Julio Arjuna Lesmana, seorang CEO di perusahaan ternama. Namun sangat manja dengan maminya.
Bella Kasyim, sekertaris Julio yang di pilih untuk di jodohkan dengan Julio.
*
*
Dengan kemanjaan Julio pada maminya membuat Bella merasa tidak yakin jika Julio akan menjadi suami idaman untuknya.
Bella memimpikan seorang suami yang macho dan perkasa, juga bisa menjaganya.
Siapa yang sangka jika seorang pria yang sangat manja dan lemah lembut dengan maminya, memiliki permainan ranjang yang sangat panas bahkan Bella tak bisa mengimbanginya.
Tapi untuk menjaga dirinya, apakah seorang pria yang di julukinya anak mami dan selalu berdiri di belakang maminya, mampu untuk menjaga seorang istri?
*
*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kayak hantu
Bella keluar dengan sangat kesal, pria itu tak memahaminya. Dia duduk di kursinya dengan sejuta kekesalannya, sedangkan Julio tak peduli dengan Bella yang kesal yang dia tahu dia melihat Bella dan Ansel dan tak butuh penjelasan lagi.
Jam pulang kantor, Bella tengah beres-beres dengan mejanya, tiba-tiba Julio keluar dengan wajah datarnya, mengajak Bella pulang tanpa meliriknya sedikit pun.
"Ayo," Julio berhenti sebentar lalu kembali berjalan ke arah lift.
Bella menatap kepergian Julio yang mengajak lalu meninggalkannya. Setelah semua beres, Bella segera menyusul Julio yang telah keluar lebih dulu darinya.
Bella masuk ke dalam mobil yang ada parkiran. Dia mengira Julio sudah berada di dalamnya, namun nyatanya dia duduk seorang diri di dalam mobil itu.
"Ke mana dia?" gumam Bella.
Bella mengedarkan pandangannya ke rah luar mobil yang di dudukinya. Matanya membulat saat melihat Julio tak jauh dari pandangannya, sedang berdiri bersama seorang wanita seksi dan saling bersenda gurau.
"Siapa itu?" gumam Bella kesal.
Bella terus duduk di dalam mobil, menunggu Julio kembali. Untuk saling menyapa dan sekedar basa-basi, Rania pikir sudah terlalu lama untuk pria dan wanita yang di pandangnya sejak tadi.
"Aku naik taksi saja. Biar tahu rasa, tuh laki." batin Bella seraya membuka pintu dan keluar dari mobil.
Belum sempat pintu itu tertutup, suara bariton seorang pria telah terdengar dari arah belakangnya.
"Mau ke mana kamu?" tanyanya. Bella sangat mengenal suara dan segera berbalik.
"Owh, aku kira salah mobil. Sudah sejak tadi aku duduk di dalam tapi tak ada kau malah sibuk di sana." sindir Bella.
Julio tak menanggapi ucapan Bella, dia beranjak dari samping Bella menuju kursi kemudi. Bella ikut masuk kembali ke dalam mobil.
Mobil di jalankan, mereka berdua hanya diam tanpa bicara hingga sampai di mansion.
Lila tengah duduk di ruang tamu, merasa aneh dengan putra dan menantunya. Mereka masuk sendiri-sendiri tanpa menyapanya dan raut wajah yang kesal.
"Pasti ada sesuatu," gumam Lila sambil membuka kembali majalah yang di tutupnya tadi.
Makan malam telah selesai di siapkan. Kini mereka bertiga telah duduk di depan meja makan untuk makan malam. Tak ada suara dari Julio juga Bella membuat Lila kesal dengan mereka berdua.
"Bella, besok pagi siapkan pakaianmu di koper, ya." ujar Lila santai.
"Haa!" kejut dua orang yang bersamanya.
"Untuk apa, Mi?" tanya Bella sedang Julio hanya mendengarkan.
"Nggak apa-apa. Tapi sebaiknya kamu kembali ke rumah orang tuamu dulu." ucap Lila sesantai mungkin.
"Kenapa, Mi?" tanya Julio cepat.
"Iya. Kan, kalian lagi nggak enak di pandang nih. Kaya lagi di kuburan, sepi sekali, nggak ada suaranya. Jadi, sampai kalian nggak kayak hantu... yang tidak saling melihat satu sama lain, sebaiknya Bella pulang dulu." ujar Lila sambil memakan makanannya.
"Nggak!!" ucap Julio bersamaan dengan Bella
"Loh, kompak banget!" ujar Lila.
Bella dan Julio saling tatap, entah apa yang ada di pikiran mereka.
"Ya, nggak bisa gitu dong, Mi. Masa istri aku mau di pulangkan!" ujar Julio kesal.
"Bella juga, nggak mau pulang. Nanti di kira yang macem-macem sama aba dan ibu." sambung Bella.
"Lah, terus kalian maunya apa? Di sini juga sama aja, Mami bosan lihat kalian kayak hantu yang sudah saling tabrak dan hanya diam saja!" ucap Lila.
"Nggak kok, Mi. Kita nggak gitu, iyakan Bel." ucap Julio seraya menggenggam tangan Bella.
"Iya, Mi. Nggak ada, yang seperti itu. Kita cuma lagi males ngobrol aja." ujar Bella mengiyakan ucapan Julio.
Lila hanya memandang keduanya seraya menyuapi makanan di di mulutnya dengan menggelengkan kepalanya.
"Benerkan, mereka harus di pancing. Kayak ikan saja!" kesal batin Lila.
.
.
.
.
Ayo-ayo Giftnya di bagiin😄
kirain apa ...
kuharap othoorrr nya mau up & lanjutin crtanya lg ya,,, semangat 💪💪💪