"Baiklah saya langsung saja, saya Dean D, umur sembilan belasa tahun saya cerdas dan cantik, saya juga orang yang setia." gadis itu memperkenalkan dirinya sambil tersenyum lembut dan suarah yang mantap, Hermawan mengangguk sembil menahan senyumnya karena gadis itu sangat percaya diri.
'Apa hubungannya denganku?' pikir Hermawan, mencoba bersikap biasa saja, walau sebenarnya dirinya ingin tertawa sekeras-kerasanya, gadis kecil itu sangat mengemaskan.
"Saya datang kesini untuk melamar anda Hermawan untuk menjadi suami saya." gadis itu tersenyum setelah mengatakan hal itu senyum yang sangat lembut.
Hening sesaat.
'Apa aku di lamar gadis ini?' Hermawan melongo sesaat kemudian tertawa lepas. "Hahahah, anda salah orang nona, saya tidak mengenal anda dan saya tidak tertarik pada anda." Jawab Hermawan sambil tertawa bahkan memengangi perutnya, yang mulai terasa sakit, beberapa cairan keristal mulai muncul di sudut mata Hermawan, laki-laki itu tertawa sambil mengelap air matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka July, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30 Taruhan
“Nona sudah di tunggu dari tadi.” jelas Lily yang menghampiri Dean sambil membawah setelan baju kantornya.
“Lily bacakan semuanya.” Dean melangka dengan cepat, sambil mendengarkan setiap ucapan Lily mengenai inti dari rapat ini diadakan.
Dengan cepat Lily memberitahu secara detail, bahwa beberapa pemegang saham berencana menarik sahamnya, dan beberapa inpestor asing sudah membatalkan kerja samanya, ini tidak jauh berbeda dari yang di sampaikan Zulfar padanya beberapa hari yang lalu.
“Bodoh. “ gumam Dean.
“Lily, bisakah kamu menyuru seseorang untuk membeli kentang mentah?” tambah Dean.
“Apa?” jawab Lily binggung.
***
“Selamat siang semuanya, terimakasih telah hadir. Kita semua tahu Ahmad sedang sakit sekarang dan sebagai gantinya saya dan Dhani mencobah untuk menghendel semuanya, tapi ternyata itu semua belum cukup.” ucap Zulfar menjelaskan.
“Karena itu hari ini saya akan mengenalkan pewaris tunggal Demetri Compeni dan mulai hari ini Dean Demetri yang akan memegan kendali penuh atas perusahaan ini.” Ucap Zulfar.
Semua orang tampak bertepuk tangan, Dean berdiri sambil membungkuk, lalu tersenyum lembut. Zulfar mempersilakan Dean untuk memimpin rapat.
“Terimakasih Paman, saya mendengar beberapa pemegang saham berencana menjual sahamnya, dan infestor asing mulai menarik modalnya, jika ada yang ingin keluar dari perusahaan ini silahkan, saya sama sekali tidak keberatan, saya tidak butuh orang yang tidak percaya pada saya!” Ucap Dean membuat gaduh suasana rapat, beberapa pemegang saham mulai meremehkan Dean dan menganggap Dean sebagai anak kecil yang hanya suka mengancam.
Bagaimana mungkin anak berusia sembilan belas tahun yang seharusnya baru masuk bangku kulia bisa bersikap sangat sombang dan angkuh seperti Dean, walau gadis kecil itu memiliki senyum yang sangat manis tapi itu tidak menutupi ke angkuhanya sedikitpun.
“Apa yang membuat anda yakin bisa memimpin perusahaan ini dengan baik? Saya lihat umur anda masih sangat muda masih sembilan belas tahun, walau saya tahu pendidikan anda sangat hebat, tapi bukan bearti anda bisa memimpin perusahaan ini dengan baik.” ucap salah satu pemegang saham dan di ikuti beberapa anggukan dari yang lain.
“Baiklah bapak Jhon Alexander yang terhormat, saya tahu anda memegang saham sebanyak sepuluh persen dari perusahaan DC kita, dan anda tahu saya pemegang saham enam puluh persen, bagaimana jika taruhan, jika saya bisa memperbaiki keadaan dalam dua minggu dan mengundang infestor-infetor itu untuk menanamkan modalnya, maka saya akan mengambil saham anda sebanyak sepuluh persen itu dan jika saya gagal. Saham anda menjadi dua puluh persen, bagaimana?” Dean tersenyum lembut.
Dean melihat satu-satu pemegang saham di perusahaanya tanpa ada sedikit keraguan di sana, ia juga menjawab setiap pertanyaan yang diajukan beberapa pemegang saham, bahkan ada juga yang mengusulkan jika Dean kalah dari taruhan ini, ia tidak boleh memimpin perusahaan ini.
Dean dengan senang menyetujui semua syarat itu tanpa bantahan sedikitpun, bahkan Dean selalu tersenyum pada mereka.
Tampak semua pemegang saham tergiur mendengarnya tapi ada juga yang takut kehilangan sahamnya, hanya Zulfa yang berdiri di samping Dean, Zulfar juga memegang sepuluh persen saham di perusahaan itu, ia percaya Dean tidak akan bertidak bodoh untuk merusak perusahaan Edmond ayahnya.
Tapi melihat tingkah Dean yang semakin lama semakin mengilah Zulfar sedikit khawatir, ia tidak ingin semua kepintaran dan kekuasaan yang Dean miliki membuatnya sombong dan lupa diri.
***
“Lily mana kentangku!“ Dean berteriak setelah semua orang keluar termasuk Zulfar dan Daniel.
“Sebentar nona Dean, Ujang sedang menuju kesini.” jawab Lily yang masih tampak binggung, seharusnya Dean meminta ulasan dari isi rapat mereta tadi bukan kentang yang ia pesan.
“Lily aku akan keruangan Dad sekarang, nanti antarkan kentangnya kesana sekalian bawah peralatan untuk mengupas dan memotongnya.” Dean beranjak meninggalkan ruangan itu.