Via menata kembali kehidupannya setelah orang tuanya meninggal dalam kecelakaan dan kakaknya berakhir dalam kondisi vegetatif di rumah sakit.
Saat inilah Ziga datang menawarkan sebuah pernikahan kontrak.
Apakah akhirnya mereka saling mencintai atau hanya sebatas kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvi Barta Jadul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegelisahan Ziga
"Hmm," Via berdehem berusaha membangunkan Ziga.
Ziga pun langsung membuka matanya.
"Akhirnya kau kembali juga," ucap Ziga lega, entah mengapa dia tidak terlalu suka melihat kedekatan Via dengan Jordan.
"Iya, kau menungguku ?" tanya Via.
"Ada apa ?" tanya Via lagi. Gadis itu heran melihat Ziga yang menunggunya.
Ziga hanya terdiam menatap tajam ke arah Via. Tatapan Ziga membuat Via merasa takut, karena dia melihat jejak kemarahan yang terlintas di mata Ziga.
Mereka berdua saling menatap dalam diam, tak ada satupun dari mereka yang berbicara.
"Masuk dan tidurlah !" ucap Ziga pada akhirnya memecah kesunyian di antara mereka.
Via mengangguk pelan,
"Kamu juga istirahatlah !" cetus Via.
"Aku akan menunggu kedatangan Mamah dan Papah," jawab Ziga.
"Oh, kapan pesawatnya akan tiba ?" tanya Via ingin memastikan kedatangan kedua calon mertuanya.
"Aku ingin menyambut mereka," ucap Via.
"Sebaiknya kau istirahat, pesawat mereka baru akan tiba tengah malam nanti," jawab Ziga sambil mengecup kening Via.
"Selamat malam !" ucap Ziga tanpa memberi kesempatan Via untuk membantah lagi.
"Selamat malam !" balas Via, walau sedikit kecewa karena tidak dapat menyambut kedatangan kedua calon mertuanya. Via pun segera masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, masih ada sekitar dua jam lagi sampai orang tuanya tiba di Bali.
Ziga tak kembali ke kamarnya, pria itu melangkah kakinya menuju Bar hotel untuk menenangkan diri.
Perasaan Ziga tengah kalut, dia merasa cemburu dengan kehadiran Jordan. Walau Jordan adalah sepupu Via, tapi dari cara Jordan memandang calon istrinya tersebut lebih seperti pandangan seorang pria terhadap seorang wanita.
Karena itu membayangkan Via berada di dalam kamar Jordan hampir satu jam lamanya, benar-benar membuat Ziga gelisah.
Ingin sekali Ziga meluapkan amarahnya, hanya saja ia tak mau membuat Via merasa takut padanya.
Untuk itu Ziga berusaha menenangkan diri dengan pergi ke Bar hotel untuk sedikit alkohol saja. Dia tidak ingin terlalu banyak mengkonsumsi alkohol malam ini, karena Ziga perlu menjaga kesadarannya untuk menyambut kedatangan kedua orang tuanya.
Ziga pergi seorang diri tanpa di temani oleh Erik, karena pria tersebut masih sibuk mempersiapkan pernikahan Ziga yang akan di selenggarakan keesokan harinya.
Ziga tak mengambil ruang pribadi di Bar, pria tersebut memilih untuk duduk di hadapan Bartender. Ada beberapa wanita nakal yang mencoba untuk mendekati Ziga. Mereka menawarkan diri untuk menemani pria tampan tersebut. Tapi semua wanita itu di tolak mentah mentah oleh Ziga. Dia datang ke Bar untuk menghibur diri dengan alkohol, bukan dengan wanita, apalagi besok adalah hari pernikahannya. Ziga tak mau membuat kesalahan dengan bermain wanita. Di tambah lagi dia masih mengingat Sarah kekasihnya. Selain merasa cemburu dengan kedekatan Via dan Jordan, Ziga juga merasa kecewa dengan Sarah. Ziga berfikir, andai saja besok yang di nikahinya adalah Sarah tentu ia tidak perlu merasa seperti ini. Tidak perlu merasa cemburu pada Via, yang seharusnya tidak boleh ia rasakan. Mengingat pernikahan mereka bukanlah pernikahan yang di dasari oleh cinta. Ziga semakin frustasi dengan keadaan ini, tanpa sadar sudah beberapa gelas alkohol yang di tenggaknya hanya untuk menghilangkan kegundahan hatinya.
Sementara itu, di sudut Bar, ada dua pasang mata yang nampak sedang mengawasi Ziga.
Salah satunya adalah Jordan, sebenarnya Jordan tak ada niatan untuk mengawasi Ziga.
Pria masuk ke dalam Bar untuk menemui Brian sahabatnya, orang yang Jordan minta untuk mencari informasi tentang Ziga.
Tak di sangka di dalam Bar, dia melihat Ziga yang tengah menyibukkan diri dengan alkohol di malam sebelum pernikahannya.
Hal inilah yang menarik perhatian Jordan, maka dari itu Jordan memutuskan untuk mengawasi gerak-gerik Ziga.
"Bro, semua info sudah terkirim lewat E-mail,' lapor Brian.
"Kau baca sendiri saja, biar jelas," ucap Brian sembari menenggak minumannya.
"Oke, nanti aku buka," jawab Jordan tanpa menoleh ke arah sahabatnya tersebut. Karena saat ini penglihatannya tertuju pada Ziga yang berada tak jauh di seberang meja tempat ia dan Brian minum.
Mata Jordan memanas saat melihat Ziga tengah memeluk pinggang ramping seorang wanita cantik.
Tanpa ia sadari, tangannya terkepal menahan emosi yang bergejolak di dadanya.
kalo 28 atau 29, mungkin lah mulai khawatir.
Btw, aku pernah baca novel yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, itu keren banget. Kalo search jangan lupa tanda kurungnya