NovelToon NovelToon
Ujung Ombak Di Kaki Senja

Ujung Ombak Di Kaki Senja

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Bad Boy / Suami amnesia / Tamat
Popularitas:463k
Nilai: 5
Nama Author: Rose noor

"Kamu, Istriku! Namamu Senja, Aku ingat itu."

Naurally Senja Hafidza. Seorang santri Wati yang pernah mondok di salah satu pesantren dekat pesisir Pangandaran. Merasa terkejut tatkala seorang pria berwajah tampan namun berambut gondrong dan berpenampilan bak berandal, yang memang pernah la temui beberapa kali di pantai tempat ia menghafal Al-Qur'an ketika sore hari. Tiba-tiba hadir di depannya dan mengakui bahwa Senja adalah Istrinya.

"Maaf, kita baru beberapa kali bertemu dan dalam ketidak sengajaan. Mana mungkin saya adalah Istri Saudara."

Sedangkan di posisi laki-laki tersebut, yaitu Keindra Alif Hibridzi, saat ini ia sedang mengalami amnesia, pasca bangun dari koma, akibat kecelakaan motor beberapa bulan yang lalu. Di dalam ingatannya, hanya menyisakan seorang nama saja yaitu Senja. Parahnya lagi, di ambang halusinasinya, Senja adalah seseorang yang pernah ia nikahi dan saat ini adalah Istri Sah nya.

UJUNG OMBAK DI KAKI SENJA. Mari mulai baca saja, Terima kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Ma'afkan Aku.

..."Tidak ada kemenangan tanpa di iringi dzikrullah. Tidak ada amal tanpa keikhlasan. Tak ada ampunan tanpa saling memaafkan. Maka maafkanlah aku,"...

...-Keindra Alif-...

...🍃🍃🌷🍃🍃...

Setelah dua puluh menit, Kei sampai di rumah. Ia bergegas turun dari mobil.

"Assalamu'alaikum. Sayang!" panggil Kei dan suaranya menggema ke seluruh ruangan.

"Wa'alaikum salam! Kei... koq teriak-teriak begitu?" Mami Kei yang baru saja dari kamar Senja pun menghampiri Kei.

"Senja, mana Mam?"

"Di kamar, Sayang! tadi sih sedang siap-siap hendak Salat Ashar." Jawab Mami.

"Ok Mam! Kei naik dulu ya."

"Baik Sayang!" Mami tersenyum. "O yah Kei, Senja sedang sedih dan sepertinya perasaannya juga sedikit sensitif. Tolong jangan terburu-buru dalam memperlakukannya."

Kei mengerutkan dahi. "Sedih, Sensitif?" tanyanya.

"Karena perempuan itu, Nak! Senja melihat kalian berpelukan." Mami Kei langsung menjelaskan duduk perkara yang membuat Senja sedih.

"Astaghfirullah! ini yang membuat Kei terburu-buru ingin bertemu Senja, Mam. Untuk meluruskan masalah yang terjadi, Kei sih tidak tahu kalau Senja melihat Kei di peluk perempuan itu, Kei tahu dari sekretaris Kei, bahwa Senja datang ke kantor tadi dan Kei tidak bertemu, mungkin Senja melihat ketika Kei di peluk perempuan itu, sungguh itu di luar prediksi Kei dan Arka, Mam."

"Naiklah! Mami percaya pada Anak Mami. Bujuk Senja selembut mungkin." Pinta Mami dengan tersenyum.

"Terima kasih Mam!" Kei memeluk Maminya sebentar. Setelahnya Kei bergegas naik ke lantai dua dan masuk ke kamar dengan mengucapkan salam. Sepertinya Senja sedang berdzikir setelah Salat.

Kei ingat, ia pun belum melaksanakan Salat Ashar, Kei segera mengambil wudhu dan bergegas Salat di depan Senja, yang kini sedang membaca Alqur'an.

Setelah selesai Salat dan Senja menyudahi membaca Alqur'an. Senja segera menyalami Kei dengan sikap sedikit dingin.

"Sayang sakit?" tanya Kei lirih dan Kei menatap Senja dengan lembut. Masih dalam posisi duduk bersila menghadap ke arah Senja.

"Tidak Ay! Aku baik-baik saja." jawab Senja datar, dengan merapikan mukena dan Al-Qur'annya.

"Lalu? apakah ada hal yang mengganjal di pikiran mu, Sayang?" tanya Kei kembali, ia ingin tahu, Senja akan meledak atau tidak dengan perasaannya.

"Tidak ada, aku tidak apa-apa. Hanya lelah!" jawab Senja ingin segera berdiri. Namun, Kei buru-buru merebahkan tubuhnya di atas sajadah Senja dan kepalanya ia letakkan pada pangkuan Senja.

Senja tidak dapat bergerak, padahal matanya sudah berkaca-kaca. Kei kembali memancing emosi Senja, ia ingin tahu sekuat apa Senja menyembunyikan rasa kesalnya.

"Maaf, Sayang! tadi aku tidak sempat menjemputmu, aku sibuk. Karena ada pekerjaan yang tidak dapat aku tinggalkan." ujar Kei agak menyindir pekerjaannya. Ingin tahu reaksi Senja.

"Ia Ay! kamu Sibuk dengan perempuan itu." batin Senja.

"Koq gak ada reaksi?" batin Kei.

"Tidak mengapa Ay! lagipula aku juga tadi bertemu Syabie dan pulang bersama dia." ujar Senja dengan ucapan selembut biasanya namun, tidak sehangat biasanya.

"Oh bersama Syabie." ucap Kei, lalu ia menarik tangan Senja dan ia mengecup tangan itu. Akan tetapi, Senja menariknya pelan. Kei tersenyum samar.

Lalu Kei memiringkan posisinya menghadap ke perut Senja dan mencoba menggoda Senja dengan memasukkan sebelah tangannya, ke balik stelan Senja dan mengusap punggung Senja. Melepas kaitan bra Senja. Bibirnya berbuat nakal di perut Senja dengan menggigit kecil dan menghisapnya, menimbulkan tanda merah.

Senja sedikit meringis. Ia mulai terbawa suasana dengan bibir dan tangan nakal Kei. Tanpa pikir panjang, Senja meletakan kepala Kei di atas sajadah. Senja segera berdiri dan berjalan cepat menuju tempat tidur.

"Maaf Ay!" hanya itu yang Senja ucapkan. Kei telentang pasrah sembari tertawa kecil.

"Oush, mau ngerjain Senja, koq malah aku yang turn on." Kei meringis menahan gairah yang mulai berkembang.

Setelah merasa tubuhnya lebih tenang. Kei menghampiri Senja di tempat tidur. Kei sudah mulai paham, Senja jelas marah padanya.

Namun, ini cara marah Senja. Mainnya cantik, tidak gerasak-gerusuk atau teriak-teriak. Marahnya Senja hal menarik untuk Kei. Ia baru tahu satu lagi keunikan Senja. Yaitu cara marah yang tidak memakai emosi. Justru Kei malah makin jatuh hati pada istrinya.

Senja duduk di tempat tidur. Nampak waspada, sebagian tubuhnya ia tutupi selimut. Kei ikut masuk ke dalam selimut tersebut, masih dengan kain sarung ia kenakan.

"Sayang! ma'afkan aku. Jika hari ini aku berbuat kesalahan yang mungkin tidak aku lakukan dengan kesengajaan."

Kei dan Senja duduk saling bersebelahan, bersandar pada headboard kasur. Senja sedikit melirik Kei dan Kei menyadari itu.

"Mau marah? marah saja! lampiaskan emosi apapun padaku! diam itu terkadang tidak menyelesaikan masalah loh, apalagi melepas emosi." sambung Kei.

Senja nampak gusar dengan gesture tubuh tidak setenang tadi. "Mas... sudah mandi?" tanya Senja. Akhirnya Senja buka suara, walaupun dengan nada yang sedikit ragu.

"Sudah tadi di kantor, memang kenapa? mau ngajak aku mandi bersama ya? oke, aku tidak keberatan koq, mandi lagi."

"Hiks...hiks. Aku hanya ingin memeluk Mas Kei." Senja mulai menangis.

"Peluklah, Sayang! mengapa harus minta ijin?" tanya Kei dengan menarik bahu Senja ke arah tubuhnya. Hingga Senja melingkarkan tangannya di perut datar Kei.

"Aku tidak sanggup kecewa lebih lama. Ini menyiksa batinku Mas!" ucap Senja masih dengan menangis.

"Aku tahu apa yang membuat kamu kecewa terhadapku. Aku hendak menunjukkan sesuatu yang akan menghilangkan rasa kecewamu, pada suamimu ini. Namun, saat ini tolong ma'afkan aku. Mungkin aku telah teledor tidak dapat menjaga diri." ujar Kei dengan menoleh pada Senja.

Senja nampak mengerutkan dahi. "Maksud kamu apa Ay?" tanya Senja lirih, dengan tubuh sedikit bergetar karena sisa tangisannya.

"Sesuai yang pernah kamu ucapkan, bahwa penawar amarah itu hanya memaafkan dengan iklas. Katamu, tidak ada kemenangan tanpa di iringi Dzikrullah. Tidak ada amal tanpa keikhlasan. Tak ada ampunan tanpa saling memaafkan. Maka ma'afkanlah aku, Sayang!" Kei mengecup pucuk kepala Senja.

"Ay?" Senja mendongakan wajahnya, Kei tahu itu sebuah pertanyaan.

"Tetap begini, hingga Arka tiba." Kei makin erat memeluk Senja. "Bagaimana, kamu memaafkan aku kan?" tanya Kei kemudian.

"Harus tahu dulu, apa yang menyebabkan Ayank meminta maaf padaku?" Senja malah balik bertanya.

"Jawabannya ada padamu!" Kei malah berteka teki. Senja nampak berpikir sejenak. Pelukan Kei memang hangat, nyaman. Pantas Saja Rhailla memeluk Kei.

Air mata Senja kembali meluncur bebas dan kini jatuh tepat di lengan Kei yang hanya menggunakan kaus lengan pendek. Kei menyadari itu, lalu ia raih bahu Senja agar duduk saling berhadapan. Lalu Kei menangkup pipi Senja dengan kedua tangannya.

"Cukup! jangan menangis lagi. Air matamu terlalu berharga, Sayang! jangan menangis untuk hal yang tidak penting." Kei menatap Senja dengan tatapan sayang dan tersenyum.

"Untukku penting Ay! menangis untuk suami adalah pemetaan dari doa-doa terbaik yang selama ini ku panjatkan, agar Allah senantiasa melindungi kamu. Senantiasa menjaga hatimu tetap teguh dengan iman mu." ujar Senja.

"Aamiin." ucap Kei, berbarengan dengan itu terdengar suara ketukan di pintu.

"Sebentar, Sayang! sepertinya itu Arka." Kei tersenyum dan Senja menganguk dengan bingung.

Kei sudah turun dari tempat tidur namun, Senja meraih tangannya dan mencegah ia pergi dengan gelengan kepala.

"Ada apa?" tanya Kei bingung.

"Jangan lebar-lebar buka pintunya. Aku sedang tidak mengenakan kerudung." jawab Senja malu-malu.

Kei mengembangkan senyum, kemudian ia mengecup kilas bibir Senja. "Tidak akan, Sayang." jawabnya. Mengusap pucuk kepala Senja, lalu Kei bergergas menuju pintu.

"Bagaimana?" tanya Kei, setelah membuka pintu. Benar saja itu Arka.

"Semuanya sudah ada di dalam sini. Tinggal memperlihatkan pada Senja." Jawab Arka.

"Ok, makasih Ka!"

"Siiip, gue ke bawah dulu, mau minta makan sama Mami, isi tenaga! capek juga ngurusin kesalahpahaman."

"Dodol, belum ngerasain nikah sih lu." kesal Kei.

"Ok ok Bos. Kalem!" ucap Arka. "Eh, tapi koq gak kedengaran suara perang ya?" Arka penasaran dengan menyeringai.

"Jangan harap! marahnya istri gua tuh elit dan beradab. Mainnya cantik," jawab Kei dengan mengedipkan sebelah mata. Arka menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.

"Udeh sana! makan yang banyak, biar cepet gede. Udah gede kawin, enak tahu bisa bobo kelonan." ujar Kei dengan mendorong Arka pelan.

"Hish sombong, lu baru nikah Bos! belum pernah kawin." ledek Arka dengan tertawa sembari berlari menuju tangga, menghindari sandal yang akan melayang. Namun, terlambat. Sandal rumahan milik Kei yang Arka hindari, justru mendarat di punggungnya.

"Asisten gila!" umpat Kei dengan menyeringai di ujung bibir dan geleng kepala.

"Nak Arka! hati-hati koq lari-lari gitu?" Mami yang melihat Arka lari dari lantai atas sembari menuruni anak tangga pun menegurnya.

"Heeee...di kejar Kei, Mih!"

"Kalian ini, memang seperti anak kecil." Mami berdecak kecil sembari menggelengkan kepalanya.

"Mih, Arka boleh minta makan? lapar!" keluh Arka setelah berdiri dekat Mami.

"Astaghfirullah! memang kamu tidak di kasih makan oleh Kei?"

"Tidak Mih, tadi belum sempat, terus kan pas mau pulang malah ngurusin rekaman Cctv." Melas Arka.

"Keterlaluan Kei. Demi perasaan dia, malah perut orang lain menjadi korbannya." gerutu Mami. "Mari ke dapur, Mami masak banyak, malah belum ada yang makan."

"Terima kasih Mih!" balas Arka dengan tersenyum. Mami membalas dengan senyuman pula.

Mami dan Arka pun menuju dapur untuk makan. Tadi Mami, Senja dan Sabrina makan kue buatan Mami. Sedangkan masakan Mami memang belum ada yang makan, bahkan Kei sendiri belum makan dari tadi siang.

***

Di kamar Kei dan Senja.

"Ini kan yang membuat kamu bersikap dingin padaku?" tanya Kei, sembari memutar hasil rekaman Cctv, dari mulai Senja tiba di gedung HZ corp. Hingga ia ke ruangan Kei dan turun menuju ke tempat pemotretan.

"Astaghfirullah! Ay, tahu Aku ke kantor Ay?"

"Tahu! Alina yang memberi tahu, lalu aku menyimpulkan kamu melihat adegan... ini." Kei memutar rekaman lebih cepat.

Nampak Rhailla yang tiba-tiba datang ke arah Kei setengah berlari, ketika Kei hendak berjalan menuju pintu keluar, lalu Rhailla langsung memeluk Kei, dan berkata "Kei ini kamu kan? aku rindu!"

Itu yang Rhailla katakan pada Kei. Namun, tidak terdengar dalam rekaman itu. Sedetik kemudian dengan reflek Kei mendorong Rhailla berbarengan dengan Senja membalikan tubuh dan pergi dengan tergesa karena menahan tangis.

"Hooo, Astagfirullah! Ay, kamu mendorong dia?" tanya Senja.

"Ya! aku terkejut, Sayang. Lagi pula pikiran ku langsung ingat kamu. Hanya kamu dan Mami wanita yang berhak memeluk Aku." jawab Kei dengan tegas.

"Ya tapi... kasihan dia Ay! sampai jatuh begitu." Senja menatap iba Rhailla di layar iPad.

"Loh, tadi kecewa, cemburu! sekarang kasihan. Bagaimana sih kamu?" jengkel Kei. Tidak mengerti dengan jalan pikiran Senja.

"Ya tetap saja kasihan!"

"Haduh! lalu harus gitu aku membalas pelukannya?"

"Ya... tidak juga." Senja menunduk. "Maaf Ay! tadi aku sudah salah paham. Aku merasa kecewa karena kamu bersentuhan dengan wanita lain selain dari mahram kamu."

"Sudahlah. Ma'afkan Aku juga, Karena Aku teledor dalam menjaga tubuh ku." Kei menatap Senja dengan kesungguhan.

"Sudah ku Maafkan!"

"Sungguh?"

"Sungguh Ay! aku tidak bisa marah dan kecewa lama terhadap mu, maaf tadi aku meminta ijin pada Mami untuk aku kecewa padamu." akunya Senja dengan malu-malu.

"Lalu Mami mengijinkan?" tanya Kei. Senja mengangguk kecil sembari menyembunyikan wajahnya di balik bahu Kei.

"Ahahaha, istri Aku lucu sekali sih!" Kei menarik Senja ke dalam pelukannya. Akhirnya kesalahpahaman itu terselesaikan dengan segera.

**

Di lantai bawah,

Arka baru selesai makan. Ia duduk sejenak di ruang keluarga sebelum pergi mandi, karena hari sudah menjelang Maghrib.

Mami Kei hendak ke kamar untuk menyiapkan pakaian dan peralatan Salat Papi. Namun, terdengar suara salam dari arah luar dan itu adalah Papi serta Willy dan Ethan, yang baru saja tiba setelah dari Bogor melihat tanah yang akan di jadikan Waterboom.

"Eh Papi, sudah pulang." Mami menghampiri suaminya, mengecup tangan kanan Papi takzim. Memeluk tubuh suaminya tanpa malu karet sudah terbiasa seperti itu. Arka, Willy dan Ethan pun sudah terbiasa melihat kemesraan Papi dan Mami.

"Apa kabar Mih?"

"Alhamdulillah, baik dong Pih! mau ngeteh, makan, atau mandi atau yang lain?" tanya Mami dengan bergelayut manja di lengan Papi.

"Mau yang lain." bisik Papi.

"Oh, dengan senang hati." jawab Mami dengan mengedipkan sebelah mata. Membuat Papi tertawa pelan.

"Kami ke kamar dulu," pamit Mami pada Arka, Willy dan Ethan. Willy dan Ethan mengangguk sopan sembari tersenyum dan duduk di sofa untuk beristirahat sejenak, sebelum pergi ke kamar mereka yang berada di paviliun belakang rumah Mami.

"Silakan Mih. O yah! kunci kamar Arka sepertinya tertinggal di kantor. untuk malam ini Arka ijin tidur di kamar tamu ya Mih?" tanya Arka.

"Ia boleh!" jawab Mami. Mami ke kamar, Arka pun pamit pada Willy dan Ethan untuk ke kamar tamu, rasanya ingin sekali mandi.

Beberapa lama kemudian. Mami nampak sedikit tergesa keluar lagi dari kamar dan di ikuti Papi yang sudah mengenakan bathrobe warna coklat.

"Ada apa Bu?" tanya Willy sopan.

"Ia, koq Ibu nampak khawatir?" tanya Ethan.

"Hooh Mih? ada apa sih?" tanya Papi, ternyata ia pun belum tahu apa yang menyebabkan Mami nampak panik keluar dari kamar.

"Itu Pih. Wil, Eth! emmm.. Arka mana?" tanya Mami pada Willy dan Ethan.

"Ke..."

"Aaaaaaa!"

"Aaaaaaa!"

Belum pun Willy menjawab pertanyaan Mami dengan lengkap. Terdengar teriakan dari arah kamar tamu. Dua suara, laki-laki dan perempuan. Suara laki-laki sudah pasti Arka, lalu suara perempuan? milik siapa?

"Astaghfirullah! Mami lupa Pih!"

Mami segera menuju kamar tamu. "Lupa apa Mih?" tanya Papi. Namun, Mami tidak menjawabnya.

Mereka segera mengikuti langkah Mami dan membuka pintu kamar tamu yang memang tidak terkunci.

"Astaghfirullah'aladzim!" pekik Mami melihat pemandangan di dalam.

Arka sedang terlentang dan bertelanjang dada berada di atas lantai dan seorang perempuan berada di atasnya dengan bertelungkup dan hanya menggunakan bathrobe berwarna putih. Tangan kanan Arka melingkar pada tubuh gadis tersebut. Posisi mereka di depan pintu kamar mandi.

"Syabie!" Willy terbelalak ketika melihat siapa perempuan yang berada di atas tubuh Arka.

"A-Abang Willy!" ucap pelan dan gugup Sabrina dengan wajah memerah dan hampir menangis.

Bersambung...

1
Renesme
Baguuus 👍👍👍
Heryta Herman
hahaha..batal deh mas kei mesra"an sama ayank senja gara" tamu bulanan...
Heryta Herman
selalu saja ada orang ke tiga/pelakor,dlm cerita/novel..apapun genre nya...
bikin nge drop dan malas bacanya...
walau ujung cerita nya bahagia...
Gladys Aira
Luar biasa
Balqis Adzraa
Bagus 👍 banget ceritanya,, sukses terus
Ukhty fillah
👍👍
Follow Author.IG: rosenoor_193
Good
Sulaiman Efendy
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Follow Author.IG: rosenoor_193: 🙏🙏🙏🙏🥰🥰
total 1 replies
Sulaiman Efendy
GK ADA CERITA KHUSUS BUAT ANAK2 MEREKA KAH THOR, SERU KYAKNYA KLO OTHOR BUAT CRITA ANAK2 MREKA..
Follow Author.IG: rosenoor_193: ada sih tapi belum ada waktu nulisnya 🙏
total 1 replies
Sulaiman Efendy
PERASAAN YG HAMIL DLUAN SYABIE, KOQ MLH SNJA YG LHIRAN DLU...
Sulaiman Efendy
ITU PASTI KERJAA ILLA..
Sulaiman Efendy
HADIAH SPCIAL SENJA PASTI AKN BRIKAN HAQ SUAMI ATAS DIRINYA.
Sulaiman Efendy
PACAR ALIAS KUTEK WILL😂😂😂😂😂😂😂
Sulaiman Efendy
QYANA HRS CERITA KE ETHAN TTG KLICIKAN ILLA..
Sulaiman Efendy
DLU KEI CINTA QYANA, TTPI QYANA CINTA MA ETHAN, GK NYANGKA BANGET...
TERNYATA QYANA BKN 11-12 DGN RHAILLA, TTPI 1-100,, SEMUANYA ULAH LICIK ILLA RUPANYA..
Sulaiman Efendy
QYANA DN RHAILLA SMA SAJA TUU, 11-12..
BETUL KATA SENJA, MASA KLO UDH NIKAH MSH NONGKRONG DI CLUB BRSAMA LKI2 YG BKN MAHRAMNYA, MMG HRS DISELIDIKI...
Sulaiman Efendy
UNTUNG ADA ALINA YG BERITAHU...
Sulaiman Efendy
SYABIE DI JODOHIN MA ARKA AZA TUUU..

KOQ KEI PELUKAN MA RILLA, ADA APA...??
Sulaiman Efendy
SEBENARNYA PALING MALAS KLO BCA CERITA ADA ORG2 MASA LALU KDUA PASANGN YG BRPOTENSI GANGGU KBAHAGIAAN TOKOH DI CERITA..
Rina Susilowati
ceritanya bagus bener..singkt tapi banyk pelajaran yg diperik.. terima kasih ka ROS SY BERHARAP ADA SQUEL DARI ANAK KE , ARKA , ETHAN DAN WILI..PASTI KEREN
Follow Author.IG: rosenoor_193: Terima kasih Akak. Nanti di pikirkan ya 🤗🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!