Andra dan Diana sudah menikah selama lima tahun. Namun selama itu pula Diana memilih untuk menunda kehamilannya. Dengan alasan jika saat ini sedang berada di puncak karir yang selama ini dia impikan.
Selain karena tekanan dari kedua orang tua Andra yang ingin segera punya cucu. Dalam hati kecilnya, Andra juga ingin segera punya anak. Hingga akhirnya dia bertemu sahabat lamanya bernama Nadhira.
Entah ada pikiran dari mana hingga tiba-tiba Andra meminta Nadhira hamil anaknya. Jelas Nadhira menolak apalagi Andra sudah menikah.
Apakah rencana Andra aka berhasil untuk mendapatkan anak dari keturunannya sendiri. Apakah Nadhira akhirnya akan setuju? Lalu bagaimana dengan Diana dan keluarga Andra?
Konflik apa lagi yang akan terjadi setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahim Untuk Sahabat 27
Nadhira berjalan cepat melewati taman samping yang rimbun. Namun, saat dia hendak berbelok menuju gerbang keluar, langkahnya mendadak terkunci. Di hadapannya, berdiri seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan rambut yang sebagian telah memutih. Pria itu mengenakan setelan jas formal yang sangat rapi, memancarkan aura wibawa yang begitu kuat dan dominan jauh lebih mengintimidasi daripada Viona.
Dia adalah Ardi Antanagara. Sang pemimpin utama pemilik seluruh bisnis Antanagara, sekaligus ayah kandung Andra.
Di samping Ardi, berdiri Baskoro yang tampak sedang membacakan beberapa berkas laporan. Begitu melihat kehadiran Nadhira, Ardi mengangkat tangannya, menghentikan ucapan Baskoro. Pandangan matanya yang setajam elang langsung menghujam tepat ke arah Nadhira.
Jantung Nadhira seolah berhenti berdetak. Ini adalah untuk pertama kalinya dia bertemu langsung dengan Papa Ardi. Lima tahun lalu, dia hanya berhadapan dengan Viona.
"Baskoro," suara Ardi terdengar berat dan bariton, menggema di koridor taman.
"Panggil dia!"
Pak Baskoro memanggil Dhira untuk menghadap Pak Ardi. Walau sedikit takut, akhirnya Nadhira mendekat dan berjarak cukup jauh dengan ayah mertuanya itu.
Ardi melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Nadhira meremas tali tasnya kuat-kuat, mencoba mempertahankan harga dirinya agar tidak roboh di depan penguasa tertinggi keluarga ini.
"Jadi, kamu wanita yang dipilih anakku untuk menghasilkan ahli waris pengganti Diana?" tanya Ardi, suaranya tidak meluap oleh amarah seperti Viona, melainkan dingin dan penuh selidik yang mematikan.
"Kudengar dari Dokter Haryo, rahimmu masih suci. Kamu bukan wanita sembarangan yang bisa dibeli dengan uang. Lalu kenapa kamu mau memberikan rahimmu kepada anakku? Apa karena harta yang pada akhirnya suatu hari nanti kamu akan memintanya dari kami?
Nadhira mendongak, menatap mata pria tua itu tanpa rasa takut, meskipun badannya gemetar.
"Saya melakukan semua ini dan mengajukan pernikahan siri dengan anak Anda murni karena keterpaksaan untuk menyelamatkan nyawa ibu saya, Pak Ardi. Saya tidak memiliki ambisi apa pun terhadap kekayaan atau nama besar keluarga Anda. Toh semuanya sudah di sepakati hitam di atas putih di saksikan Pak Baskoro. Bukankah kalian memerlukan saya untuk penerus keluarga Natanagara yang tak mau di kandung oleh menantu kesayangannya? Anda tenang saja saya akan menepati janji dan pernikahan siri bukan semata-mata untuk saya, melainkan untuk keturunan anda juga. Karena walau bagaimanapun suatu hari saat dia lahir dia harus lahir dari cara pernikahan yang benar!"
Ardi tertegun sesaat melihat keberanian di mata Nadhira. Berbeda dengan Diana yang selalu bersikap manis dan penuh kepalsuan di depannya, gadis di hadapannya ini memancarkan kejujuran yang tulus. Pak Ardi sebenarnya juga sedang menyelidiki Diana. Dia sedang menunggu informasi dari anak buahnya.
"Bagus kalau kamu sadar diri," ucap Ardi, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang misterius.
"Istriku, Viona, mungkin mengira dia bisa mengendalikan transaksi ini. Tapi di rumah ini, akulah yang memegang keputusan akhir. Aku tidak peduli bagaimana cara kalian melakukannya. Apakah secara medis atau alami seperti yang disarankan dokter. Yang aku butuhkan hanya satu dalam waktu tiga bulan, anak itu harus ada di dalam rahimmu. Jika kamu berhasil memberikan cucu murni untuk Antanagara, aku sendiri yang akan memastikan ibumu mendapatkan perawatan medis terbaik seumur hidupnya. Tapi jika kamu gagal..."
Ardi menggantung kalimatnya, tatapannya mendadak berubah menjadi sedingin es.
"Aku akan melenyapkan kalian berdua dari kota ini tanpa sisa. Sekarang, pergi ke kantormu."
Tanpa menunggu jawaban, Ardi berjalan melewati Nadhira begitu saja, meninggalkan Nadhira yang nyaris kehabisan oksigen karena tekanan mental yang begitu masif. Untuk pertama kalinya, Nadhira menyadari bahwa dia tidak hanya terjebak di antara Andra dan Diana, melainkan telah masuk ke dalam pusaran permainan kekuasaan yang mengerikan antara Papa Ardi dan Ibu Viona.
Pukul dua siang, setelah menyelesaikan urusan administrasinya di kantor dengan pikiran yang bercabang, Nadhira lari menuju RSUD. Begitu sampai di ruang VIP yang baru, dia melihat ibunya sudah sadar penuh, duduk bersandar di ranjang sambil menikmati bubur hangat.
"Nadhira..." panggil ibunya dengan suara lemah namun binar matanya lurus menatap putrinya.
"Dokter bilang semua biaya operasi dan kamar mewah ini sudah dilunasi oleh perusahaan tempatmu bekerja. Ibu bangga padamu, Nak. Tapi kenapa wajahmu pu-cat sekali?"
Nadhira langsung berlutut di samping ranjang, menggenggam tangan ibunya dan menyembunyikan wajahnya di sana agar ibunya tidak melihat air matanya yang kembali luruh.
"Nadhira tidak apa-apa, Bu. Nadhira hanya kurang tidur karena khawatir. Yang penting sekarang ibu harus kembali sehat."
Sore itu, tepat saat Nadhira sedang menyuapi ibunya, pintu ruang rawat terbuka. Bukan perawat, melainkan Baskoro, tangan kanan Ardi, yang melangkah masuk membawa sebuah dokumen.
"Nona Nadhira," sapa Baskoro.
"Kita bicara di luar saja Pak!" ajak Nadhira tak ingin ibunya tahu
Mereka pergi dan bicara tak jauh dari kamar rawat ibu Mila. Pak Baskoro meletakkan amplop cokelat di atas nakas, tepat di hadapan Nadhira.
"Tuan Ardi berpesan, ini adalah kontrak tambahan. Beliau tahu Anda memiliki integritas, namun beliau juga seorang pebisnis yang tidak suka akan ketidakpastian."
Nadhira menatap amplop itu dengan curiga.
"Apa lagi ini?"
"Silahkan anda baca saja! Dan beliau juga meminta anda besok pagi menghadap ke ruangannya. Terkait laporan yang anda berikan tadi pagi!"
"Pak, apa saya bisa mundur dari perjanjian gila ini? Saya akan membayar biaya operasi dan perawatan ibu saya bagaimanapun caranya. Pak Baskoro menggeleng.
"Anda sudah terlanjur masuk, Nona! Saya harap kedepannya anda akan menemukan jalan lain dan solusi di antara anda dan Pak Andra. Bukankah kalian selama ini adalah sahabat?"
"Saya menyesal, Pak Baskoro. Saya tak mengira akan masuk ke dalam lingkaran seperti ini! Dan ternyata tak ada jalan untuk kembali. Saya hanya takut jika Mbak Diana akan membuat ibu saya terluka seperti dulu. Bisakah anda katakan kepada Pak Ardi untuk melindungi ibu saya sebelum mbak Diana tahu? katakan padanya saya akan mengikuti semua ucapan dan perintah mereka. Asalkan mereka menjamin keselamatan ibu saya!" pinta Dhira yang sadar jika dia tak akan bisa mundur dari keadaan ini.
Pak Baskoro menghubungi Pak Ardi dan tak lama dia kembali dan mengatakan jika Pak Ardi setuju. Bahkan hari ini juga Bu Mila akan di pindahkan ke tempat yang lebih aman dan dengan fasilitas yang jauh lebih baik lagi.
gx sadar diri ,,
dr awal pernikahan atau mungkin dr sebelum menikah situ juga udh berzina ,,
sedangkan nadhira msh suci ,,
siti sehat Diana😒😒😒😒😒😏😏😏😏