Novel ini sekuel dari novel pertamaku yang berjudul Mencintai Kekasih Sahabatku. Jadi alangkah lebih baik membacanya terlebih dulu sebelum membaca Cinta Sang Mantan Cassanova.
"Aku baru sadar kalau cintaku padamu begitu dalam setelah aku kehilanganmu. Mungkinkah janin yang tak sempat berkembang itu membuat ikatan kita semakin kuat? aku berjanji akan membuatmu kembali lagi padaku" Dewangga Surya Wijaya.
Kehilangan 3 orang sekaligus dalam hidup Angga membuat hidupnya terpuruk. Mamanya meninggal karena serangan jantung, Viviane pergi entah kemana setelah keguguran janinnya.
Hal itu membuat seorang Angga kini menjadi pribadi yang sangat dingin. Bahkan gelar cassanova yang melekat pada dirinya sudah ia tanggalkan.
Dapatkah Angga menemukan Viviane?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dee_K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 29
Kini Laura sudah melangkah pergi meninggalkan kantor Angga. Dia mengendarai mobilnya dengan tangan masih gemetar. Laura ketakutan saat melihat kemarahan Angga tadi. Dia tidak menyangka bahwa ternyata Angga selama ini yang dia kenal adalah sosok yang pendiam dan tidak pernah mempedulikannya bisa marah seperti tadi. Padhal kesalahan dia hanya sepele. Lantas apa yang membuat Angga sampaai marah besar.
“siapa sebenarnya orang yang ada dalam figura foto tadi?” gumam Laura dalam hati
“apakah orang itu sangat berarti dalam hidup mas Angga?”
Entah kenapa tiba-tiba Laura merasa sakit hati jika memang benar Angga sudah memiliki kekasih atau orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Dia sudah lama berusaha mendekati Angga, dan Angga sama sekali tidak pernah melirik usahanya meskipun hanya sedikit saja. Laura bertekat akan menyingkirkan siapa saja yang mendekati Angga. Karena Angga hanya akan menjadi miliknya. Tidak boleh ada wanita lain yang mendekatinya.
***
Hari pernikahan Edwin dan Viviane semakin dekat. Mereka berdua memutuskan untuk menggelar acara pernikahan mereka di kota J saja. Sedangkan orang tua Viviane sementara akan tinggal di apartemen Viviane.
Hari ini Viviane dan Edwin sedang melakukan fitting baju pengantin. Karena hari ini adalah weekend jadi sejak pagi Edwin sudah berada di apartemen kekasihnya. Semenjak Edwin mengetahui bahwa Angga yang tak lain adalah mantan kekasih Viviane, dia lebih sering datang berkunjung ke apartemen Viviane. Edwin tidak mau jika Angga mengambil kesempatan untuk menemui Viviane secara diam-diam.
Meskipun dia percaya dan tidak meragukan akan cinta Viviane padanya. Edwin juga tahu kalau Angga sekarang statusnya adalah kekasih dari adik sepupunya. Dan harusnya dia tidak perlu khawatir jika Angga berusaha mendekati Viviane. Edwin hanya berjaga-jaga saja dengan kemungkinan buruk yang akan terjadi.
“mas?” panggi Viviane saat baru saja keluar dari fitting room dengan menggunakan gaun pengantin berwarna putih dengan hiasan mahkota di kepalanya.
Edwin yang sedang melamun tersentak kaget dan kini menatap sosok wanita yang yang sedang berdiri di hadapannya. Edwin sungguh terpesona dengan kecantikan natural yang terpancar dari kekasihnya. Padahal hanya memakai gaun pengantin saja dan tanpa memakai make up sedikit pun tapi kecantikan Viviane sangat terlihat jelas.
“mas??” dengan kesal Viviane memanggil Edwin lagi
“eh iya sayang?”
“apa gaun ini tidak cocok denganku?”
“cocok sekali. Kamu sangat cantik dengan gaun itu”
Blush…. Seketika wajah Viviane merona merah saat Edwin memuji kecantikannya.
Setelah mereka berdua selesai fitting baju pengantin, kini Edwin dan Viviane akan pergi ke studio foto. Dia akan melakukan foto prewedding. Sebenarnya Viviane tidak ingin melakukan foto prewedding. Dia juga ingin melangsungkan pernikahannya secara sederhana saja,namun mama Edwin yang menolak dan terus membujuk Viviane agar acara pernikahannya digelar secara mewah. Mengingat Edwin juga seorang pengusaha muda dan mempunyai banyak rekan bisnis.
Akhirnya Viviane mau tidak mau melakukan sesi foto preweddingnya. Namun dengan syarat tidak terlalu mewah dan tidak terlalu banyak foto yang diambil. Dan Edwin pun menurutinya. Jadi sesi foto prewedding mereka hanya dilakukan di dalam studio foto bukan di ruangan terbuka yang seperti kebiasaan orang-orang lakukan.
“mas nggak apa-apa kan jika aku minta konsep foto prewedding kita seperti ini?”
“nggak apa-apa sayang. Kamu tenang saja” jawab Edwin sambil tersenyum.
Kini mereka edang melakukan sesi foto preweddingnya. Meskipun hanya dilakukan di dalam studio foto, namun studio foto yang dipilih bukan studio sembarangan. Dan fotografernya juga sangat professional. Jadi hasilnya juga sangat memuaskan.
Setelah sekitar dua jam melakukan sesi foto prewedding, Edwin segera mengajak Viviane pulang. Namun sebelum pulang, mereka berdua menyempatkan diri untuk makan siang dulu. Meskipun sudah terlambat dari jadwal makan siang yang sesungguhnya, Edwin tetap mengajak Viviane untuk makan.
“sayang maaf ya tadi sampai melewatkan makan siang kita.”
“nggak apa-apa mas. Bukan salah mas juga karena memang kita tadi habis fitting baju langsung pergi ke studio foto.”
Mobil Edwin sudah sampai di sebuah restaurant. Mereka berdua segera masuk dan memilih tempat duduk. Pandangan Edwin tiba-tiba tertuju pada Laura yang kebetulan sedang makan disana. Kemudian Edwin menghampirinya.
“Ra? Ngapain kamu disini?”
“mas Edwin, kak Viviane. Aku makan lah mas, memangnya mau ngapain lagi?”
Melihat Laura yang duduk sendiri akhirnya Edwin pun mengajak Viviane untuk duduk bergabung dengan Laura. Setelah duduk, ada seorang pelayan yang datang dengan membawakan makanan yang sudah dipesan oleh Laura. Edwin pun juga sudah memesan makanan untuk dirinya dan Viviane.
“banyak banget Ra kamu makannya.” Goda Viviane
“kan aku nggak makan sendiri kak.”
“lho kita sudah pesan lho Ra tadi” ucap Edwin
“yee pede banget sih mas Edwin ini. Siapa juga yang mesenin makanan buat kalian. Ini tuh makanan pesanan aku dan mas Angga.”
“apa??” ucap Edwin dan Viviane bersama dengan nada terkejut.
“apa-apaan sih kalian ini. Biasa saja dong. Tuh mas Angga yang baru saja dari toilet.”
Kini pandangan Viviane dan Edwin mengarah pada Angga yang baru saja dari toilet. Edwin merasa menyesal telah duduk bergabung di meja Laura. Dia melupakan fakta bahwa Laura adalah kekasih Angga. Jadi tidak mungkin jika Laura pergi tanpa Angga. Sedangkan Viviane juga merasa tidak nyaman jika harus bertemu lagi dengan Angga. Apalagi bertemu dalam satu meja makan.
Angga berjalan dan semakin dekat. Dia heran kenapa ada Viviane dan juga Edwin di meja makan yang ia pesan bersama Laura. Apakah Laura sengaja mengajak Edwin untuk makan siang bersama setelah gagal mengajak makan malam tempo hari. Angga sebenarnya juga malas sekali untuk pergi berdua dengan Laura. Namun melihat Laura yang terus memohonnya agar mau makan siang bersama sekaligus untuk menebus kesalahannya tempo hari yang dengan lancangnya masuk ke dalam ruangan Angga dan tanpa sengaja menjatuhkan figura foto yang dianggap Angga sangat berarti. Akhirnya Angga terpaksa menerima ajakan Laura.
“ehm…” Angga berbasa-basi saat sudah tiba di mejanya.
“eh mas Angga, nih makanannya sudah datang. Oh iya ini tadi nggak sengaja mas Edwin dan kak Viviane juga makan disini jadi mereka sekalian bergabung bersama kita.”
“ehm maaf, jika keberatan lebih baik kita cari meja lain aja yuk mas!” ucap Viviane pada Edwin yang merasa tidak enak dengan Angga.
“nggak usah. Nggak masalah ko’ kalian bergabung disini. Anggap saja sebagai gantinya saat tempo hari aku yang tiba-tiba pergi saat makan malam itu.” Ucap Angga yang kini sedang duduk disamping Laura tapi matanya menatap lurus ke arah Viviane.
Viviane seketika ingat dimana malam itu Angga menciumnya bahkan ******* bibirnya dengan lembut saat mereka sedang berada di toilet. Viviane menjadi gugup saat pandangan Angga terus menuju ke arahnya. Edwin yang melihat itu hatinya merasa sangat gelisah.
“permisi tuan, nona ini makanannya.” Ucap pelayan restaurant yang baru saja tiba dengan membawa nampan yang berisi makanan.
“terima kasih.” Jawab Viviane
Mereka berempat kini sedang makan. Mereka makan dalam diam semua. Tidak ada pembicaraan sama sekali. Mereka sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
“kalian tadi habis dari mana?” Tanya Laura tiba-tiba.
“kita tadi habis fitting baju pengantin dan foto prewedding.” Jawab Edwin tegas dengan tatapan tajam ke arah Angga.
Deg
Angga sangat terkejut dan tanpa sadar dia menjatuhkan sendok yang sedang dia pegang.
.
.
.
*TBC
udah end yak
semangat terus mama dee-k 💟💟