Sarah, seorang gadis yatim piatu yang sudah dari sejak kecil tinggal di sebuah pondok pesantren karena sebelum neneknya meninggal saat Sarah usia 5 tahun, nenek Sarah menitipkan gadis itu pada seorang Ustadzah supaya bisa tinggal di Pesantren sekaligus mendidik Sarah menjadi wanita sholehah yang paham ilmu agama.
Saat Sarah sudah dewasa, dia akan menikah dengan anak dari Kyai yang mengasuh pondok pesantren.
"Kamu jangan besar kepala dulu, Sarah. Saya memilih kamu itu atas keinginan Abi saya bukan atas keinginan saya sendiri!' ucap Farel bagai batu besar yang menghantam hati Sarah.
Dunia Sarah seakan hancur. Tubuh gadis itu yang awalnya berdebar-debar menjadi lemas tak bertenaga. Dia tidak menyangka jika Ustad Farel tidak benar-benar menginginkannya menjadi istri. Lalu bagaimana sekarang? Sarah bingung apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Malam pengantin yang katanya indah hanyalah dalam mimpi saja....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jasmine murni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku tahu semua, mas
"Umi, dengarkan aku dulu. . "
"Tidak!" Umi langsung memotong ucapan Farel. "Jangan bilang kalau kamu masih mencintai dia. Kamu sudah menikah dengan Sarah. Belajarlah untuk menerima dan mencintainya sebagai istrimu, nak. Jangan kecewakan Abi. Jangan sakiti wanita sebaik Sarah."
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Sarah buru-buru pergi meninggalkan ruang kerja Kyai Agung lalu bergegas ke kamarnya namun saat melewati kamar Fahira, sekali lagi Sarah mendengar seseorang menyebut namanya.
"Sarah memang dari kecil tinggal di sini. Kita semua sudah mengenalnya dengan baik. Mungkin karena itu Abi menjodohkan Mas Farel dengan Sarah." terdengar suara Fahira.
"Entahlah Fahira, kenapa aku belum juga bisa melupakan Mas Farel. Aku sudah terlalu mengharapkan kalau aku yang akan mas Farel pinang seperti janjinya dulu. Jujur aku merasa begitu hancur. Aku sebenarnya tidak ingin mengganggu rumah tangganya tapi perasaan cinta ini begitu egois. Aku harus bagaimana?" terdengar suara isak tangis dari dalam kamar Fahira.
Jantung Sarah makin bertegup kencang. Matanya pun mulai berkaca-kaca dan tubuhnya juga mendadak lemas. Jadi mas Farel pernah berjanji sama Amalia untuk meminangnya. Sarah mengusap dadanya yang terasa sesak.
"Jadi apa yang akan kamu lakukan, Amalia?"
"Aku akan mengiklaskan Mas Farel dengan Sarah. Aku lihat Sarah itu wanita yang baik. Mungkin keputusan Abi kamu menjodohkan mas Farel dan Sarah itu memang adalah keputusan yang benar. Bagaimana pun aku memang harus mengalah walau terasa berat. Aku ikut kamu ke sini hanya ingin melihat siapa wanita beruntung yang bisa memiliki mas Farel."
"Tapi justru makin membuat kamu hancur, kan. Lia, kamu yang ikhlas, ya. In Sya Allah kamu akan di pertemukan dengan jodoh terbaik kamu."
Sarah yang sudah tidak sanggup mendengar percakapan di dalam kamar Fahira, bergegas pergi dari sana. Wanita itu langsung masuk ke kamarnya.
Sarah menutup pintu kamarnya rapat-rapat lalu bersandar di balik pintu. Wanita itu tidak bisa menutupi kesedihannya. Hatinya hancur. Dia tidak pernah menyangka kalau pernikahannya akan menyakiti hati seseorang. Ah bukan hanya satu orang tapi dua orang. Bahkan suaminya sendiri ikut tersakiti.
Sarah menangis tergugu. Perasaannya begitu kosong. Menyadari kalau suaminya mencintai wanita lain yang juga mencintainya. Memisahkan dua orang yang saling mencintai.
Tok tok tok. "Assalammu'alaikum."
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya. Sarah buru-buru menghapus airmatanya dengan punggung tangannya lalu membukakan pintu.
Ceklek.
"Wa'alaikumsalam," jawab Sarah lantas segera membalik badannya supaya yang datang tidak tahu kalau dia sedang menangis. Wanita itu buru-buru ke kamar mandi.
"Sarah," panggil Farel membuat Sarah kaget.
Deg. Sarah menghentikan langkahnya saat baru saja di depan pintu kamar mandi. Ada apa mas Farel memanggilku. Apa ingin membicarakan tentang mbak Amalia? Apakah mas Farel hendak. . .
"Sarah, kenapa kamu diam saja di situ? Kemarilah. Mas ingin bicara penting!"
Dengan menahan gemuruh di dadanya, Sarah membalik badan, menatap suaminya itu.
"Mau bicara apa, mas?" tanya Sarah dengan suara bergetar menahan tangis.
"Kamu. Sarah, kamu nangis?" tanya Farel kaget.
Sarah langsung membalik badan membelakangi suaminya, "Tidak, mas. Aku tadi kena debu makanya mau ke kamar mandi, membasuh mataku," jawab Sarah bohong.
Farel menarik tangan istrinya lalu membalik badannya dengan paksa, "Kamu habis menangis, Sarah!"
Sarah langsung memalingkan wajahnya. Farel lalu menyentuh kedua bahu istrinya, menatap istrinya lekat-lekat.
"Kenapa kamu menangis?"
"Mas mau bicara apa?" Sarah balik bertanya seraya menepiskan kedua tangan suaminya dari bahunya namun Farel terus membuat istrinya itu menghadap ke arahnya.
"Sarah? Jawab, kenapa kamu menangis?"
"Sudah aku bilang, mataku terkena debu, mas," jawab Sarah lirih.
"Kamu tidak biasa berbohong, Sarah," ucap Farel pelan namun dengan penekanan.
Air mata Sarah tumpah. Wanita itu mengusap dadanya perlahan, lalu menarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Sarah memejamkan matanya, "Aku hanyalah dinding rapuh yang menghalangi. Yakinlah, dengan satu kali hentakan saja, dinding itu dengan mudahnya akan roboh lalu hancur."
"A-apa maksud kamu?"
"Mas ingin membicarakan tentang mbak Amalia, kan? Wanita yang sudah mas beri janji untuk di pinang? Pinanglah dia, mas. Aku ikhlas!" ucap Sarah dengan suara bergetar. Bukan hanya suaranya saja yang bergetar tapi juga bahunya. Dia tidak ingin tangisnya pecah hingga semua orang akan tahu.
Farel membulatkan matanya. Mulutnya pun terbuka lebar, "Bicara apa kamu, Sarah?"
"Aku tahu, mas. Aku sudah tahu semua. Maaf aku tidak sengaja mendengarnya. Tapi aku tidak salah dengar. Aku mendengar sendiri. Aku-aku benar-benar ikhlas, mas. Aku tidak akan bisa bahagia di atas penderitaan orang lain!"
Farel mendekati istrinya lalu memegang paksa kedua bahu istrinya itu. Lalu menatap istrinya itu lekat-lekat, "Sarah, apa yang kamu dengar?"
Dada Sarah naik turun. Rasanya ingin meledak saja. Rasa cemburu itu pasti ada bahkan sangat besar. Rasa cintanya setiap hari bahkan makin bertumbuh dan subur. Tapi dia bukanlah wanita yang egois.
"Pinanglah dia, mas. Aku ihklas mas talak. Mumpung aku belum hamil," ucap Sarah pelan namun dengan penekanan di setiap kata-katanya.
Sulit sekali menahan tangis di saat hatinya hancur berkeping-keping. Namun dia harus kuat.
"Kamu ngomong apa, sih? Siapa yang mau meminang? Siapa yang akan menalak kamu?" Farel mulai emosi.
Sarah menepis kasar tangan suaminya. Harapan yang selalu timbul tenggelam karena sikap suaminya yang sulit di tebak dan selalu berubah-ubah membuat wanita itu merasa lelah.
"Cinta memang nggak bisa di paksa, mas. Dan mas tidak perlu memaksakan diri untuk mencintaiku. Aku pun tidak mau memaksa mas untuk mencintaiku. Lupakan saja. Lupakan pernikahan ini. Menikahlah dengan wanita yang mas cinta."
Sarah tersandar di dinding. Walau ucapannya bertolak belakang dengan hatinya tapi Sarah harus mengambil keputusan berat ini. Dadanya makin terasa sesak. Kepalanya mulai berdenyut seakan mau pecah. Pandangannya pun makin kabur.
"Kamu dari tadi ngomong nggak jelas. Mas belum bicara apa-apa tapi kamu malah. . ."
Bbrruukk.
"Sarah. Sarah bangun! Sarah. . ."
tetap semangat up'nya
semangat thor...biar crazy up ya
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤