PERINGATAN!!!
Sebelum membaca, siapkanlah hati kalian seperti judul novel ini 'Seluas Samudera'. Karena kalian akan dibuat jengkel setengah mati. Jika kalian tidak siap, lebih baik mundur!
----------
Novel ini mengangkat kisah tentang seorang
Kapten pasukan khusus Angkatan Laut. Yang jatuh cinta dengan anak Komandan-nya. Mereka bertemu di rumah sakit tanpa tahu satu sama yang lain. Saat sang Kapten tertembak, dan sebagai perawat wanita itu merawatnya. Namun sayang, karena ada sesuatu hal. Sang Kapten secara sepihak memutuskan jalinan asmara diantara mereka.
Memang kalau telah dijelaskan, aku mau lepas darinya? Tentu, tidak! Aku tidak mau Dia sudah buat aku begini, malah meninggalkanku. Itu gak boleh! Oh! Aku tahu caranya biar dia bisa balik lagi bersamaku. Ya! Akan kucoba.
-Dewi Abarwati-
Dia berharap ada kata maaf dulu dari Dewi, sebelum dia merubah status hubungan mereka menjadi sepasang kekasih kembali.
-Krisanto-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30 Menghabiskan Malam Bersama 3
Hati Dewi penuh suka cita. Ya ampun... Gantungan kunci itu diambil Kris. Gimana Kris bisa tahu apa yang ada diotaknya? Apa karena gantungan itu sepasang? Tetapi kan...
Kira-kira nanti dipasang dimana ya gantungan kunci itu sama Kris? Ya, Tuhan... Hari ini dia nggak sedang bermimpi, ’kan? Kenapa Kris dari tadi terus memberinya kejutan.
Saking senangnya, Dewi melampiaskan rasa gembiranya dengan mencubit-cubit pipinya sendiri.
“Aw!” Rupanya menimbulkan sakit.
Kris menoleh. “Kenapa?”
Menggeleng cepat. "Ah, nggak kenapa-kenapa."
"Kok teriak?"
Dewi celingukan seolah-olah menuduh sekitar. Lalu dia bersikap pura-pura bego.
"Bukan aku kok."
"Oo..."
Ish, hampir saja lagi ketahuan.
"Ayo, kita ke lorong sini."
Merasa sudah kelewat batas. Kalau terus dibiarkan, dia pun bakal terus lupa diri. Dewi harus menghentikan.
"Mas, kita langsung ke kasir aja."
"Kenapa?"
"Aku nggak mau lihat-lihat lagi."
"Tapi masih ada beberapa lorong belum dilihat."
"Pokoknya, aku nggak mau."
Mengalah. "Ya udah. Kalau itu maumu."
Kemudian mereka berjalan. Setiba di sana, Kris bicara dengan kasir.
“Sudah ya Mbak, pesanan kita?”
“Iya, sudah Mas.”
Menoleh ke Dewi. “Berikan kepadaku semua barang tadi.”
Dewi menyerahkan. Kris lanjut menyerahkan termasuk gantungan kunci Daisy di tangannya. Dewi memperhatikan. Binaran-binaran kecil muncul lagi di pupil matanya. Sungguh dia senang sekali...
“Ini, sekalian dihitung ya, Mbak.”
“Baik, Mas.”
Usai Kris bayar, mereka keluar toko. Sepanjang mereka berjalan, Dewi baru menyadari ada yang berbeda di diri pria di sebelahnya ini.
“Mas, sekarang jalannya tidak seperti dulu lagi ya.”
Melirik. “Dulu, ada seorang wanita suka protes kalau jalan denganku. Wajah wanita itu persis seperti kamu." Memberi senyuman genit. "Hmm... Apa jangan-jangan kamu ya?”
Ya! Dulu semasa pacaran, Kris suka dikeluhin wanita di sampingnya ini.
Dewi merona. “Mu, mu, m-ungkin aku, Mas.”
Tersenyum. “Ya. Kurasa benar kamu.”
Dewi ini memang ada saja pikirannya. Tapi gak salah kan dia penasaran? Semua wanita kalau pria jalan cepat, pasti protes.
“Memang selain aku, tidak ada Mas?”
Melirik lagi. “Maksudmu?”
“Mm... Mm... Maksudku...”
Enak gak ya, aku bilang mantan kekasih, Mas.
“Teman-teman wanita Mas." Dewi memilih kata yang tepat.
“Nggak ada. Hanya kamu satu-satunya yang suka protes."
Masa? Apa wanita dalam hal ini dapat toleransi? Terus Tasya? Apa karena Tasya tentara ya? Eh, tunggu dulu, apa jangan-jangan teman wanita Kris tidak banyak? Masa sih? Untuk pria seperti Kris?
Iya, ya. Belum tentu tampan punya banyak pacar. Belum tentu, tampan memanfaatkan pesonanya menggaet semua wanita. Belum tentu tampan, punya banyak sahabat wanita. Juga, belum tentu tampan mau sembarangan jalan dengan wanita jika tak benar-benar dikenalnya. Kris kan bukan pria seperti itu.
“Sejak kapan Mas seperti ini?”
Melirik lagi. “Baru ini. Ini, aku lagi berusaha terus mengimbangi langkahmu.”
Pipi Dewi merona lagi. Namun langsung dienyahkannya.
Ayolah, tenanglah Dewi... Memang Kris ini lama-lama bisa buat aku mati berdiri. Makan apa sih dia hari ini? Kok manis begini, dan romantis, serta perhatian sekali...
“Ayo, kita ke sini,” ajak Kris.
Dewi menoleh ke toko yang diminta Kris mampir. Toko yang memang dia ada niatan ingin beli. Namun tentu saja, ini nggak benar kalau dia menyetujui.
“Mau ngapain, Mas?”
“Ya, lihat-lihat. Memang mau ngapain lagi?”
“Bukan begitu Mas, Mas nggak ada niatan mau beliin baju untukku, kan? Maaf, bukan aku...” Rada berat dia mengatakan GR. “Soalnya ini kan toko...”
“Wanita?” potong Kris.
“Iya. Dan aku nggak..."
“Memang kenapa aku beliin kamu baju?” potong Kris lagi.
“Karena..."
“Dulu, aku pernah beliin kamu baju, 'kan?” Kris kembali memotong.
Dulu pria itu pernah beliin Dewi dress selutut, dan dress itu baru 2 kali dipakai Dewi. Selebihnya, gak pernah karena dia terlalu sayang.
“Tetapi kan, Mas...”
“Ayolah." Kali ini Kris memotong, sembari berjalan.
“Tunggu Mas,” tahan Dewi.
Dia benar-benar gak enak. Rasanya bukan hanya kelewat batas, tapi juga dia nggak tahu malu. Soalnya ini terlalu pribadi. Kalau barang-barang sebelumnya, ya okelah dia masih menerima.
“Mas sudah banyak memberikan aku barang. Jika kita mau masuk, biar kali ini aku yang bayar.”
“Kenapa harus kamu yang bayar?”
“Karena sejujurnya aku juga mau beli baju."
“Ya sudah, bagus!”
“Tapi Mas, ini kan nggak benar. Karena...”
Kita sekarang kan teman, Mas. Dewi melanjutkan ucapannya didalam hati. Duh, nggak tepat nih kalau dia bilang begitu. Kesannya dia ke GR an benget gitu...
“Karena ini menyangkut emansipasi wanita Mas. Nggak perlu kan, pria mengeluarkan uang terus-menerus, wanita juga sanggup bayar." Dewi mengganti ucapan.
Tersenyum geli. “Dewi... Ini nggak ada hubungannya. Ini murni, dengan sadar tanpa paksaan dari pihak manapun, aku ingin beliin kamu baju.”
Lelaki itu jadi mengucapkan salah satu kutipan isi dari perjanjian kontrak. Kemudian mendesah.
“Lagi pula, jika kita berbicara emansipasi wanita. Benar, wanita itu punya hak mandiri. Tapi buat masalah uang, itu tetap tanggung jawab pria. Kecuali kalau pria itu cacat.”
Dewi menghela nafas. Duhh... Malah dia diketawain. Tetapi memang benar-benar dia ini ya. Otaknya nggak berhenti ini-itu. Sudahlah... Sebaiknya dinikmatin saja lah, jika saat ini Kris ingin memanjakannya
“Ya sudah. Ayo, Mas.”
Di dalam, Dewi berjalan ke arah bagian baju tapi dicegah Kris di suruh ke bagian dress. Setelah memilih-milih, Dewi ke ruang ganti. Kris duduk menanti di depan pintu.
Dress bercorak vertikal, biasa dengan warna kesukaan Dewi biru dipandanginnya lama. Karena wanita itu kembali diselimuti kenangan. Teringat masa-masa mereka pacaran dulu. Apakah nanti Kris akan terpesona lagi dengan dress pilihannya?
“Sudah?” tanya Kris di luar.
“Belum."
“Jangan lupa aku ingin melihatnya."
Takutnya Dewi hanya mencoba saja. Kris paham dengan hubungan mereka sekarang. Dewi pasti punya pikiran tidak ingin memperlihatkannya. Padahal malah sebaliknya Dewi ingin sekali.
Beberapa menit kemudian, Dewi menatap cermin lekat-lekat, dress itu telah dipakainya. Tapi kenapa jantungnya jadi berdebar sekali ya. Padahal tadi nggak apa-apa. Untuk menenangkan, dia menarik nafas berkali-kali. Serasa sudah siap, di tariknya hordeng.
“Mas."
Kris menoleh, seketika berdiri. "Kamu tampak cantik dan menawan, Dewi.”
Rona jambu kembali muncul di pipi Dewi, kali ini gak mau dienyahkannya. Kris menyukai penampilannya, bahkan lebih parahnya lagi, memuji dirinya cantik. Dulu sewaktu Kris beliin gak pernah bilang begitu. Hanya bilang cocok dan mempesona.
“Bisakah kamu memakainya untukku?” pinta Kris.
Bingung. “Ha?”
“Tidak usah kamu mengganti baju, pakailah saat ini terus jalan bersamaku."
“Wah, Mbak-nya cantik sekali...,” celetuk pelayan toko.
Rupanya pelayan itu dari tadi memperhatikan. Berdiri di antara tiang menjaga barisan pakaian-pakaian di sana. Yang tempatnya tidak jauh dari ruang ganti. Entah penjaga itu ngegombal demi barang dagangan di tokonya biar laku. Tapi dapat 2 kali sanjungan, tentu membuat wanita itu jadi tersipu-sipu. Kemudian dilanjutkan dengan menganggukkan kepala menyejutui permintaan pria itu.
Kris tersenyum kecil untuk tingkah menggemaskan di depannya. Lalu dia memalingkan wajahnya berbicara ke pelayan itu.
“Mbak, bisa bantu tolong copotkan bandrol harganya?”
“Bisa Mas." Pelayan itu berjalan menghampiri Dewi.
Wanita itu menundukkan kepala. Setelah dilepas, pelayan itu kembali ke tempat. Lalu kedua orang itu berjalan menuju kasir. Sepanjang jalan, Dewi dibuat salah tingkah sebab kali ini Kris yang curi-curi pandang mengamatinya. Namun biar begitu, didalam pikiran Dewi...
Eh, tunggu dulu. Apakah ini kode? Apakah ini yang diharapkan Kris darinya? Mungkin dulu Kris bosan dengan penampilannya. Luar biasa langka sekali loh! Kris bilang dia cantik. Jangan-jangan ini alasan Kris memutuskannya?
Sikap menyelidiki Dewi kembali muncul.
Usai semua beres, mereka kembali melanjutkan langkah. Melintasi tempat bermain Dewi berjalan sayu. Dulu sewaktu mereka pacaran nggak pernah ke tempat seperti ini. Bukankah dicerita drama atau film romantis, sepasang kekasih suka ke tempat begini?
Kris menelusuri apa yang diamati wanita di sebelahnya. "Lupakan mimpimu, Dewi.”
Menoleh. “Ha?”
“Aku tidak akan pernah menginjakkan kakiku ke tempat seperti ini.”
Terkejut. "Iih! Si, si, s-iapa yang...”
Memotong. "Teleponlah orang-tuamu." Melihat jam tangan. “Sekarang jam 7 malam. Mungkin kita akan dapat tiket midnight. Katakan ke mereka, kamu akan pulang tengah malam bersamaku.”
Mendengar kata midnight tentu Dewi tahu itu artinya apa.
“Mas, mau ngajak aku nonton?”
Menggangguk. “Mm.”
penasaran alasan kris
aslinya laki apa banci sih 😑
seolah dia ga masalah orang yg dia cintai dibikin sakit ama temen2nya
ngapa ga putus hubungan aja ama temennya
temen kayak gt kok dipiara
si rena lah dianter ksana kmari, parah ini kriss
baik sih baik, tpi ya ga gt jg kalik...
babehku sibuk mo anter2 tmnnya, lgsg aku tikung buat ngantrerin aku