"Alzena Morgan" terpaksa harus meningal kan kekasih nya karena di paksa sang papa untuk menikah dengan laki-laki pilihan papa nya.
Sempat memberontak dan ingin kabur namun gagal karena di ancam oleh sang papa.
"Menikah lah dengan putri ku, hanya kau yang bisa aku percaya untuk memiliki nya" ucap tuan Morgan kepada Gara.
"Apa? Om, apa aku tidak salah dengar?" tanya Gara kaget sekaligus bingung.
"Hanya kau yang akan mencintai nya dengan tulus dan bukan karena dia pewaris tunggal kelaurga kami," ...
"Elgara Aidenio" seorang CEO di perusahaan xx grup, yang kerap di panggil tuan muda Gara pemilik perusahaan terbesar di kota x, ayah nya adalah sahabat dekat tuan Morgan, namun ayah nya Elgara Aidenio sudah lama meningal.
Bagaimana kah kisah rumah tangga Alzena selanjutnya dengan suami pilihan sang papa? Ayo ikuti kisah "Suami Pilihan Papaku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #30
Setelah lama mengobrol dengan Lola, akhirnya Alzena pun memesan makanan dan minuman.
Selang satu jam kemudian, dia lun selesai makan dan berpamitan dengan Lola untuk segera kembali ke mansion,
Namun tampak nya hari sudah semakin sore, hal ini membuat jantung Alzena jadi tidak aman,dia khawatir jika Gara sudah kembali dan akan sangat marah mengetahui dia keluar tanpa seijin dari Gara sendiri.
Namun saat ingin keluar dari restoran, tampa sengaja dia menabrak seorang laki-laki yang seperti nya juga baru mau masuk ke dalam restoran tersebut, membuat tas Alzena jatuh.
Brak ...
"Astaga, maaf-maaf aku buru-buru," ucap Alzena kepada orang tersebut.
"Ah, tidak masalah, biar kan aku yang mengambil tas nya, ini ambil lah,"ucap laki-laki tersebut memberikan tas Alzena kepada Alzena dan kemudian masuk kembali ke dalam restoran.
"Mengapa dia mengambil nya? Bukan kah aku bisa sendiri?" tanya Alzena dengan bergumam kecil kepada dirinya sendiri.
Namun Alzena tidak tau, ada yang memotret saat laki-laki tersebut memberikan tas itu kepada dirinya.
Alzena pun menepis rasa bingung nya dan kemudian berjalan masuk ke dalam mobil.
Mereka pun akhirnya melaju untuk kembali ke mansion.
Tidak butuh waktu lama, Alzena pun akhirnya tiba di mansion dengan perasaan takut dan khawatir, karena dia sudah melihat mobil Gara yang terparkir di garasi mobil.
"Waduh, mati lah aku, aku pasti akan mendapatkan Omelan," batin Alzena yang kemudian berjalan masuk ke dalam mansion sambil mempersiapkan mental nya untuk menghadapi Gara.
Suasana mansion cukup sepi, dan Alzena pun melihat sekeliling namun tidak ada Gara, dia pun berjalan cepat menaiki tangga untuk segera pergi ke kamar.
"Huh, aku harus yakin jika dia tidak akan mengomeli aku," ucap Alzena yang kemudian mengendap-endap masuk dalam kamar lalu menutup kembali pintu kamar tersebut.
Namun tiba-tiba saja seseorang menarik dan menyudutkan nya hingga Alzena kini tersandar di dinding kamar dengan perasaan takut, kamar itu tidak biasanya gelap namun kali ini tidak ada satu pun lampu yang menyala.
"Dari mana saja kau?" tanya Gara yang mengunkung Alzena ini di tepi tembok kamar.
"Ak ... Aku ... Aku dari luar," jawab Alzena gugup.
"Siapa yang memberikan ijin keluar? Dan mengapa sampai sore, apa kau tidak lihat? Ini sudah jam 05.40?"
Gara terlihat marah, deru nafasnya kali ini terasa lebih mengerikan dari biasanya.
"Aku ... Aku hanya, aku hanya bosan," ucap Alzena sambil memegang lengan Gara dia tau saat ini dia lah yang salah dan dia harus melakukan sesuatu untuk meredam amarah suaminya yang posesif ini.
"Bosan? Bosan katamu? Mengapa kau tidak menelpon ku? Dan satu lagi, mengapa tadi saat aku ajak keluar kau malah tidak mau hah!" marah Gara sambil mencengkram lengan Alzena.
"Gara lepas ini sakit," ringis Alzena yang kebingungan karena Gara terlihat sangat marah bahkan ini sangat mengerikan bagi nya.
Gara terdiam, dia benar-benar tidak bisa mengontrol emosi nya karena Alzena.
"Kau itu istri ku Alzena, apakah pantas kau keluar lalu bertemu dengan laki-laki lain?" ucap Gara mulai berbisik ke telinga Alzena dengan nada yang menakutkan.
Alzena kaget mendengar ucapan Gara barusan, dia menatap Gara dengan tatapan bingung merasa tidak percaya atas tuduhan Gara yang tidak-tidak ini.
"Apa yang kau katakan? Aku hanya pergi ke restoran untuk makan dan tidak sengaja bertemu dengan teman ku dan dia perempuan bukan laki-laki," bantah Alzena yang kini sudah mulai mengeluarkan air mata nya.
"Lalu apa ini?" tanya Gara memberikan ponsel nya yang berisikan foto Alzena dan seorang laki-laki berdiri di depan restoran.
"Astaga, bagaimana bisa kau salah paham dengan ini? Dan siapa yang memberikan foto ini kepada mu?" tanya Alzena kaget.
"Tante yang memberikan nya," jawab Gara.
"Apa? Tante? Jadi dia memata-matai aku!?" kaget Alzena.
Gara terdiam dan merasa ini juga Sanga to bagus di lakukan Tante Helen, membuat Alzena jadi tidak nyaman.
"Aku tampa sengaja menabrak orang itu saat ingin keluar lalu dia mengambil tas ku dan memberikan nya kepada ku," jelas Alzena kepada Gara.
"Benar kah?" ucap Gara sambil tersenyum.
"Mengapa kau tersenyum?" tanya Alzena lagi.
"Karena aku sudah tau, kau pikir aku bodoh bisa mempercayai ini begitu saja? Selamat anda kena prenk! Hahaha!" ucap Gara yang kemudian tertawa dengan renyah nya.
"Apa? Jadi sedari tadi kau mengerjai aku!" Alzena tak kalah kesal dia pun mengambil bantal dan kemudian memukuli Gara dengan bantal.
"Astaga kabur!" ucap Gara berlari menghindari Alzena.
"Tunggu kau! Elgara Aidenio!" teriak nya yang kemudian mengejar Gara.
"Ampun, ah, tolong sayang maaf kan aku," ucap Gara ini meringkuk di atas ranjang dengan Alzena di atas tubuh nya dan juga bantal yang terus di pukul kan ke Gara.
"Ini lah akibatnya jika sudah membuat jantung ku hampiri Copot!" Omel Alzena dengan penuh emosi.
Gara pun membiarkan istri nya itu memarahinya sampai dia lelah.
Akibatnya kini Alzena malah terhuyung dan jatuh ke dada Gara dengan begitu lelah.
"Tan ... Tante ... Huh, dia mencoba memnfinah aku, mengapa dia harus melakukan ini?" ucap Alzena yang kini terlihat nyaman di atas tubuh Gara.
"Dia tidak bermaksud seperti ini, mungkin dia hanya berniat untuk membuat rumah tangga kau dan aku tidak berantakan," ucap Gara sambil melingkari tangan nya ke pingang Alzena.
"Tapi mengapa harus seperti ini, dia bisa ikut dengan ku jika memang mau jadi pengawal pribadi ku," ucap Alzena dengan polos nya kini dia seperti tidak sadar jika sudah sangat dekat dengan Gara dia bahkan sudah sangat nyaman dengan posisi dirinya yang kini berada di atas tubuh kekar suaminya.
"Haha, kau ingin Tante jadi pengawal mu? Maaf kan saja dia, kau ini sangat polos, aku tidak akan mudah percaya dengan orang lain, jadi kau tidak perlu khawatir," ucap Gara sambil mengelus punggung Alzena.
"Hmmm, kali ini aku anggap itu hanya kesalahan kecil, tapi aku harap nanti tidak ada lagi kesalahan seperti ini," ucap Alzena yang asik dengan aroma parfum suaminya yang membuat nya candu.
"Aku tau itu," ucap Gara kini dengan cepat memindahkan posisi mereka, sehingga kini Alzena berada di bawah kungkungan nya di atas ranjang.
"Eh," kaget Alzena sambil menatap wajah Gara yang begitu dekat dengan nya.
"Tadi aku bertemu papa, dia menanyakan soal kapan kau akan hamil?" ucap Gara mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Apa? Hamil?" kaget Alzena dengan tangan menahan dada Gara agar tidak terlalu dekat dengan dirinya.
Gara tersenyum melihat wajah lucu Alzena setelah dirinya menyatakan tentang sang papa yang ingin cepat-cepat memiliki cucu, Alzena terlihat sangat takut dan wajah nya seketika pucat.
Bersambung ....
penasaran ni...lanjut thorrr