NovelToon NovelToon
KAMPUNG HANTU

KAMPUNG HANTU

Status: tamat
Genre:Horor / Sudah Terbit / Eksplorasi-misteri dan gaib / Misteri / Tamat
Popularitas:7.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Junan

Juara Pertama "Lomba Menulis Novel Cerita Seram" yang diadakan oleh Noveltoon.

Mbah Arni dan suaminya bersahabat dengan seorang penari tradisional. Saat menginap di rumah Mbah Arni, penari itu tiba-tiba lenyap ditelan bumi.

Semenjak hilangnya penari itu, setiap malam Mbah Arni merasa ada yang berkelebatan di sekitar rumahnya. Terlebih, ketika suaminya sudah meninggal dan Mbah Arni tinggal sendirian, bayangan itu semakin intens mengganggu perempuan tua itu.

Apa yang terjadi dengan penari itu? Mengapa sahabat lain Mbah Arni yang bernama Lastri memilih mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri?

Mengapa Imran dan Parto takut dengan Mbah Arni?


SEASON KEDUA

Imran yang baru masuk SMP bertemu dengan seorang gadis misterius yang hanya ia temui di hari pertama ia bersekolah.

Ke mana perginya gadis itu?

Mengapa nama gadis itu sama dengan nama teman kedua orang tuanya yang tewas kecelakaan puluhan tahun yang lalu?

Apa yang dilakukan ayah Imran dan teman-temannya ketika SMP?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Junan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PART 30 AKHIR PETUALANGAN SANG BROMOCORAH

Agus digelandang ke kantor polisi, sedangkan ibuku dibawa ke rumah sakit untuk divisum. Kebetulan letak rumah sakit tidak begitu jauh dari kantor polisi, dari ruangan ibuku kelihatan bangunan Polsek tersebut. Setelah menjalani visum, ibuku masih menjalani masa rehabilitasi. Aku, Parto, Mbah Nur, dan Bapak secara bergantian menjaga ibu karena kami harus mondar-mandir antara rumah sakit dan kantor polisi. Polisi membutuhkan keterangan dari kami untuk ditulis di BAP. Selain meminta keterangan kami, polisi juga mewawancarai ibu di rumah sakit dan juga Agus sebagai tersangka utama kasus pembunuhan Mbah Lastri dan percobaan pembunuhan terhadap kami.

Waktu aku dan bapakku dimintai keterangan berbarengan dengan disidiknya Agus. Beberapa kali aku beradu tatap dengan Agus, aku lihat pelipis kirinya sudah diperban entah dimana dan oleh siapa aku tidak tahu. Kuamat-amati ternyata bentuk wajah Agus ini memang seram dari sananya, bagian di sekitar bola matanya terlihat agak menghitam seperti orang kecanduan narkoba. Sedangkan kedua pipinya terlihat kurus dibanding badannya yang gempal di usia yang sudah tua.

Ada pertanyaan yang mengganjal di pikiranku setiap beradu tatap dengannya. Pertanyaan itu terkait dengan ilmu klenik yang pernah ia gunakan untuk membangkitkan arwah Mbah Lastri. Aku tidak yakin dia sendiri yang menguasai ilmu itu, karena dari potongan sangarnya, sepertinya ia tidak punya bakat seperti itu. Aku curiga ada orang lain yang sudah membantunya, tapi siapakah orang itu?. Sebaliknya, dari sorot matanya entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang ingin dia sampaikan kepadaku, tapi aku tak berani bertanya padanya. Takut ia mencuri kesempatan untuk menyerangku. Sekali gampar, bisa-bisa aku pingsan atau gegar otak dibuatnya.

"Bagaimana keadaan Ibu?" tanya suster yang merawat ibuku

"Saya sudah jauh lebih enak, Sus. Apa saya sudah bisa pulang hari ini?" tanya ibuku.

"Maaf, Ibu. Ibu belum boleh pulang dulu. Kami masih terus memantau perkembangan fisik dan psikis Ibu. "

"Tapi, Sus. Aku loh sudah tidak apa-apa. Sejak awal-awal dirawat di sini, aku cuma pusing-pusing saja kok, tapi sekarang sudah sembuh pusingnya."

"Iya, Ibu. Kami mengupayakan yang terbaik untuk kesehatan Ibu. Kami khawatir ibu mengalami trauma psikis atau cedera akibat dehidrasi akut."

"Enggak, Sus. Mata saya normal tidak trauma dan saya tidak diikat menggunakan dasi." Jawab ibu berapi-api. Aku dan Parto tersenyum mendengar ucapan ibu.

"Maksud kami trauma bukan trakoma. Kalau trakoma itu infeksi pada mata, sedangkan trauma itu semacam masalah kejiwaan yang terjadi pada seseorang akibat mengalami peristiwa yang sangat tidak mengenakkan."

"Waduh, Suster menganggap saya gila berarti?" Ibu mulai marah

"Bukan, Bu. Masalah kejiwaan itu bukan berarti gila. Hobi merebut pasangan orang atau hobi mengutil barang juga bisa dikategorikan sebagai masalah kejiwaan." Tutur suster

"Sudahlah, Bu. Nurut saja sama suster. Nanti kalau nggak nurut Ibu bisa gila beneran, loh?" kata Bapak.

"Terus, kalau ibu gila. Bapak bisa kawin lagi gitu ya?" kata ibu geram

"Yaaaaaa, apa boleh buat."

"Dasar Bapak ini, kalau disuruh kawin lagi semangat sekali."

"Makanya Ibu nurut sama suster biar bapak nggak mikir untuk kawin lagi."

Suster tersenyum melihat gaya bercanda ibu dan bapakku. Giliran aku yang merasa malu sama suster itu karena keabsurdan orang tuaku.

"Iya dech, Sus. Saya mau nurut suster saja."

"Alhamdulillah." Jawab suster

"Oh ya, Sus. Masalah 'diikat pake dasi' tadi bagaimana?"

Aku dan bapak otomatis tepok jidat.

- - - - - - - - - -

Selama berada di rumah sakit, banyak tetangga datang menjenguk ibu. Mereka kadang datang bergerombol dan membawa berbagai aneka makanan. Saking banyaknya makanan, kami sampai memberikannya kepada suster dan keluarga pasien-pasien lain yang menunggui keluarga mereka yang sedang dirawat. Banyak yang salah sangka kepada ibuku, dikira 'Mak Nyai' alias istri pemilik pondok pesantren, karena begitu banyaknya orang yang datang menjenguk. Pernah suster mengusir secara halus pengunjung ibuku karena membuat kegaduhan, saat itu Bu Hendra, Bu Mila, Bu Hari, dan Bu Siska sedang bergosip di ruangan ibu sambil cekakakan mengganggu pasien yang lain.

Aku paling senang kalau yang berkunjung bapak-bapak. Karena mereka biasanya datang malam hari, setelah ditemani ngobrol biasanya mereka menyuruh kami untuk tiduran, giliran mereka yang menjaga ibuku. Mereka sengaja memberikan kesempatan kepada kami untuk beristirahat karena sudah lelah menjaga seharian. Mereka menjaga ibu sambil ngobrol, dari obrolan mereka aku mendengar bahwa pembangunan masjid di kampungku sudah dimulai. Aku senang sekali mendengarnya.

Pada suatu malam ketika menjaga ibu, kami dikejutkan dengan suara seperti ledakan dari arah kantor polisi. Mbah Nur sampai datang ke sana untuk mengecek tetapi Mbah Nur tidak menemukan apa-apa. Namun, Mbah Nur tetap merasa tidak enak dengan perasaannya.

"Perasaanku tidak enak, Im. Masak penghuni Polsek tidak ada yang mendengar suara ledakan itu?"

Esok paginya ada keributan di kantor polisi. Terdengar kabar Agus muntah darah dan akan segera dirawat di rumah sakit ini juga, tetapi masih menunggu izin dari Polres.

Sekitar jam 8-an, salah satu petugas Polsek datang ke ruangan ibuku.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

"Mohon maaf, Pak, Bu. Saya ingin menjemput putra jenengan karena tersangka Agus ingin menyampaikan sesuatu yang penting hanya kepada putra jenengan berdua."

"Apa?" Kami semua terkejut.

Aneh. Sesuatu apa yang ingin disampaikan Agus kepadaku? kenapa tidak ke bapak atau Mbah Nur? atau jangan-jangan ini terkait dengan kejanggalan yang ingin aku tanyakan kepada Agus waktu itu? entahlah. Bapak dan ibu mengijinkan polisi membawaku ke Polsek.

Sesampai di Polsek,

"Monggo ikut saya ke ruangan Agus!" kata Pak Prapto

"Aku ditemani ya, Pak. Soalnya aku takut berhadapan dengannya?" Aku berterus terang tentang ketakutanku.

"tenang, akan saya temani. Lagipula Agus kondisinya sedang lemas habis muntah darah. Barusan petugas dari Polres sudah datang mengecek, mungkin nanti agak siangan keluar keputusannya, Agus akan diopname di rumah sakit atau cukup rawat jalan di sini saja."

Mendengar Agus dalam kondisi lemah entah mengapa aku merasa sedikit tenang. Setidaknya tenaganya pasti tidak akan cukup kuat untuk menyerangku.

Beberapa detik kemudian, sampailah kami di ruang tahanan Agus. Agus sedang tidur mengkurep,

"Mbah Agus ... Mbah Agus ... " teriak Pak Prapto. Agus tidak bereaksi dengan teriakan Pak Prapto.

"Mbah Agus ... " Teriaknya sekali lagi, tetapi Agus tetap tidak bereaksi. Pak Prapto mengamati dari luar ruang tahanan.

"Sepertinya ada yang tidak beres ini. Briptu Sofyan! Briptu Andre!"

"Siap, Kapten."

"Coba cek kondisi Mbah Agus ke dalam!"

"Siap!"

Kedua polisi itupun masuk ke dalam dan memeriksa keadaan Agus.

"Lapor, Kapten, Mbah Agus sudah meninggal."

Kami berdua terkejut mendengar laporan kedua polisi itu. Pak Prapto sampai melompat ke dalam ruang tahanan Agus. Ia memeriksa nadi Agus.

"Innalillahi wainna ilaihi roojiuuuun."

Lututku mendadak lemas, tenagaku hilang seketika. Sambil berlutut aku menoleh ke arah Agus. Benar, ia sudah meninggal. Matanya melotot dan aku baru menyadari di beberapa bagian tubuh Agus dan di lantai ruang tahanan bertebaran benda yang tidak asing lagi bagiku.

"Bunga kantil?" pekikku dalam hati

-bersambung-

1
LyssLonely
uda baca 2020,sekarang balik lagi di tahun 2026
LyssLonely
uda baca 2020,kembali di tahun 2026
intan naysila
kesimpulanku :
pak rengga melecehkan mita karna minta cantik dan makaya ada cerita anak dilecehkan saat masuk ruang lab pak rengga, mita hamil dan pak rengga gak mau tanggung jawab makanya dia coba bunuh Mita dgn menabrak mita
Junan: baca sampai tamat kak
total 1 replies
Evellyn Decianaa
Udah baca pas 2020, 2024 sekarang baca lagi.. 😂😂😂
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🍾⃝ͩʟᷞɪͧʟᷡʏͣˢᵗᵃʳ💫ℛᵉˣ
padahal baca ini siang2, tapi ntah kenapa ada rasa takut membacanya.
baru beberapa chapter aja udah buat sakit jantung
Tantina Wyvaldia
gimana kalau p anton nikahi sepupunya parto?
Tantina Wyvaldia
Luar biasa
Tantina Wyvaldia
ceritanya terinspirasi "LIMA SEKAWAN", ya kak?
Tantina Wyvaldia
penuh kesenduan
Tantina Wyvaldia
get soul
Tantina Wyvaldia
astagfirullah
Tantina Wyvaldia
Luar biasa
Mini Upa
lumayqn bagus aku tungu dgn dgn kish selanjutx
Tantina Wyvaldia
kak author sukses bikin takut
Tantina Wyvaldia
semakin menarik dan pantas jadi yang terbaik, sayang, aku terlambat tahu cerita ini
van aridanaa
Kecewa
van aridanaa
Buruk
Fadlan
Luar biasa
cristian cris
kok aku yang patah hati ya gamonnya dari 2021 sampai 2024
Eka Pratiwi
sangat menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!