WARNING...!! SIAPKAN KOMENTAR TERPEDAS KALIAN YA😁
Novel ini di angkat dari kisah nyata mungkin pada awalnya si pihak perempuan bisa di bilang bodoh, kalau penasaran yuk lanjut baca kalau gak skip aja ya😁
"Tidak, bukan aku yang memulai. Kau yang lebih dulu mengkhianati ku. Lalu kenapa sekarang kau merasa paling tersakiti?" Winda menatap wajah suaminya dengan sesak di dadanya.
"Maafkan aku, aku khilaf. Tapi, kenapa kau malah berselingkuh dari ku?"
Lelaki yang tidak memiliki perasaan ini dengan entengnya melontarkan pertanyaan yang membuat Winda tertawa geli.
Bukan kesalahan Winda berselingkuh, sejak mereka menjalin hubungan di saat kuliah, Tama lah yang sudah mengkhianatinya terlebih dahulu.
Memaafkan berulang kali, begitu seterusnya hingga mereka menikah. Hati Winda benar-benar patah, wanita ini membalas pengkhianat suaminya. Mempertahankan rumah tangga demi nama baik masing-masing dari keluarga mereka. Linda dan Tama, hidup dalam kemunafikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Dua minggu berlalu sejak kejadian Tama masuk rumah sakit. Tidak ada yang berubah dari rumah tangga mereka berdua, semuanya masih berjalan sama seperti biasa bahkan Winda semakin menggila.
Beberapa hari tidak pulang membuat Tama penasaran kemana perginya Winda. Saat ini Winda sedang pergi untuk mengantar kedua anaknya ke rumah sang mamah.
Entah kenapa kali ini Winda tidak membawa ponselnya, mungkin saja ia lupa. Tama yang penasaran langsung membuka ponselnya Winda, untung saja tidak di kunci.
Hal pertama yang di lakukan Tama adalah melihat nama-nama kontak di ponsel istrinya. Banyak sekali nomor pria lain, hati Tama mulai panas.
Setelah itu Tama membuka salah satu aplikasi chat, sungguh di luar dugaan jika Winda banyak sekali berhubungan dengan pria di luar sana. Panggilan mesra, pesan mesra membuat tangan Tama bergetar panas setiap kali membuka chat pribadi istrinya dengan beberapa pria.
Galeri, Tama tidak melupakannya. Pria tersebut langsung membuka tempat penyimpanan foto dan video di ponsel Winda.
Sungguh mengejutkan, Tama syok, cemburu, hatinya sakit terasa sesak saat melihat foto Winda dengan beberapa orang pria saling berpeluk mesra dan tidur bersama.
Ada yang lebih parah hingga membuat darah Tama mendidih. Tama menemukan satu rekaman saat istrinya sedang melakukan hubungan suami istri dengan seorang pria yang jauh lebih tua dari Winda. Yang membuat Tama sakit, ia kenal dengan pria tersebut.
"Winda,...!" lirih Tama, "sekejam ini kah kau membalas perbuatan ku?"
Ingin sekali Tama membanting ponsel Winda, tapi urung di lakukan saat mendengar suara mobil istrinya yang sudah terparkir di depan rumah.
"Jelaskan pada ku, sudah berapa kali kau tidur dengan pria lain di belakang ku hah?"
Mata Tama memerah, pria ini terbakar emosi.
"Sebanyak yang aku mau!" jawab Winda dengan santainya.
"Winda,...!" sentak Tama dengan suara beratnya, "pantas saja jika selama ini kau selalu menolak jika aku sentuh. Kau sangat menjijikan Winda...!"
Bukannya merasa bersalah Winda malah tertawa. Entah apa yang ada dalam pikiran wanita ini sekarang.
"Kenapa menyalahkan ku?" tanya Winda, "bukankah kau yang mengajari ku terlebih dahulu?"
Jleb,....
Tama terdiam sejenak, lelaki ini masih ingat betul jika dulu Winda suka memergokinya tidur dengan perempuan lain.
"Tapi itu dulu, sekarang kau istri ku. Bisa-bisanya kau berhubungan suami istri dengan laki-laki lain."
"Baik dulu atau pun sekarang itu sama saja. Rasa ku untuk mu telah mati, kau saja yang tidak mau menceraikan aku. Jadi, jangan salahkan aku jika aku berubah menjadi seperti ini."
Winda mengambil ponsel miliknya yang masih berada di tangan Tama kemudian pergi begitu saja tanpa pamit.
Tama berusaha mengejar Winda, menahan agar sang istri tidak pergi lagi tapi apa lah daya, Winda keras kepala dan hanya ingin menang sendiri.
Tama hanya bisa duduk lemas mengacak rambutnya frustasi. Tanpa terasa air matanya jatuh membasahi pipi.
"Mungkin ini karma untuk ku!" ucap Tama sesegukan.
Masih terbayang jelas di kepalanya saat melihat rekaman Winda yang dengan mesranya berhubungan badan dengan pria lain.
Dari sini Tama dapat merasakan apa yang di rasakan Winda dulu saat beberapa kali Winda melihat rekaman videonya sedang tidur dengan perempuan lain.
Tama menghapus air matanya, bergegas pergi menemui pria yang sudah berani tidur dengan Winda.
Om Anton, siapa lagi kalau bukan om Anton yang di temui Tama. Pria paruh baya bergelar duda kaya duduk santai dengan gaya angkuh mengangkat salah satu kakinya ini hanya tersenyum lebar menyambut kedatangan Tama.
Anton sudah bisa menebak tujuan Tama datang ke rumah mewahnya ini.
"Jauhi istri ku om," pinta Tama.
"Kau meminta atau ini sebuah perintah?" om Anton malah bertanya.
"Om tahu kalau Winda istri ku tapi kenapa om malah tega tidur dengan istri ku hah?"
"Kenapa kau bertanya hal seperti itu pada ku? kenapa kau tidak bertanya pada dirimu sendiri?"
"Jauhi istri ku om...!" sentak Tama emosi.
"Istri mu sendiri yang nyaman dengan aku. Kenapa kau malah protes?"
"Winda istri ku om, dan om Anton adalah teman baik papah ku. Kenapa om tega berbuat seperti ini?"
"Dulu kau terkenal suka selingkuh bahkan gonta ganti tidur dengan banyak perempuan. Lalu, apa salahnya jika Winda ingin merasakan hal yang sama seperti mu?",
Sejenak Tama terdiam, kesalahan di masa lalu kembali membayangi Tama.
"Jika kau ingin membongkar perselingkuhan aku dan istri mu, tidak masalah bagi ku. Ingat Tama, papah mu memiliki jumlah hutang yang sangat besar pada ku. Kau tahu sendiri jika bisnis papah mu akhir-akhir ini menurun," tutur om Anton seolah perkataan tersebut sebuah ancaman bagi Tama.
"Tapi bukan seperti ini juga caranya om, Winda istri ku dan kami sudah punya anak!"
Om Anton malah tertawa, bagi dirinya yang seorang duda sudah biasa tidur dengan banyak wanita.
"Silahkan keluar dari rumah ku!" usir om Anton, "kau beritahu saja papah mu jika aku adalah selingkuhan istri mu!" tentangnya.
Ingin sekali Tama menghajar lelaki paruh baya ini, tentu saja hatinya sakit saat mengetahui Winda sudah berani tidur dengan lelaki lain di luar sana.
Tama sudah tidak tahu lagi ingin mengadu pada siapa, pada mamahnya tidak mungkin karena sudah pasti akan memperkeruh suasana.
Dengan tekad bulat Tama pergi ke rumah mertuanya, meminta pada Weni untuk menasehati Winda. Tama tidak memberitahu masalah Winda yang sudah selingkuh dengan om Anton bahkan sampai ada rekaman video mereka yang sedang berhubungan suami istri.
"Itu salah mu sendiri Tama," ucap Weni, "Winda menjadi seperti ini semua itu karena ulah mu. Wajar saja jika dia mencari kebahagiaan di luar sana."
Weni tidak mau kalah, jika Diana bisa membela kesalahan maupun kebenaran dari anaknya, Weni juga bisa melakukan hal yang sama.
"Aku sudah berubah mah, tapi kenapa Winda malah memperlakukan ku seperti ini?" wajah Tama melas, tapi Weni sama sekali tidak merasa kasihan pada menantunya ini, sedangkan Anwar sudah tidak mau tahu lagi dengan urusan rumah tangga anaknya.
"Ku mohon mah, tolong nasehati Winda agar dia lebih peduli lagi pada diri ku terutama anak-anaknya."
"Untuk masalah anak, aku masih bisa mengurus mereka. Aku hanya ingin melihat anak ku bahagia di jalan dia. Terserah Winda mau melakukan apa!" ucap Weni dengan tegasnya. Sudah cukup melihat penderitaan anaknya, Weni akan selalu mendukung apa pun yang di lakukan Winda.
Tama pasrah, hatinya kalut kembali merasa bersalah. Kehidupan rumah tangganya semakin runyam, Winda sudah tidak bisa di kontrol lagi tapi Tama sendiri tidak bisa menceraikan Winda. Cinta menjadi alasan yang paling utama, di tambah lagi Tama tidak ingin melihat kedua anaknya tumbuh besar tanpa memiliki keluarga yang lengkap.
hajar terus win 🤣🤣🤣
niat hati baca novel untuk melepas penat , eh yang ada malah bertambah bahkan max level lagi