Kyalowng, nama dunia dari sebuah game petualangan online bernama Deep Dive.
Tak disangka ngototnya seorang pemuda tampan ketika harus mempertahankan gelarnya sebagai pemain terbaik pada game tersebut justru mengundang mala petaka. Tanpa diduga dia masuk ke dalam dunia milik Deep Dive.
Siapa yang membawanya ke sana? Bagaimana mungkin di dunia nyata, seseorang bisa masuk ke dalam dunia game? Tidakkah itu hanya mimpi semata?
Entahlah! Author tidak bisa membuat deskripsi dengan baik. Selanjutnya akan author sertakan nomor bab yang ada gelutnya, menghindari bosan terhadap cerita yang tidak jelas. Mohon dimaklumi. Thanks
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BaDiPra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejadian Aneh di Kediaman Ahli Buff (revisi)
Tembok menjulang tinggi terlihat mengelilingi inti kota Yasa. Di atasnya terdapat petugas yang memakai zirah perang lengkap dengan senjata. Melakukan aktivitas biasa yaitu berpatroli.
Rombongan Natura mengantri di gerbang kota Yasa guna pemeriksaan identitas. Bagi orang yang pernah masuk ke sana, mereka hanya perlu menunjukkan identitas. Seperti para pedagang yang bebas keluar masuk dengan gerobak berisi barang dagangan.
Natura mendapatkan giliran itu. "Nama?" tanya petugas gerbang.
"Natura," jawab Natura.
"Perlihatkan identitasmu."
"Cincin ini, 'kan?" tanya Natura sambil memperlihatkan cincin yang didapat dari guild petualang.
"Pakailah cincin itu! Kau ini, seperti orang yang belum pernah memasuki kota saja."
Natura lalu memakai cincin itu. Kemudian dia menempelkan tangannya pada sebuah batu berwarna hitam berbentuk piramida. Sisi-sisinya memunculkan informasi status karakter milik Natura. Petugas itu mempertajam penglihatan membaca informasi sebab merasa heran. "Ada kepentingan apa kau masuk ke dalam inti Kota Yasa?"
"Aku ingin menggunakan jasa ahli buff guna memecahkan misteri status karakterku."
"Walau pun kau memiliki tanda verifikasi, namun kami tetap waspada. Kau bisa saja membahayakan kota Yasa. Kecepatan larimu sangat merepotkan. Batu ini bahkan tak bisa mengungkap berapa kekuatan serang milikmu; skill maupun ultimate-mu pun tak dapat dipahami."
"Lalu, apa yang harus aku lakukan?"
Petugas itu menyodorkan aksesoris berupa kain ikat kepala. Ikat kepala tersebut adalah item khusus milik kota Yasa yang dapat mengubah status karakter seseorang menjadi layaknya milik orang biasa. Hal itu bertujuan demi menghindari orang yang terlalu kuat dan mungkin membahayakan kota Yasa.
Selain ditarik koin jaminan sebesar 100S, Natura harus mengeluarkan 1S sebab diwajibkan menyewa prajurit sebagai pengawal. Tidak lain karena Natura membutuhkan orang yang dapat melepas ikat kepala saat berkepentingan dengan kegiatan ahli buff.
Enenga dan neneknya pun mendapat perlakuan sama ketika mendaftar, disebabkan oleh tujuan mereka yang ingin menemui ahli buff juga.
Kini perjalanan rombongan mereka bertambah tiga prajurit.
Saat melewati gerbang, istana yang kemarin dari kejauhan terlihat kecil kini memperlihatkan ukuran sebenarnya yang sangat besar. Hunian di dalam inti kota Yasa pun terlihat mewah. Mereka dapat melihat orang-orang dengan pakaian yang elegan. Bahkan beberapa orang yang sedang berjalan santai dikawal oleh petualang.
"Nenek, apa jadinya jika kita tidak memiliki uang sebanyak itu?" tanya Natura.
"Maka kita bertiga harus dikawal sembilan orang. Tentu masing-masing dari kita harus membayar tiga ribu koin kecil untuk membayar mereka ... Ayo percepat perjalanan."
Mereka pun menuju tempat ahli buff. Tiga orang pengawal itu benar-benar bersikap layaknya patung. Tak sepatah katapun keluar dari mulut mereka. Mereka juga hanya berjalan di belakang. Jika ditanya arah jalan menuju ahli buff, mereka hanya mengacungkan tangan saja ke arah yang dituju.
"Nek, apakah kedisiplinan pengawal standarnya memang seperti ini?" bisik Natura.
Natura menjadi canggung sebab nenek Alia menjawab dengan lantang. "Begitulah. Mereka terhubung lewat satu jaringan ketika menggunakan zirah prajurit. Walau mereka diam, namun siapa tahu jika mereka ternyata sedang mengejek kita bertiga."
Walau nenek Alia berkata demikian, namun tiga prajurit yang mengawal tak bereaksi apapun.
Mereka akhirnya sampai di kediaman ahli buff. Tempat itu terlihat mengagumkan. Setelah masuk ke gerbang, mereka berjalan di suguhi dengan kolam ikan yang luas pada kanan dan kiri jalan. Jalan yang merek pijaki pun terlihat mengedepankan kenyamanan dengan adanya atap penghalang terik matahari di atasnya. Halaman rumah itu terlihat begitu sejuk dan menyegarkan pikiran disebabkan banyak pohon hias yang hidup di sana.
Mereka pun di sambut dan diarahkan oleh pelayan perempuan usia dua puluh lima tahunan yang berpakaian sopan dengan kesan elegan dan tradisional.
Tempat tinggal ahli buff pun terlihat klasik dengan bahan utama kayu dan beratapkan genteng. Ruangannya pun di hiasi dengan tiang yang memiliki pahatan tumbuh-tumbuhan maupun hewan.
Mereka dipersilahkan untuk duduk di ruangan tunggu yang terbuka menghadap ke halaman depan. Mereka juga disuguhi teh beraroma melati dan hidangan ringan.
"Nek, sungguh ini yang terbaik," bisik Natura.
"Koin yang berbicara, Natura. Mana mungkin mendapatkan pelayanan ini jika tak mampu membayar," tanggap nenek Alia dengan suara tak dipelankan.
Tentu Natura merasa canggung sebab pelayan masih berada di sana.
Mereka bertiga dipersilahkan menunggu sebab ahli buff sedang menjalankan praktiknya. Tiga prajurit yang mengawal rombongan Natura berdiri berpencar menjaga ruangan itu.
"Bolehkah kami menikmati pemandangan kolam ikan lebih dekat?" tanya Natura.
"Silahkan. Namun tugasku hanya melayani sesuai prosedur. Aku hanya akan menyajikan teh ke sana jika tuan dan nyonya memanggilku," jawab sang pelayan.
"Ya, itu tidak masalah."
Natura lalu memilih duduk di pinggiran kolam menikmati suasana menyehatkan. Ikan yang banyak, berwarna-warni, dan besar, membuat Natura tertarik untuk menikmati lebih dalam keindahan hunian ahli buff.
Nenek Alia dan Enenga pun ikut menyusul Natura. Mereka ikut duduk di sampingnya. "Natura, Terima kasih atas bantuanmu. Jika tak datang bersamamu, maka kemungkinan besar kami akan susah payah mencari koin sebanyak itu."
"Sungguh ucapan Nenek terlalu berlebihan," tanggap Natura sambil tersenyum.
"Apa kau menikmati pemandangan indah di sini?"
"Tentu." Jawaban singkat itu memang menunjukkan apa yang sedang Natura rasakan. Selain kolam yang berisi ikan warna-warni, istana kota Yasa yang di bangun di atas bukit pun terlihat jelas dari sana.
"Setelah ini, apa kau ingat bahwa kita akan berpisah?"
"Ya, aku ingat."
Nenek Alia dan Enenga mulai memperlihatkan mata yang berkaca-kaca. "Aku memiliki sedikit masukan untukmu. Jika memang kau serius akan menjadi petualang nomor satu, maka kau harus berhati-hati. Tak hanya kau saja yang mengincarnya. Sering kali orang akan iri terhadap peringkat milik orang lain," ungkap nenek Alia.
"Itu artinya, jika aku memanjat peringkat petualang, maka kemungkinan besar aku juga mendapatkan musuh dari kalangan para petualang?"
"Ya, itu yang aku maksud. Dari peristiwa Dragon Sunguungu peringkat petualang nenek menjadi meningkat pesat di sekitar tujuh ribuan. Besok hari senin, peringkatmu pasti akan muncul dan itu akan menggegerkan seluruh petualang."
"Apakah membunuh monster sebelum menjadi petualang juga akan terhitung, Nek?"
"Tentu. Itulah guna batu yang berbentuk telur terbelah yang kau pegang saat mendaftarkan diri pada guild petualang."
"Nek, aku memiliki hadiah untuk kalian berdua," ungkap Natura sambil memperlihatkan dua Handsfree dan dua kotak berisi kacamata yang tadi pagi dibeli.
"Sungguhkah kau memberi kami hadiah semahal ini?" tanya nenek Alia dengan wajah haru.
"Jujur aku kini tak mengerti lagi konsep kaya dan miskin di dunia ini."
Enenga dan neneknya lalu mengambil dua hadiah itu. Mereka berdua langsung menempelkan dua benda itu di dada hingga menghilang. Tidak adanya perbedaan penampilan membuat Natura merasa heran. "Terimakasih atas pemberianmu ini. Sungguh dari dulu, barang-barang ini hanya angan-angan kosong semata bagiku."
Natura hanya tersenyum tak tahu harus bicara apa.
"Hei Natura. Tidakkah kau berpikir untuk menikah dengan Enenga saja? Setelah ini, level-nya bahkan mungkin bisa mencapai delapan puluhan. Tentu walau kau ingin menjadikannya sebagai ibu rumah tangga, dia akan tetap memberimu banyak manfaat," ujar nenek Alia.
Seketika wajah perjaka dan gadis itu langsung memerah mendengar ucapan nenek Alia yang mengejutkan.
Natura mencoba menatap wajah Enenga yang memerah juga. Dia dapat merasakan betapa malunya sang gadis. Namun berdirinya Enenga tanpa membantah, membuat Natura tahu jika gadis itu juga sependapat dengan neneknya.
Mengingat kembali jika Natura hanya singgah di dunia itu untuk sementara, dia mencari alasan yang masuk akal dalam menolak ucapan nenek Alia. Dia berdalih memiliki seorang teman bernama Tasya yang mungkin menyukainya. Selain menambahkan bahwa Tasya adalah alasan utama dia mempunyai tujuan hidup lagi setelah terpuruk. Alasan Tasya sangat berkesan baginya membuat nenek Alia sedikit merelakannya.
Napas kekecewaan berhembus dari hidung nenek Alia. "Rupanya kau memiliki sosok gadis mengagumkan. Tapi entahlah ... Jika dia setuju, maka Enenga juga bisa menjadi istri keduamu, 'kan?" rayu nenek Alia.
Enenga lalu menyeret tangan neneknya untuk masuk ke ruangan tunggu kembali dengan wajah terlihat sangat malu. Nenek Alia tertawa melihat wajah gugup Enenga.
"Ada-ada saja nenek Alia," batin Natura sambil menatap mereka.
Dari pintu utama hunian, terlihat seseorang pria memakai baju zirah yang terlihat sangat kokoh keluar dari situ. Dia didampingi satu orang petualang lain dan sembilan prajurit kota Yasa.
Natura terlihat kagum dengan penampilan pria empat puluh tahun itu. Janggut tipis memberikan kesan pemberani. Ikat kepala membuat kesan lain, yaitu berbahaya.
Saat berjalan di samping Natura, tiba-tiba dia berhenti dan langsung mengacungkan pedang ke arah Natura.
Petualang lain segera mengarahkan pedangnya pada leher pria itu. "Tuan Ombonga, sepuluh koin besar harus kau bayarkan sebab tindakanmu ini! Apakah kau lupa telah menggunakan ikat kepala kembali?!"
Kesembilan prajurit kota Yasa juga segera mengacungkan pedang kepada pria bernama Ombonga.
"Sepuluh koin besar aku keluarkan hanya untuk menyambut juniorku? Seharusnya kau tahu jika sapaan seperti ini lumrah terjadi," ucap Ombonga dengan tetap mengacungkan pedangnya kepada Natura.
"Tak ada petualang yang menggunakan saapaan kepada juniornya seperti ini. Aku bisa langsung membunuhmu tanpa harus berpikir panjang terlebih dahulu," tegas sang petualang.
"Kau berani mengancamku?! Saat bertemu lagi, aku akan membunuhmu!" bentak Ombonga.
Petualang itu langsung menusukkan pedangnya ke leher hingga Ombonga diam tergeletak.
Saat hidup kembali, Ombonga langsung melakukan gerakan supaya pedang itu tak menancap di lehernya. "Kurang ajar! Sungguh aku akan membunuhmu! Saat kau keluar dari inti kota, disitulah letak makammu!"
"Prajurit, bunuh dia!"
"Siap laksanakan!" tanggap tegas kesembilan prajurit.
Hanya dalam beberapa detik saja, Ombonga segera tergeletak lagi sebab kemampuan bertarungnya sangat lemah. Dia lalu hidup lagi, dan ke sembilan prajurit yang telah mengelilingi langsung menancapkan pedang ke perutnya. Itu adalah akhir hayat pria bernama Ombonga.
"Namaku Erua. Siapa namamu?" tanya petualang di hadapan Natura.
Natura justru tampak bingung. Baginya, kejadian itu adalah hal aneh yang tak seharusnya diketahui. "Natura," jawabnya biasa saja.
"Beruntunglah kau telah terbiasa. Ombonga kerap membunuh saingan peringkat petualangnya. Dia salah memilih lawan hingga setengah kekuatannya terkunci dan berakhir di tempat ini. Berhati-hatilah! Suatu saat, kau mungkin bertemu orang bodoh seperti Ombonga," terang Erua.
Setelah Rombongan Erua pergi membawa mayat Ombonga, Enenga dan nenek Alia serta tiga pengawalnya langsung menghampiri Natura. "Natura! Apa kau tak apa-apa?" tanya nenek Alia dengan khawatir.
"Ya. Tentu," jawabnya dengan santai sambil tetap duduk di pembatas kolam.
"Level tuan Ombonga berada di angka 150. Berkat kesombongannya yang telah terpupuk sejak lama, dia lupa bahwa kain yang terikat di kepala mengunci hampir seluruh kekuatan bertarung." Suara lembut seorang lelaki seketika membuat mereka menoleh ke arah belakang prajurit.
"Sekarang giliran kalian membebaskan kutukan yang menghambat pertumbuhan level, 'kan? Tentu karena kejadian memalukan ini, kalian bertiga dibebaskan dari pembayaran." Ucapan pria sekitar umur dua puluh lima tahunan segera mengabari, siapa pemilik suara lembut.
Penampilannya terlihat begitu elegan dengan rambut panjang yang terikat ke belakang. Wajahnya pun terlihat rupawan. Kesan bangsawan tak luput dari perawakannya. "Mari masuklah ... Aku adalah ahli buff yang kalian cari," ucapnya dengan lembut.
.
.
Bersambung......
Dan semoga novel2 tentang olahraga ranjang yg ikut nimbrung di genre ini bisa terpindah semuanya ☺
rya anda bagus👍
trus kata notifikesong nya lumayan mengganggu 🤭
di tambah setiap kata dari karakter MCnya yang pintar main game tapi tolol saat di dalam game gak masuk akal.. 👎