Dua cerpen menarik dari dua genre berbeda, horor dan juga psikologi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Regina Maharani Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bonus Pembaca
Rempeyek buatan Mak Jejen terkenal di seluruh penjuru kampung ini. Walaupun banyak saingannya, tetapi penduduk sekitar tetap menjadikan rempeyek mak Jejen yang nomor satu. Mak Jejen adalah seorang janda yang sehari-hari berjualan rempeyek. Macam-macam rempeyek yang dibuatnya. Mulai dari kacang tanah, rebon, dan juga teri. Mak Jejen hanya membuat 30 bungkus rempeyek setiap hari. Padahal peminatnya sangat banyak. Sebungkus rempeyek dihargai 5 ribu rupiah. Selain rempeyek, Mak Jejen juga terkadang menjual banyak makanan lainnya. Kue basah, sayur matang, sayuran mentah dan terkadang sampai beras pun dijualnya. Tidak ada yang tau siapa keluarga Mak Jejen. Ia tidak pernah terlihat bepergian dengan siapapun. Mak Jejen lebih suka kemana-mana sendirian dan berjalan kaki.
Siang itu aku menunggu Mak Jejen lewat. Suamiku sangat suka dengan rempeyek buatannya sebagai teman makan nasi.
"Rempeyeknya bu...." Suara Mak Jejen sudah terdengar dari ujung jalan. Aku segera berjalan menghampiri pagar dan menunggunya lewat
"Maaak!" Panggilku.
Mak Jejen menghampiri seraya tersenyum
"Rempeyeknya Neng? Mau berapa?" Tanyanya
"3 bungkus ya Mak" jawabku sambil menyerahkan uang 20 ribu rupiah.
Setelah mengembalikan uang kembalian, Mak Jejen pun berjalan ke arah utara kampung ini.
***
Hujan turun dengan deras tanpa henti dari pagi. Padahal, aku ingin keluar untuk mengambil uang ke ATM. Jarak ATM lumayan jauh, maklumlah, aku tinggal di kampung. jarak dari kampung ini ke ATM terdekat sekitar lima kilometer kurang lebih. Dan terkadang, jika ATM terdekat tersebut tidak berfungsi atau rusak, aku harus kembali menempuh jarak tiga kilometer lagi untuk sampai di sebuah minimarket yang banyak terdapat jajaran ATM berbagai Bank. Melihat uang di dompet tinggal selembar berwarna ungu, aku putuskan untuk tetap keluar menerjang hujan. Aku harus membeli bahan masakan untuk makan malam.
***
Sudah beberapa hari ini suamiku tidak pulang ke rumah. Tanpa kabar atau pesan, ia tak kunjung juga menampakkan sosoknya dihadapanku. Merasa sepi, aku memutuskan untuk memasak sayur bayam. Sepertinya akan enak dimakan dengan rempeyek kacang buatan Mak Jejen. Aku harus menunggu wanita itu di depan pagar. Sudah berkali-kali, beberapa hari yang lalu aku memanggilnya, namun sepertinya ia tidak mendengar suaraku dan terus berjalan tanpa menoleh. Aku bertekad, kali ini aku harus mencegatnya.
"Rempeyeknya bu...." Suara Mak Jejen sudah tertangkap indera pendengaranku. Bergegas aku berlari keluar setelah sebelumnya menyambar dompet diatas meja kecil di samping sofa.
"Maaaak!" Aku berteriak kencang agar Mak Jejen mendengarku
"Maaaaak!"
"Maaaaak!"
Setelah teriakanku yang entah keberapa kalinya, Mak Jejen menoleh. Ia berjalan pelan menuju ke arahku
"Mak, Neng mau rempeyek kacangnya 2 bungkus ya. Yang rebon sama yang teri masing-masing 1 bungkus" sahutku
Mak Jejen hanya menatapku tanpa menurunkan bakul dagangannya. Matanya sendu.
"Neng.." ucapnya
"Iya Mak" jawabku tersenyum
"Pulanglah ke alammu Neng.. disini bukan tempatmu lagi" kata Mak Jejen lirih.
Perkataan Mak Jejen ibarat pisau yang menusuk ke dalam ingatanku. Pada hari itu, saat hujan deras, aku memacu motorku kencang. Dari arah kiri ada mobil melintas. Sepertinya karena hujan yang terlalu deras membuat pengemudi mobil itu tidak dapat melihatku. Itu membuat mobilnya menabrakku dengan sangat kencang. Dan setelahnya gelap.
Aku baru ingat. Aku sudah meninggal 7 hari yang lalu.
***