Jauh di lubuk hatiku, aku menolak pernikahan ini. Tapi bagaimanapun, aku tidak bisa mengecewakan kedua orang tuaku.
Aku terpaksa menikah dengan laki-laki yang tidak aku cintai sama sekali. Ini di karnakan, pacarku yang akan menikah denganku, menghilang. Bisakah aku mengubah rasa terpaksa ini menjadi rasa cinta pada suamiku? Haruskah aku bertahan dengan orang yang dingin seperti Adya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
"Hehehe ... sudahlah, jangan banyak bicara yang tidak ada gunanya. Aku tidak punya waktu untuk menanggapinya lagi. Sekarang minggir dari jalanku, aku ingin ke kamar Maya."
"Baiklah, kalau begitu, kita satu arah dan satu tujuan," kata Bram dengan mantap.
Aku terdiam. Ternyata dugaan ku benar, kalau Bram memang ingin melihat Maya tadinya.
"Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu punya pikiran kalau aku dan Maya ada hubungan saat ini?" tanya Bram tiba-tiba.
Aku yang termenung tiba-tiba sadar dengan pertanyaan itu. Bagaimana ia bisa tahu apa yang aku pikirkan? Apakah sangat jelas di matanya, kalau aku sedang memikirkan apa yang ia tanyakan?
"Kaila, ingin aku jelaskan sedikit padamu soal aku dan Maya. Awalnya, aku memang bilang pada Maya kalau aku suka padanya. Tapi tidak, Maya telah menyadarkan aku kalau aku tidak sedang jatuh cinta padanya. Dia menyadarkan aku, kalau aku hanya sedang tertarik sesaat saja. Apa yang Maya katakan itu benar adanya, aku sadar kalau aku tidak sedang benar-benar jatuh cinta pada Maya. Tapi saat itu aku sadari, kamu sudah menjadi milik orang lain."
Bram menjelaskan dengan nada yang penuh dengan penyesalan. Dan anehnya, aku menjadi pendengar terbaik dari apa yang Bram jelaskan. Mungkin karena aku memang sangat ingin tahu apa yang telah terjadi, itu sebabnya aku tetap mendengarkan apa yang Bram katakan.
"Aku tidak bisa mengembalikan waktu seperti semula, Kaila. Jika saja aku bisa, maka akan aku lakukan."
"Sudahlah, aku tidak ingin mendengarkan celotehan yang tidak ada artinya sama sekali ini, Bram."
Aku berjalan meninggalkan Bram setelah mengatakan hal itu. Aku lihat, Bram menyusul aku dari belakang menuju kamar Maya.
Saat pintu terbuka, terlihatlah Maya sedang duduk sambil di suapi mamanya bubur. Ia yang biasanya selalu terlihat kuat saat berhadapan denganku, kini telah berubah. Maya terlihat semakin pucat sekarang.
Saat aku ingat apa yang Bram katakan padaku tadi. Aku jadi merasa sangat bersalah sebagai seorang teman. Aku telah menuduh Maya merebut Bram, padahal tidak sama sekali.
"Kaila."
Maya terlihat agak terkejut saat aku masuk dengan Bram yang menyusul dari belakang. Ia seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Maya. Kaila sudah tahu semua tentang penyakit kamu, nak. Mama telah mengatakan pada Kaila kemarin. Kamu tidak bisa terus menyimpan penyakitmu dari dia. Kalian berdua berteman sejak lama, bukan?" kata mamanya menjelaskan.
Maya tertunduk sedih. Saat mendengarkan apa yang mamanya katakan. Mungkin, ia tidak akan pernah mau aku tahu kalau dia sedang sakit parah.
"Untuk Bram. Mama juga yang kasih tau kalau kamu sedang sakit, dan di rawat di rumah sakit ini. Mama berharap, Kaila dan Bram bertemu saat mereka sama-sama mengunjungi kamu. Sama seperti yang kita lihat saat ini," kata tante menjelaskan sambil tersenyum padaku dan Bram.
Ternyata, ini ulah tante yang ingin aku dan Bram bertemu. Apakah tante ini tidak tahu kalau aku sudah menikah dengan kakaknya Bram? Kenapa harus ia pertemukan aku dan Bram lagi. Aku tidak suka dengan ide tante ini.
"Lho, kalian kok malah bengong di situ sih. Ayo sini." Mama kembali bicara saat aku dan Bram terdiam di depan pintu masuk.
"Eh, iya tante."
Aku langsung berjalan cepat mendekati Maya. Aku letakkan keranjang yang berisikan buah-buah segar yang sempat aku beli tadi sebelum kesini.
"May, gimana kabar kamu hari ini?"
"Aku baik-baik aja Kaila. Terima kasih kamu udah mau jenguk aku sekarang," kata Maya dengan suara pelan.
"Sama-sama. Mulai sekarang, aku akan selalu jenguk kamu ke rumah sakit ini. Kamu harus kuat ya." Aku memegang tangan Maya dengan lembut.
"Kaila."
Maya malah memeluk aku saat aku menyentuh tangannya. Entah apa yang ia rasakan. Aku juga tidak tahu. Ia memeluk aku dengan pelukan yang sangat erat.
"Maya. Ada apa?"
"Aku minta maaf."
"Untuk apa, May?"
"Karena aku kamu terluka."
"Maya. Aku tidak terluka, May. Aku baik-baik saja saat ini. Siapa bilang aku terluka, kamu gak lihat ya kalau aku baik-baik saja."
Aku membuat ia melepaskan pelukannya dan aku buat ia melihat wajah cerah ku yang penuh semangat. Aku tersenyum padanya. Senyuman yang paling manis aku tunjukkan pada Maya sekarang.
APA KATA BRAM TADI? CINTA SESAAT.. PENGEN NGAKAK AKU,APA BRAM AMNESIA? MALAH WAKTU ITU DIA SENDIRI NGAKU DENGAN MAYA DIA GAK MENCINTAI KAMU,NIKAH JUGA ORTU YG MAKSA,DIA BILANG TERGILA-GILA DENGAN MAYA,UDAH MAU NIKAH AJA MASIH SELINGKUH,ORANG KALO SEKALI SELINGKUH TETAP AKAN SELINGKUH,APAPUN ALESANNYA,DIA SUDAH MEMPERMALUKAN PIHAK KELUARGA WANITA..🙄🙄🙄