"Bagaimana? Apa kau menerima tawaranku?" tanya seorang pria yang berpenampilan dengan setelan jas bermerk dunia. Matanya menatap gadis dihadapannya dengan sejuta maksud.
"Apa anda akan memenuhi semua kebutuhan saya? Termasuk biaya perawatan tubuh saya yang terbilang tidak murah?" gadis itu mencoba memastikan kembali apa yang ditawarkan oleh pria yang tengah mengunci pergerakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_yuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 30. Jangan Harap Bercerai
Bab. 30
Entah setaan apa yang merasuki Revald. Bisa-bisanya dirinya melakukan hal yang sebelumnya sangat ia hindari. Terlebih lagi itu kepada cewek matre yang sialnya justru menjadi istrinya sekarang ini.
"Kamu udah gila, ya!" sentak Arruna ketika berhasil lepas dari pagutan kasar suaminya. Bahkan mungkin sekarang bibirnya terlihat bengkak. Karena terasa sangat panas.
Napas wanita itu pun tersengal akibat perbuatan Revald yang memaksa.
Sedangkan Revald tampak begitu santai. Bahkan pria itu mengusap bibirnya yang basah dengan tatapan menatap penuh arti ke arah Arruna.
"Ini kewajiban kamu dan ini juga hakku. Aku bebas lakuin apapun kepada tubuh itu. Karena aku pemiliknya," ujar Revald yang terdengar begitu dingin. Membuat Arruna semakin geram saja. Bisa-bisanya dia bertemu dengan pria seperti ini.
Setelah mengatakan hal tersebut, Revald berlalu menuju ke lemari, tempat di mana bajunya tersimpan di sana.
Sementara Arruna yang memiliki kesempatan untuk bisa kabur dari pria itu, walaupun barang sebentar saja, segera mengambil kesempatan untuk keluar lebih dulu. Paling tidak ia tidak dalam posisi bersama pria itu dalam satu ruangan. Bisa-bisa dirinya habis dilahap sekarang juga. Melihat pria itu yang seenaknya sendiri melanggar peraturan yang semulanya mereka sepakati.
"Tutup!" ucap Recald secara tiba-tiba dan membuat Arrhna tersentak kaget. Di detik selanjutnya, pintu kamar utama tersebut tertutup sendiri tanpa ada yang menyentuhnya.
"K-kau?"
Arruna tidak menyangka jika pria ini benar-benar sangat menyebalkan.
"Apa sih mau anda, Pak? Jam kuliah saya mau segera di mulai ini. Gimana kalau saya telat?"
Arruna mencoba untuk berbicara formal kembali. Berharap agar pria yang sialnya suaminya ini melepaskan dirinya dan sadar akan posisi Arruna yang seorang mahasiswa.
"Nanti aku yang bilang sama mereka," sahut Revald begitu asal.
Meskipun Arruna sangat tahu betul jika tidak ada yang menandingi kekuatan uang dan kuasa, namun tidak seperti ini juga cara mainnya.
Rasa-rasanya ingin sekali Arruna menjambak rambut pria itu yang justru dengan begitu santainya melepas bajunya di depannya. Sontak membuat Arruna berbalik badan dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Terus ngapain ngurung saya di sini, Bapak Revald yang terhormat?" tanya Arruna yang tidak bisa lagi menyembunyikan amarahnya terhadap Revald.
Sementara Revald tampak tak menghiraukan pertanyaan Arruna. Pria itu sibuk memakai pakaiannya dan kemudian tampak berjalan menuju meja tempat penyimpanan jam tangan dan juga dasi di sana. Revald mengambilnya dengan warna senada lalu melangkah santai ke arah Arruna.
"Pasangin dulu," ujar Revald sembari menyerahkan dasi kepada Arruna.
Dengan malas, Arruna menerima dan kemudian memakaikan dasi tersebut ke leher Revald.
"Bukannya anda bisa memasangnya sendiri? Kenapa malah suruh-suruh aku? Ini nggak gratis. Kamu musti bayar." ujar Arruna namun tangannya tetap mengerjakan tugasnya.
Sementara Revald menarik sudut bibirnya ke atas hingga membentuk sebuah senyuman yang begitu tipis.
"Aku punya istri. Untuk apa dia kalau nggak dimanfaatin?" Revald menaikan satu alisnya. Ingin lihat reaksi Arruna yang jelas akan marah kepada dirinya.
'Sialaan!' umpat Arruna yang hanya berani dia ucapkan di dalam hati.
"Sayang, kan? Mana udah bayar mahal-mahal," sindir Revald kemudian karena tidak mendapati reaksi Arruna seperti sebelumnya. Wanita itu mengunci rapat-rapat mulutnya.
Padahal di dalam hati Arruna tidak hentinya mengumpati Revald. Berharap pria ini dengan segera menceraikan dirinya dan ia bisa hidup dengan bebas.
"Jangan berpikir kalau aku akan menceraikanmu secepatnya. Itu tidak akan terjadi, Nona," bisik Revald sebelum Arruna menarik tangannya. Membuat wanita itu melotot ke arah pria yang justru tersenyum senang.
kampus rada elit bayar e
ubaya
petra
kampus yg standart
itats
unipra
stesia
wijaya
hangtua
upn
17agustus
tinggal pilih
itu bukan manja tp kebablasan
salah asuham
gkk bahaya tah