COVER FROM PINTEREST
Max Winston menikahi Elena Gilbert bukan semata-mata untuk mempertahankan mansion tua nan mewah milik keluarga Gilbert. Tanpa Elena ketahui, Max telah jatuh cinta padanya sejak lama dan terus memperhatikannya selama 7 tahun. Mansion tua keluarga Gilbert memang salah satu alasan, tapi alasan terbesarnya hanya Max yang mengetahuinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzieraHill, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[28] Pagi Menyenangkan
ELENA POV
Cahaya matahari malu-malu masuk ke dalam ruangan. Di balik tirai dan kaca besar ruangan ini ada aku juga Max yang tak menyangka akhirnya bisa menghabiskan malam pertama bersama sebagai pasangan yang semakin lengkap.
Aku pun membalikkan tubuhku perlahan. Menyentuh wajah Max yang dia cukur habis bagian kumis dan janggutnya. Aku tahu dia selalu menjaga penampilannya dan tak pernah absen untuk selalu bersih meski itu hanya kumis. Padahal aku ingin sekali melihat Max memiliki kumis. Mungkinkah dia lebih tampan dan manis?
“Hmmm!” gumam Max ketika dia merasa terganggu dengan sentuhanku.
Aku pun refleks menarik tanganku dan pura-pura kembali memejamkan mataku. Entah apa yang aku lakukan, tapi perasaanku seperti salah tingkah karena sangat malu jika Max tahu aku sedang menikmati wajahnya yang tertidur. Tentu ini pertama kalinya karena Max yang selalu bangun pagi dan mengganggu tidurku.
“El, kau sudah bangun?” suaranya, tapi aku tetap tenang memejamkan mata hingga aku dengar kekehan dari bibirnya.
“Ah aku bermimpi kau menyentuh wajahku,” katanya dan kini aku merasakan dia bergerak.
Max menyentuh rambutku, menyingkirkannya karena sepertinya menutupi sebagian wajahku. Lalu aku rasakan sentuhannya di pipiku dengan lembut dan perlahan turun ke bibirku.
“Aku senang sekali pagi ini karenamu. Aku seperti mimpi, tapi aku yakin ini nyata. Aku sudah mendapatkanmu seutuhnya,” katanya berbicara padaku yang sedang tidur.
Lalu aku rasakan kecupan Max di pipiku. Dia mendekat ke arahku dan menarik tubuhku ke pelukannya. Berkali-kali dia mengecupi bibirku hingga aku tidak tahan ingin tertawa. Sepertinya pak tua ini sungguh tidak tahu diri! Sudah diberi hati malah minta jantung. Dia malah ambil kesempatan di dalam kesempitan. Menciumku seenaknya saat aku tertidur, tapi aku suka. Aku selalu suka sikap manis Max.
“Ahh sekarang aku akan menghubungi Martin. Aku hampir berbuat jahat padamu, Sugar. Sekarang aku justru ingin melihatmu segera hamil. Apakah anak kita akan cantik dan tampan seperti orang tuanya?” katanya cukup membuatku tidak mengerti kenapa harus menghubungi Martin, tapi aku sangat senang mendengarnya.
Pasalnya, tidak ada lagi kontrak perjanjian di mana aku harus memberikan seorang anak padanya. Bukankah kami akan hidup bahagia? Max mencintaiku sejak lama dan aku mulai jatuh cinta padanya. Jatuh cinta pada semua yang ada pada dirinya. Kini aku bisa bermanja padanya dan tidak perlu lagi merasa khawatir tentang apa yang ada di kepalaku selama ini karena aku sudah menemukan jawabannya.
“Mmm Max!" Aku pun pura-pura bangun dari tidurku, tapi tidak menyangka Max sudah turun dari ranjang tanpa menggunakan celananya.
“Max!! Tutup!” teriakku seraya menutup mataku.
Max pun terpingkal, tertawa puas dengan ekspresiku. Lalu dia cepat menggunakan boksernya dan kembali naik ke atas ranjang dengan posisi telungkup.
“Pagi yang panas bukan?” tanya Max membuatku memukul tubuhnya.
“Kau mau kemana?” tanyaku.
“Mandi dan kembali bekerja.”
“Kenapa kau kerja terus!” kataku mencemberutkan bibirku.
“Lalu? Kau mau aku melakukan apa?”
“Kau bilang kita akan pacaran. Kapan kita akan pergi berkencan?" tanyaku dan Max mulai terdiam lalu mengangguk. Menggaruk dagunya yang tidak gatal.
“Baiklah, besok sekalian kita syuting bagaimana? Aku akan katakan pada David kalau kita akan nonton ke mall.”
Aku langsung bangun dari baringanku seraya memegangi selimut di dadaku. “Aku mau!” kataku nampak seperti anak kecil.
Max pun mengacak rambutku dan tersenyum cerah. Lalu pria itu bangun dari ranjang dan mengangkat tubuhku setelah memutarinya. Tubuhku yang dibalut selimut pun cukup membuatnya kewalahan saat mengangkatku dan aku kebingungan karena tidak tahu apa yang sedang dia lakukan.
“Max! Apa yang kau lakukan?!”
“Mandi bersama, Sugar! Ritual pagi yang menyenangkan!”
“Ihhh enggak mau! Aku mau berendam! Aku mau sendiri!” kataku berusaha berontak dan Max menurunkanku perlahan di kamar mandi.
Dia terlihat kecewa, tapi akhirnya memperbolehkanku mandi sendiri. “Baiklah, tapi lain kali kau tidak akan lolos!”
Aku pun menjulurkan lidahku dan mendorongnya keluar. “Sudah sana! Nanti setelah mandi aku akan meminta Bi Tina mengganti sprei. Sepertinya ada…”
“Biar aku saja yang memintanya, kau selesaikan urusanmu, oke!” katanya dan aku mengangguk seraya menutup pintu kamar mandi.
Betapa senangnya hari ini. Aku sungguh tidak bisa menjelaskannya karena memang benar-benar menyenangkan. Terima kasih Tuhan sudah memberikan suami yang mencintaiku.
***
Aku memulai kegiatanku dengan merajut sweater karena bulan ini masuk musim dingin dan salju sudah mulai turun tadi pagi.
“Sugar, ayo cepat makan, aku harus segera berangkat kerja,” suara Max di ambang pintu dengan dasi yang bertengger di lehernya, sementara dirinya sendiri sibuk dengan lengan kemeja yang belum terkancing.
Aku pun bangun dari dudukku dan menghampirinya seraya memakaikan dasinya dengan rapi. Pertama kalinya setelah kami menikah bisa melewati pagi bersama karena biasanya jika tidak Max yang bangun duluan, maka aku akan pergi lebih dulu untuk ikut ke sekolah Ryan. Tidak ada sarapan pagi bersama atau Max memaksa aku melakukannya dengan malas-malasan tanpa mandi pagi.
“Apa yang sedang kau lakukan? Tina bilang selama aku pergi, kau sibuk dengan sweater itu,” ucap Max lalu kami berjalan menuju meja besar di dalam ruangan tidur kami di mana semua makanan sudah terhidang.
“Oh itu, aku sedang merajut sweater,” kataku mengurunkan niat bergabung dengan Max lalu mengambil sweater berwarna merah dengan paduan biru tua di lengannya. “Hanya kegiatan rutin saat menyambut musim dingin. Biasanya aku memberikannya pada orang yang spesial.”
“Orang spesial?” tanya Max mengernyitkan alisnya seraya mengolesi roti bakar dengan milky oyster butter kesukaannya.
Lalu aku mengangguk dan membawa sweaterku untuk dia lihat. Max pun mengangkatnya sebatas pandangannya lalu kembali memberikannya padaku. “Kali ini siapa?” tanya Max tapi dengan tatapan matanya, aku bisa melihat bahwa dia berharap itu adalah dia.
Aku hanya bisa terkekeh melihat tatapan matanya lalu menaruh sweater yang sudah hampir sempurna itu di bangku sebelahku.
“Kalau kau mau itu bisa untukmu, Max,” kataku, tapi Max mencemberutkan bibirnya.
“Kenapa kau mengatakannya seperti itu? Seolah-olah memang itu permintaanku bukan keinginanmu ingin memberikannya padaku,” ucap Max seperti anak kecil, tidak ingat berapa usianya sekarang dan merajuk di depanku.
“Baiklah, itu memang untukmu. Aku hanya bercanda,” kataku dan Max tersenyum lebar. Dia mengacak ujung kepalaku lalu mengelus pipiku pelan.
“Cepat habiskan sarapanmu. Apa kau tidak mau ikut denganku ke kantor?”
Mendengar itu aku menggelengkan kepalaku. “Tidak bisa, Max. Aku masih sedikit tidak bisa bergerak,” kataku dengan menggigit bibirku sendiri, cukup malu mengatakannya.
Max pun menghentikan kunyahannya dan terlihat menghela napasnya. “Sepertinya aku benar-benar melukaimu. Apa kita perlu periksa?” tanyanya terlalu berlebihan.
Nyatanya ini memang yang wanita rasakan ketika melakukannya pertama kali. Jadi aku rasa ini wajar saja. Aku pun menggelengkan kepalaku dan sibuk mengoleskan steak milikku dengan garlic butter. Aku memotongnya perlahan dengan pisau lalu menyantapnya dengan tenang, tapi aku lihat Max terus memperhatikanku, tidak meneruskan santapannya.
“Max, aku baik-baik saja,” kataku seraya mengembangkan senyumku padanya; meyakinkan Max bahwa ini bukan hal yang perlu dia khawatirkan.
“El, kau tahu aku sangat khawatir padamu.”
“Iya aku tahu, tapi itu sangat berlebihan. Apa kata dokter setelah memeriksanya? Memang kau ingin mendengar apa dari dokter? Mendengar bahwa aku tidak perawan lagi karenamu?” tanyaku dengan tawaku dan Max pun ikut tertawa.
“Ya Tuhan, itu memalukan!" kekehnya lalu menggigit habis roti yang dia pegang.
“Itu kau tahu!”
”Baiklah, kalau ada sesuatu jangan lupa hubungi aku secepatnya, mengerti?” ucap Max dengan mulut penuh makanan,.
Aku mengangguk pelan. Dia suami yang sangat peduli bahkan dalam hal terkecil dan seremeh apapun. Dengan menatap matanya saat ini aku tahu bahwa dia memang sangat mengkhawatirkanku.