[Cerita lain dari Me vs Boss]
[Judul Diperbaharui!]
Bagaimana rasanya memiliki boss yang cerewet dan kepo?
Pasti rasanya mengesalkan, bukan?
Dan itulah hal yang dialami Giselle-sahabat Chelsea- yang menjabat sebagai sekretaris baru di sebuah perusahaan gadget dengan cabang terbesar di Indonesia.
Ia harus rela menghadapi pertanyaan aneh tak masuk akal, ketika sang boss menanyai tentang kehidupan privasinya.
Usia kamu berapa?
Gimana kabar mama?
Sehat-sehat aja, kan?
Kamu ada niatan untuk menikah?
Ada seseorang yang kamu suka?
Tipe cowok idaman kamu, seperti apa?
Apa yang kamu sukai dari cowok?
Dan mau tidak mau, Giselle harus menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh dari bosnya itu. Kadang dia berpikir,
"Apa yang diinginkan si boss?" gumam Giselle, sembari menatap langit-langit di kamarnya.
Start: 29 Maret 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29. Kesalah pahaman
Aiden. Pria itu telah berbohong padanya!?
"Jadi di mata kamu, aku ini siapa?" Giselle menggenggam erat tali tas selempang yang tengah ia kenakan. Kedua bola matanya menatap sendu punggung tegap Aiden yang memunggunginya tengah memeluk seorang perempuan.
Ingin sekali Giselle berjalan ke arah sana dan memergoki keduanya. Namun, semuanya hanya rencananya saja dalam hati.
Giselle tidak berani.
Dengan perasaan sesak dan sakit, Giselle berlari keluar dari klub malam itu. Air mata yang sedari tadi dia tahan, pada akhirnya luruh juga.
Perasaan sakit rasanya semakin menjadi, ketika mengingat ucapan Aiden padanya tempo hari yang mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki hubungan spesial dengan Hiyumi.
"Bohong! Semuanya bohong!" Giselle tak sadar sudah berteriak ketika dirinya tengah berada di atas trotoar jalan raya. Langkah kakinya pun sudah sangat jauh dari area klub malam tadi.
"Aarrghhh!!!" Giselle lalu berjongkok di atas trotoar itu dengan kepalanya yang sengaja menunduk dalam, hingga wajah sedihnya langsung terhalang oleh helai demi helai rambutnya. Kedua lengannya juga memeluk erat kedua lututnya itu.
Tak sadar, seseorang telah berdiri di hadapannya. Memandang remeh Giselle yang menangis tersedu-sedu di pinggiran jalan begini.
"Nangis, lo?" Suara sahutan berat itu mampu membuat kepala Giselle otomatis mendongak.
Seorang lelaki dengan paras rupawan dengan hanya mengenakan jaket hoddie berwarna putih dan celana jeans hitamnya, berdiri di hadapan Giselle yang masih setia berjongkok.
"Nangisin cowok lo, ya?" Ucapnya lagi. Yang kini sanggup membuat Giselle langsung mengusap sisa air mata di wajahnya, kemudian bangkit dari posisi jongkok itu.
"Apaan si, lo? SKSD banget," cibir Giselle, lalu diakhiri dengan menarik ingusnya.
Lelaki itu yang melihat gelagat menjijikan dari Giselle yang baru saja menarik ingusnya, hingga suaranya terdengar begitu kencang, dia hanya mampu bergidik sembari menggeleng cepat kepalanya.
"Cantik cantik, kok jorok," lelaki itu balas mencibir Giselle. Kedua tangannya dengan santai dimasukkan ke dalam saku jaket hoddie yang ia kenakan.
"Iih. Lo siapa si? Ngeselin banget jadi orang! Gue lagi patah hati, tau gak!" Teriak Giselle. Lalu diakhiri lagi dengan menarik sisa ingusnya.
"Bodo! Yang patah hati kan, elo! Gue gak peduli." Balas lelaki itu, lalu membalikkan badannya menatap pembatas trotoar yang menghadap langsung ke arah sungai yang membentang di bawah sana.
"Lo lagi patah hati, kan?" Ucap lelaki itu, tanpa menatap ke arah Giselle yang tengah diajak berbicara.
"Mumpung di bawah sana ada sungai, terjun aja gih. Tenang, gue yang liatin." Ucapnya lagi, beralih menatap Giselle yang terlihat menatapnya dengan tatapan yang menyiratkan suatu kebencian.
Lelaki itu lalu tersenyum mengeringai ke arah Giselle, yang membuat wanita itu mengernyitkan dahinya.
"Maksud lo... lo nyuruh gue terjun ke bawah itu... buat bunuh diri! Gitu?" Tanya Giselle. Lelaki itu tidak menjawab dan malah berjalan mendekati Giselle dengan kepalanya yang sedikit menunduk menatap tanah. Tak selang berapa lama, kepalanya kembali terangkat ketika tubuh keduanya berjarak kurang lebih tiga puluh senti.
"Gue cuman ngasih saran. Siapa tau kan, lo beneran buta karena putus cinta, terus berniat buat lenyapin diri sendiri," ucap lelaki asing itu, enteng.
Giselle mendengus, lalu membalikkan tubuhnya menatap bentangan sungai panjang di bawah sana.
"Haahh..." Giselle menghela napasnya berat. Kedua tangannya lalu terangkat dan mulai menyentuh pembatas trotoar tersebut.
"Lo itu siapa sih? Dateng-dateng ngajak ngobrol. Sok kenal lagi. Tapiiii, lo itu bikin suasana hati gue yang tadinya ancur, sekarang jadi enggak lagi." Giselle berucap sembari tersenyum tulus menghadap langit yang menampilkan ribuan bintang-bintang.
Lelaki tadi tidak berusaha menjawab ucapan dari Giselle. Dia hanya tersenyum tulus ke arah Giselle yang tengah tersenyum sembari mendongakkan wajahnya menatap langit malam.
"Oh iya. Gue, Giselle." Seru Giselle. Tatapannya pun beralih menatap ke samping kirinya yang sudah ada lelaki itu yang juga tengah menatap ke arahnya.
Lelaki itu hanya menyeringai, sembari menatap jalanan ibu kota yang perlahan mulai terlihat sedikit macet.
"Woi! Gue nanya!" Giselle rasanya selalu merasakan kesal ketika berhadapan langsung dengan lelaki itu. Padahal, ini adalah pertemuan pertama mereka.
Lelaki itu terdengar terkekeh pelan. "Kapan lo nanya?" Tanyanya, sembari menatap Giselle dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Ish! Tau ah. Dasar gak peka!" Giselle memberengut sebal, lalu beralih menatap kembali langit di atasnya, atau tidak sungai luas di bawah sana.
Mengobrol dengan orang asing di sebelahnya benar-benar harus memiliki kesabaran ekstra.
"Oke-oke. Nama gue, Key." Ucap lelaki itu, ketika menyadari bahwa Giselle merasa kesal karenanya.
Giselle memutar kepalanya, lalu menatap lelaki yang mengaku bernama Key itu dengan sorot mata kebingungan.
"Key?" Ucap Giselle. Lelaki itu mengangguk polos. "Kayak nama cewek." Ucap Giselle lagi, yang sanggup membuat sebelah alis Key terangkat.
"Enak aja. Alexander Keypramanta, masa iya kek nama cewek?" Ucap Key lagi. Kali ini dia menyebutkan nama lengkapnya yang membuat Giselle langsung menganga kaget.
"E-eh. Kirain 'Key' itu nama depan lo! Ternyata, nama tengah lo, ya. Sorry!" Giselle merasa tidak enak karena mungkin saja dirinya sudah menyinggung perasaan Key barusan. Namun respon cuek dari lelaki itu membuat Giselle merasa semakin bersalah.
"Key! Lo marah, ya?" Tanya Giselle hati-hati. Takut bahwa nanti dirinya akan kembali menyinggung lelaki itu.
"Emm... itu. Gue minta maaf. Dan... gue mau nanya sesuatu, boleh?"
Key yang awalnya terlihat cuek dan menatap jengah, kini tatapannya kembali terarah pada Giselle. Raut wajahnya berubah datar, dibandingkan yang sebelumnya.
"Ngomong aja."
Giselle terlihat menghela napasnya sembari meremas jari-jemari tangannya di bawah sana. "Emm... kenapa nama panggilan lo, enggak Alex aja?" Tanya Giselle. Raut wajah Key langsung berubah lebih dingin dari sebelumnya.
Sial. Sepertinya, Giselle salah ngomong lagi.
"Ups. Gak mau jawab, ya? Ya udah. Gak us–"
"Kalo 'Alex', namanya udah pasaran banget. Udah gue jawab, puas lo?" Sela Key, membuat Giselle langsung mengembungkan kedua pipinya.
"Yee. Santai dong. Ngegas aja jawabnya,"cibir Giselle. Lalu bersedekap memeluk tubuhnya yang perlahan mulai merasakan hawa dingin.
Key melihat gelagat Giselle dengan pandangan berbeda dari sebelumnya. Lelaki itu lalu menghela napas, lalu mengeluarkan kedua tangannya yang dia masukkan ke dalam saku jaket hoddie miliknya. Salah satu tangannya terulur dan menarik tangan Giselle, hingga wanita itu sontak langsung mendekat ke pada Key.
"Rumah lo di mana? Gue anterin pulang," tanya Key, to the point.
Giselle yang masih setia terkejut dengan apa yang dilakukan Key barusan padanya, hanya memelot dengan degup jantung yang mulai tidak beraturan.
Merasa sadar posisi keduanya cukup dekat, Giselle langsung mundur sembari berusaha melepas cengkraman tangan Key pada pergelangan tangannya.
"Ish. Apaan si lo? Gue bisa kok, balik sendiri." Ujar Giselle, gugup.
Key yang mendengarnya hanya mengangkat bahu tidak peduli.
"Terserah. Ini udah malem. Lo mau naik apaan? Naik taksi? Busway? Ojol?" Key menyebutkan satu-persatu alat transportasi yang mungkin saja akan dipilih oleh Giselle.
Giselle tampak berpikir sejenak. "Emm,"
"Gue peringatin nih, ya. Naik taksi, takutnya lo ntar dibegal. Mau? Naik busway, jam segini mah udah lewat. Tapi kalo nunggu sampe tengah malem sih, kayaknya ada. Kalo naik ojol, bisa dibegal juga. Gimana? Lo mau ambil resiko yang mana?" Key menyela apa yang akan diucapkan oleh Giselle, membuat wanita itu sontak membulatkan sepasang matanya.
Mendengar penuturan Key yang sepertinya tengah berusaha menakut-nakutinya, Giselle jadi sedikit terpengaruh. Mengerikan rasanya, jika dirinya pulang dengan taksi ataupun naik ojol. Bisa-bisa dia...
Eh, tunggu? Untuk apa Giselle memasukkan ucapan Key ke dalam hati? Lelaki itu hanya menakut-nakutinya. Bukan berarti hal semacam itu akan terjadi padanya.
Tapi... Giselle jadi ngeri ini, seriusaaannnn... Gimana dong?
"Ck. Kelamaan. Udah, gue anterin." Key lalu menarik paksa sebelah tangan Giselle yang sebelumnya belum pernah dia sentuh.
"Kyaa! Jangan main tarik-tarik tangan orang dong. Sakit ini," protes Giselle yang sama sekali tidak didengar oleh Key.
Sampai ketika keduanya tiba di depan pemberhentian bus, sudah ada sebuah motor ninja berwarna merah hitam yang sepertinya sengaja diparkirkan di sana.
"Ituuu... motor punya lo?" Tanya Giselle. Ketika Key baru saja melepas cengkraman tangannya, dan beralih menaiki motor itu.
"Bukan. Punya nenek moyang gue." Ucap Key asal.
"Ya kali punya nenek moyang lo," gerutu Giselle yang sedikit didengar oleh Key.
"Buruan naik. Udah malem, anak cewek gak boleh lama-lama di luar. Ntar diganggu cowok-cowok hidung belang. Mau lo?" Ucap Key. Berniat menakut-nakuti.
"Orang salah satu dari mereka aja sekarang lagi gangguin gue, kok. Maksa harus pulang bareng lagi," cibir Giselle.
Key yang mendengarnya lantas tersenyum hangat. Senyum yang baru kali ini dia lihat untuk pertama kalinya. Bukan senyum seringaian seperti tadi.
"Naik, atau gue tinggalin?" Ucapnya. Lantas membuat Giselle yang semula terpaku akan senyum manis dari wajah tampan Key, langsung merengut sebal.
****
"Kak Aiden!" Panggil Hiyumi. Keduanya saat ini masih berada di tempat terlarang itu, klub malam.
Bukan tanpa alasan keduanya belum pulang sama sekali. Hanya saja, tangisan Hiyumi baru berhenti bebarapa saat yang lalu dan wanita itu begitu sulit untuk dibujuk pulang ke hotel. Ya, hotel yang ditempati Hiyumi.
"Ya?" Sahut Aiden yang semula termenung di atas sofa sembari menyandarkan punggungnya. "Kenapa?" Aiden lantas membenarkan posisi duduknya menjadi lebih tegap.
"Hiyumi mau ke kamar mandi sebentar. Boleh, ya?" Ucapnya, terlihat sedikit was-was.
Sontak, Aiden merasa ada yang tidak beres dari gelagat wanita itu. Terlihat dari caranya menatap Aiden seperti akan terjadi suatu hal yang buruk.
"Mau Kakak temani?" Tawar Aiden. Spontan Hiyumi menggeleng cepat dengan kedua bola matanya yang membola.
"Ti-tidak usah. Hi-hiyuumi bisa sendiri, kok. Kakak tunggu saja Yumi di sini. Daa," ucapnya, lantas melenggang meninggalkan Aiden sembari menenteng tas milik wanita itu sendiri.
Aiden menatap penuh tanya pada wanita itu. Pikirnya, apakah wanita itu tengah diancam oleh seseorang? Semuanya terlihat jelas dari gelagat ketakutan yang dia perlihatkan.
"Pasti ada yang gak beres." Aiden lantas bangkit dari sofa tersebut dan berjalan menuju kamar mandi umum yang berada cukup jauh dari keramaian orang-orang klub.
Ketika Aiden hendak berbelok untuk mendekat ke bilik kamar mandi perempuan, langkah kakinya tiba-tiba saja terhenti saat melihat tiga orang pria dengan penampilan babak belur yang sebelumnya telah dipukuli oleh Aiden karena berani menggoda Hiyumi.
Kedua bola mata Aiden sontak membulat ketika seorang wanita yang dia anggap wanita polos dan tidak tahu apa-apa, ternyata tengah berada di antara ketiganya.
Dan wanita itu adalah Hiyumi. Ini benar-benar diluar dugaannya.
"Tadi aku sudah memberikan uang mukanya pada kalian, bukan?" Ucapan Hiyumi terdengar pelan namun masih bisa didengar oleh Aiden yang bersembunyi di balik dinding kamar mandi.
"Ini sisanya. Sengaja dilebihkan, karena ternyata usaha kalian bertiga benar-benar tidak mengecewakan. Pria yang tadi memukuli kalian itu ternyata begitu perhatian padaku. Kalian pantas mendapatkannya." Ucap Hiyumi, lalu tersenyum devil yang baru kali ini dia perlihatkan pada orang lain.
Bahkan, Aiden saja baru melihat senyuman itu. Terlihat begitu licik dan penuh dendam.
Sepertinya, Aiden benar-benar salah menganggap Hiyumi adalah wanita manja dan polos. Buktinya? Busuk!
"Sshhh... Terimakasih, Bos! Kami terima uangnya. Yah, walaupun ada beberapa tubuh dan wajah kami yang terluka. Tapi, ini benar-benar sangat banyak. Dan memuaskan," ucap salah satu pria, membalas senyum devil dari Hiyumi. Dan kedua pria yang lain tampak tertawa jahat.
"Kami pergi!" Ucap pria tadi, lantas melenggang meninggalkan Hiyumi, diikuti kedua teman pria lainnya.
Aiden yang tidak mau ketahuan pun langsung bersembunyi di salah satu bilik kamar mandi pria yang cukup berjauhan dengan bilik kamar mandi wanita.
Dirasa ketiga pria yang tadi menemui Hiyumi sudah pergi menjauh, Aiden lantas keluar dari sana dan segera berjalan kembali menuju bilik kamar mandi wanita untuk meminta kejelasan pada Hiyumi.
Semoga wanita itu masih di sana. Batinnya, dan benar saja.
Hiyumi masih berada di sana tengah mengembuskan napasnya sembari menatap lantai. Dan ketika kepalanya mendongak, kedua bola matanya sontak membulat ketika matanya menangkap sosok Aiden telah berdiri tepat di hadapannya.
Aiden menatap Hiyumi dengan sorot mata dingin dengan kedua tangannya yang dilipat di depan dada. Seolah trngah meminta sebuah penjelasan pada wanita itu.
Hiyumi yang memang sudah was-was dari sebelum dirinya pergi ke kamar mandi, kini perasaan itu semakin menjadi dalam dirinya. Asumsi-asumsi negatif tentang Aiden yang telah mengetahui rencana busuknya, membuat Hiyumi semakin ketakutan.
"Kenapa kayak kaget gitu?" Aiden bertanya dingin sembari melangkah pelan menuju Hiyumi.
Spontan wanita itu memundurkan langkahnya, dengan kedua bola matanya yang masih setia membola.
"Hiyumi! Kamu bohongin Kakak?" Sahutan dari Aiden dengan suara pelan dan rendah, membuat Hiyumi memilih semakin memundurkan langkah kakinya dan alhasil, punggungnya membentur tembok.
Aiden semakin mendekatkan langkahnya ke arah Hiyumi, hingga pada saat ini tubuh keduanya hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Sebelah tangan Aiden juga terangkat dan menyentuh tembok di samping kepala Hiyumi.
"JAWAB!" gertak Aiden. Tangannya yang baru saja menyentuh tembok, kini mulai memukul kesal tembok itu.
Bukannya menjawab perkataan dari Aiden, Hiyumi malah menutup matanya keras-keras dengan bahu yang bergetar hebat.
Sungguh, apa yang dilakukan Aiden padanya tadi benar-benar menakutkan. Belum pernah Hiyumi dibentak dan digertak seperti tadi.
"Hi-hiyumi—"
"Mau kamu apa, hah?! Berpura-pura seperti tadi itu apa maksudnya? Ada untungnya?" Aiden mulai sedikit menjauhkan diri dari Hiyumi, membuat wanita itu sedikit bisa bernapas lega.
"JAWAB, HIYUMI! Kakak gak butuh tangisan palsu kamu itu!" Ucap Aiden telak.
Spontan, Hiyumi mengangkat wajahnya yang semula menunduk sembari terisak. Menatap raut wajah penuh amarah dari Aiden yang membuat Hiyumi takut sekaligus tidak percaya.
"YA! MEMANG ADA UNTUNGNYA BAGIKU!" Hiyumi berteriak sembari memejamkan kedua matanya, sehingga air mata itu kembali menuruni wajahnya.
"Aku mencintaimu, Kak! Apakah kamu tidak bisa melirikku sedikit saja? Apa kurangnya aku? Dan apa kelebihan wanita itu? Tidakkah kamu memiliki perasaan sedikit saja padaku? Aku mencintaimu, Kak.." Hiyumi berucap parau diakhir kalimat yang dia ucapkan. Air matanya sudah tak dapat lagi dia bendung. Matanya pun mulai memerah dengan wajah dan hidung mancungnya sekali.
Hiyumi lantas mengangguk-anggukan kepalanya yang sama sekali tidak dimengerti oleh Aiden.
"Biar lebih jelas, akan aku jelaskan," ucapnya menggantung.
Aiden memilih diam dengan wajah datarnya sembari menatap lekat manik mata menyedihkan milik Hiyumi.
"Aku ingin memisahkan kalian! Aku benci wanita itu yang dengan gampangnya bisa menjadi wanitamu! Aku kesal!" Katanya dengan suara yang menjerit. Spontan Aiden mendengus kecil.
"Dengar ya, Kak! Aku tidak akan pernah menyerah! Sesulit apa pun caranya untuk memisahkan kalian berdua, aku tidak peduli! Aku sudah terlanjur mencintaimu, Kak!" Ucapnya lagi, hendak menyentuh wajah Aiden, namun segera ditepis kasar oleh Aiden.
"Menyerah, Hiyumi! Perasaan aku sama kamu cuman sebatas Kakak pada Adik! Aku enggak pernah memiliki perasaan lebih sama kamu! Jangan pernah menyalah artikan apa yang aku lakukan sama aku! Aku melakukan itu karena Mama selalu menginginkan anak perempuan. Aku menghargai Mama."
Jederrr
Bagai mendapat sebuah sambaran, tubuh Hiyumi lantas langsung merosot ke lantai dengan air mata yang kembali menuruni wajah cantiknya.
Wanita itu tertawa sumbang sembari mencoba untuk tidak menanggapi apa pun yang pria itu katakan padanya barusan. Semua perkataan Aiden padanya yang baru saja terlontar itu dia anggap hanya mimpi.
Ya. Pasti hanya mimpi.
"Kak Aiden! Tidak ada gunanya kamu berbohong! Aku gak akan percaya! Gak mungkin selama bertahun-tahun ini Kak Aiden tidak pernah melihatku sebagai—"
"Cukup, Hiyumi!" Aiden sengaja memotong ucapan Hiyumi, membuat wanita itu yang semula menatap jengah, kini tatapannya kembali fokus pada Aiden.
"Aku hanya menganggap kamu sebagai Adik aku, enggak lebih! Jadi berhenti berjuang sendiri, jika tidak ingin terus tersakiti!" Ucapan dari Aiden lagi-lagi terasa menamparnya. Atau bahkan mematikan hatinya?
Entahlah. Yang jelas, benar-benar menyakitkan.
"Aku pergi! Aku tidak akan pernah menganggap kejadian tadi pernah terjadi. Kejadian di mana kamu telah menipuku," lantas setelah mengucapkan itu, Aiden melenggang keluar dari kamar mandi umum itu. Atau lebih tepatnya pergi meninggalkan klub malam. Meninggalkan Hiyumi yang tengah menumpahkan segala kesedihannya lewat tangisan keras yang menggema di kamar mandi itu.
"Hanya menganggapku sebagai adiknya?" Gumam Hiyumi, disela tangisannya yang perlahan mulai mereda.
"Kakak jahat!" Histerisnya, lalu kembali menangis.
****
Sedari beberapa saat yang lalu, Aiden tak henti-hentinya terus menelpon Giselle. Panggilan yang entah untuk yang keberapa puluh kalinya, tidak ada satu pun yang dijawab olehnya.
Aiden benar-benar cemas. Jangan-jangan Giselle sedang dalam masalah?
Spontan, Aiden memukul stir mobilnya karena perasaan cemas dan kesalnya belum tertuntaskan.
"Aarghhh... kenapa kamu gak jawab telepon aku, Sell?" Aiden menggerutu frustasi.
Kembali tidak mendapat balasan dari teleponnya, Aiden lantas melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, tepat ke jalanan yang mengarah pada alamat apartemen Giselle.
Ya. Aiden akan menyusul Giselle ke apartemen yang ditempati wanita itu.
Tak butuh waktu lama bagi Aiden mengendarai mobilnya, akhirnya Aiden tiba juga di depan sebuah gedung apartemen yang menjadi tujuannya saat ini.
Setelah memarkirkan dan mengunci terlebih dahulu mobilnya, Aiden segera berlari memasuki lobi apartemen lalu kembali berlari memasuki lift.
Namun ketika pintu lift yang dia gunakan hendak menutup otomatis, sebuah pemandangan yang membuat hatinya terasa panas, terlihat oleh penglihatan matanya.
Sontak, Aiden menghentikan pintu lift itu yang hendak menutup. Lalu beralari menuju seorang wanita dengan seorang pria asing tengah bercakap memasuki lobi apartemen.
"Giselle!" Panggil Aiden.
Bukannya terkejut karena dirinya tertangkap basah tengah berduaan dengan pria lain, Giselle malah mengalihkan pandangnya ke samping. Dan Aiden sangat tidak menyukai itu.
Spontan Aiden menarik pergelangan tangan Giselle cukup kuat hingga membuat Giselle terkejut sekaligus meringis kesakitan.
Dan semua perlakuan kasar Aiden itu tak luput dari penglihatan pria asing yang sudah mengantar Giselle pulang.
"Jangan kasar sama perempuan!" Ucap pria asing itu yang tak lain adalah Key. Pria asing yang baru saja ditemui Giselle beberapa saat yang lalu.
"Jangan ikut campur!" Kata Aiden, sengit. Tatapannya lantas beralih menatap Giselle yang tengah menunduk sembari memperlihatkan wajah sedihnya.
"Pulang!" Ucap Aiden, terdengar tidak bersahabat.
Lantas, Aiden menarik paksa pergelangan tangan Giselle memasuki ruangan lift. Ia tidak menghiraukan jeritan kesakitan dari Giselle yang tangannya ditarik kasar oleh Aiden.
Aiden hanya tahu satu hal. Hatinya benar-benar panas, marah, kesal sekaligus cemburu menjadi satu.
Disisi lain, Key memilih untuk tidak mengejar sepasang kekasih itu. Key tahu diri. Mereka berdua pasti butuh waktu untuk saling menjelaskan masalah mereka.
Dan lagi, Key bukan siapa-siapa.
****
"Lepas, Pak! Hiks, sakit." Ucapan bergetar dari mulut Giselle berhasil menyadarkan Aiden.
Sebelah tangannya yang semula mencengkram kuat pergelangan tangan Giselle, kini mulai terlepas. Tatapan penuh amarahnya berubah sendu ketika melihat Giselle yang menunduk dengan kedua mata yang berkaca-kaca sembari memegangi pergelangan tangannya yang memerah karena ulah Aiden sendiri.
Aiden tidak berniat mengutarakan kekesalannya lagi. Dia memilih diam sembari menunggu pintu lift perlahan terbuka.
Dan tak butuh waktu lama, lift pun terbuka. Dengan segera Giselle berlari sembari terisak meninggalkan Aiden yang masih terdiam memaku di ruangan sana.
Giselle mengetikkan dengan cepat kata sandi untuk membuka kunci apartemennya. Namun, ketika pintu terbuka dan Giselle hendak masuk, tangan seseorang berhasil mencegahnya. Dan itu adalah Aiden.
"Siapa lelaki tadi?"
Giselle tidak berniat menjawabnya. Dia memilih kembali membuka pintu apartemennya yang masih dihalang oleh tangan Aiden.
"Saya mau masuk. Bisa tolong minggir. Pak?" Ucapan Giselle benar-benar menguji kesabaran Aiden.
"Jadi kamu sibuk berduaan sama dia, sampai-sampai kamu enggak menjawab telepon aku! Iya?! Oh, kamu ngapain aja sama dia, hm?"
Plakk
Tamparan keras mendarat di sebelah rahang Aiden. Dan pelaku utamanya adalah Giselle. Perkataan dari Aiden benar-benar seperti tengah menyamakan dirinya dengan seorang wanita murahan yang bisanya cuman keluar malam dan bermain bersama pria yang berbeda.
"Kamu nuduh aku yang enggak-enggak, sementara kamu sendiri sibuk sama wanita lain?" Pekik Giselle. Sanggup menohok hati Aiden.
Aiden lantas kembali menatap pada Giselle yang terlihat menahan emosinya yang sepertinya sudah siap untuk meledak. Bulir-bulir putih yang menggenang di pelupuk matanya membuat hati Aiden terasa teriris.
Namun, fokus otaknya langsung beralih pada kata-kata yang sempat Giselle ucapkan diakhir kalimatnya.
Wanita lain!?
Jangan-jangan Gisele...
"Kamu—"
"Kenapa? Kaget? Aku tau kamu sama perempuan lain mesra-mesraan, kamu kaget? Takut ketahuan, begitu?"
"Bukan itu— maksud aku—"
"Cukup! Aku gak mau denger lagi," Giselle hendak masuk ke dalam apartemennya.
Namun lagi-lagi, niatnya terhenti ketika sepasang lengan baru saja memeluk erat tubuhnya dari belakang. Embusan napas terputus-putus sedikit terdengar oleh pendengarannya.
"Lepas," Giselle bergerak gelisah dalam pelukan Aiden. Namun bukannya terlepas, pelukan itu malah semakin mengekang pergerakan tubuhnya.
"Kamu salah paham. Aku bisa jelasin semuanya, Sell! Oke, aku ngaku kalau aku peluk Hiyumi buat nenangin dia," perkataan Aiden, benar-benar membuat Giselle ingin segera terlepas dari pelukan itu.
"Tapi aku enggak punya perasaan apa-apa sama dia—"
"Gak punya perasaan apa-apa tapi peluk-pelukan?" Potong Giselle, membiat Aiden memilih menghela napasnya.
Aiden menganggukkan kepalanya beberapa saat. "Dia duluan yang peluk aku. Sebelumnya, dia nelpon aku, katanya dia diganggu sama cowok-cowok di klub. Dia nangis, ya aku spontan peluk dia. Aku selalu menganggap dia sebagai adik aku, tapi dia malah menganggapnya lain. Dan ternyata, kejadian di mana dia diganggu cowok-cowok di klub itu cuman settingan. Itu rencana dia sendiri, Sell. Percaya sama aku, please..."
Sumpah demi apa pun, Giselle tidak ingin mempercayai semua yang dikatakan Aiden padanya. Namun, hatinya berkata lain.
Giselle terdiam tanpa mau menjawab apa pun.
Perlahan, pelukan itu mulai terasa melonggar. Dan kini, seseorang sudah membalikkan tubuh Giselle hingga menghadap padanya.
"Maafin aku, Sell," Aiden berusaha menghapus sisa air mata di wajah Giselle.
Namun bukannya hal itu menghentikan tangis Giselle, Giselle malah semakin memperparah tangisannya. Air matanya kembali keluar menuruni wajah cantiknya. Kedua lengannya terangkat memeluk leher Aiden begitu erat. Dan Aiden pun balas memeluk tubuh mungil Giselle dengan sayang.
"Hiks... hiks... jangan tinggalin aku... aku gak punya siapa-siapa lagi selain kamu... bahkan kamu udah janji untuk enggak ninggalin aku..."
Aiden memilih mengeratkan pelukannya sembari menciumi dengan penuh sayang pucuk kepala Giselle.
"Maaf, Sell. Aku udah membuat kamu salah paham," ucap Aiden pelan
"Maaf juga, karena aku membuat kamu ikut salah paham," balas Giselle.
Lantas setelahnya, keduanya memilih memasuki apartemen Giselle.
Sebelum keduanya benar-benar akan masuk, Aiden menyempatkan dirinya untuk mengecup dahi Giselle cukup lama.
~END~
.
.
.
Tapi boong, wkwk...
Garing yah? Iyain deh, hehee. Lama gk jumpa setelah hampir seminggu ya. Alesannya sakit, terus ngurusin pendaftaran sekolah, terus sakit lgi. Duhh, skrng aku jdi sering sakit mulu ya? Hooh, aku aja heran.
Untungnya sakitnya gk lama sih hehee.
Oh ya, eps terakhirnya keknya bkn di eps 30 deh. Perjalanan mereka masih ada lah dkit lgi. Butuh beberapa part lgi.
Emm kira², endingnya mau kyk gimna?
A. Giselle ninggalin Aiden?
B. Giselle sama Aiden nikah?
C. Langsung happy ending ajalah!
D. Aiden sama Hiyumi nikah?
*Eheheee,, ini 3600 kata lebih yes? Enek apa gimna?
Oke. Sgitu dulu. Tanganku pegel btw, baayy... see you in the next chapter:*
ada bonus picture Babang Key a.k.a Baekhyun sma yg laen buat kalean:
Key**
Giselle
Aiden
Hiyumi
kuyy, exo-l merapat😆 wkwk...
btw met ultah ya thorrrr,,, mga makin sukseeeeeesssss
awal yg menarik, lucu...
punya bos iseng bngt y...
jejak...