Mengisahkan Sintia Arunika, wanita yang harus berjuang dalam bahtera rumah tangganya bersama Alfiandi Rian Mahesa. 7 tahun pernikahan mereka seolah tak berarti apa pun karena Sintia tidak kunjung hamil dan puncaknya intervesi keluarga Rian membuat Rian bercerai dari Sintia. Bukan perpisahan yang membuat Sintia sakit, tapi Rian yang rupanya diam-diam menikahi Suci Wahyuni, wanita yang ia kenal baik bahkan dengan Suci rupanya Rian memiliki seorang anak berusia 6 tahun! Sintia memilih pergi dan saat itulah ia bertemu dengan pria bernama Kenzi Hutama yang mengubah hidup Sintia selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangis Pilu yang Menyesakan Hati
Sintia menarik kakinya mundur dengan sentakan dingin, membuat tangan Rian terlepas dan jatuh membentur lantai. Ia menatap mantan suaminya dari atas takhtanya dengan sepasang mata yang kosong dari rasa iba.
"Jangan mengotori tempat ini dengan air mata palsumu, Rian," ucap Sintia, suaranya terdengar sangat rendah dan menusuk. "Di mana air matamu ini saat kamu membawa Suci masuk ke kamarku? Di mana belas kasihanmu saat ibumu menghinaku sebagai wanita mandul pembawa sial di depan semua orang? Sekarang, setelah selingkuhanmu membuangmu karena kamu miskin, kamu datang merangkak padaku?"
Sebelum Rian sempat menjawab, pintu ruang rapat kembali terbuka. Kali ini, Anne Wahyuandini melangkah masuk dengan tubuh yang gemetar, ditopang oleh langkah kakinya yang lemah. Di sampingnya, Arka berjalan dengan wajah ketakutan, memegangi daster neneknya yang sudah kusam.
Perempuan paruh baya yang dulunya selalu menatap Sintia dengan pandangan menghina itu, kini melangkah mendekat dengan derai air mata yang membasahi wajahnya yang keriput. Anne ikut menjatuhkan dirinya di samping anaknya, berlutut di atas lantai yang dingin.
"Sintia... demi Allah, Ibu memohon ampun padamu, Nak..." ratap Anne, suaranya parau dan melengking pilu, tangannya menggapai-gapai ujung sepatu Sintia. "Ibu yang bersalah, Sintia! Ibu yang menghasut Rian untuk menduakanmu... Ibu yang serakah menginginkan cucu. Tolong hukum Ibu saja, jangan usir kami dari rumah itu... Ibu sudah tua, Sintia... Ibu tidak sanggup jika harus hidup luntang-lantung di jalanan..."
Namun, pandangan mata Sintia mendadak teralih pada sosok kecil yang berdiri di belakang Anne.
Arka. Bocah laki-laki berusia enam tahun itu berdiri mematung di tengah ruang rapat yang luas. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang tembam, tubuh mungilnya bergetar hebat karena ketakutan melihat ayah dan neneknya menangis histeris di kaki seorang wanita yang tidak ia kenal dengan baik. Bocah itu tidak mengerti hukum, tidak mengerti tentang pengkhianatan orang tuanya, ia hanya tahu dunia amannya kini telah runtuh total.
"Hikss... Papa... Nenek... ayo pulang... Arka takut..." cicit Arka di sela tangisnya yang lirih namun menyayat hati.
****
Mendengar tangisan bocah polos yang tak berdosa itu, dada Sintia mendadak berdenyut sangat kencang. Ada sesuatu yang bergejolak hebat di dalam sanubarinya. Naluri keibuannya—sesuatu yang selama bertahun-tahun ini ia dambakan namun selalu dipertanyakan oleh keluarga Mahesa—mendadak muncul dan berontak hebat di dalam dadanya.
Sintia menatap Arka. Bocah ini adalah anak dari wanita yang telah menghancurkan rumah tangganya, anak dari pria yang telah mengkhianatinya. Namun, menatap sepasang mata elang Arka yang dipenuhi ketakutan dan kepasrahan, Sintia tidak melihat musuh. Ia hanya melihat seorang anak kecil tak berdosa yang sedang menjadi korban dari kebiadaban dan keserakahan orang tuanya sendiri.
Air mata yang sejak tadi Sintia tahan di hadapan Rian dan Anne, kini perlahan-lahan menetes di pipinya yang mulus, mengalir bukan karena rasa benci, melainkan karena rasa iba yang teramat dalam pada nasib malang bocah kecil di hadapannya.
****
Suasana di dalam ruang rapat kantor firma hukum Bramantyo & Partners mendadak senyap dari raungan makian, menyisakan isak tangis yang terdengar menyayat kalbu. Waktu seolah melambat ketika Sintia Arunika perlahan bangkit dari kursi kebesarannya. Ia mengabaikan Rian yang masih bersimpuh meratapi nasibnya, ia juga melewati Anne Wahyuandini yang terus bersujud dengan tubuh bergetar hebat di atas lantai marmer yang dingin.
Langkah kaki Sintia bergerak pelan, seanggun embun pagi yang menetes di atas daun, menuju ke arah sudut ruangan tempat Arka berdiri mematung.
Bocah kecil berusia enam tahun itu tampak begitu ringkih di bawah sorotan lampu ruang rapat yang terang benderang. Kedua tangan mungilnya mencengkeram erat ujung daster kusam milik neneknya, seolah-olah daster itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam badai kedewasaan yang terlalu cepat menghantam hidupnya. Pipinya basah kuyup oleh air mata dan peluh dingin, sepasang matanya yang bulat menatap Sintia dengan ketakutan yang teramat sangat.
Sintia menurunkan tubuhnya perlahan, melipat lututnya di atas lantai, tepat di hadapan Arka. Untuk pertama kalinya, jarak di antara mereka terkikis habis.
Dari jarak sedekat ini, Sintia menatap lekat-lekat setiap jengkal wajah bocah itu. Jantungnya berdenyut ngilu, seolah dihantam oleh kenyataan yang teramat pekat. Struktur rahangnya, guratan halus di dahi saat ia ketakutan, hingga bentuk hidung dan bibirnya—semuanya adalah cetakan sempurna dari Alfandi Rian Mahesa. Tanpa perlu selembar kertas putih hasil tes DNA sekalipun, seluruh dunia akan tahu bahwa bocah di hadapannya ini adalah darah daging, anak kandung dari pria yang telah mengkhianati pernikahannya selama tujuh tahun.
Melihat kemiripan yang begitu nyata, air mata Sintia yang sejak tadi tertahan di pelupuk mata akhirnya pecah. Butiran bening itu meluncur deras, membasahi pipinya yang mulus. Namun, anehnya, tidak ada rasa benci yang tersisa di sana. Rasa jijik pada Suci dan amarah pada Rian mendadak menguap, digantikan oleh rasa nyeri yang teramat dalam yang menghunjam ulu hatinya.
****
Sintia membayangkan masa lalunya yang kelam. Tujuh tahun ia bertahan dalam sepi, menahan caci maki Anne, menelan bulat-bulat pil pahit obat kesuburan yang membakar lambungnya setiap malam, hanya demi satu impian: memberikan seorang anak untuk Rian. Di bawah tatapan menghina dari keluarga suaminya, Sintia selalu merasa dirinya adalah wanita cacat yang tidak utuh karena rahimnya yang sunyi.
“Kalau saja... kalau saja Tuhan menitipkan satu malaikat kecil di rahimku dulu... mungkin dia sudah sebesar ini,” bisik batin Sintia, suaranya bergaung pilu di dalam dadanya sendiri. “Dia mungkin akan memiliki mata seperti ini, senyuman seperti ini...”
Penyesalan, kerinduan yang terpendam, dan takdir yang kejam berbaur menjadi satu, meruntuhkan seluruh tembok pertahanan ego Sintia yang kokoh. Naluri keibuannya yang selama tujuh tahun ini dipasung dan dipertanyakan, kini mendidih dan memberontak hebat menuntut pembebasan. Bocah di hadapannya ini tidak berdosa. Arka tidak pernah meminta dilahirkan dari rahim seorang wanita ular seperti Suci, tidak pula pernah memilih untuk memiliki ayah seperti Rian. Arka hanyalah selembar kertas putih yang kini dikotori oleh tinta dosa kedua orang tuanya.
"Arka..." suara Sintia bergetar hebat, nyaris habis tertelan isak tangisnya sendiri.
Tanpa mampu membendung perasaannya lagi, Sintia mengulurkan kedua tangannya, menarik tubuh mungil Arka ke dalam dekapannya. Ia memeluk bocah itu dengan sangat erat, menenggelamkan kepala Arka di celah bahunya. Air mata Sintia mengalir deras, membasahi kaus lusuh yang dikenakan anak itu.
Arka sempat menegang, tubuhnya kaku karena terkejut mendapat pelukan tiba-tiba dari wanita asing yang sejak tadi ditangisi oleh ayah dan neneknya. Namun, kehangatan tubuh Sintia, dekapan tulus yang begitu berbeda dengan dorongan kasar dari ibu kandungnya sendiri semalam, perlahan-lahan meruntuhkan ketakutan bocah itu. Tangan-tangan mungil Arka perlahan naik, membalas pelukan Sintia, mencengkeram blazer putih wanita itu sembari menumpahkan seluruh rasa trauma dan tangisnya yang membumbung tinggi.
"Tante... Arka takut... Mama pergi... Papa nangis... Arka tidak mau jadi anak nakal..." tangis Arka pecah, suaranya melengking pilu memenuhi ruangan.