[New York Series - 1]
Rafael Alexander-The perfect CEO. Tampang, harta, muda, dan berbakat, bisa membuat setiap orang jatuh hati dengan lirikannya, membuat Rafael digila-gilai seluruh wanita di penjuru kota New York.
Alexa McBride-Seseorang yang bekerja di sebuah penerbit buku kecil harus mengalami hal yang sangat dia benci, yaitu berhubungan dengan Rafael Alexander. Meskipun semua orang mencintainya, tapi Alexa tidak. Dia hanya terobsesi dan bukan mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alviona27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 - Picnic
Alexander Building, New York City, USA
"Pagi, Sir," sapa Ariana sambil menaruhkan sebuah laporan di atas meja kerja Rafael. "Hari ini Anda fitting gaun pernikahan bersama Nona Alexa jam sepuluh, dan setelah makan siang akan ada rapat di perusahaan Licoln mengenai masalah cabang perusahaan di Brazil."
Rafael hanya mengangguk dan membaca laporannya sebentar, saat Ariana hendak keluar dari ruangannya, Rafael kembali memanggil Ariana.
"Bukankah Matthew yang menjalankan perusahaan di Brazil?" tanya Rafael membuat Ariana kembali menuju meja Rafael.
"Benar, Sir. Tetapi ada masalah di sana, penggelapan dana yang dilakukan oleh salah satu karyawan perusahaan disana membuat cabang di Brazil hampir bangkrut," jelas Ariana. "Penggelapan dana yang dilakukan oleh Pedro Lopez."
Rafael menautkan kedua tangannya dan menopang dagunya, Pedro Lopez. Nama itu terdengar tidak asing di telinga Rafael. Brazil bukanlah negara yang sering di kunjunginya, tetapi nama itu terdengar sangat akrab di telinga Rafael.
"Hola, Raf," suara pria yang memanggil Rafael membuat Rafael berdecak dan segera menyuruh Ariana untuk keluar dari ruangannya. "Ada masalah?" tanya Ethan yang sudah duduk di sofa setelah mengambil minuman di meja bar.
"Ya ... Kau masalahnya disini. Kenapa kesini?" tanya Rafael sini dan segera duduk di dekat Ethan, membuat Ethan terkekeh.
"You know. I really miss you," terang Ethan. "Kau pergi ke Australia, Raf! Dan tidak menghubungiku? C'mon Raf, aku ini apa bagimu?"
Rafael menggelengkan kepalanya, temannya yang satu ini selalu saja minta dikabari dimana mereka berada, ya ... Termasuk Luke dan William, kalau tidak, Ethan bisa marah-marah dan mendatangi kantor mereka seperti yang dilakukan Ethan saat ini, yang tengah menatap Rafael dengan serius.
"Prioritasku bukan kau, Luke, dan William lagi, Ethan. Prioritasku sekarang adalah Alexa," kata Rafael menegaskan membuat Ethan terkekeh.
Ponsel Rafael berdering membuat kedua orang itu menghentikan obrolan mereka, Rafael bangkit dan segera mengambil ponselnya yang berada di atas meja. Thaddeus. Kening Rafael berkerut karena Thaddeus meneleponnya. Biasanya, pria itu jarang sekali menelepon Rafael kalau tidak ada yang penting.
"Hola, Raf," suara Thaddeus menggema membuat Rafael tersenyum.
"Ada apa?"
"Ada kabar baik yang ingin kusampaikan."
"Ya ... Katakan."
"Amira hamil, Raf. Dan dia ingin bertemu denganmu dan juga calon istrimu."
"Tentu. Tapi, aku tidak bisa ke Italia saat ini. Perusahaan cabangku sedang ada masalah."
"Tidak perlu ke Italia. Kami akan ke New York besok."
"Benarkah?"
Setelah berbincang-bincang sedikit, sambungan telepon terputus, dengan senyum yang masih mengembamg Rafael kembali ke hadapan Ethan yang tengah menatapnya serius.
"Siapa Amira, Raf?"
"Istri Thaddeus. Kau tahu, dia sudah hamil sekarang."
"Amira ... Luke?" tanya Ethan dibalas anggukan oleh Rafael. "Dia menikah dengan Thaddeus?"
"Iya, kau tidak tahu? Luke bahkan sudah tahu."
Ethan bangkit dari duduknya dan pergi dari ruangan Rafael dengan langkah yang tergesa-gesa membuat Rafael mengernyit bingung dengan tingkah Ethan barusan.
* * *
Alexa sudah berada di butik menunggu Rafael datang, sialan pria itu, saat sudah kembali ke New York, Rafael berubah menjadi lebih posesif dan terlebih lagi, pria itu sangat suka memeluk Alexa dari belakang.
"Hampir satu jam aku menunggu," ucap Alexa datar saat melirik Rafael yang sudah duduk di sampingnya dengan napas tersengal-sengal.
"Sorry, tadi ada Ethan dan Thaddeus yang menelepon. Aku lupa menghubungimu," kata Rafael sambil mencium bibir Alexa singkat. "Bisa kita mulai sekarang? Aku ada rapat nanti."
Alexa mengangguk dan segera pergi dari hadapan Rafael dan mencoba gaun yang akan dia pakai. Tentu saja, Alexa sangat bahagia sekarang ini. Mencintai dan menikahi Rafael adalah suatu kebahagiaan bagi Alexa.
Pakaian pertama adalah gaun panjang yang menjuntai sampai menyapu tanah, berwarna putih dengan lengan tangan yang berenda, dan juga renda yang menutupi bagian dadanya, sehingga dari dada hingga atas tidak tertutupi yang menampilkan leher Alexa yang mulus, dan pakaian itu diberikan gelengan oleh Rafael karena terlalu polos—menurutnya. Pakaian kedua hampir sama seperti tadi, dengan beda yaitu terdapat belahan di sebelah kanan hingga sampai paha, dan baju yang berenda hingga bahu. Yang jelas, diberikan gelengan kuat oleh Rafael, padahal Alexa suka gaun yang baru saja dia lepas itu.
Dan pakaian terkahir—karena Alexa sudah malas menggantinya dengan yang Rafael inginkan. Gaun yang menjuntai sampai bawah dengan seluruh gaun berenda, dan bertali yang melingkari lehernya, serta tanpa lengan itu terlihat sangat cocok buat Alexa. Rafael tersenyum dan bangkit dari duduknya, menghampiri Alexa dan memeluknya singkat.
"Aku suka yang ini," ucap Rafael sambil menggerlingkan matanya. Alexa hanya terkekeh dan tersenyum.
* * *
"Aku akan segera pulang, maafkan aku," sesal Rafael saat dirinya hendak pergi menghadiri rapat setelah makan siang berdua dengan Alexa. "Aku akan cepat pulang," ucap Rafael sambil mencium bibir Alexa singkat dan segera pergi.
Alexa menggelengkan kepalanya dan segera masuk ke dalam mobil meninggalkan restoran tempat nereka makan siang tadi.
Sampai di mansion milik Rafael, Alexa merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk milik Rafael. Menatap langit-langit kamar dan pikirannya berkelana kemana-mana. Dia akan menikah, dengan Rafael.
"Kak Alexa?" Alexa langsung bangkit saat mendengar suara Rebecca, dan langsung membuka pintu kamarnya.
"Ada apa, Becky?"
"Mau pergi piknik?"
Alexa tersenyum dan mengangguk, Rebecca langsung menarik tangan Alexa menuju halaman belakang mansion Rafael.
Disana telah ada Olivia dan Ryan, Alexa tidak tahu apa yang membuat Olivia berada disini dan bersama dengan Ryan. Alexa tidak tahu bagaimana reaksi Rafael saat melihat Olivia berada disini, memikirkannya saja membuat senyum Alexa yang tadinya merekah langsung pudar.
"Alexa ... cepat," teriak Olivia sambil tersenyum lebar, Alexa hanya mengangguk dan segera menghampiri keduanya. "Kau sudah lama tidak makan masakanku," ucap Olivia saat Alexa sudah sampai disana dan duduk di atas kain yang dibentangkan.
Alexa menerima piring yang berisi nasi goreng. Ah ... dulu, Alexa sangat suka makan nasi goreng. Tapi, entah kenapa sekarang rasanya Alexa tidak memiliki selera untuk makan itu.
"Kenapa? Tidak enak?" tanya Olivia terlihat sedih.
Alexa menggeleng cepat. "Ini enak. Aku sudah lama tidak memakannya."
Olivia tersenyum lebar. "Rafael belum kembali?"
"Dia sedang meeting."
"Kakakku itu memang seperti itu. Tapi, dia akan segera menyelesaikan semuanya agar cepat pulang. Aku merindukannya yang dulu," ucap Ryan sambil memikirkan masa lalu dirinya dengan Rafael.
"Hubungan kalian belum membaik?" tanya Alexa.
"Aku pikir Kak Fael sudah memaafkan Kak Ryan," Rebecca menjawab sambil menyendokkan makanan ke dalam mulutnya. "Aku pikir itu hanya masalah biasa. Bahkan Mom dan Dad tidak tahu apa permasalahan diantara mereka."
Alexa terdiam, dia teringat saat mereka berada di Korea Selatan, Rafael berjanji akan menceritakan semuanya kepada Alexa. Alexa pikir, mungkin sekarang adalah waktu yang tepat dan membuat hubungan Rafael dan Ryan kembali baik.
TBC
knp jd k Riyan sih marahy .