NovelToon NovelToon
Bukan kupu-kupu malam

Bukan kupu-kupu malam

Status: tamat
Genre:Angst / Romansa / Tamat
Popularitas:561.9k
Nilai: 5
Nama Author: Arion Alfattah

Ini SEQUEL dari MUTIARA DI BALIK LUMPUR.

"Kau pikir aku mau menjadikamu istriku? Tidak sudi! Kalau bukan karena untuk melindungi bosku mana mau ku menikahi wanita kupu-kupu malam sepertimu, murahan."

Aiden berusaha keras bersabar meski hatinya sakit di katai kupu-kupu malam. Karena memang dirinya bekerja di sebuah club malam. Namun ada hal yang tidak pernah mereka ketahui tentang siapa Aiden yang sebenarnya. Mereka hanya bisa menilai dari luar tanpa tahu apa-apa. Mereka hanya bisa berasumsi sendiri tanpa tahu kenyataannya.

Billy Giovanno (27 tahun) memaksa wanita bernama Aiden Rosalina (25 tahun) menikah dengannya hanya karena Billy tidak ingin Aiden mengganggu rumah tangga majikannya. Billy juga beranggapan kalau Aiden merupakan wanita murahan sehingga membuatnya membenci wanita itu.

FB: Mmah Abidah / Goresan Tinta
Ig : @ai.sah562

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menghadiri pesta

Billy tengah di sibukan oleh pekerjaannya yaitu membantu menyusun setiap rangkaian acara pernikahan Sean dan juga Carmilla. Dirinya yang mendapatkan tugas dari Bos harus menjaga keamanan, keberhasilan, ke suksesan acara sampai selesai.

"Bagaimana persiapannya, Bill?" tanya Nathan di sebrang telpon.

"Sudah siap aman terkendali, Bos. Semuanya sudah standby di tempat tinggal menunggu pengantin memasuki area pemberkatan."

"Ok, kalau begitu, kami akan segera ke sana. Kau pantau semuanya jangan sampai ada kejahatan mengacaukan pernikahan Kakak iparku."

"Siap laksanakan, Bos." Billy kembali memantau pergerakan semuanya. Mengecek keamanan, mengecek makanan, bahkan ikut menyambut tamu undangan.

******

"Pah, apa harus kita datang ke pernikahan anak pengusaha kopi?" tanya Aiden sudah siap dengan penampilannya yang anggun dan juga memukau.

"Kita akan datang karena di undang." Jawab William seraya menyetir mobil.

"Kita kan tidak mengenal mereka?" Aiden tentu tidak tahu apa-apa.

"Kita salah satu dari sekian banyak pengusaha yang mendapat undangannya. Kau cucu seorang pengusaha perhotelan di New York dan kita di undang karena keluarga mereka sering menggunakan hotel bintang lima milik kita."

"Apa?! cucu pengusaha hotel? maksudnya Kakekku seorang pengusaha?" pekik Aiden terkejut. Sungguh tidak mengerti tapi ini kenyataannya. Kejutan demi kejutan ia dapatkan setelah William membuka identitasnya.

"Iya, dan uang yang ku berikan untuk pengobatan kakimu adalah milik kamu sendiri. Itulah mengapa saya selalu menolak saat kau ingin menggantinya."

"Lalu, Club Babyface?"

"Club itu hanya tempat sementara. Kemungkinan akan di tutup tapi entah kapan." William sudah merencanakan semuanya. Club hanyalah tempat hiburan sementara meski dari sana ia juga mendapatkan penghasilan. Namun, ia tak sedikitpun menggunakan uang itu. Yang ada uangnya di gunakan untuk membantu orang-orang.

"Aku masih tidak percaya ini."

William tersenyum seraya memarkirkan mobilnya di parkiran. "Ayo."

Keduanya turun lalu melangkah masuk tempat dimana pernikahan berlangsung. Mata Aiden terkagum akan keindahan dekorasi tersebut. Untuk pertama kalinya dia menginjakan kaki di pesta mewah.

Matanya ia edarkan meneliti setiap tempat. Matanya terpaku pada pria yang tengah bicara dengan beberapa orang berjas hitam. "Kak Billy."

William menengok. "Dia yang bernama Billy? hmmm tampan juga? pasti dia juga pria yang kamu papah saat sedang mabuk berat?"

Aiden terbelalak. "Kok Papa tahu?"

"Tanpa sengaja melihat rekaman cctv dimana kamu memapahnya. Sekarang kita masuk. Tidak semua orang di undang, hanya beberapa orang dan sanak saudara yang hadir. Dan kita termasuk orang beruntung bisa menyaksikan pernikahan pengusaha kopi Starbucks."

Aiden mengangguk sambil mengikuti langkah William.

Billy yang sudah berbincang ikut masuk kedalam. Keduanya tak sengaja bertemu di satu pintu membuat Billy mematung terkejut. Tapi, sebisanya ia menormalkan keterkejutannya dengan wajah datar seolah tidak saling kenal.

"Hai, ketemu lagi sama aku. Hmm udah 3 hari tidak bertemu, ya. Dimana calon istrimu? tidak ikutkah kemari?" Aiden mengedarkan pandangannya mencari wanita kemarin.

"Maaf, saya tidak mengenal anda."

Deg..

Aiden terpaku mendengar ucapan Billy. [ Tidak mengenal? kau seakan melupakan aku padahal aku masih istrimu. Hmmm baiklah, akan ku ikuti permainan mu. ]

William hanya memperhatikan wajah tegang mereka namun, ada hal tak biasa dari cara pandang keduanya."

"Kau benar, Tuan. Kita memang tidak saling mengenal satu sama lain. Kalau begitu, saya permisi dulu. Maaf sudah mengganggumu, saya pamit." Pamit Aiden menekuk wajah kemudian berjalan duluan meninggalkan William dan Billy.

William menatap tajam pria di hadapannya. "Kau... ah sudahlah, ini urusan kalian. Tapi, kalau kau membuat dia menangis kejer akan ku pastikan dirimu tidak dapat bertemu dengannya lagi." Ancam William serius membuat Billy mengernyit penuh tanda tanya.

[ Siapa dia sebenarnya? kenapa dia bersama Aiden? apa dia om-om pelanggannya? ]

"Saya tidak peduli, saya tidak berminat pada barang bekas seperti wanitamu itu," jawabnya pergi begitu saja namun, hati selalu penasaran. Billy emang plin plan kurang gercep.

William mengeraskan rahangnya. Namun, dia berusaha tidak lepas kontrol.

*******

Selama pernikahan berlangsung, Aiden selalu memperhatikan Billy dari jauh. Matanya seakan tidak tertarik pada objek yang lain selain Billy.

William tengah berbicara pada yang lainnya. Sedangkan dia duduk sendirian di kursi pojok tak ingin bergabung bareng yang lain. Hatinya merasa kehampaan di kala menjauh dari Billy. Ada rindu yang ingin ia ungkapan pada pria itu namun, pria nya malah menjauhi.

Sedih pasti, sakit hati iya, tapi, mau bagaimana lagi. Billy membencinya dan tidak tertarik padanya. Aiden hanya bisa berdoa semoga hati Billy juga memilihnya.

"Sendirian saja, Baby. Aku temenin, ya?" seorang pria mendekati Aiden. Aiden mendongak, lagi-lagi pria itu, Damian.

"Kau di sini juga?"

Damian duduk berhadapan dengan Aiden menyimpan minuman yang ia bawa ke atas meja. "Kebetulan perusahaan saya dan Sean bekerjasama. Eh, tak tahunya kau juga ada di sini. Aku senang melihatmu."

"Tapi aku tidak." Jawab Aiden ketus berdiri ingin pergi namun, di cekal oleh Damian. Aiden menoleh ke belakang. "Ada apa?"

"Kenapa kau sulit ku gapai? padahal, aku sudah terang-terangan menyukaimu."

Aiden menghelakan nafasnya. Sudah sering ia mendengar ungkapan cinta Damian namun, tak sedikitpun ia respon. "Aku sudah menyukai pria lain. Ku mohon jangan mencintaiku sedalam itu karena ku tak akan mampu membalasnya."

Damian berdiri menggenggam kedua tangan Aiden. "Aku tidak peduli itu. Yang ku pedulikan ku menyukaimu. Aku siap menunggumu sampai kau mau menerimaku."

Kedua orang tersebut di perhatikan oleh sepasang mata elang menyalang horor. "Siaalan, muraahan, berapa pria yang ia dekati?" umpatnya merasa panas melihat Aiden di perlakukan seperti itu. Dia lebih memilih pergi dan tidak ingin menyaksikan semua yang membuat ia geram di bakar Ali cemburu namun, dia tak menyadari itu. Sikapnya yang bodo amat membuat dia akan gengsi.

Billy memilih pergi melanjutkan tugasnya yang menanti dari Nathan.

******

Lily pun datang ke acara pernikahan Sean. Dia mendekati William kala matanya sudah melihat dari pandangan jauh. "Will, kita ketemu disini."

"Eh, Lily. Kau pun di sini?"

"Iya, di undang karena adik ipar Sean bis anak saya. Mending kita duduk sambil makan dan berbicara santai," ajak Lily bersemangat bisa bertemu pria yang di taksirnya.

"Ah, tentu boleh. Mari?" ajaknya seraya berjalan menuju meja perasmanan."

******

Rangkaian acara pun telah selesai. Tinggal keluarga besar dan Billy masih berada di sana tak jauh dari Bosnya. Aiden sudah pulang duluan, Lily dan William pergi entah kemana.

"Bill, Nathan dan Sean sudah menikah. Kapan kau akan menikah? apa perlu Om carikan kamu calon istri?" ujar Abraham belum mengetahui pernikahan siri Billy dan istrinya, Aiden. Abraham adalah bos besarnya Billy. Pria yang sudah memperkerjakan dirinya.

"Hah! Tidak usah Om. Billy bisa cari sendiri calon istri yang menurut Billy pantas. Lagian aku masih muda belum kepikiran untuk menikah." Jawab Billy tersenyum ramah.

( Padahal aku sudah menikah dengan Aiden untuk menjauhkan wanita murahan itu dari Nathan. )

1
Lies Atikah
si mulut pedas dasar munafik
Lies Atikah
si Billy mah setan berbentuk manusia hati nya jahat sombong tak berperasaan ngerendahin dan menghina orang seenak nya semmoga ada balasan nya
Ruk Mini
penuh drama, emang slh oaham kadang fatal akibat y,vringan tpi berkesan sgt menghibur thor, tq d tgg karya" mu lgi🙏👍👍👍
Ruk Mini
ga jauh" ye thorr
Ruk Mini
telat bank...
Ruk Mini
gasssss
Ruk Mini
kurang ekstrim pembalasan mu bocil, kerjain bp mu
Ruk Mini
hemmm...drama
Ruk Mini
biasa deh slh org
Ruk Mini
apesssss lau nenk
Ruk Mini
golllllll
Ruk Mini
tolol.kau bil
Susi Sundari
cerita ok..suka..
Dyah Oktina
😂😂😂😂😂 wah malah langsung d nikahkan.. maunya bima itu
Dyah Oktina
kadang papa...kadang om...ah author nih ngak konsisten..😔
Dyah Oktina
dari atas cerita manggilanya papa..kok jd om ??????????
Dyah Oktina
Luar biasa
Siti Mujimah
helleh ud terjadi baru menyesal terlambat sudah
Siti Mujimah
aq bingung baca banyak kata aq ibu ayah bla bla..maaf Thor berputar ceritanya jadi puyeng
Siti Mujimah
biasanya walau mabuk masih ingat samar2 yg terjadi kalau di tmpt cerita lain begitu..ni koq enggak y
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!