Mohon anak-anak di bawah usia tidak membaca cerita ini, terima kasih :)
Calissa mencoba melarikan diri, setelah dirinya di paksa oleh menikah dengan seorang lelaki bernama Brian. Calissa tahu, jika Brian adalah sosok lelaki kasar dan sangat suka main tangan.
Untuk menghindari pernikahan paksa, Calissa nekad melarikan diri dari rumah. Gadis muda berusia 21 tahun, yang begitu polos dan bahkan tidak mengenali dunia luar.
Hingga dia bertemu dengan sang mantan kekasihnya, Arsen. Dan menerima tawaran untuk tinggal bersamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnes Fetrika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Thirty : masa lalu yang kelam
“Jadi.. Berapa lama ??”
“Apanya ??”
“Berapa lama dia muncul di dalam tubuhmu ??” Ujar Arsen dengan nada sedikit serius, dia menatap ke arah adik kembarnya yang mulai memberikan ekspresi yang berubah.
Kedua kakak beradik kembar itu duduk di ruangan pribadi milik Arsen. Bukan ruang bawah tanah, melainkan ruangan pribadi yang biasa dia gunakan untuk bekerja di rumah, ruangan itu berukuran kecil tapi nyaman, dengan sofa, AC, meja, kursi, dan komputer. Biasanya Arsen akan melembur atau membawa pulang pekerjaannya, dan melanjutkannya di ruangan pribadinya itu. Calissa pernah masuk dulu, hanya saja pelayan lain tidak ada yang boleh masuk, hanya Calissa saja.
Arsel duduk di sofa yang bersebrangan dengan kakak kembarnya, mendengarkan pertanyaan itu, dia awalnya hanya bisa menundukkan wajahnya tidak berani menatap ke arah kakak kembarnya, tapi kemudian dia mulai memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya lagi.
“Jika... Kau ingat, saat kau di usir secara kasar oleh ayah dan ibu.. ??”
“Ya... ?? Hanya karena aku melakukan kesalahan kecil, bukan ?? Jangan bilang kau-”
Arsel mengangguk, dia tahu Arsen sengaja tidak melanjutkan ucapannya lagi, tapi tatapan kakak kembarnya sudah menunjukkan apa yang hendak di katakan nya. Di tambah ekspresi sedikit kaget, dan terlihat sedikit ketakutan itu membuat Arsel sedikit merasa bersalah.
“Aku stress, aku bimbang.. Kau tahu sendiri bagaimana ayah dan ibu kepadaku ?? Mereka memang memanjakanku tapi mereka juga yang mendorongku secara paksa. Aku membiarkan Arish mengambil alih, karena aku lelah dengan semuanya. Aku ingin beristirahat sejenak dari semua kekacauan yang terjadi.” Ujar Arsel kini mulai memperlihatkan nada serius dan ekspresinya juga. Membuat suasana pembicaraan mereka begitu berat, tapi bagaimanapun mereka harus menghadapi suasana ini, karena satu-satunya cara untuk menyelesaikan semuanya adalah berbicara satu sama lain, hanya itu.
“Kau.. Masih meminum obatnya ??” Ujar Arsen dengan sedikit hati-hati.
“Awalnya iya, tapi suasana begitu menggelap, dan begitu berat bagiku. Di tambah melihatmu di usir secara paksa saat itu, membuatku semakin terus menyalahkan diriku sendiri.”
Flashback.
Arsel berjalan mencari kemana perginya kakak kembarnya itu, Arsen berkata akan mendatangi kamarnya untuk membicarakan sesuatu, tapi remaja berusia 15 tahun itu masih belum menemukan dimana kakaknya berada, dan rumahnya terlihat sepi kemana ayah dan ibunya ?? Batinnya. Hingga dia memutuskan untuk menuju ke halaman depan, dan tidak sengaja melihat pemandangan yang seharusnya tidak dia lihat.
Dia melihat kakaknya, Arsen berada di depan halaman rumah, berdebat penuh emosi dengan kedua orang tuanya. Arsel tahu hubungan Arsen dan kedua orang tuanya sangatlah tidak akrab, dan bahkan cenderung selalu bertengkar. Di tambah kedua orang tuanya lebih membanggakan dirinya ketimbang kakaknya, tapi itu tidak membuat Arsel melupakan kakaknya.
Arsen selalu ada di sisinya, saat dia membutuhkan bantuan, entah dalam pelajaran, atau saat sakit, Arsen yang pertama kali membantunya. Karena itu Arsel tidak pernah bersifat semena-mena bahkan menghargai kakaknya, anehnya kedua orang tuanya malah tidak menyukai atau bahkan membenci Arsen. Padahal Arsen adalah anak yang rajin, pintar, memang agak nakal dan cara dia berbicara sedikit kurang sopan, tapi Arsen masih terhitung lebih baik daripada teman sekelas Arsel yang bahkan memaki dan memberikan kata-kata kasar kepada orang tuanya sendiri.
Hal yang membuat Arsel semakin sakit adalah saat ibunya sendiri menghina dan memaki kakaknya itu.
“Pergi dari sini, kau anak sialan !! Kau pembawa kesialan bagi keluarga ini ?!”
“Heh !! Kaulah pembawa sial di keluarga ini yang sebenarnya, kau pikir hanya karena kau melahirkan ku, aku akan takut begitu saja kepadamu !!” Ujar Arsen membalas.
Ayahnya melemparkan tas koper yang berisikan pakaian milik Arsen.
“Kau pikir dengan menghina ibumu adalah sesuatu yang keren di matamu ?! Pergi dari sini, bawa barang-barang mu !!”
“Well, terima kasih banyak.” Ujar Arsen dengan sarkas, “Dan kau berfikir sebagai orang tua menghina, mencaci, dan menganggap dirimu hebat, adalah orang tua yang baik. Pffttt.. Segeralah ke neraka, tua bangka !!”
Kedua orang tua sangat marah, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa, di tambah beberapa orang tetangga melihat ke arah mereka. Perkataan Arsen sengaja dilantangkan agar orang-orang bisa mendengarkan semuanya, dan sepertinya perkataan Kak Arsen menjadi boomerang bagi kedua orang tuanya. Banyak orang yang berbisik-bisik ke arah kedua orang tua Arsen dan Arsel, setelah kepergian Arsen menggeret kopernya sendiri.
Para tetangga tahu, seperti apa Arsen. Meskipun terkadang dia bersifat tidak sopan, dan bahkan berbicara dengan spontan apa yang ada di mulutnya, tapi Arsen tidak pernah menyakiti siapapun, dia bahkan membantu beberapa orang, jadilah para tetangga tentu akan mencaci kedua orang tua Arsen daripada Arsen.
Sementara Arsel yang melihat kepergian Arsen, berdiam terpaku di sana. Sedih, sakit dalam hatinya, ingin dia berlari hanya untuk menahan kakaknya pergi, tapi melihat banyak orang di sana, membuat Arsel mengurungkan niatnya sendiri. Menahan sakit itu semua dalam dirinya.
Flashback off
Arsen hanya bisa terdiam, setelah dirinya pergi. Arsen bahkan harus mencari tempat tinggalnya sendiri dan pekerjaan untuk kehidupannya, hingga akhirnya Arsen menjadi bos besar seperti ini, dia tidak pernah tahu atau bahkan mencari tahu mengenai keluarganya setelah itu, dirinya hanya enggan menemui kedua orang yang sudah memperlakukannya dengan sangat tidak adil. Tapi Arsen dalam lubuk hatinya tidak pernah sekalipun membenci Arsel.
“Apa yang terjadi setelah itu ??” Tanya Arsen menatap ke arah adik kembarnya.
Arsel terdiam, “Kehidupan kami perlahan berubah... Para tetangga mulai memberikan reaksi kebencian kepada kedua orang tua kita.. Dan kau tahu sendiri, bukan ?? Aku selalu dituntut dengan berbagai tuntutan. Aku menjadi stress, aku kemudian menemui Arish di dalam pikiranku, dan membiarkannya untuk bisa mengambil alih pikiranku dan tubuhku.”
Arsen menghela nafasnya berat, kehidupan mereka benar-benar mengenaskan tinggal bersama dengan kedua orang tua yang sangat toxic dan begitu menyebalkan. Mungkin jika mereka masih hidup, Arsen akan datang kembali ke rumah hanya untuk memberikan sedikit pelajaran kepada kedua pasangan gila yang telah menciptakan mereka.