"Malam ini Lo hancur! Biar kakak Lo paham, ada harga mahal buat tangan yang berani menyentuh adik gue." --Xavier--
"Aku bersumpah, aku akan jadi neraka terpanjang di hidupmu, Xavier!" --Sukma--
Dunia Sukma runtuh dalam satu malam. Perbuatan nista Hamdan, kakaknya, menyulut api dendam di nadi Xavier--pemimpin Geng Bima Sakti Yang Tak mengenal ampun. Dalam buta amarah, Xavier merenggut paksa kesucian Sukma sebagai balasan atas Marwah adiknya yang hampir ternoda.
Hamdan mengakhiri hidup dengan cara tak diberkati, meninggalkan Sukma sebatang kara.
Kesucian tercabik. Masa depan hancur. Satu-satunya penguat jiwa telah pergi.
Di ambang napas terakhirnya, Gea--kekasih Xavier, menitipkan wasiat yang menjadi belenggu sekaligus penebusan dosa: Xavier harus menikahi Sukma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 22 Kepergian Gea
Kuis di jam pertama telah usai. Gea membawa kakinya terayun pelan keluar dari ruang kelas, menuju perpustakaan Fakultas Hukum.
Ia berniat menghabiskan waktu di sana, sebelum mengikuti mata kuliah selanjutnya.
Namun, sebelum kakinya sempat menginjak lantai perpustakaan, Nara memanggilnya dan meminta waktu untuk bicara empat mata.
Setelah berpikir sejenak, Gea mengabulkan permintaan Nara. Mereka berjalan menuju taman, lalu duduk di bangku panjang yang dinaungi rindangnya bunga bugenvil.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Ra?" tanya Gea, memecah hening sekaligus mengawali obrolan yang belum juga dimulai oleh Nara.
Nara meraup udara dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. Ia berusaha menguatkan tekad yang semula sempat meluruh karena ragu dan perasaan tak tega.
"Sebelumnya, aku minta maaf karena telah lancang meminta waktumu untuk membicarakan hal ... yang mungkin akan membuat hatimu hancur, dan hubunganmu dengan Xavier kandas."
"Maksud kamu?" Gea mengernyitkan dahi. Ia melayangkan tatapan penuh tanya, menuntut Nara untuk segera memberi jawaban.
"Ge... karena hasutan Edo, Xavier tega menodai kesucian sahabatku, Sukma. Dia melampiaskan dendam pada gadis yang sama sekali nggak berdosa," ujar Nara, berusaha memilah kata dan merendahkan nada suara. Ia sengaja menjeda sejenak, membiarkan Gea menelaah setiap kata yang diucapkannya barusan.
"Sukma... hamil. Sebagai sahabat, aku meminta belas kasihan darimu. Tolong, nasihati Xavier agar dia mau bertanggung jawab. Menikahi Sukma dan mengembalikan lagi marwahnya."
Gea membeku.
Lidahnya kelu.
Bibirnya membisu.
Telapak tangannya seketika memegang dada yang serasa dihantam bebatuan besar Gunung Merapi.
Ia menolak untuk percaya, tapi perubahan sikap dan gejala muntah yang sering ditunjukkan oleh Xavier seolah menjadi bukti nyata yang membenarkan segalanya.
Otak cerdasnya tak sempat berpikir lebih jauh, terkalahkan rasa ngilu yang luar biasa di ulu hati.
"Maaf, aku terpaksa mengatakan kenyataan yang teramat pahit ini padamu..." Nara meluruhkan tubuhnya di atas rumput hijau, duduk bersimpuh dan menunduk dalam di hadapan Gea.
"Demi Allah, aku tidak berdusta, Ge. Aku mengatakan yang sebenarnya," lirih Nara. Ia tak kuasa mencegah air matanya jatuh.
Sebagai sesama wanita, ia sangat mengerti apa yang dirasakan oleh Gea saat ini.
Hancur.
Dunianya seakan runtuh.
Namun sayang, Nara tidak mengetahui satu hal penting: jantung Gea teramat lemah. Pasokan udara yang dihirup gadis itu seolah telah habis.
Gea tumbang. Tubuhnya luruh pasrah di atas kursi taman dengan sepasang mata yang tertutup rapat. Suara hantaman pelan dari tubuhnya seketika mendorong Nara untuk segera mendongak.
Mata Nara membulat sempurna. Ia terkesiap mendapati Gea jatuh pingsan.
"Gea!" Nara berteriak panik. Menepuk pelan pipi Gea, memohon agar gadis itu segera membuka mata.
Karena Gea belum juga tersadar, Nara bergegas bangkit dan meminta bantuan para mahasiswa yang kebetulan tengah melintas di area taman.
Salah seorang dari mereka bergerak cepat, menghubungi nomor darurat, meminta pihak rumah sakit segera mengirim mobil ambulans.
.
.
Sementara itu, di sisi lain Fakultas Hukum...
Ryuga melangkah melewati koridor kampus tanpa semangat. Wajahnya muram. Senyumnya hilang karena pusat dunianya berada jauh di Inggris.
"Ryu!" Seruan Xavier memaksa Ryuga menghentikan ayunan kaki dan memutar tubuhnya. Ia bersiap menghadapi amarah Xavier yang belum puas diluapkan beberapa hari lalu, karena Aluna menjadikan tubuhnya sebagai perisai.
"Bangsat! Lo apain adik gue?" Xavier langsung meraih kerah kemeja yang dikenakan Ryuga. Ia melayangkan satu pukulan keras, tepat mengenai wajah Sang Ketua BEM.
Entah iblis apa yang merasukinya saat ini, hingga ia melampiaskan seluruh beban batin dan amarahnya pada Ryuga.
Ryuga tidak membalas. Tidak juga menjawab pertanyaan yang terlontar. Ia membiarkan Xavier mengamuk sekehendak hati.
"Pak!" Dimas, Tara, dan Nofiya yang baru saja kembali dari ruang sekretariat BEM sontak berteriak mendapati Ryuga yang terlihat pasrah dihajar Xavier karena rasa bersalahnya pada Aluna.
"Berhenti! Atau gue patahin tangan lo!" ujar Tara bernada tegas. Tersirat kemurkaan yang berusaha dikendalikan, demi menjaga ketenangan kampus.
"Nggak usah ikut campur! Gue cuma mau kasih dia pelajaran, karena dia udah berani nyakitin adik gue!"
"Lo selalu ngandelin emosi. Nggak mikir gimana menyelesaikan masalah tanpa memunculkan masalah baru. Lo nggak belajar dari kejadian lalu!"
"Maksud lo?"
"Lo lupa sama kematian Pak Hamdan? Lo lupa sama kebejatan yang lo lakuin ke adiknya?" Pelan, Tara melontarkan deretan pertanyaan itu, hingga hanya Xavier, Ryuga, Nofiya, dan Dimas yang bisa mendengar.
Bibir Xavier seketika bungkam.
Tubuhnya gemetar.
Ia teringat kembali akan dosa besar yang pernah diperbuat.
Belum sempat menenangkan diri, terdengar suara riuh raungan sirine yang berasal dari arah gerbang Fakultas Hukum, berpadu dengan teriakan beberapa mahasiswa yang menyebut nama Gea. Suara itu seketika mencabik ulu hati, melemahkan sendi-sendi.
"Gea dibawa mobil ambulans!"
Suara teriakan seorang mahasiswi yang tengah berdiri di depan gerbang Fakultas Hukum sampai di telinga Xavier.
Tubuh Sang Narendra seakan kehilangan daya. Kakinya terasa lunglai untuk sekadar menapak, membuatnya tak kuasa melangkah cepat. Cerita Gea tentang mimpi buruknya yang dituturkan tadi pagi, seketika berdengung kembali di telinga.
Dan di detik ini, berbagai pikiran negatif langsung berkecamuk di dalam kepala.
Takut ditinggalkan.
Takut kehilangan.
Takut pusat dunianya akan direnggut paksa oleh takdir, sebagai bentuk balasan atas dosa besar yang pernah ia perbuat.
"Gea..." Xavier terus mengeja nama sang kekasih dengan bibir bergetar. Ia segera memacu cepat motor ZX-25 miliknya, melesat membelah jalanan untuk menyusul mobil ambulans yang membawa Gea menuju Rumah Sakit Adi Wangsa.
.
.
Bau khas rumah sakit menyengat, seolah mencekik kerongkongan Xavier ketika kakinya terayun--mendekati ranjang pasien.
Di sana, Gea terbaring lemah. Wajahnya terlihat pucat. Oksigen yang mengalir lewat selancar tipis di hidung, satu-satunya benda berwujud gas yang menjaga gadis itu agar tetap berpijak di dunia ini.
Gea membuka sepasang mata indahnya perlahan. Senyum tipis dan rapuh tersemat di bibir, menyambut kedatangan lelaki yang dicinta.
Ia meraih tangan Xavier, menggenggamnya dengan sisa tenaga yang ada.
"Vier ...." bisiknya parau.
"Waktuku sudah nggak banyak. Jantung ini ... dia sudah lelah berjuang."
Xavier menggeleng keras. Kaca yang semula membingkai manik mata retak, pecah, lalu luruh. Jatuh, membasahi tangan Gea.
"Please, jangan bilang gitu, Ge. Gue nggak sanggup dengernya. Gue --"
"Dengarkan aku," sela Gea lembut. Namun tegas. Tatapannya mengunci manik mata Xavier.
"Ada satu permintaan terakhir. Aku ingin kamu bertanggung jawab. Cari Sukma. Nikahi dia."
Deg
Jantung Xavier seakan berhenti berdetak. Nama 'Sukma' adalah luka sekaligus rahasia gelap yang berusaha ia sembunyikan dari Gea.
Bagaimana Gea bisa tahu tentang gadis yang pernah ia nodai di bawah pengaruh alkohol di malam terkutuk itu, karena amarahnya terhadap Hamdan?
Gea tidak menyebutkan nama Nara, sahabat Sukma yang tadi pagi datang padanya. Membeberkan rahasia yang ditutup rapat oleh Xavier, tanpa tahu bahwa kejujuran itu adalah sebilah belati--menikam jantung Gea yang sudah ringkih.
Gea tidak ingin, Nara menjadi pelampiasan amarah Xavier. Ia juga tidak ingin, Nara disalahkan oleh semua orang atas nyawa yang mungkin akan terlepas dari raga.
"Dia mengandung anakmu, Vier. Jangan biarkan anak itu lahir tanpa ayah. Berjanjilah padaku," ucap Gea--lirih. Nafasnya mulai tersengal.
Xavier bergeming.
Ia tidak menyangka, perbuatan bejatnya terhadap Sukma berakibat fatal. Bahkan teramat sangat fatal.
Sukma mengandung benih yang ditanam tanpa cinta. Gea terbaring lemah tak berdaya dan mungkin akan segera pergi ke alam abadi.
Sungguh, Xavier tidak ingin membayangkan hal menyedihkan itu.
"Vier ... kamu dengar aku kan?"
Xavier mengangguk lemah. Dadanya serasa sesak. Rasa bersalah mendekap. Memaksanya untuk mengindahkan permintaan Gea.
"Gue janji, Gea. Gue bakal cari dia. Gue bakal tanggung jawab."
Senyum Gea merekah kala mendengar ucapan Xavier. Ia tampak begitu lega, seakan beban berat yang menghimpit dada baru saja terangkat.
"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhadu anna muhammadar rasuulullah," ucapnya lirih dan terbata.
Perlahan, genggaman tangan Gea mengendur. Kelopak matanya menutup, selaras dengan bunyi panjang yang memekakkan telinga dari mesin monitor di samping ranjang.
Tepat di detik itu, pintu kamar rawat terbuka kasar. Orang tua Gea menghambur masuk dengan wajah panik dan seketika berubah menjadi jerit histeris saat melihat garis lurus di layar monitor.
Ibunda Gea ambruk di sisi ranjang, meraung memanggil nama putri tercinta yang kini telah menutup mata untuk selamanya.
Ayah Gea duduk bersimpuh, tak kuasa membendung air duka.
Dari balik jendela, Nara menyaksikan pemandangan pilu yang tersaji.
Ia berdiri mematung. Wajahnya pias. Air mata mengalir deras tanpa suara.
Nara menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Tubuhnya gemetar hebat.
Rasa sesal mencekik erat, menuntunnya menggumamkan kata 'maaf'.
Nara tidak berani melangkah masuk. Menyadari bahwa kejujurannya adalah alasan--mengapa napas Gea terhenti lebih cepat dari seharusnya.
Xavier tertunduk pilu, menggenggam tangan Gea yang mulai dingin.
Benaknya merutuki diri.
Menyesali perbuatan bejat yang pernah dilakukan karena tak kuasa mengendalikan amarah.
🍁🍁🍁
Bersambung
btw dr awal kamu kan yg salah?
memperkosa loh ga main" itu
The Power of bibi bibi🌹🌹
ancaman dlam kalimat konyol..itu kayak menggertak mau pukul orang tapi pakai ranting pohon tauge..🤣
semoga di kasih 7 tanjakan 7 turunan dan 7 Pengkol penderita mu mengejar maaf vier