Hani di tekan oleh keluarganya untuk menikah sedangkan Hani telah jatuh cinta pada seorang pria. Tapi sayang pria itu telah beristri. Di tengah kegalauannya Hani bertemu teman lama Rere, dan dikenalkan pada abangya Rere. Abang nya Rere mengajak untuk ta' aruf. Hani dan keluarganya menerima ta'aruf itu. Tanpa mengetahui ada udang di balik batu. Mereka sampai ke tahap pernikahan.
Setelah menikah Hani menemui banyak rahasia dan misteri di keluarga suaminya. Ternyata mereka hanya memanfaatkan Hani untuk mendapatkan harta. Suami Hani juga sudah memiliki kekasih.
Mereka bahkan ingin mencelakai Hani dan keluarganya. Hani tidak tinggal diam. Ia bukan wanita lemah. Ia akan membalas setiap sakit yang mereka berikan.
Hani akan membalikkan keadaan lihat saja siapa yang akan menjadi pemenangnya. Who's the last standing ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EuRo40, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.29. Pertarungan
Happy reading
Saat ini Fatih sedang berada di ruang kerjanya. Saat ia pulang ternyata Hani tidak ada di rumah.
Fatih duduk bersandar di kursi kerjanya, satu tangannya bertumpu pada lengan kursi dan menopang dagu. Satu tangannya memainkan pena.
Dia sedang berpikir tentang semua yang terjadi. Tentang Rere yang dinyatakan gila. Tentang Retno yang sekarang entah berada di mana. Tentang Dirga yang dan Dewa yang menghilang. Terakhir yang paling membuatnya berpikir keras tentang Hani.
Hani adalah wanita yang cukup sulit di taklukan. Tidak seperti wanita lain yang mudah tunduk padanya.
Tapi bagaimanapun dia harus bisa menaklukan Hani. Jika tidak bisa memakai cara halus, maka terpaksa ia memakai cara yang ekstrem.
" Hani, apapun yang sudah menjadi milikku. Tidak akan mudah aku lepaskan termasuk kamu. Bila perlu aku akan menyiksamu sampai kau tunduk padaku ! Selama ini aku terlalu lembut padamu." Gumam Fatih.
Ia melihat Jam yang menghiasi dinding ruang kerjanya. sudah pukul 12. 40. Tapi Hani belum pulang, ke mana dia ?
***
Sementara di tempat lain, di dalam sebuah restoran yang terletak di pinggir jalan, orang yang ditunggu Fatih sedang makan bersama seorang wanita cantik yang tidak lain adalah pengacaranya.
Mereka membicarakan gugatan yang merela layangkan seminggu yang lalu. Kemungkinan beberapa hari lagi Fatih akan menerima surat panggilan dari pengadilan agama.
Mereka berbicara mengenai beberapa hal.
Setelah selesai berdiskusi. Hani akhirnya pulang pada pukul 13.30.
Ia sampai di rumah pukul 14.00.
Betapa terkejutnya Hani, begitu masuk ke dalam kamarnya seseorang langsung mencekiknya dan mendorongnya hingga punggungnya menabrak dinding kamar.
" Fatih. Apa yang kau lakukan ! Lepas..lepaskan aku !" Hani berontak dan berusaha melepaskan cengkeraman tangan Fatih yang mencekik lehernya.
" Kau !.. Rupanya sudah berani padaku. Aku terlalu baik padamu jadi sekarang kau lupa diri. Aku suamimu dan kau harus tunduk padaku !" Fatih mengatakan nya dengan penuh emosi tapi dia tidak berteriak, urat-urat lehernya keluar.
" Kau pikir dengan menggugat cerai padaku kau bisa bebas. Jangan mimpi Hani ! Kau tidak akan pernah bisa lepas dariku. Kecuali kau mati ! Atau.. aku yang mati. Hanya kematian yang bisa memisahkan kita !" Ucapnya dan mencekik Hani lebih kencang lagi. Ia akan membuat Hani takut padanya.
Bugh...krek...Aww...
Kini keadaan berbalik Hani yang berada di belakang Fatih dan tangan Fatih berada di belakang punggungnya dipelintir oleh Hani. Kepalanya ditekan oleh satu tangan Hani.
Tadi saat Fatih sibuk bicara ia memasang kuda-kuda dan menendang rudal Fatih. Lalu ia mematahkan jari tangan Fatih yang mencekiknya dan memelintir tangannya ke belakang. Kini Fatih tersudut menghadap tembok dengan kepala yang ditekan Hani.
" Haha..kau pikir aku wanita lemah. Kau salah target suamiku sayang. Jika memang hanya kematian yang bisa memisahkan kita. Dengan senang hati aku akan membunuhmu. Tapi sayang aku tidak ingin mengotori tanganku dengan dosa. Jadi biarlah Allah yang akan mengabulkan do'amu."
" AAAAA " Hani memelintir tangan Fatih untuk terakhir kali dan pergi dari kamar meninggalkan Fatih.
" Kurang ajar, wanita si alan. Lain kali aku tidak boleh lengah seperti tadi. Jangan lagi ada rasa kasihan. Oke mulai sekarang kita perang. Siapa yang akan mati lebih dulu. " Gumam Fatih. Ia memijit pundaknya yang terasa nyeri.
Fatih pergi dari kamarnya ia akan ke dokter karena jarinya sepertinya patah.
" Fatih..apa yang terjadi nak? Tadi Mamah dengar ada yang teriak dari kamar kamu ."
" Iya Mah ... menantu Mamah sudah mulai melawan suaminya. Lihat dia membuat jariku patah. Hani juga ternyata menggugat cerai aku Mah !"
" Apa? Coba Mamah lihat tangan kamu !" Angelica memegang jari telunjuk Fatih.
" AAAA ... sakit Mah !"
" Maaf..maaf. Mamah cuma mau memastikan patah atau gak ? Ternyata benar patah. Ya udah ayo Mamah antar ke Dokter !"
Fatih dan Angelica pergi ke rumah sakit terdekat.
Sedangkan Hani sekarang berada di dapur membuat coklat hangat yang bisa membuatnya tenang.
" Wah gila, dia sudah berani berbuat kasar. Aku harus hati- hati. Mereka sudah mulai menunjukkan taringnya. " Batin Hani.
***
Fatih dan ibunya sudah berada dalam perjalanan pulang. Mereka sedang duduk di belakang. Sang supir mengemudi dengan kecepatan sedang.
" Rupanya Hani sudah berani melukai anak Mamah. Telunjuk kirimu sampai di gips." Fatih diam tidak menanggapi.
" Tenang saja Mamah yang akan balas perbuatannya. Mamah yakin Hani akan sangat merasakan sakit !" Angelica tersenyum miring.
Mereka melewati sebuah rumah dan mereka tidak menyadarinya, ketika mereka lewat Tuan Bima atau suami Angelica keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah yang mereka lewati.
" Halo sayang, kamu datang lama sekali ?"
" Maaf aku tadi ada rapat sebentar Retno ."
" Tidak apa-apa , aku mengerti. Sekarang kita makan yuk. Aku sudah masak makanan kesukaan kamu. "
" Aku sebenarnya sudah makan. Tapi baiklah aku tidak ingin mengecewakan kamu yang sudah masak. "
" Ah..baiknya tuanku ini. Ayo sayang. "
Retno menarik tangan Bima ke dapur dan mendudukkannya di kursi meja makan.
***
Fatih sudah sampai di rumah. Dia langsung ke kamar. Begitu membuka pintu. Ia melihat Hani yang sedang membereskan bajunya.
" Kamu sedang apa?" Tanya Fatih.
" Aku akan pindah ke kamar lain ." Ucap Hani.
" Tidak boleh kamu tetap di sini !"
" Dan bersama predator sepertimu. No way !!"
" Sudah ku bilang Hani aku tidak akan bersikap lembut lagi padamu." Setelah mengatakan itu Fatih menarik paksa ujung jilbab Hani, membuat Hani menunduk agar tidak menyakiti lehernya. Hingga jilbab itu terlepas. Hani mengangkat kepalanya dengan cepat membuat rambutnya terkibas.
" Kau benar-benar psikopat !"
" Ini belum ada apa-apanya Hani. Akan aku tunjukan seperti apa itu psikopat !"
Fatih membuka sabuk celananya. Ialu tersenyum congkak pada Hani.
Hani membalas senyum Fatih dengan bertepuk tangan.
" Wow Singa sudah menunjukkan taringnya. Oke.. kebetulan sudah beberapa minggu aku belum latihan."
Cetar .... Tak...tak...
Fatih mengarahkan pukulan sabuknya pada Hani. Dengan mudah Hani menghindar. Ia mengangkat tinggi-tinggi gamisnya dan mengikatnya dipinggang agar memudahkan pergerakannya.
Fatih terus berusaha menyerang dengan cepat. Hani terus menghindar dengan berputar atau menggeser badannya.
Prang.... gubrak...
Kadang sabuk itu menyabet Figura foto dan make up Hani. Hingga banyak barang-barang yang berserakan di lantai.
Sudah cukup pemanasannya menurut Hani. Ia lalu sengaja tidak menghindar saat Fatih menyabetkan sabuknya ke arah Hani. Justru Hani menangkap sabuk Fatih dengan tangannya dan melilitkan sabuk itu pada tangannya lalu menariknya dengan kencang dan cepat.
Fatih yang tidak menduga Hani akan melakukan itu tersungkur ke depan dengan kencang dan dalam posisi tiarap. Sabuk itu terlepas dari tangan Fatih, beralih pada Hani yang memegang sabuk Fatih. Hani lantas menyabetkan sabuknya ke punggung Fatih. 2 kali saja Hani rasa cukup untuk memberinya pelajaran. Bukan hanya fisiknya yang terluka tapi Hani yakin egonya pun terluka.
Hani melemparkan sabuk itu pada Fatih yang tiarap di lantai. Ia kemudian memakai jilbab instan dan merapikan penampilannya lalu pergi ke luar kamar.
...----------------...