NovelToon NovelToon
Bos Marco

Bos Marco

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:210.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Belinda Marchely

Aku tidak pernah merencanakan akan jatuh cinta pada siapa. Bukan kuasaku untuk menjatuhkan pilihan sang cinta pada pemiliknya yang entah siapa.

Semula, semua terasa mudah. Semula, aku merasa mampu bertahan dengan segala gejolak yang ada di dalam hati, yang menuntut untuk diperjuangkan. Semula, semua terasa cukup, mengetahui kau akan selalu ada disisiku.

Nyatanya, semua tidak semudah yang kubayangkan.

Ketika keadaan semakin menuntutku untuk memilih, manakah yang harus aku pilih? Karier atau cinta, yang keduanya bahkan baru sama-sama dimulai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Belinda Marchely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Malam (Tak) Romantis

Anetta's POV

Setelah Marco pamit pulang, aku juga bersiap-siap. Namun, sebelumnya aku menyempatkan untuk makan siang.

Duh! Sampai lupa menawari Marco makan siang. Padahal bisa, kan, menunggu sebentar lagi untuk makan bersama-sama.

Sebelum mandi, aku melirik isi lemari, mencari-cari pakaian yang akan aku kenakan untuk makan malam bersama Marco nanti.

Lebih baik mencari sekarang saja, daripada setelah mandi harus kembali berpeluh. Walau ada pendingin ruangan, tetap saja tidak akan segar lagi kalau sudah bergelut mengubek-ubek isi lemari.

Akhirnya, pilihanku jatuh pada sebuah gaun berbahan sifon dengan kerah berpotongan off-shoulder. Gaun berwarna hitam dengan panjang sebetis itu tidak terlalu formal tetapi juga tidak terlalu santai. Intinya, tidak berlebihan hanya untuk sebuah makan malam.

Begitu yakin dengan pilihanku, kuraih handuk di jemuran kecil lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

~

Aku tengah memeriksa penampilanku sekali lagi di depan cermin, saat kudengar suara bel di pintu rumah.

Sudah pasti itu Marco.

Kupandangi sekali lagi pantulan diriku di cermin besar itu, untuk kemudian tersenyum puas dengan hasil karya tanganku sendiri. Kemudian aku turun ke lantai bawah untuk menemui Marco.

“Hai, Sayang!” seruku, sambil menuruni anak tangga perlahan.

Marco sedang mengobrol dengan Mama. Lalu, ketika mendengar aku menyapanya, dia memalingkan wajahnya padaku dan tersenyum.

“Kamu cantik sekali ...” gumamnya.

Aku tersipu mendengar pujiannya itu. Aku berdandan seperti ini memang untuknya. Kalau dia senang dengan penampilanku, berarti tidak sia-sia aku menghabiskan waktu satu jam lebih di kamar mandi, serta merias diri selama hampir dua jam.

“Bisa kita jalan sekarang?” tanyanya. Aku mengangguk. “Saya izin bawa Netta keluar, ya, Tante.” Marco meminta izin pada Mama.

“Iya, hati-hati, ya. Pulangnya jangan terlalu malam,” pesan Mama.

Marco mengangguk seraya tersenyum, lalu meminta tanganku untuk kemudian menggandengnya menuju mobil. Dia membukakan pintu mobil untukku. Setelah aku duduk manis, barulah dia menyusul pada sisi kemudi.

“Kamu mau ajak aku ke mana?” Aku bertanya sambil menatap Marco.

Marco terlihat tampan sekali malam ini. Dia mengenakan kemeja berwarna biru muda dengan dua kancing teratas sengaja dibiarkan terbuka, memamerkan sedikit kulit dadanya.

“Salah satu restoran favoritku,” jawabnya singkat.

“Di mana?”

“Tunggu saja sampai kita tiba.”

Aku tidak bertanya lagi. Marco pun melajukan mobilnya menuju restoran yang katanya merupakan salah satu tempat favoritnya itu, yang aku belum tahu di mana letaknya.

Setelah berkendara hampir satu jam, mobil pun berbelok ke area parkir sebuah restoran di tengah kota. Begitu mobil sudah terparkir sempurna, Marco membukakan pintu penumpang dan menggandengku masuk ke dalam restoran.

Kami disambut oleh dua orang pelayan di pintu masuk restoran tersebut. Karena ternyata Marco sudah melakukan reservasi, selanjutnya kami diantar oleh salah seorang pelayan menuju meja tersebut.

Meja yang dipesan Marco terletak di salah satu sudut yang bersebelahan dengan taman. Tempatnya tidak private, memang, tetapi karena berada di sudut, tidak akan banyak lalu-lalang orang yang akan mengganggu pemandangan dan menghalangi pembicaraan pribadi.

Sementara itu, di sudut yang berseberangan dengan tempat kami duduk saat ini, ada sebuah panggung kecil dengan grand piano di atasnya. Hmm, live music performance (1)! Aku sangat suka itu!

“Kamu mau pesan apa, Sayang?” Suara Marco menarik perhatianku dari panggung di depan sana.

“Hmm, kamu pilihkan saja untuk aku. Kamu pasti lebih tahu makanan mana yang enak,” ujarku.

Marco pun menyebutkan menu makanan yang dipilihnya kepada pelayan yang tadi mengantar kami.

Setelah pelayan tersebut meninggalkan meja kami, Marco meraih jemariku dan menggenggamnya erat. Aku bisa merasakan hangat kulitnya melingkupi jemariku. Dia memberikan usapan lembut sambil terus menatapku.

Sementara itu, aku yang ditatap terus-menerus begitu menjadi jengah. Walau memang suasana di restoran ini sangat romantis, tapi aku tidak dapat menahan rasa panas yang menjalari wajahku, akibat peredaran darah yang lebih lancar karena malu.

Tatapan Marco beralih ketika seorang pelayan mengantarkan makanan pesanan kami. Dia mempersilahkan pelayan tersebut menaruh makanan dan minuman di atas meja.

“Terima kasih,” ujarku pada pelayan tersebut. Setelah menyelesaikan tugasnya, dia berlalu dari meja kami.

“Kamu sering ke sini?” Aku kini bertanya pada Marco.

“Lumayan,” jawabnya. “Ibu Baskoro yang mengenalkan aku pada restoran ini. Pemiliknya merupakan sahabat baik beliau. Setelah kedatangan pertama itu, ternyata aku merasa cocok dengan makanannya dan juga suasana restorannya.”

“Oh …” Aku mengangguk-angguk mendengar penjelasan Marco.

“Ayo makan!” ajaknya. Aku menurut.

Aku dan Marco pun menikmati sajian di depan kami masing-masing, sambil sesekali aku melontarkan pujian atas kelezatan makanan yang dipesankan Marco untukku.

“Aku tidak salah, kan, mengajak kamu ke sini?” tanyanya sambil memotong lamb chop (2) miliknya.

“Enggak, kok. Aku suka makanannya dan … suasananya yang romantis.” Marco tersenyum mendengar jawabanku.

Seketika, suasana bertambah romantis tatkala suara piano perlahan-lahan mengisi keheningan restoran malam ini. Disusul oleh sesosok suara penyanyi wanita yang sangat merdu, berpadu dengan alunan musik yang tak kalah indah.

Aku menyuapkan satu potongan kecil tuna panggang ke mulutku. Tidak salah Marco memilihkan menu ini untukku. Rasanya benar-benar lezat, dengan paduan bumbu yang pas, bisa mengurangi rasa tajam dari ikan tuna, sehingga hampir tidak seperti ‘tuna’.

Namun, tiba-tiba ... terdengar sesosok suara yang belakangan ini sudah sangat familiar di telingaku. Sesaat aku menyesali percakapan kami sebelumnya, entah kenapa Marco harus menyebutkan nama itu tadi.

“Hai, Marco!” sapanya.

Itu ... suara Ibu Baskoro.

Kulihat alis Marco terangkat, menandakan keterkejutan, tapi detik berikutnya dia berhasil menguasai keadaan.

“Hai, Bu!” Dia bangkit berdiri dan menjabat tangan Ibu Baskoro.

Wanita paruh baya itu melirikku dan tersenyum simpul.

“Hai, Anetta!” sapanya.

Beliau menyunggingkan sebuah senyuman yang tidak dapat kudefinisikan. Aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlihat canggung.

“Ibu sedang di sini?” tanyaku.

Pertanyaan itu terdengar aneh di telingaku sendiri.

Jelas saja Ibu Baskoro sedang ada di sini, di restoran ini, tempat yang sama dengan keberadaan kamu dan Marco, Anetta! Aku merutuki diri sendiri.

“Kalian hanya berdua?” tanya Ibu Baskoro, tanpa menjawab pertanyaanku.

Aku melirik Marco, menunggu dia saja yang menjawabnya. Aku bingung harus menjawab apa.

“Iya, Bu.” Sesingkat itulah jawaban Marco.

Lalu, kalimat selanjutnya yang terucap dari bibir seorang Ibu Baskoro seakan membuyarkan suasana romantis yang baru saja terbangun di antara aku dan Marco.

“Kalau gitu, Ibu gabung di meja sini saja, ya? Tadi Ibu janjian dengan Bu Prita, pemilik restoran ini, tapi mendadak dia ada urusan pribadi. Padahal Ibu sudah terlanjur datang ke sini,” cerocos Ibu Baskoro. “Boleh, kan, Ibu gabung dengan kalian?”

“Sure! Tentu saja ... Silakan duduk, Bu.”

Kemudian dengan sangat gentleman Marco menarik sebuah bangku di antara aku dan dia, lalu mempersilakan Ibu Baskoro duduk di kursi tersebut.

“Ini, Ibu enggak ‘mengganggu’ kalian, kan?” Seperti ada penekanan pada kata ‘mengganggu’ itu.

Terus terang saja, sangat mengganggu. Um, kehadiran Ibu Baskoro sangat tidak tepat waktu. Kenapa harus di saat Marco pertama kalinya mengajak aku makan malam romantis seperti ini?

Marco berdeham, tapi aku yang menjawab, “Tidak, kok, Bu.”

Tak lupa sebuah senyuman manis kuberikan. Bukan hanya untuk menutupi kecanggungan, tapi juga untuk menyenangkan hati sendiri. Mau bagaimana lagi? Ibu Baskoro, toh, sudah duduk di sini.

Ibu Baskoro seperti hendak berkata-kata, namun bertepatan dengan itu, seorang pelayan mengantarkan makanan pesanan beliau yang entah kapan dipesannya.

Ibu Baskoro menyantap hidangan yang telah tersaji. Aku dan Marco pun melanjutkan kegiatan makan kami yang sempat terganggu oleh kehadiran beliau yang tiba-tiba tadi.

Suasana yang tadinya romantis berubah menjadi canggung. Walau suara penyanyi merdu dan alunan nada piano masih terdengar dari depan sana, tidak mengurangi kecanggungan yang aku rasakan karena keberadaan Ibu Baskoro.

Sesekali Marco dan nyonya besar Mills itu membahas masalah bisnis. Aku hanya menjadi pendengar saja. Aku belum sampai pada tahap di mana mereka berada, jadi aku merasa belum pantas untuk nimbrung dalam percakapan tersebut.

Aku hanya sesekali menimpali percakapan yang terdengar lucu dengan tertawa sopan, atau ketika Ibu Baskoro dengan berapi-api menceritakan lawan bisnis yang culas, aku hanya bisa mengeluarkan tanggapan ‘ya ampun’, seperti itu.

Beberapa saat berada dalam suasana canggung seperti ini membuat aku tiba-tiba ingin ke belakang.

“Pak, Bu, saya izin ke belakang dulu."

Dua orang yang sedang asik bercengkerama itu menoleh sekilas, lalu tersenyum, mempersilakan aku pergi.

Mungkin aku perlu menenangkan diri sejenak di dalam toilet.

••••••••••

(1) Pertunjukan musik secara langsung!

(2) Irisan daging domba.

1
ein
lanjut thorrrr
ein
ahh akhirnyaaa
ein
bolehlah mereka.. hrhe
ein
asikk juga bisa temenan sama mantan hehehhhhe
ein
ngak ada percikan lagi yaa
ein
frans kamu gimana..
ein
kebetulan bangett yaa..
ein
kenapa aku ikut deg degan saat aneta pilih pilih jas yg berwarna ya 😁😁😁
ein
wahhh.. akhirnya dapat yg cocok
ein
ahh
ein
mau thorrr.

love u
ein
terima kasih author sayang

selalu ku tunggu ceritamu
ein
ahhh so sweett...
melelehh hati abangg.
kamu thor sweet bangettt
ein
wow kerennn thor...
ein
melelehhhhh.. terharuuu akuu
ein
suka karyamu author sayang
selalu semangat yaa
ein
halo sayang.. terharu akuu
ein
duhh penasaran saat duet nnt gimana
ein
wowww kerenn saxophone...
pasti jadi romantis duet kalian.. 😍😍
ein
frans pilih mana.. hsyoo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!