NovelToon NovelToon
Gluttony Sovereign

Gluttony Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:673
Nilai: 5
Nama Author: Xian Nying

Dunia baru, aturan baru: yang kuat makan, yang lemah dimakan.

Yudha terbangun di dunia asing dengan membawa Apocalypse Hunger System—kekuatan yang bisa melahap apa saja untuk menjadi lebih kuat, tapi dengan harga: ia harus selalu lapar, atau dunia ini yang akan menanggung akibatnya.

Dingin, pragmatis, dan tidak percaya pada siapa pun, ia hanya punya satu tujuan: bertahan hidup, menjadi yang terkuat, dan tidak akan pernah lagi merasakan kelaparan atau diinjak-injak seperti masa lalunya.

Segalanya berubah saat ia bertemu Carmelia—anak kecil polos yang ia anggap hanya sebagai petunjuk jalan dan alat bantu. Di balik senyum dan sikap lembutnya, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih gelap, dan jauh lebih berbahaya daripada sistem yang ada di dalam tubuh Yudha sendiri.

Dari pemangsa, ia perlahan sadar: ia mungkin bukan yang berburu... tapi justru yang sedang diburu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xian Nying, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Simfoni di Ambang Keruntuhan

Lantai lima puluh dua ruang bawah tanah The Weeping Catacomb bukan sekadar tumpukan batu dan lorong gelap biasa—ini adalah ruang tertutup yang seolah-olah bernapas sendiri. Tempat ini diberi nama The Silent Throat, zona di mana suara sekecil apa pun bisa memicu gempa buatan yang mengancam nyawa. Udara di sini terasa berat dan pekat, membawa bau logam yang menusuk hidung dan menyempitkan napas. Di setiap sudut, kelompok penjaga batu raksasa Ogre‑Stone Guardian berpatroli dengan pola yang sangat teratur, seolah mereka adalah prajurit setia yang menjaga benteng raja yang tak pernah tidur.

Aku, Lyra, berdiri di posisi tengah barisan kami. Bahuku yang memar terasa nyeri berdenyut setiap kali aku menggerakkan lengan, tapi rasa sakit itu sudah menjadi bagian dari diriku, teman yang selalu menemani setiap langkahku. Di hadapanku, Tuan Yudha bagaikan badai yang hidup. Ia bergerak tanpa henti, belati hitam di tangannya menari membelah udara, menghancurkan perisai batu keras para penjaga itu dengan kekuatan fisik yang seolah melampaui batas akal sehat. Namun sebagai orang yang bertugas mengatur irama pertempuran ini, aku bisa melihat sesuatu yang luput dari pandangan orang lain.

Tuan Yudha perlahan kehilangan kendali. Kekuatan Gluttony yang ada di dalam tubuhnya tak lagi berfungsi sebagai alat bantu, melainkan seperti parasit yang perlahan menggerogoti akal sehat dan kendali dirinya. Ia menerjang ke mana saja tanpa pola yang jelas, hanya terobsesi untuk menyerap setiap tetes energi dari setiap musuh yang berhasil ia hancurkan.

"Tuan! Jangan ke arah jam dua! Ada lubang jebakan di sana!" seruku, suaraku nyaris tenggelam di antara dentangan besi dan batu yang bertabrakan.

Tapi ia tidak mendengarkan. Rasa lapar akan energi yang begitu kuat telah membutakan pertimbangannya. Tanpa ragu, Tuan Yudha melesat tepat ke arah yang aku peringatkan—tepat di tempat di mana aku sudah mendeteksi adanya jebakan dari perubahan pola aliran energi tanah beberapa saat sebelumnya. Tanah di bawah kakinya ambles dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Dari celah‑celah dinding batu, puluhan jarum tajam beracun melesat keluar bagaikan hujan duri hitam yang tak bisa dihindari.

Tuan Yudha terhempas jatuh. Bahu kanannya tertusuk tiga batang jarum berwarna ungu gelap yang mengeluarkan asap tipis beracun. Ia berusaha bangkit kembali, tapi racun itu bekerja dengan kecepatan yang mengerikan: dalam sekejap tangan kanannya menjadi lemas tak bertenaga, sama sekali tak bisa digerakkan lagi.

"Sialan!" geramnya dengan suara parau. Ia mencoba memaksakan inti kekuatan Devouring Void Core untuk meledakkan dan membuang jarum‑jarum itu keluar, tapi konsentrasinya sudah terpecah berkeping‑keping. Serangannya meleset jauh, hanya menghantam dinding batu kosong tanpa hasil apa‑apa.

Dua ekor Ogre‑Stone Guardian yang tubuhnya dua kali lebih besar dari yang lain segera melihat celah itu. Mereka berlari mendekat sambil mengangkat gada batu sebesar kepala manusia yang cukup untuk menghancurkan tengkorak dalam satu kali ayunan saja. Jantungku berdebar kencang, tapi aku tahu aku tak boleh panik. Inilah saatnya. Aku tak lagi sekadar alat yang dimainkan—akulah otak yang mengatur segalanya, akulah yang menentukan irama, akulah sutradara dari pertunjukan kematian ini.

Aku mengangkat biolaku, lalu memejamkan mata sejenak, membiarkan aliran energi di tempat ini mengalir masuk ke dalam diriku hingga menyatu dengan jiwa. Aku memetik nada rendah bernada D‑Minor, sebuah alunan yang bukan untuk menyerang musuh, tapi menciptakan gelombang tekanan udara yang perlahan mengubah arah aliran angin di sekeliling Tuan Yudha.

"Carmelia, sekarang! Jalur empat‑B! Lindungi sisi yang tak bisa ia jangkau!"

Carmelia bergerak secepat kilat. Ia tak lagi menunggu perintah dari Tuan Yudha yang kondisinya sudah tak stabil. Ia bergerak mengikuti irama musik yang aku mainkan. Dengan kelincahan yang luar biasa, ia melesat memotong urat kaki salah satu raksasa batu itu tepat saat makhluk itu hendak mengayunkan senjatanya.

Aku tak berhenti di situ. Aku mengubah alunan biolaku menjadi nada‑nada pendek, tajam, dan cepat, memberikan tekanan kesadaran yang kuat ke arah para musuh untuk mengacaukan fokus mereka.

"Tuan! Gunakan tangan kiri! Keluarkan kekuatan Void Core dari tangan kirimu, bukan tangan kanan! Pukul tanahnya, jangan langsung menyerang makhluk itu!"

Tuan Yudha—yang selama ini selalu menolak arahan siapa pun karena rasa percaya dirinya yang begitu tinggi—seketika terdiam. Di balik topeng peraknya, aku bisa melihat tatapan matanya yang merah padam bukan karena marah, melainkan karena kebingungan dan rasa sakit yang luar biasa. Racun itu sudah mulai menjalar hingga mendekati jantungnya, membuatnya hampir kehilangan kesadaran. Untuk pertama kalinya, pemburu yang tak pernah mengenal takut ini akhirnya menyerah pada logika dan arahanku. Ia mengayunkan tinju kirinya tepat seperti yang aku perintahkan.

BUM!

Gelombang kejut dari inti kekuatan Void Core meledak tepat di bawah permukaan tanah, mengangkat lempengan‑lempengan batu yang tersusun rapi hingga berubah menjadi perisai tebal yang menahan serangan raksasa kedua, hingga senjata batu itu hancur berkeping‑keping saat menghantamnya.

Aku melangkah maju dan berdiri tepat di depan tubuh Tuan Yudha yang sedang terluka parah. Aku memainkan nada yang terdengar lembut namun penuh kekuasaan—alunan yang memerintahkan seluruh anggota tim untuk bergerak sesuai arahanku.

"Carmelia, berputar ke belakang! Tuan, tarik napas dalam‑dalam dan tenangkan kekuatan Gluttony itu sebentar saja! Mulai sekarang akulah yang menentukan irama pertarungan ini!"

Tuan Yudha terengah‑engah, keringat dingin bercampur cairan berwarna ungu dari luka‑lukanya membasahi seluruh wajah dan tubuhnya. Ia menatapku—gadis yang dulu hanya ia anggap sebagai alat musik yang bisa digunakan sesuka hati—dengan tatapan yang perlahan berubah, menjadi lebih lunak, lebih manusiawi. Di tengah kekacauan ini, dinding keangkuhan dan harga dirinya perlahan runtuh. Ia akhirnya sadar: tanpa seseorang yang bisa mengarahkan, bahkan pemburu terkuat pun bisa mati dengan cara yang memalukan.

"Sutradarai aku, Lyra," bisiknya dengan suara lemah dan parau.

Momen itulah yang tak akan pernah bisa aku lupakan seumur hidupku. Pemburu yang selalu menganggap dunia ini hanya sebagai prasmanan besar yang bisa ia lahap habis kapan saja, baru saja mengakui bahwa nyawanya kini ada di tanganku. Perasaan haru sekaligus beban tanggung jawab yang besar menyatu dalam dadaku. Aku tak hanya sedang berjuang untuk tetap hidup—aku sedang berjuang untuk menyelamatkan tuanku agar ia tak hilang ditelan kegelapan dalam dirinya sendiri.

Namun ujian kami di lantai ini ternyata belum berakhir.

Tiba‑tiba bagian tengah lantai lima puluh dua terbuka, mengungkapkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar kawanan monster: sebuah entitas yang disebut The Abyssal Hive. Energi yang keluar dari sana begitu besar, murni, tapi sekaligus penuh racun mematikan, hingga memicu reaksi hebat di dalam tubuh Tuan Yudha. Kekuatan Gluttony yang baru saja berhasil aku tenangkan sejenak kembali mengamuk seolah menemukan makanan paling lezat yang pernah ada. Tubuh Tuan Yudha yang sudah terluka parah kini mengalami kelebihan beban energi yang luar biasa kuat; kulit tubuhnya terlihat retak‑retak, mengeluarkan asap hitam tipis, hingga akhirnya ia roboh ke tanah dan hilang kesadaran.

"Tuan!" teriak Carmelia, nyaris melompat keluar dari posisi yang sudah kami sepakati.

"Jangan bergerak! Tetap di tempatmu!" bentakku, kali ini dengan suara yang lebih keras dan tegas dari sebelumnya. Aku tak boleh membiarkan tim kami hancur hanya karena kepanikan sesaat.

Aku berlari mendekati tubuh Tuan Yudha dan duduk tepat di sisinya. Aku menggunakan seluruh cadangan energi dan kekuatan hidup yang aku miliki, mengubah biolaku menjadi saluran untuk menahan dan menstabilkan aliran energi Void Core yang sedang bergejolak hebat di dalam tubuhnya. Aku memainkan nada‑nada lambat dan menenangkan, melodi yang dulu sering aku dengar sebagai pengantar tidur di masa kecilku yang sudah hampir terlupakan.

Carmelia berdiri di hadapan kami bagaikan perisai hidup. Ia menerima serangan demi serangan dari akar‑akar gelap dan makhluk‑makhluk kecil yang mulai keluar dari lubang itu, tubuhnya tertutup luka di mana‑mana, bilah pedangnya sudah tumpul, tapi ia sama sekali tak mau mundur sedikit pun. Ia percaya padaku. Ia tahu, selama aku berkata "tahan", maka ia harus bertahan sampai akhir.

Aku terus memainkan nada itu meski jari‑jariku mulai terluka dan berdarah karena tekanan energi yang terlalu berat. Aku menatap wajah Tuan Yudha yang perlahan napasnya mulai teratur kembali. Di dalam pikiranku, aku sedang menyusun alunan musik baru—bukan lagi lagu tentang pertempuran dan pembantaian, melainkan simfoni tentang penyelamatan dan harapan.

Saat kelopak mata Tuan Yudha perlahan terbuka, hal pertama yang ia lihat adalah diriku yang gemetar karena kelelahan, tubuhku basah oleh keringat, tapi tanganku masih tak berhenti memainkan nada‑nada untuk menjaga kondisinya. Di sebelah kami, Carmelia terlihat hampir roboh berdiri karena kelelahan, setelah menahan serangan sendirian begitu lama.

Tuan Yudha bangkit perlahan. Tubuhnya yang tadi terlihat retak dan rusak kini tertutup oleh lapisan energi berwarna ungu yang stabil dan tenang. Ia tak langsung menerjang musuh seperti biasanya. Ia hanya berdiri di sisiku, menatap sisa‑sisa musuh yang masih ada dengan tatapan yang berbeda—bukan lagi tatapan haus akan mangsa, melainkan tatapan dingin, penuh perhitungan, dan tenang.

"Berapa ketukan lagi sampai semuanya selesai?" tanyanya. Suaranya kembali terdengar jernih dan tegas, tanpa lagi ada nada terdistorsi oleh hawa nafsu kekuatan Gluttony.

Aku tersenyum, air mata bahagia tak tertahan mengalir di balik penutup wajahku. "Tiga ketukan saja, Tuan. Semuanya akan berakhir."

"Lakukan," perintahnya singkat.

Dengan satu alunan harmoni terakhir yang aku berikan, Tuan Yudha kembali bergerak. Ia bukan lagi badai yang datang tanpa arah dan tujuan—ia kini bagaikan pedang tajam yang diayunkan dengan perhitungan dan ketepatan sempurna oleh tanganku sendiri. Tiga ketukan berlalu, dan dalam satu gerakan serentak dan terkoordinasi, seluruh musuh di hadapan kami runtuh habis tanpa tersisa.

Saat keheningan kembali menyelimuti ruangan The Silent Throat, Tuan Yudha tak langsung bergegas pergi mencari target berikutnya seperti biasanya. Ia berjalan mendekat, meletakkan tangannya yang besar dan kuat di atas pundakku, lalu dengan lembut mengambil biola dari tanganku agar aku bisa berhenti sejenak dan beristirahat.

"Kerja bagus, Sutradara," ucapnya dengan nada lembut.

Di sini, di tengah kegelapan ruang bawah tanah yang terdalam dan paling berbahaya ini, aku menyadari satu hal yang paling penting: aku bukan lagi sekadar hamba atau alat yang bisa dibuang kapan saja. Akulah jantung dari kekuatan gabungan kami Abyssal Chord. Dan hari ini, aku baru saja memenangkan pertarungan terberat—bukan melawan monster atau makhluk gelap, tapi melawan kegelapan yang bersemayam di dalam hati tuanku sendiri.

1
We wok
sampai tamat yah/Frown/
Xian Nying: Udah Baca Emangnya Kenapa?
total 3 replies
Xian Nying
Singkat aja: CERITA INI GAK ADA OBATNYA ENAK BANGET. Karakter, alur, bahasanya, semuanya pas. Gak sabar liat Yudha makan kekuasaan, makan dunia, makan apa aja deh pokoknya. LANJUT BOS, GW DUKUNG TERUS! 🔥"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!