NovelToon NovelToon
NARA

NARA

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:15.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Na

" Menikahlah dengan Nev". Kata-kata itu sangat mengejutkan Nara, bagaimana bisa Ia menikahi Nev yang notabenenya adalah kakak iparnya. " Ini adalah permintaan kakak yang terakhir". Nara semakin bingung dengan permintaan kakaknya ini. Di tengah kebingungannya ini, Ia teringat akan sosok kecil mungil Deril, anak Nev dan kakaknya Kamira. Sosok yang Ia sangat sayangi.

Apakah Nara akan akan memenuhi semua keinginan kakaknya? Apakah Ia harus memutuskan hubungannya dengan kekasihnya?.

Semua keputusan yang ia ambil akan menjadi masa depannya kelak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

Kalau bisa difilmkan mungkin backsound dari suasana ini seperti film horor. Hening dan mencekam. Bagaimana tidak Nara dan Nev hanya saling diam didalam kamar setelah nyonya Flo dan juga Sarah pulang.

Setelah dengan seenaknya memindahkan semua barang-barang Nara ke dalam kamar Nev, mereka pulang dengan perasaan riang gembira. Lain halnya dengan Nev dan Nara yang tidak tahu harus melakukan apa.

" Aku tidur dikamar sebelah saja kak", ujar Nara memecahkan keheningan. Nara bersiap-siap untuk keluar tapi Nev mencegahnya.

" Tidurlah disini, ini juga kamarmu".

Kamarku???

Nara melirik Nev. Dia seperti salah mendengar ucapannya itu. Ia meyakini dirinya kalau dia salah mendengar ucapan Nev.

" Kenapa diam saja. Tidurlah".

Deal, ini tidak salah lagi. Kak Nev benar-benar mengucapkan itu.

" I...iya kak. Kalau begitu Nara tidur di sofa saja". Nara hendak mengambil bantal namun tangannya dicegah Nev.

" Tidurlah disini, ditempat tidur ini".

" Tapi...".

" Tidurlah". Nev memberikan isyarat agar Nara tidur. Nara pun mengikuti saja apa yang dikatakan Nev dan tidur disampingnya.

Nara memandangi langit-langit atap, matanya liar kesana kemari. Ia berusaha memejamkan matanya tapi tidak kunjung tertidur. Diliriknya Nev yang berbaring disebelahnya.

"Aku mana bisa tidur kalau begini", ujarnya dalam bahasa Korea.

" Kamu tidak bisa tidur?", oceh Nev yang membuat Nara kaget. Ia mengira Nev sudah tidur padahal Nev juga sama sepertinya. Mata mereka bertemu saat Nara menoleh ke arahnya.

" Kakak juga belum tidur", ujar Nara.

" Aku sedang memikirkan pembicaraan kita tadi".

" Bukankah tidak perlu dibahas lagi".

" Sekarang giliranku bicara Nara. Apapun yang kamu ingin katakan bukankah sudah kamu katakan tadi. Kamu bicara ini dan itu dan aku hanya mendengarkan, sekarang giliranmu untuk mendengarkan aku". Nara mengangguk pasrah. " Aku memutuskan untuk belajar menerimamu sebagai istri sepenuhnya. Melupakan seseorang tidak semudah membalik telapak tangan dan kamu pasti mengerti hal itu. Aku akan berusaha, jadi bersabarlah".

" Kak, tidak.....".

" Aku bilang aku akan berusaha, jadi mohon pahamilah. Bukankah kamu pernah bilang kita harus menghargai perasaan masing-masing".

" Ya".

" Sekarang tidurlah".

" Ha?".

" Nara tidurlah sekarang sudah larut malam".

" I...iya". Nara merebahkan tubuhnya. Dipejamnya matanya begitu juga dengan Nev.

Pagi pun menjelang, matahari menampakkan cahayanya.

Nara membuka matanya perlahan.

" Selamat pagi", sapa Nev. Nara terbelalak, ia menelan ludahnya. Sapaan pagi pertama kalinya dalam hidupnya. Ia memandangi seluruh ruangan ini, seperti ada yang aneh pikirnya. Nara mencubit pipinya dan terasa sakit. Akhirnya dia sadar kalau ini bukan mimpi. Ia pun menoleh lagi, dilihatnya Nev benar-benar disampingnya dan sekali lagi ini bukan mimpi. " Kenapa kamu terus memandangiku".

" Aku pikir ini mimpi".

" Bukannya tadi kamu sudah mencubit dirimu sendiri".

" Iya sih", ujarnya. Nara melihat jam dinding dan sudah menunjukkan pukul 8. Ia pun histeris.

" Kamu kenapa".

" Ini sudah jam 8 kak".

" Apa!!!".

" Derilllllll", teriaknya berlari menuju kamar Deril dan disusul oleh Nev dibelakangnya. Nara membuka pintu itu, terlihatlah Deril sudah terbangun. " Sayang", ujarnya memeluk anaknya itu.

Nev menghela napasnya karena ikut-ikutan khawatir.

Ting...tong....

Mereka berdua saling memandang

" Bi Asih", ujar mereka serentak. Nev bergegas membuka pintu dan Nara mengikutinya bersama Deril.

Nev membukakan pintu. Bi Asih sesaat terkejut melihat pemilik rumah yang masih acak-acakan.

" Loh kenapa tuan dan nyonya belum siap-siap, biasanyakan......".

" Iya bi Asih kita kesiangan. Nanti tolong mandiin Deril ya bi, terus Nara juga belum sempat memasak, jadi tolong ya bi".

" Iya nyonya tidak apa-apa. Sekarang tuan dan nyonya harusnya siap-siap biar Deril sama bibi saja".

" Terima kasih ya bi". Nara memberikan Deril pada bi Asih sedangkan Nev pun masuk kedalam kamar untuk membersihkan diri.

Nara mengendap-endap memasuki kamar, dilihatnya kamar masih kosong dipikirannya Nev masih didalam kamar mandi. Ia pun lega dan masuk dengan tenangnya.

" Kenapa mengendap-endap begitu seperti maling saja", celetuk Nev yang keluar dari kamar mandi. Nara memalingkan wajahnya karena Nev memang hanya memakai handuk. " Ambilkan pakaianku".

" Ha???pakaian???".

" Iya pakaian lalu apalagi". Dengan kikuk Nara mengambil pakaian Nev didalam lemari. Diletakkannya pakaian itu diatas tempat tidur.

" Kak, itu pakaiannya".

" Hmm".

" Apa ada lagi kak?".

" Tidak, mandilah".

" Iya kak".

Nara bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Tak lama ia pun keluar dengan sudah menggunakan pakaian yang dibawanya tadi. Dia tidak ingin kejadian itu terulang lagi.

Ia memoles wajahnya dengan riasan tipis. Setelah selesai ia keluar dari kamar dan dibawah sana Nev sudah menunggunya.

Mereka berangkat setelah berpamitan dengan bi Asih dan juga Deril.

Mobil itu melaju kencang. Sampailah Nara dikampusnya walaupun dia sudah melewatkan pelajarannya di jam pertama.

" Terima kasih kak". Ia membuka pintu mobil itu.

" Nara".

" Iya kak".

Nev mendongak kearah Nara lalu mengecup dahinya. Nara terbelalak karena kaget dengan yang dilakukan Nev padanya.

" Pergilah nanti kamu terlambat lagi".

" I...iya kak".

Nara turun dengan perasaan yang campur aduk. Ia tidak pernah menyangka Nev bersikap manis padanya. Nev bersungguh-sungguh dengan yang dikatakannya waktu itu.

Disepanjang jalan Nara tersenyum sendiri karena bahagia. Ia tidak bisa menutupi rasa bahagianya itu. Sampai-sampai ia tidak menyadari kehadiran Meta.

" Kamu baik-baik saja kan", tanya Meta yang heran dengan sikap Nara.

" Sejak kapan kamu ada disini", tanya Nara balik.

" Ya ampun sampai tidak sadar temannya sendiri", protesnya. " Kamu tuh yang aneh dari tadi senyum-senyum sendiri, sampai dipanggil juga tidak perduli".

" Apa iya, aku tidak dengar soalnya".

" Ya iyalah tidak dengar, dari tadi sibuk sendiri. Sebenarnya ada apa sih, kok kelihatannya bahagia banget".

" Tidak ada, biasa saja".

" Yang benar saja tidak ada".

" Lagian kamu tuh apa kabarnya dengan Vino. Masih berantem atau sudah akur?".

" Masih proses".

" Proses???".

" Proses akurlah. Dia sih bicara seenaknya. Sebenarnya aku sudah tahu kalau kak Vano, kakaknya Vino, sudah punya pacar, cuma aku hanya ingin dekat dengannya saja, aku tidak perduli dengan pacarnya itu. Tapi, aku sadar tidak bisa seperti itu terus karena aku juga punya perasaan dan juga seorang wanita. Bagaimana mungkin aku menganggu hubungan orang, aku juga tidak ingin digitukan".

" Jadi sudah sadar ya".

" Iya nona cantik. Tapi, aku belum bisa menerima Vino. Soalnya butuh proseskan. Aku takut kalau hubungan ini berubah kalau seandainya kami berpisah. Aku akan kehilangan sahabat dan juga pacar. Rugi jadinya".

" Jadi kamu mikirin itu?".

" Iyalah".

" Jadi kamu suka sama Vino".

" Sedikit".

" Tuh dengar tuh Vin. Senangkan sekarang", celetuk Nara. Meta seketika menoleh ke belakang. Ia merutuki dirinya karena sudah berbicara seperti itu dan didengar orangnya pula. Itu sama saja namanya dia menyatakan cinta. " Ya sudah deh dipakai waktunya untuk bicara dari hati ke hati ya. Jangan berantem lagi, tidak bagus dilihatnya. Mending romatisan saja, iya kan. Ya sudah ya", ujar Nara meninggalkan mereka berdua yang kelihatan canggung.

Nara hanya berharap mereka bisa menjadi pasangan karena mereka berdua memang memiliki perasaan yang sama. Sama seperti dirinya saat ini yang merasa bahagia dengan Nev dan juga Deril.

1
Nuefuz Yujja
Lumayan
Ana
Luar biasa
💕N3L!AbAh🌹
Mantulll... saranghae.. Nev Nara 😘 Mangatttt... Thor 🙏👍🤗
arinda7yunita
👍👍👍👍👍👍
Ita Hallan
kenapa sih ceritanya selalu mengulang-ulang, dan terkesan berbelat belit,
Yuli Puan Sappewali
asyik
Bahari Sandra Puspita
novel yang luar biasa..
Fitri Sri Dewi
mlipir thor
yaty
tahniahhhh author 💞💞💞💞
cerita nya besttt
semangat author 🌹🌹🌹🌹🌹
🍮😈 𝔫αᖇÃүα 𝓪ˡ𝐢¢𝒾Δ 💋💚
Aku baru nemu cerita ini
🍮😈 𝔫αᖇÃүα 𝓪ˡ𝐢¢𝒾Δ 💋💚
Yang pernah merasakan kehilangan pasti tau
🍮😈 𝔫αᖇÃүα 𝓪ˡ𝐢¢𝒾Δ 💋💚
Semoga ceritanya bagus
Nurdaidah
dokter rindi gila
Sidieq Kamarga
Ha ha ha pergi sambil mengendap-ngendap takut Deril tahu. Tapi percayalah seorang Ibu itu tidak akan pernah tenang meninggalkan anaknya, walau untuk berduaan dengan suami 😂😂😂
Sidieq Kamarga
Owwwh keluarga yang baik. Mertua, adik ipar, apalagi suami sangat mrnyayangi Nara. Kondisi seperti ini yang didambakan calon mantu, dan.percayalah itu ada dalam dunia nyata 😍😍😍😍 Lope lope yu thor, salah satu makna cerita ini aku dapat ❤❤❤
Sidieq Kamarga
dr. Ergi harusnya tanya sama Author kenapa Nisa sikapnya begitu. Kalau menurutku sih Nisa jatuh cinta sama dr. Ergi
Sidieq Kamarga
Rindi benar-benar tidak punya harga diri dan tidak tahu malu 😡😡
NOiR🥀
visual nya NaRA
NOiR🥀
mau tamat kisah NARA..ada lagi watak perampas
NOiR🥀
OM OM udah tua lg jahat. seram deh manusia skrg dr kunti sama pocong..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!