Aditya , seorang remaja miskin , karena dosa yang tidak sengaja dia buat , terpaksa di kejar kejar dua kelompok gangster .
lalu ada lagi para pembunuh bayaran yang mengincar nyawa nya , atas suruhan seseorang .
Ada pula sekelompok preman , yang mencari nya , juga atas suruhan seseorang .
Dapatkah Aditya mengatasi masalah nya .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Jadi benci , Benci jadi Dendam .
Meskipun kedua wanita cantik ini sudah dandan habis habisan , mengenakan lingerie seksi , namun sedikitpun Aditya tidak bergeming juga .
"Didit jahat !, kakak sudah susah susah dandan habis habisan , tapi tetap di cuekin , Didit jahat ah !" kata Aurelia .
"Didit memang jahat kak !, Didit Kecil !, kerempeng , miskin !, tidak setampan dan segagah orang lain !, terserah kakak berdua deh , mau bilangin Didit apapun , kalian semua yang benar , Didit yang salah !" kata Aditya sambil bangkit berdiri , berjalan kearah sofa , lalu menyandarkan tubuh nya di sofa itu .
Aurelia bangkit berjalan kearah Aditya , lalu duduk di samping nya .
"Iya deh , kakak yang salah , maafin kakak ya Dit !, kakak enggak sungguh sungguh kok , cuma mau godain Didit aja , kakak sayang nya cuma sama Didit seorang kok , Didit jauh lebih tampan dari ayah kok !, lebih muda !, nyiramin kebon yuk sayang yuk !" bujuk Aurelia .
Siska duduk Disamping Aditya ,di cium nya pipi anak muda yang lagi ngambek itu .
"Udahan dong ngambek nya Dit !, cape ngambek terus , maafin Kak Sis ya Dit , kakak janji enggak lagi lagi deh !" ucap Siska sambil menarik tubuh anak muda itu ke dalam pelukan nya .
Burung perkutut itu sudah mulai berbunyi didalam sangkar nya , Siska tahu , itu tandanya Ngambek nya sudah mulai berhenti .
Malam pun berlalu dengan lambat , menghantar tiga anak manusia di dalam pendakian mereka , setelah cukup tinggi , lalu terhempas berpeluh , terkulai lemas , namun dengan senyum sumringah .
Ke esokan hari nya , rutinitas pun kembali berlangsung seperti biasa nya .
Sebelum pergi ke kantor nya , seperti biasa nya , Aurelia mengantarkan Aditya ke sekolah nya terlebih dahulu , barulah mereka ke kantor .
Pulang sekolah pun , Aditya sudah terbiasa diantar kekantor Aurelia terlebih dahulu , barulah mereka sama sama pulang pukul lima sore .
Pagi itu Aditya seperti biasa nya , berkumpul dengan ketiga orang sahabat nya dibawah pohon Ketapang tua di samping sekolah , tempat mereka biasa mangkal .
Baru saja mereka duduk di bawah pohon ketapang itu , tiba tiba muncul Jain dan Anita Chan di depan mereka sambil bergandengan tangan .
"Ikut nimbrung di sini boleh ?" tanya Anita Chan pada Deri Chan .
"Kenapa mesti ijin sama aku , mau duduk , mau berdiri atau nungging , terserah kau !" jawab Deri Chan rasa tidak suka pada Anita Chan dan Jain .
"Ini kan markas kalian , jadi wajar aku minta ijin pada kalian dong !" kata Anita sambil menarik tangan Jain untuk duduk .
Sambil menyapu kursi kayu itu dengan tangan nya , Jain sengaja menepuk paha Aditya dengan sangat keras nya .
"Hei anjing !, minggir !, tuan mu mau duduk !" kata kata Jain di tujukan pada Aditya .
Deri berdiri sambil memegang erat leher baju Jain , "hei kau yang anjing , datang datang membuat masalah saja !" ...
Aditya dan Dodo segera melerai Deri yang marah .
"Sudahlah Der !, biar kita saja yang mengalah , tidak usah diperpanjang !" kata Aditya .
"Hei Deri Chan !, seharus nya kau seperti budak itu , tidak usah melawan ku , kau bukan level ku Der !, lihat tuh si anak haram , dia tahu diri !" kata Jain sambil menunjuk kearah Aditya .
Mendengar cerca An dan hinaan dari Jain yang sudah keterlaluan itu , Aditya berpaling menatap kearah nya , "penghinaan mu sudah keterlaluan Jain , aku bukan anak haram , ayah dan ibu ku ada , kau sombong karena orang tua mu pemilik perusahaan besar , jadi kepala mu besar , tetapi perlu ku peringatkan kepada mu Jain , kekayaan orang tua mu itu tidak bakalan bertahan hingga besok !" kata Aditya sambil berlalu masuk kedalam kelas .
Setelah agak jauh dari mereka , Aditya mengeluarkan handphone nya, lalu beralih ke mode pribadi , dan menelpon Evelyne .
"Halo adik !, ada apa tiba tiba menelpon ?" tanya Evelyne .
"Kau tahu tentang pak Leo ?, Konglomerat pemilik Duyung mas Group , aku ingin dia bangkrut se bangkrut bangkrut nya !" kata Aditya .
"Boleh aku tahu alasan nya adik ?" tanya Evelyne .
"Aku tidak suka dengan manusia sombong , dia sudah mengatasi ayah menjinahi ibu sehingga lahir diri ku , dan dia menyamakan aku dengan anjing segala !" kata Aditya .
"Sebegitu sombong nya kah dia ?, lalu apa yang adik ingin kan ?" Tanya Evelyne .
"Aku ingin mereka merasa kan bagai mana pedih nya menjadi orang miskin itu kak , agar mereka tidak se enaknya menghina orang miskin !" kata Aditya .
"Oke !, oke Bos !, ini perintah pertama sebagai pengganti papa kan ?" tanya Evelyne .
"Ya kak !" ...
"Oke bos , jangan khawatir , itu masalah kecil !" jawab Evelyne sambil menutup telepon nya .
Aditya menyimpan handphone nya di dalam tas , lalu berjalan menuju kelas nya .
Beru saja beberapa langkah dia berjalan , dari belakang sebuah kelas terdengar suara seseorang memanggil nya .
"Hei Aditya !, Aditya !, kesini lah sebentar !" ...
Aditya mencari asal suara itu , ternyata dari belakang sebuah kelas .
Disana terlihat ada empat orang dara cantik kelas dua belas yang sedang melambaikan tangan pada nya .
Aditya berjalan mendekati kearah ke empat dara itu
Mereka adakan Helen and tha Gang yaitu Helen si bunga paling cantik di sekolah , bersama Gang nya Rury , Mety dan Lusy .
Helen ini terkenal sebagai seorang playgirl , konon hampir semua remaja tampan yang seangkatan dengan nya , pernah menjadi kekasih nya .
Maklumlah seorang dara cantik dan putri orang kaya raya pula , sehingga banyak laki laki yang mengerubungi nya .
Ke empat wanita ini sekolah satu tingkat diatas Aditya .
Aditya melangkah kearah ke empat wanita cantik itu .
"Ada apa kak ?" tanya Aditya pada mereka .
Melihat kedatangan Aditya, ketiga sahabat Helen segera beranjak dari tempat itu , dengan alasan ingin membeli pulpen di toko depan sekolah .
"Duduk lah dulu disini Dit , nama mu Aditya kan ?" tanya Helen .
Aditya duduk Disamping Helen sambil menyandarkan tubuh nya di sandaran kursi .
"Iya kak !, nama saya Aditya , kelas sebelas , kakak anak kelas dua belas kan ?" tanya Aditya .
"Iya , panggil Helen aja , jangan pakai kakak , tidak enak didengar !" pinta Helen pada Aditya .
"Tetapi peraturan sekolah kita mengharuskan seorang yunior memanggil kakak kepada senior nya kak !" jawab Aditya .
"Masa bodoh dengan segala aturan itu Dit !, begini saja , kau boleh memanggilku kakak di depan orang banyak , tetapi saat berduaan seperti ini , kau harus memanggil ku Helen saja , kau mengerti Dit ?" tanya Helen sambil memain kan anak rambut nya .
"Iya deh kak eh Helen !" kata Aditya agak kikuk .
"Heran !, kamu itu sangat susah didekati Dit !, seperti burung merpati , di diemin mendekat , di deketin terbang , kenapa sih Dit , tidak suka berteman dengan ku ya ?" tanya Helen .
"Suka kok , Didit bisa berteman dengan siapapun juga , tidak pilih pilih !" jawab Aditya .
Tiba tiba Helen menggenggam jari tangan Aditya , "sungguh kah ?, Helen boleh berteman dengan Aditya ?" tanya nya .
"Iya Helen !, kita berteman !" jawab Aditya dengan lugu nya .
"Ya mulai hari ini Aditya teman Helen selama nya !" ucap Helen sambil menggenggam tangan Aditya .
"Ya !, iya !" cuma itu yang bisa diucapkan oleh Aditya dalam perasaan yang tidak mengerti .
Tanpa dia sadari , dari kejauhan , sepasang mata mengawasi mereka dengan perasaan dongkol .
Roy mengepalkan tangan nya kuat kuat , "awas kau !, kurang ajar sekali dia !" runtuk nya dengan sangat marah .
Tubuh Roy menghilang di sudut gang sekolah , sementara bel tanda masuk sekolah pun berbunyi .
Pelajaran pagi itu cukup membosankan bagi Aditya , sehingga dia tidak terlampau fokus pada mata pelajaran nya .
Hingga bel istirahat berbunyi , dia tidak banyak mengerti dengan materi yang diajarkan guru nya .
Ketiga sahabat nya sudah menunggu nya di bawah pohon Ketapang tua , seperti biasa nya .
Dari kejauhan , Aditya melihat Anita Chan dan Jain berjalan berpegangan tangan , berjalan kearah kantin .
...****************...