Pernikahan yang tak pernah kuharapkan tapi harus kulakukan sebagai bentuk baktiku pada kedua orang tua ku.
Aku tak pernah berfikir akan menikah di depan jenazah.
Di masjid itu jenazah mami terbujur diselimuti kain dan siap diberangkatkan setelah sebelumnya di mandikan, di kafani dan disolati.
Di depan jenazah mami, abah Fani dan Pak Basofi duduk bersila saling berhadapan dan siap melaksanakan ijab qobul.
"Sah...."
Air mataku jatuh lagi, resmi sudah aku menjadi seorang istri dari Basofi sudirman. Pria yang dijodohkan denganku yang juga merupakan atasanku.
-******-----****-***---***
Cerita ini sebagiannya adalah cerita nyata yang terjadi di keluarga jauh ku dan khusus untuk pembaca yang sudah menikah saja ya!
So... kalau yang ada yang terdampar dan sampai membaca tulisan ini aku ucapkan banyak terimakasih semoga ada yang bisa dipetik dan di ambil pelajarannya. Kalau ada yang mau like apalagi komen makasih banget.....
Thx all
😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon en green, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
solat jenazah
pov Bas
Setelah Aya kubaringkan di atas tempat tidurnya aku memandangi wajahnya. Meski matanya terpejam kelihatan sekali jika itu masih bengkak. Aku semakin merasa bersalah apalagi sekarang dia bahkan tak sadarkan diri. Kenapa kemarin aku tak bisa menahan diri sehingga membuatnya bersedih dan sekarang kepulangan papi pasti menambah kepedihan dalam hatinya.
"Ko... kamu ke depan saja sebagai wakil keluarga". Mama yang sedang menuntun calon mertua ku memberi perintah padaku.
"Jeng Sora ke depan saja biar Fiah sama saya," kata mama dan mami Sora hanya menganggukkan kepalanya.
"Ikuti semua prosesinya ya ko!" kata mama lagi.
Aku pun menganggukkan kepala dengan terpaksa. Bukannya apa-apa aku sangat takut dengan orang yang meninggal. Aku takut mereka mengikutiku dan mengajakku ke alam baka.
Aku belum siap. Dosaku masih amat sangat banyak sampai-sampai malaikat saja tak akan mampu untuk menghitungnya. Aku juga masih rajin berbuat maksiat. Belum ada niatan untuk bertaubat. Nantilah jika sudah agak tua, janjiku pada diriku sendiri.
Aku menuntun mami Sora ke depan, ke ruang tamu yang sempit. Jenazah papi sudah terbaring di situ dengan ditutupi kain jarik.
Aku mencoba menetralisir kegugupanku agar rasa takutku enyah dari hatiku.
" Ko tolong mandikan papi ya ko...!", kata mami Sora memelas sambil mengusap air matanya.
Gleg
Ohhh ya Tuhan.... bagaimana aku harus memandikan jenazah papi padahal kaki dan tangan ku kini gemetaran sekali.
"Nak Basofi mau ikut memandikan?", Abah Fani tiba-tiba sudah berada di ruang tamu kecil itu dan menanyaiku.
Anehnya aku menganggukkan kepala tanpa sadar seolah terhipnotis dengan kharisma abah Fani.
Di dalam tempat yang di setting untuk memandikan jenazah aku dan dua orang lainnya sudah siap , duduk di dipan yang ditutupi kelambu-kelambu hijau seperti biasanya. Di dalam situ juga ada tong-tong besar yang penuh dengan air. Juga ada keran panjang yang bisa mengalirkan air dengan mudah.
Sumpah rasanya tubuhku tak bisa digerakkan sama sekali. Berkali-kali aku menelan ludahku sendiri untuk mencoba menenangkan hati dan perasaan ini.
Jujur Ini pertama kalinya aku mengikuti prosesi orang yang meninggal hingga sampai sedetail ini.
Biasanya saat ada kerabat atau relasi yang meninggal dunia aku hanya perlu hadir beberapa menit saja untuk menemui keluarga dan menyampaikan bela sungkawa pada keluarga yang sedang berduka kemudian segera pamit undur diri dengan alasan banyak pekerjaan, harus meeting ini dan itu.
Abah Fani datang dan menepuk pundakku, "Tenang saja!". Dan itu membuat rasa takutku hilang seketika.
Jenazah papi ditaruh di pangkuan kami bertiga. Aku menahannya dengan kedua tanganku mencontoh dua orang lainnya yang memangku jenazah papi. Sepertinya mereka adalah ustadz-ustadz di pondok karena abah Fani memanggil mereka ustadz.
Aku yang memangku kepalanya papi bisa melihat dengan jelas wajah damainya. Wajahnya seperti orang yang sedang tersenyum. Dan entah karena apa aku sudah tidak terlalu takut lagi.
Justru aku membayangkan diriku jika suatu saat akan meninggal. Bagaimana wajahku nanti, seperti orang yang bahagia ataukah seperti orang yang tengah berduka.
Abah Fani mulai membaca niat untuk memandikan jenazah papi kemudian mulai mengguyurkan air pada bagian kepala. Membersihkan kuku-kuku jenazah dengan sarung tangan dari karet sampai bersih. Mengguyur setiap lubang yang ada pada tubuh manusia. Lubang hidung, telinga, mulut, dubur dan semuanya diguyur dengan air dan dibasuh dengan lembut.
Jenazah kemudian di posisikan hampir menyerupai duduk dan lambungnya di tekan agar semua kotoran keluar, itu yang bisa aku simpulkan karena setelah itu ada kotoran yang keluar dari lubang dubur jenazah papi. Aku memalingkan muka karena merasa mual.
Setelah semua sudah dibersihkan kemudian jenazah di siram dengan air sabun. Dibilas sampai bersih kemudian di basuh seperti orang wudhu.
Apa berharap nanti aku pas meninggal perutku sudah bersih nggak ada kotoran yang keluar. Ingin rasanya saat kembali pada Nya aku dalam keadaan yang terbaik dan mendapatkan pengampunan dari Nya.
Sesudah selesai di mandikan ada orang yang mendapat bagian membawa kain bersih untuk menutupi tubuh jenazah dan kemudian dibawa ke rumah duka.
Pakaianku sudah basah kuyup dan rasanya kakiku kesemutan, sakit sekali saat digerakkan.
"Nak Basofi kenapa?", Abah Fani yang melihatku tak segera beranjak dari dudukku merasa heran.
"Kaki saya kesemutan bah... Abah, bisa minta tolong sama seseorang buat manggilin Mikail? Itu.... asisten saya...".
"Oh... ya sebentar....", jawab abah kemudian segera keluar.
Ketika Mikail datang aku segera meminta nya untuk mengambil bajuku yang biasanya ada di bagasi mobil. Ku minta dia untuk membawanya lewat belakang rumah Aya.
Aku meminta Mikail untuk berada di depan pintu kamar mandi Aya saat aku mandi dan bersih-bersih. Kamar mandinya hanya ada satu di rumah ini. Terletak di dekat dapur yang ukurannya sangat kecil dan mini.
Aku menggosokkan sabun ke tubuh ku berkali-kali. Maklum di kamar mandi ini tak ada sabun cair apalagi aroma terapi seperti di rumahku. Setelah selesai mandi dan memastikan tidak ada bau orang mati yang tertinggal di tubuhku, aku pun keluar dan kaget mendapati Mikail ada di depan pintu.
"Kau membuatku kaget Mek", kataku dengan ketus.
Bukannya marah dia malah menertawakan ku.
"Kau takut ya bos...", seringainya.
" Kau kira aku anak kecil?", balasku tak ingin ketahuan jika memang itu yang kurasakan.
Mikail menutup mulutnya agar tak tertawa karena kami berdua masih di rumah duka. Kalau di kantor mungkin kami akan berdebat hebat seperti biasanya.
Saat aku ke ruang tamu, jenazah papi ternyata sudah selesai dikafani. Aku tak berani melihatnya. Aku takut orang yang sudah meninggal akan mengikuti dan mengajakku ke alam baka. Aku tidak mau mati sekarang dan disiksa oleh malaikat di kuburan.
Aku ingin sudah bertaubat saat meninggal nanti.
Tolong Wahai Tuhan semesta alam...
Abah Fani masuk ke ruang tamu sambil berjalan menggunakan kedua lututnya. Beliau mendekati mami Sora dan berbicara dengan sopan sekali.
"Bu Soraya... Kalau jenazahnya pak Basuki di solati di masjid saja bagaimana?", tanya abah Fani.
"Bagaimana ko?", mami malah bertanya kepadaku dan itu membuatku jadi bingung. Kalau saja urusan perusahaan aku tidak akan berpikir lama setelah menimbang perkara dan akibatnya aku bisa langsung mengambil keputusan.
Yang ditanyakan mami ini sepertinya masalah sederhana tapi justru membuatku bingung harus bagaimana menjawabnya.
"Kita ikut abah saja ya mi?", Ragu-ragu aku menjawabnya.
Mami Sora mengangguk dan berkata," iya silahkan bah, kami ikut saja...". Wanita yang seumuran mamaku itu mencoba tegar meski air matanya terus berjatuhan.
Sekali lagi aku terpaksa ikut mengangkat jenazah papi meski aku takut sekali. Sumpah aku takut sekali meski semasa hidup beliau sangat baik terhadapku tapi jika sudah mati begini aku takut arwahnya akan mengikuti aku kemana saja.
Sesampainya di masjid aku melihat papaku baru sampai dan wajahnya basah seperti baru saja selesai mengambil air wudhu. Aku hanya melihatnya dan tak berniat untuk bertegur sapa.
Beberapa saat kemudian orang-orang yang hendak mensolatkan jenazah papi bersiap-siap untuk mengambil air wudhu. Sedangkan aku? Aku harus duduk terlebih dahulu karena tangan dan kakiku gemeteran. Bodohnya aku... kenapa tadi saat mandi tidak mengambil wudhu sekalian.
"Kenapa nak?". Aku menoleh dan ternyata abah Fani yang baru saja menepuk pundakku. Seketika aku seperti punya kekuatan lagi sehingga aku bisa berdiri lagi.
"Tidak apa-apa bah".
Abah Fani tersenyum kemudian berkata,"Ayo kita solatkan pak Basuki!". Beliau berjalan menuju toilet dan aku tanpa sadar mengikutinya. Seperti ada magnet yang menarikku untuk memperhatikan gerak-gerik nya.
Di tempat wudhu pria mataku tak bisa lepas dari sosok abah Fani. Aku melihat bagaimana beliau menarik kopyah hitamnya ke belakang lalu mulai berwudhu. Sempurna sekali di mataku.
Aku mengikuti gerakannya dengan terbata-bata.
aku jg gak ngerti,kadang aku nemu novel yg ngelike sampai ribuan eh setelah ku baca biasa saja dan kadang halunya kebangetan.
Tp ada novel bagus,penulisannya bagus,tp terlalu realistis malah àpembacanya sepi.
hidup di dunia nyata itu berat makanya kita menghalu.
mungkin dlm dunia real kita2 ini
pemeran utama wanita mengaku salah, menyesal, sujud minta maaf, dan berjuang dapat kesempatan
kesalahan sofiyah dia pada basofi udah sangat banyak
* dia memandang hina basofi tapi diri sendiri lebih hina (munafik)
* udah punya calon suami tapi berhubungan dengan pria lain, bahkan jalan dan sampi pergi ke hotel
* tidak jujur dia wanita bekas
* merasa paling baik tapi dirinya juga penzina
* berkali dia menyakiti basofi dan buat basofi menjatuhkan air mata
tapi tidak adalah kata maaf dan perjuangan dari sofiyah
ini yang susah dari novel karya wanita mereka akan mengentengkan semua kesalahan pemeran utama wanita da akan menganggap serius kesalahan pemeran utama pria