NovelToon NovelToon
LEON'S SECRET GIRLFRIEND

LEON'S SECRET GIRLFRIEND

Status: tamat
Genre:Ketos / Dikelilingi wanita cantik / Lari Saat Hamil / Nikahmuda / Cintapertama / Tamat
Popularitas:87.3k
Nilai: 5
Nama Author: aufaerni

Rebbeca Alisia, atau yang akrab disapa Becca, adalah gadis berbadan besar yang sering menjadi sasaran ejekan teman-temannya di sekolah. Dia adalah kekasih tersembunyi dari Leonardo, siswa populer di sekolahnya yang biasa dipanggil Leon. Pria playboy dengan banyak pesona ini, harus berpacaran dengan Becca selama sisa masa sekolah mereka, satu setengah tahun, hanya karena kalah dalam taruhan yang dia dan tiga sahabatnya lakukan.

Apakah Becca bisa bertahan dalam hubungan dengan Leon, yang hanya menganggapnya sebagai gadis simpanan, Ataukah dia akan memilih untuk pergi, meninggalkan Leon dan semua kesedihan yang ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aufaerni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RENCANA INGIN PUNYA ANAK BERAPA?

Sejak sore, setelah mengantar Rebecca pulang, Justin terlihat uring-uringan di rumah sepupunya, Salma. Gadis itu pun kembali jengah melihat tingkah sepupunya.

"Ada apa lagi sih, Justin? Gue muak lama-lama lihat lo kayak gini," ucap Salma, kesal.

Bagaimana tidak kesal, Justin sedari tadi berbaring di tempat tidurnya dengan wajah yang amat tidak bersahabat.

"Lo bisa diam gak, Sal? Gue butuh ketenangan," ucap Justin sambil memejamkan matanya.

"Kalau mau ketenangan, di rumah lo sendiri sana. Udah di kamar gue malah banyak tingkah lagi lo," sindir Salma, suaranya penuh dengan kekesalan.

Justin tidak perduli dengan ocehan dari sang sepupu. Lelaki itu memilih memejamkan mata untuk merilekskan pikirannya yang saat ini kalut.

Hingga tanpa terasa, Justin pun tertidur dengan lelap. Lelaki itu tidur di kamar Salma hingga sang pemilik kamar menggerutu kesal.

"Pakai acara tidur lagi, nyusahin banget sih lo, Justin," gerutu Salma, sambil melihat Justin yang sedang tertidur pulas.

Di tempat yang berbeda, Rebecca dan Justin tengah duduk di depan meja makan. Kedua orang itu hanya diam, tak bersuara, sibuk dengan pikiran masing-masing.

Ini adalah acara makan malam dadakan yang dibuat oleh kedua orangtua Leon. Nampak sekali yang paling banyak berbicara adalah Sisilia dan juga Armand, sedangkan mereka berdua tidak ada minat untuk bergabung membahas apa yang kedua orang didepannya bicarakan.

"Leon, Becca, kalian sudah punya rencana bakal punya anak berapa?" tanya Sisilia tiba-tiba, suaranya penuh dengan antusiasme.

"Uhuk, uhuk," Leon tersedak saat tengah menenggak orange jus miliknya, terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba dari mamanya.

Sedangkan Rebecca tersenyum kikuk, bingung ingin menjawab apa.

"Kita masih muda, Ma. Aku dan dia bahkan belum lulus sekolah. Jadi, jangan macam-macam," jawab Leon, mencoba meredakan situasi.

"Apa salahnya jika merencanakan sesuatu? Tidak ada yang salah, bukan?" sahut Armand, mencoba memberikan pandangan lain dalam diskusi ini.

Leon merasa jengah dengan kedua orangtuanya. Dia tidak tertarik sama sekali menjadikan Rebecca sebagai ibu dari anak-anaknya. Kejadian waktu itu hanyalah sebuah kesalahan saja, dan ditambah dia sedang dalam emosi yang memuncak.

Rebecca melirik Leon, yang sepertinya sangat tidak suka dengan pembahasan yang sedang dilakukan oleh Sisilia.

Acara makan malam pun telah berakhir. Rebecca dan Leon pun pamit pulang.

"Becca pamit pulang dulu ya, Ma," ucap Rebecca, suaranya lembut.

"Hati-hati ya, sayang. Kalau Leon macam-macam sama kamu, kabarin Mama biar nanti Mama dan Papa yang akan menghukumnya," pesan Sisilia pada menantunya.

Rebecca mengangguk sembari terkekeh, sedangkan Leon yang mendengarnya hanya mengendus kesal.

Leon dan Rebecca pun pulang, kembali ke apartemen. Selama di perjalanan, Rebecca dan Leon sama sekali tidak ada pembicaraan apapun. Yang ada hanya suara musik yang sengaja lelaki itu putar dengan begitu keras.

Di pertengahan jalan, Leon memberhentikan mobilnya.

"Turun!" perintah Leon, suaranya tegas.

Rebecca menoleh pada Leon, tampak bingung. "Ada apa, Leon?"

"Gue bilang turun! Lo dengarkan?!" ucap Leon, kesal, suaranya meninggi.

"Tapi menuju apartemen masih jauh, Leon. Aku gak mungkin bisa mendapatkan taksi di jalan yang sepi ini," sahut Rebecca, suaranya penuh dengan kekhawatiran.

"Bodo?! Gue gak perduli," ucap Leon, kesal.

Lelaki itu membuka pintu mobilnya, lalu dia berjalan untuk membuka pintu Rebecca.

"Cepat keluar, gue gak punya waktu!" ucap Leon, suaranya keras, sambil menarik tangan Rebecca keluar.

Akhirnya, Rebecca pun keluar dari mobil Leon. Setelah itu, Leon kembali masuk ke dalam mobilnya dan pergi, meninggalkan Rebecca seorang sendiri di tempat yang sepi.

Rebecca menatap nanar kepergian Leon. Gadis itu harus bersabar menghadapi sikap Leon yang menyakiti hatinya.

Jalanan yang sepi sangat kecil kemungkinannya untuk mendapatkan taksi atau angkutan umum lainnya. Akhirnya, Rebecca pun berjalan kaki sambil mencari, siapa tahu menemukan angkutan umum di jalan.

Di malam yang dingin, Rebecca berjalan kaki menelusuri jalanan yang begitu sepi. Gadis itu berharap sekali menemukan angkutan umum atau tumpangan lainnya salama dia berjalan.

Sudah setengah jam Rebecca berjalan, tapi tak kunjung ada seseorang yang memberi tumpangan, padahal ada beberapa mobil dan motor yang berlalu-lalang. Sekarang, gadis itu tengah berhenti di tepi jalan untuk beristirahat.

Tin, tin, tin.

Klakson mobil membuat Rebecca menoleh ke arah mobil yang membunyikannya.

Jendela mobil itu terbuka dan memperlihatkan Daniel yang ada di dalam.

"Lo ngapain di tempat beginian, Becca?" tanya Daniel, merasa heran.

"Aku sedang mencari angkutan umum, tapi tidak ada, Daniel," jawab Rebecca, suaranya lelah.

"Lo mau balik?" tanya lelaki itu, tampak penasaran.

Rebecca mengangguk, membenarkan.

"Ya udah, ayo naik. Taksi atau angkutan umum lainnya gak bakal lewat sini," ajak Daniel, suaranya penuh dengan tawaran.

"Emangnya boleh apa, aku numpang mobil kamu?" tanya Rebecca pelan, tampak ragu.

"Udah, cepat naik, sebelum gue berubah pikiran nih!" jawab Daniel, suaranya sedikit keras.

Lelaki itu kebetulan ingin ke apartemen Stefano untuk mengambil barangnya yang tertinggal, jadi tak ada masalah jika Rebecca menumpang padanya.

Rebecca pun dengan cepat masuk ke dalam mobil Daniel. Lalu, Daniel menjalankan mobilnya menembus jalanan ibukota.

"Lo ditinggal sama Leon ya?" tanya Daniel, memecah keheningan, suaranya penasaran.

Rebecca hanya tersenyum, dia enggan membahas lelaki aneh itu.

Diamnya Rebecca pun cukup menjawab semuanya, bahwa gadis itu memang telah di tinggal oleh Leon ditempat yang begitu sepi.

"Kita mampir dulu gak apa-apa kan ya? Gue pengen makan nih, belum makan soalnya. Biasalah, nyokap gue gak masak," ucap Daniel, suaranya sedikit mengeluh.

"Makanlah, aku akan menunggu di mobil saja," ujar Rebecca, suaranya lembut.

"Ya elah, ikut aja. Nanti tagihannya bakal gue kasih ke Leon, jadi lo tenang aja," sahut Daniel, disertai dengan kekehan.

Mereka pun mampir ke salah satu rumah makan. Rebecca tidak ikut memesan makanan, gadis itu hanya memesan minuman saja.

Daniel tampak lahap menyantap makanannya, dan sepertinya ucapan lelaki itu benar bahwa dia sungguh sangat kelaparan.

"Lo yakin gak makan?" tanya Daniel.

"Tidak, kamu saja," jawab Rebecca, suaranya lembut.

Rebecca menunggu Daniel selesai dengan makanannya. Gadis itu memandang sebuah kolam ikan yang tak jauh dari tempatnya duduk sekarang.

Gadis itu pun berdiri dan berjalan menuju kolam ikan tersebut. Dia memandangi kolam ikan yang besar dan terdapat banyak ikan di dalamnya.

Dia lalu duduk di pinggiran kolam, melihat para ikan berlalu-lalang berenang.

Sangat fokus memandangi kolam ikan itu, Rebecca hingga tak sadar jika Daniel sudah bergabung duduk di sampingnya.

"Fokus amat, Neng, liatin kolamnya," ucap Daniel sambil terkekeh, suaranya penuh dengan tawa.

"Sejak kapan kamu di sini?" tanya gadis itu, tampak terkejut.

Daniel melirik jam tangannya. "Sekitar 10 menit yang lalu," jawab lelaki itu, suaranya santai.

"Yaudah, ayo kita jalan," ucap Rebecca, suaranya penuh dengan kelegaan.

"Oke," jawab Daniel singkat, suaranya santai.

Setibanya di parkiran apartemen, Rebecca pun mengucapkan terima kasih pada Daniel.

"Terima kasih, Daniel, telah memberiku tumpangan," ucap Rebecca, suaranya penuh dengan rasa terima kasih.

"Santai aja. Gue juga berterima kasih karena lo sudah menemani gue makan," balas Daniel, suaranya hangat.

Rebecca masuk dan mendapati Leon tengah bercengkrama dengan seorang gadis di depan televisi.

"Ah, syukurlah lo sudah sampai. Cepat buatkan minum untuk gue dan pacar gue," ucap Leon saat menyadari jika Rebecca telah datang.

"Dia siapa, Sayang?" tanya gadis yang duduk di samping Leon.

"Dia pembantu di sini. Kalau perlu sesuatu, panggil saja dia," jawab Leon sambil tersenyum manis di hadapan wanita yang dia sebut sebagai kekasihnya.

"Hai, gadis gendut, kenapa lo masih berdiri di sana? Cepat buatkan minuman untuk kami berdua," perintah gadis yang Rebecca sendiri tidak tahu namanya, suaranya penuh dengan otoritas.

Rebecca melirik pada Leon, tetapi lelaki itu hanya tertawa sinis melihatnya.

Akhirnya, dengan terpaksa, Rebecca menuruti kedua manusia itu. Dia membuatkan minuman dan juga snack untuk kedua pasangan muda mudi tersebut.

Setelah meletakkan makanan dan minuman milik Leon dan kekasihnya, Rebecca pun pergi dan masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu ingin segera beristirahat karena dia sangat lelah setelah perjalanan kaki yang cukup jauh.

Saat hendak masuk ke dalam kamar mandi, seseorang menjambak rambutnya.

"Kalau sampai Papa dan Mama tahu tentang ini semua, lo bakal tahu apa akibatnya," ucap Leon yang tengah menjambak rambut Rebecca, suaranya begitu tajam.

Rebecca meringis kesakitan, tapi Leon belum kunjung melepaskan jambakannya.

"Lo paham kan?" tanya Leon lagi, suaranya menuntut.

Rebecca mengangguk cepat. Dia berharap Leon melepaskan jambakannya segera.

Setelah mendapat jawaban dari Rebecca, Leon melepaskan jambakannya pada rambut gadis itu. Sebelum dia pergi, Leon mengecup kedua pipi gadis itu.

Sekarang tinggalah Rebecca seorang diri, di dalam kamarnya. Rebecca hanya tersenyum getir dengan apa yang telah Leon lakukan padanya. Dia berjanji, hingga saatnya tiba, dia akan pergi meninggalkan Leon dan orang-orang yang telah menyakitinya.

1
Vindy swecut
karya novel nya akak keren2 👍🏻👍🏻❤️
D Mamie...
luar biasa
Rahman Padaka
becanda kasihan 😭😭
Bian
Please kalian balikan ya
Bian
Bilangnya gk mau terlibat lagi tapi nyuruh Nayla culik ashley 🤬
zeykiera
jadi sedih/Sob/
Bian
Knp jadi asing padahal dulu sahabatnya 🤧
zeykiera
/Good/
Rafika Adami
buat leo myesal
Bian
Gitu bngt emaknya
Bian
Knp harus di jahit sih
PutraNajwa
🤣🤣🤣
mampus... itu baru peringatan loh buat loe nathan.
tunggu pembalasan berikut karmanya ya.
oh si leon juga tunggu jatah loe.😈😈😈
joyji
Nathan saiko
joyji
Nathan jahat bnget
PutraNajwa
ya ampun.
iblis banget ya so nathan itu.
lagi nunggu karma untuk orang2 yg udah jahatin rebecca thor
Ria Nasution: kapan Nathan dapat balasan atas perbuatannya gitu thoor dah terlalu gregetan liat tingkah nya
total 1 replies
@long-distance
klo stefano d bikin berubah jahat suatu saat.. mari kita santet online kkak othor nya...😆😆😆😆😆
Ria Nasution
semoga Stefano tidak berubah ke depannya dan tulus dengan Rebecca
@long-distance
sulap si becca jd cantik dong thorr.. jngan dekil mulu... masa udah hidup d luar pnampilan tk berubah..
joyji
lnjut thor
Yarni Manao
karma di bayar tunai Leon
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!