Dinikahi secara paksa oleh pria yang tidak dikenal nya. Membuat Valencia membenci pria yang sudah berstatus menjadi suaminya itu.
Sikap baik yang selalu di tunjukan oleh suaminya (Devano). Sama sekali tidak membuat hatinya luluh. Namun, berkat semua nasehat yang di berikan orangtua serta saudara dan juga orang-orang terdekatnya. Membuat ia bisa membuka hati dan menumbuhkan perasaan untuk suaminya itu.
Tapi, bagaimana jadinya?! Jika di saat ia sudah benar-benar membuka hati dan mencintai suaminya, ia malah mendapati dan mengetahui rahasia besar yang di sembunyikan suami dan juga mertuanya.
Devano, pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Ternyata menderita penyakit kanker otak stadium lanjut.
Bersamaan dengan itu, ia juga mendapati bahwa dirinya tengah mengandung benih suaminya. Bahagia dan juga sedih bercampur menjadi satu didalam hatinya! Beberapa bulan kemudian, Devano menghembuskan napas terakhirnya yang membuat perasaan Valencia begitu hancur, dunianya terasa runtuh!
Bagaimana kisahnya? Akankah ia mampu menata hidupnya tanpa sosok Devano yang telah mampu mencuri hatinya dan juga menghancurkan hidupnya dalam waktu sejekap itu?!
“Jodoh PENGGANTI Untuk Nona Muda”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Syantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VALENCIA MALAS MANDI
Jam menunjukan pukul 15:23 sore. Hujan sudah reda sedari tadi, Revano pun membangunkan anak serta istrinya.
"Sayang, ayo bangun. Hujan nya udah reda, kita lanjut jalan ke rumah nya Grandma sekarang," ucap Revano dengan pelan.
"Valen ngantuk, lapar juga," guman Valencia.
"Ya udah, ayo bangun. Kita cari makan dulu sebelum lanjut jalan," kata Revano. Ia membelai wajah serta rambut istrinya itu dengan lembut.
"Devanka aja belum bangun, kan?" guman Valencia lagi.
Setelah lama tawar menawar, akhirnya dengan malas dan juga mata mengantuk. Valencia pun bangun dan turun dari ranjang itu.
"Mandi dulu," kata Revano.
"No! Dingin banget kayak gini malah nyuruh mandi," kata Valencia.
"Hehehee.. Mas baru sadar, kalau selama ini kamu orangnya malas mandi," kekeh Revano.
"Gak usah ngeledek!" sungut Valencia pada suaminya.
Jam sudah menunjukan jam 4 sore, mobil yang di kendarai Revano baru bergerak dan melaju meninggalkan area hotel yang mereka singgahi untuk berteduh dan juga memupuk rahim istrinya.
"Hoamm.." Valencia dan Devanka sama-masa membuka mulut mereka lantaran masih mengantuk.
"Kompak," ucap Revano. "Nanti sampe rumah Grandma, kalian bisa langsung tidur lagi." Revano berbicara kepada anak istrinya, akan tetapi matanya terus fokus pada jalanan basah yang ada di hadapannya.
.
.
.
Mobil Revano berhenti di sebuah mansion mewah dan besar. Revano segera membuka kan pintu untuk istrinya dan mengendong putrinya.
"Hore.. Pe mah iyang!" Devanka begitu girang, sampai-sampai ia tidak ingin di gendong oleh Daddy nya.
"Eyang, bukan Iyang," kata Revano membenarkan perkataan putri sambungnya itu.
"Grandma nya mana, mas? Kok sepi?" tanya Valencia sembari memeluk lengan suaminya dan berjalan bersama menuju teras rumah itu.
"Emang selalu sepi, cuman ada Grandma dan beberapa pelayan aja di sini," jawab Revano.
"Oh, pantesan," kata Valencia sembari mengangguk pelan. "Mas gak punya saudara kah? Kok gak ada satupun keluarga kalian yang temenin Grandma, kan Grandma udah tua?"
"Mas punya adek, cowok juga. Dia masih kuliah di Belanda," kata Revano. "Paman dan Bibi juga ada, tapi semua keluarga kan tinggal di Belanda semua. Grandma pun udah di suruh pindah, tapi Grandma gak mau. Katanya dia begitu mencintai Grandpa yang memang asli orang pribumi, dan di rumah ini lah pula mereka menghabiskan masa muda dan mengurus anak-anak mereka." jelas Revano. "Katanya, dia pengen ngabisin sisa umurnya disini. Dan kelak, kalau dia meninggal dia minta makam nya di tempatkan di samping makam Grandpa."
"Sosweet banget ya, mas," ucap Valencia.
Revano tersenyum, mereka terus melangkah hingga sampai di dalam mansion yang luas. itu.
"Grandma.." panggil Revano pada Nyonya Liliana yang sedang duduk sembari menyulam di sofa ruang tengah mansion itu.
"Ahh.. Cucu dan cicitku datang," Nyonya Liliana yang sudah begitu tua segera meletakan alat sulam nya dan segera menghampiri Revano, Devanka dan juga Valencia. "Kenapa kalian gak kabarin Grandma? Kalau kalian kabari, Grandma bisa suruh orang siapkan semua kebutuhan kalian." terang Nyonya Liliana.
"Revano sengaja ingin memberi kejutan untuk Grandma," kata Revano.
"Jangan suka memberi kejutan untuk Grandma, kalau gara-gara kejutan yang kalian berikan Grandma jadi serangan jantung, bagaimana?"
"Grandma ngawur," kata Valencia kepada nenek mertuanya itu.
"Hehehe.." Nyonya Liliana terkekeh. "Mbok, Bi.. Tolong siapkan makanan untuk cucu-cucu dan juga cicitku!" perintah Nyonya Liliana kepada ART nya.
"Iya, Nyonya!" timbal salah satu ART itu dari arah dapur.
"Revano ke atas dulu ya, Grandma," pamit Revano. "Ayo yank, kata nya mau mandi." ajak Revano pada Valencia. Maka, mendelik lah mata Valencia di buatnya.
"Mas kenapa sih? Suruh Valen mandi terus!" protes Valencia.
"Biar seger, hehehe.." Revano terkekeh. "Masa kalau sama Devanka,"
"Ka gak au ndi," kata Devanka. "Ingin." tambah bocah itu.
"Tuh kan! Devanka aja tau kalau cuacanya dingin banget," kata Valencia. "Dengan mas suruh Valen mandi, itu sama aja udah melakukan tindak KDRT loh!" Valencia mulai mengada-ada.
"Aneh banget, di suruh bersih-bersih kok malah di bilang KDRT!" sungut Revano. "Kalau mas paksa kamu main terus sampe gak bisa jalan, itu baru bisa di sebut KDRT dan juga penyiksaan batin serta psikologis istri!" terang Revano.
"Iya-iya, lagian Valen bercanda," kata Valencia. "Tapi Valen gak mau mandi, Valen beneran dingin."
"Ya udah, cuci aja. Nanti mas siapin air anget buat cuci nya." Tak terasa, kini mereka bertiga sudah sampai di depan pintu kamar. Berjalan sambil mengibrol memang bisa mengurangi rasa lelah.
Bukannya membersihkan diri, Valencia malah langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan kembali memejamkan matanya.
"Astaga, istriku kenapa berubah jadi aneh kayak gini?" guman Revano.
"Dy, Ka apen. Mu mamam," kata Devanka yang duduk di tepian ranjang.
"Devanka laper? Ya udah, kita balik aja lagi ke bawah. Biarin Mommy bobok sendiri," kata Revano dengan pelan. Pria itu kembali menggendong putri sambungnya itu dan membawanya ke lantai bawah.
Kaki Revano yang harus bolak balik, seperti tak mengenal lelah saja. Padahal, ia selalu kesana kemari sembari menggendong tubuh Gembul Devanka.
atau ternyata beda penulis?
Sukses bwt kk