran.
"Eh.. Eh.. Lun, salam buat Anabear.." serunya.
Luna hanya tersenyum melihat tingkah konyol Ryan dan juga Rey. Sampai mobil mereka menghilang, Luna masih tersenyum kecil.
"Ciee senyum mulu yang habis dirayu suami brengs*knya." Anabella mendekati Luna yang sedang membereskan meja. Wajah Luna nampak berseri.
"Wuihhh dikasih gelang juga. Cie.." Anabella heboh saat melihat gelang yang dipakai oleh Luna.
"Ini gelang mahal cuy.. Ini seharga mobil.." kata Anabella lagi.
"Suami kamu ternyata nggak sebrengs*k itu. Dia masih punya hati nurani." imbuh Anabella.
Luna sempat tercengang mendengar perkataan Anabella yang mengatakan jika harga gelang yang Ryan beri itu seharga mobil. Namun sesaat kemudian ia tersenyum.
Jujur, Luna selalu bingung dengan sikap suaminya yang berubah-ubah. Kadang dia akan sangat perhatian, kadang juga sangat menjengkelkan. Namun Luna tetap seorang wanita. Meskipun Ryan sering menyakiti hatinya. Tapi dengan satu rayuan, itu sudah mampu membuat Luna merasa senang. Naluri seorang wanita.
******
Pukul 18.00
Sepulang kerja, Heksa ke restoran tempat Luna bekerja. Kali ini dia ketemu Luna karena belum pulang. Heksa nampak bahagia karena ketemu dengan Luna. Entah kenapa sejak bertemu dengan Luna. Pikirannya selalu dipenuhi oleh wajah Luna. Dia selalu ingin menemui wanita yang memiliki senyuman manis tersebut. "Hai Lun.." sapanya.
"Hai kak.. Udah pulang kerja?" Heksa menganggukan kepalanya.
"Mau pesan?"
"Biasa, kue penutup."
"Kebetulan habis kak. Yang lain aja ya!"
"Em, apa ya? Ke street food yuk! Kamu pulang jam berapa?"
"Jam 8 kak."
"Ya udah aku tunggu aja. Aku pesan kopi aja!"
"Oke, bentar ya kak." Luna menyelesaikan pekerjaannya sembari membuat pesanan Heksa.
"Silahkan kak." tak butuh waktu untuk menyiapkan pesanan Heksa.
Luna membawa secangkir kopi bersama dengan camilan. "Ini camilanku, buat kakak aja. Sambil nunggu aku selesai kerja." ucap Luna.
Heksa menatap Luna dan tersenyum kecil. Karena merasa tidak enak hanya memesan kopi dan malah dikasih camilan oleh Luna. Heksa pun memesan kentang goreng untuk teman ngopinya. "Aku nambah kentang goreng 1 ya!" katanya.
"Siap kak." Luna segera menyiapkan pesanan Heksa.
2 jam Heksa menunggu Luna. Dia bahkan sudah beberapa kali nambah kopinya. Heksa selalu senang berada di dekat Luna. Hanya melihat Luna bekerja sudah membuatnya merasa senang. Ia bahkan rela menghabiskan waktunya di restoran tersebut.
"Lun, pak Heksa itu kayaknya suka sama kamu." kata Anabella. Dia bisa menebak dari sikap Heksa dan tatapan Heksa yang dalam ke Luna.
"Dia tahu kalau kamu sudah menikah?" Luna menggelengkan kepalanya.
Bukannya Luna tidak mau memberitahu Heksa. Tapi dia berjanji untuk menyembunyikan status pernikahannya. Luna juga tak enak sebenarnya dengan ketidakjujurannya.
"Mungkin aku akan cari waktu buat jujur ke dia." ucap Luna sembari menatap Heksa yang masih fokus dengan laptop di depannya.
"Kalau harus milih. Kamu pilih pak Heksa atau suami brengs*k kamu?" Anabella iseng memberi pertanyaan untuk Luna.
"Aku nggak milih. Aku merasa nggak pantes untuk mereka. Aku sadar siapa aku." jawaban Luna yang membuat hati Anabella trenyuh.
"Kamu pantas Lun. Kamu cantik, kamu baik, kamu pekerja keras." Anabella menatap Luna dengan iba. Dia memeluk Luna dan menyemangatinya. Anabella benae-benar seperti menemukan seorang adik perempuan. Dia sayang sekali dengan Luna.
"Makasih ya An, karena udah selalu support aku."