Senja, seorang gadis yang cantik dan ceria, dia malah jatuh cinta dengan Om nya sendiri, adik dari Ayahnya. Perasaan cinta Senja tumbuh saat dia duduk di bangku putih biru, dengan kata lain Om nya sendiri yang bernama Krisna adalah cinta pertamanya.
Krisna atau Senja sering memanggil namanya Om Kiss adalah lelaki tampan, tegas dan sederhana. Dia benar-benar menyayangi Senja sebagai seorang keponakan kesayangannya. Sedari bayi Nenek dan Krisna lah yang mengasuh Senja karena Mama Senja memutuskan untuk tetap bekerja.
Di saat Senja sudah pasrah dan rela melepaskan Krisna, dia malah mengetahui fakta yang sebenarnya. Hal itu membuat Senja menjadi lebih terobsesi dengan Om Kiss kesayangannya. Bahkan dia menjebak Krisna agar menikahinya, berhasilkah Senja mendapatkan hati Krisna?
"Om Kiss, kiss Senja dong!"
"Ogah, najis cium bocil"
"Ih jahat banget sih Om mulutnya"
"Baru tau kamu? Kamu kan yang jebak Om buat nikahin kamu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 KISAH SENJA KECIL (1)
Senja senang hari ini dia sudah memakai seragam biru putih. Ini adalah hari pertamanya masuk ke bangku sekolah menengah pertama. Sekarang dia merasa sudah dewasa karena sudah berumur 12 tahun, dia di antar ke sekolah oleh Krisna, Om kesayangannya yang kini berusia 22 tahun, dan sudah setahun ini bekerja di Winners Grub.
Senja menatap Krisna di dalam mobil Krisna, dia suka melihat Krisna memakai setelan jas, di matanya Krisna terlihat sangat keren sekali. Krisna yang tau sedang di tatap gadis kecil kesayangannya tersenyum, dia lalu mengelus rambut Senja yang di kepang satu olehnya.
"Om Kiss ganteng banget, Senja suka liat Om Kiss pakai jas."
"Owh ya? Kamu juga cantik banget pakai seragam biru putih. Wah Senja udah remaja. Makin cantik deh, pasti nanti di sekolah banyak yang naksir."
"Ish Senja gak akan naksir cowok lain selain Om Kiss, Senja janji bakal setia sama Om Kiss. Besok kalau Senja dewasa kita menikah ya Om."
"Ah kamu ini Nja, mana bisa, Om Kiss kan Om kamu."
"Yah itulah masalahnya Om, besok kalau Senja besar Senja mau keluar dari rumah Papa Mama biar Senja gak jadi keponakannya Om. Jadi kita bisa menikah Om."
"Hahahahaha kamu ini Nja, bisa aja. Sayangnya Om gak suka tuh sama bocil nakal kayak kamu."
"Iya Senja janji gak akan nakal dan jadi anak baik Om Kiss."
"Udah sampai sekolah nih Senja. Semangat belajarnya ya anak cantik. Nanti Om jemput kamu, tapi tunggu sebentar ya, duduk aja di depan sekolah."
"Iya Om Kiss, sini tangannya, Senja mau Salim. Muah"
Senja bersalaman dengan Krisna, lalu mengecup tangan Krisna. "Om Kiss, kiss Senja dong" Pinta Senja. Lalu Krisna mencium kedua pipi Senja, setelah itu Senja turun dari mobil Krisna dan melambaikan tangan kepada Krisna.
Pulang sekolah tiba, Senja nampak duduk menunggu jemputan Krisna. Sementara beberapa anak berkenalan dengan Senja dan Senja mengenalkan dirinya, dia selalu tersenyum ramah kepada teman-teman barunya. Mereka tampak duduk bersama dan mengobrol sembari menunggu jemputan.
Setelah anak-anak pergi, kini hanya tinggal Senja seorang diri. Senja merasakan sakit pada perutnya, dia keluar keringat dingin, dan menahan tangisnya. Dia tampak membungkukkan badannya dan memegangi perutnya yang terasa sangat nyeri.
Untunglah Krisna datang, melihat Senja yang sedang meringkuk Krisna langsung berlari menghampiri Senja. Wajah Krisna tampak khawatir, dia takut Senja tak sengaja memakan seafood sehingga alerginya kambuh.
"Senja, kamu kenapa? Kamu sakit?"
"Iya Om, perut Senja sakit banget Om."
"Coba berdiri, Om lihat perut kamu." Krisna meraba perut Senja dan menekannya di bagian tertentu, hingga ketemulah letak sakit perut Senja ada di bawah perutnya. "Di sini kan sakitnya?" Tanya Krisna dengan suara yang sangat lembut dan penuh kasih sayang.
"Iya Om di situ, sakit Om, nyeri."
"Apa kamu merasakan sesuatu yang gak nyaman? Panties mu basah gak? Atau terasa lengket?"
Senja terdiam sebentar, dia menggerakkan pahanya dan ucapan Krisna tadi benar. "Iya Om, di dalam sana terasa lengket dan basah, tapi Senja gak pipis dan gak diare loh Om." Sanggah Senja.
Krisna tersenyum lalu mengelus lembut lengan tangan Senja. "Iya Senja, Om tau kok, ayo pulang! Nanti Om kasih tau deh kenapa kamu bisa sakit perut." Krisna mengandeng tangan Senja dan memasukkannya ke dalam mobilnya.
Di tengah perjalanan, Krisna turun ke minimarket. Sementara Senja di suruh menunggu di dalam mobilnya. Tampak Krisna membeli sesuatu yang dibutuhkan oleh Senja, setelah membayar di kasir, dia masuk lagi ke dalam mobilnya dan menuju ke rumah mereka.
Krisna lalu mengajak Senja ke toilet yang ada di kamarnya, dia lalu menyuruh Senja untuk membuka pantiesnya. Senja masih memakai rok biru yang panjangnya 10 cm di bawah lututnya. Senja lalu di suruh duduk oleh Krisna di closet, sementara Krisna berjongkok di depannya karena pantiesnya masih tertutup rok, Krisna lalu menarik panties yang masih ada di dalam rok Senja.
"Lihat ini darah kan? Selamat Senja kamu sudah menjadi gadis remaja. Ini adalah haid pertamamu." Krisna menjelaskan pada Senja.
Mata Senja mendelik dan berbinar-binar "Beneran Om, Senja udah haid? Yeeee Senja udah gede." Celoteh Senja.
Krisna mengeluarkan panties baru yang tadi dibelinya di minimarket, lalu dia juga mengambil pembalut, kemudian dia menunjukkan cara memasang pembalut yang benar pada Senja. "Nih liat Om Kiss ya, perhatikan baik-baik Senja, caranya begini nih pakai pembalut, ngerti kan?" Jelas Krisna.
Senja menganggukkan kepalanya "Ngerti Om." Cicit Senja.
"Sekarang kamu bersihin dulu ya sampai bersih, habis itu ini di pakai, harus yang bersih agar darahnya hilang. Om taruh pantiesnya di sini ya" Ujar Krisna, dia menaruh pantiesnya di centelan baju yang ada di kamar mandi Krisna, lalu Krisna menutup kamar mandinya dan menunggu Senja di depan pintu.
"Baik Om Kiss." Cicit Senja. Dia benar-benar melakukan perintah Krisna, setelah selesai dia keluar dari kamar mandi, lalu memeluk Krisna. "Makasih Om Kiss." Cicit Senja.
Blush.
Deg.
Serrr.
Entah kenapa kali ini saat di peluk Senja Krisna merasakan ada desiran halus yang dia rasakan. Senja yang tingginya masih 155 cm itu memeluk tubuh Krisna yang sudah dewasa dan memiliki tinggi 185cm.
Krisna tersenyum, dia mengelus rambut Senja, dan membalas pelukannya. "Duh keponakan Om sudah gadis dan bukan anak-anak lagi. Di jaga ya Senja, jangan biarkan orang lain menyentuh tubuhmu! Kau mengerti? Kau harus melindungi dirimu sendiri dengan baik!" Perintah Krisna.
Senja menganggukkan kepalanya "Iya Om Kiss, Senja paham kok. Kan Senja mau nikah sama Om Kiss besok jadi Senja gak akan ngebiarin tubuh Senja di sentuh orang lain." Cicit Senja, dia mendongakkan kepalanya untuk menatap Krisna.
Krisna tersenyum. "Hahaha Senja kamu ada-ada aja, yuk kita makan. Kamu pasti laper kan? Om suapin ya." Krisna mengandeng tangan Senja dan membawanya ke meja makan.
Krisna menyuapi Senja dengan telaten, Senja juga sangat lahap ketika dia makan di suapi oleh Krisna. "Seharusnya Om udah gak nyuapin kamu loh Senja, kan kamu udah dapat haid, tandanya kamu itu udah mulai tumbuh dewasa." Ujar Krisna.
"Ish gak mau, Senja gak mau makan kalau gak di suapin Om Kiss." Renggek Senja.
Kemudian terdengar suara mobil masuk ke dalam halaman rumah Senja. Hal itu menandakan kedatangan Ina dan Egi. Senja langsung berlari menghampiri kedua orang tuanya dan memeluk Papa dan Mamanya. Seperti itulah Senja, dia memang sangat manja, dan di besarkan penuh dengan kasih sayang.
"Mama Papa, Senja sudah dewasa, hari ini Senja sudah dapat haid loh. Bener kan Om Kiss?" Cicit Senja.
Tampak wajah Ina dan Egi terkejut, namun seketika mereka tersenyum. "Wah anak Mama sudah gadis ternyata, kamu bisa pakai pembalut?" Tanya Ina.
"Iya Mama, tadi Om Kiss yang ngajarin. Iya kan Om Kiss" Cicit Senja.
Lagi-lagi wajah Ina dan Egi terkejut dan mereka langsung tersenyum lagi. "Loh kamu pinter Kris, kamu bisa tau cara pakai pembalut?" Tanya Egi.
"Lah di YouTube kan ada Mas." Kekeh Krisna.
"Makasih ya Kris, kamu ini malah kayak Papanya Senja dari pada Papanya itu sendiri." Sindir Ina.
"Lah Krisna itu juga kayak Mamanya Krisna sendiri daripada Mamanya itu sendiri." Balas Egi.
Lalu keempat orang itu tertawa bersama-sama, setelah itu mereka makan bersama dan duduk di meja makan sambil mengobrol ringan menceritakan kegiatan mereka hari ini.
Itu adalah kegiatan mereka sehari-hari setelah Darto dan Sarni memilih tinggal di rumah baru mereka yang berada di pedesaan pinggir kota Jogja, mereka berdua memang sepakat untuk hidup berdua saja setelah Darto pensiun.
Sementara rumah lama mereka kini di tempati oleh empat orang yang tersisa yaitu Egi, Ina, Senja dan juga Krisna. Asisten rumah tangga mereka pun hanya datang di pagi hari dan pulang di sore hari setelah beres memasak makan malam. Apalagi Egi dan Ina sering lembur dan pulang malam, jadinya Senja dan Krisna lebih sering menghabiskan waktu berduaan di rumah.