Sebuah kecelakaan besar membuat hidup Ajeng berubah total. Karena sebuah balas budi dan intrik dari keluarga Demian dan Mahesa dia harus menikah dengan Raka, laki-laki yang diselamatkannya dengan seorang anak kecil.
Ajeng harus terjebak dalam konflik keluarga kaya. Kehadiran Ajeng membuatnya harus menjadi seorang mama untuk anak kecil yang dia selamatkan.
Apakah Ajeng bisa menemukan kebahagiaan dengan menjadi Mama anak itu. Atau dia justru terperangkap masalah dan konflik keluarga kaya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van Theglang Town, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semangkok Baso
Raka memarkirkan mobilnya agak jauh di depan rumah Ajeng. Dia agak ragu untuk masuk ke dalam rumah Ajeng. Dia takut kalau dia bertemu dengan Bang Arya. Bisa-bisa habis dibogem sama dia kalau nekat ke dalam. Raka sebenarnya berniat untuk menghubungi Ajeng agar dia bisa keluar sebentar. Agar dia bisa berbicara padanya. Tapi dia merasa ragu untuk menelepon atau memberinya pesan chat. Dia takut Ajeng malah tambah marah.
Raka menjadi tambah galau kalau ingat Ajeng mau menikah dengan kakaknya. Sementara dia masih ragu juga dengan perasaannya. Antara ingin dan tidak ingin bersama Ajeng. Dan dia semakin membenci Bayu karena dia malah berniat ingin menikahi Ajeng. Padahal dia sendiri masih status suami orang. Apa itu bukan serakah namanya. Nadia memang sakit dan terbaring di rumah sakit, tapi masa iya tega menikah di saat istrinya sedang sakit. Dan Raka yakin kalau Bayu juga sebenarnya hanya memanfaatkan Ajeng. Dia menggunakan Ajeng agar dirinya marah dan berbuat kesalahan.
Selama ini memang hubungan mereka tidak akur. Bayu selalu merasa kalau Raka adalah anak satu-satunya kesayangan mama. Dari kecil Raka dan Bayu memang sering bertengkar dalam hal apa pun. Keduanya berbeda sifat dan karakter. Bayu adalah tipe orang yang pendiam namun diam-diam memberontak kalau ada sesuatu yang menurutnya tidak sesuai dengannya. Sementara Raka adalah tipenya ceplas ceplos, sering membuat onar, namun dia selalu ingin membuat anggota keluarganya utuh. Mungkin karena papanya sudah meninggal. Raka tidak ingin keluarganya retak, meskipun dia hanya anak tiri dari Papanya Bayu.
Raka masih bimbang di dalam mobilnya. Dia melihat ke arah depan rumah Ajeng yang pintunya masih terbuka. Pertanda kalau penghuni rumah masih belum tidur. Mata Raka langsung terbelalak saat dia melihat seseorang keluar dari pintu itu. Seorang perempuan, tapi pada akhirnya Raka kecewa karena yang keluar adalah kakak iparnya Ajeng. Dia membawa sebuah plastik hitam besar ke depan rumah. Kemudian membuang plastik itu ke sebuah tong besar di depan rumahnya.Rupanya dia sedang membuang sampah. Merry, si kakak ipar itu sempat melihat ke arah mobilnya dengan tatapan curiga. Untungnya Raka mematikan lampu mobilnya, jadi Merry tidak tahu siapa orang yang berada di dalam mobil. Kemudian setelah itu Merry kembali ke dalam rumah dan menutup pintu rumah. Raka melihat pintu rumah ditutup semakin tipislah harapan dia ingin menemui Ajeng. Karena ini sudah malam, pasti mereka akan bersiap untuk tidur.
Teng Teng Teng ....
Terdengar suara khas yang biasa dipakai oleh seorang pedagang keliling. Dan Raka tahu itu suara apa. Biasanya itu adalah suara pedagang baso. Dan benar saja tukang baso itu muncul dari arah belakang mobilnya.
Raka memegang perutnya yang lapar, karena dia belum makan dari tadi. Mungkin dengan semangkok baso bisa mengenyangkan perutnya. Ditambah siapa tahu sambil makan baso, Ajeng nongol ke luar. Raka kemudian keluar mobilnya dan memangggil tukang baso itu.
"Bang, basonya 1 porsi jangan pake tauge ya!" pesan Raka pada tukang baso keliling itu. Akhirnya tukang bakso itu menepikan gerobak baksonya di tepi jalan tepat depan mobil Raka.
Teng Teng Teng ... Kembali si Abang tukang baso itu membunyikan suara sendok yang dia tabuhkan ke mangkok kosong sebelum Abang itu membuat pesanan baso Raka. Sambil menunggu pesanannya Raka mondar mandir di depan pagar rumah Ajeng sambil melihat-lihat. Berharap Ajeng ngintip di balik jendela dan dia akan melambai-lambaikan tangannya. Tapi sepertinya itu tidak terjadi.
"Mas, basonya sudah siap nih," panggil tukang basonya.
Kemudian Raka pun mengambil pesanannya. Dia celingak-celinguk mencari tempat duduk agar bisa makan baso sambil duduk. Namun karena tidak menemukan alas buat pantatnya duduk. Raka akhirnya memilih makan baso di dalam mobil. Makan baso tapi matanya sambil melihat perkembangan keadaan depan rumah Ajeng.
"Enak juga nih baso," kata Raka sambil makan dan fokus ke depan rumah Ajeng.
Beberapa lama kemudian, Raka melihat pintu rumah Ajeng terbuka dan keluarlah seseorang di balik pintu. Raka berharap Ajeng yang keluar. Namun lagi-lagi Raka menelan kekecewaan karena yang keluar justru abangnya Ajeng yaitu Arya. Raka menelan suapan terakhir basonya buru-buru karena panik yang keluar Arya. Saking buru-burunya dia menelan basonya, dia terbatuk-batuk karena tersedak baso. Raka kemudian mencari-cari air mineralnya. Namun ternyata sudah habis dia minum ketika menunggu tadi. Dia memukul-mukul dadanya supaya hilang batuknya. Dia hendak meminta air minum ke tukang baso dan celakanya Arya sedang menghampiri tukang baso, sepertinya dia juga sedang memesan baso.
Uhuhhuukk Uhhhhuuuuk. Raka tidak bisa menghentikan batuk karena tersedak baso. Dia butuh air minum. Tapi dia tidak bisa keluar mobil karena di depannya ada Arya yang sedang menunggu pesanan basonya. Suara batuknya makin lama makin keras karena Raka butuh air minum. Hidungnya sudah terasa panas dan pedas gara-gara kuah baso yang dia telan. Karena batuk jadinya kuah itu malah kehirup sampai hidung.
Karena merasa heran dengan suara batuk yang tidak berhenti, tukang baso itu ingat, dia belum memberikan air minum. Tergopoh-gopoh Abang tukang baso itu memberikan segelas air minum. Melihat itu Raka langsung mengambil gelas itu dan meminumnya sampai habis. Raka kemudian berusaha menenangkan pencernaannya dengan menarik dan menghembuskan napasnya dengan teratur. Si Abang itu pun tersenyum geli melihat ekspresi Raka yang lucu tersedak dan kepedasan.
"Mas makannya pelan-pelan dong!" ujar Abang itu menahan tawa karena Raka seperti orang yang mau lahiran.
"Makasih bang, basonya kepedasan , hehehehe," jawab Raka sambil melirik ke depan dan melihat Arya yang sedang berdiri melipat kedua tangannya menunggu abang tukang baso itu kembali ke gerobaknya.
"Berapa bang?" tanya Raka hendak membayar basonya dan ingin segera pergi sebelum Arya memergokinya.
"Lima belas ribu aja mas," jawab si abang sambil menerima mangkok kosong dari Raka. Sementara Raka merogoh saku celananya. Celaka. Dia tadi buru-buru pergi sampai lupa bawa dompetnya.
"Kenapa mas?" tanya abang tukang baso nya heran melihat wajah pias Raka yang kelupaan bawa dompet.
"Aduuh mas, ya kalau nggak punya uang jangan maksa pesan bakso dong!" kata si abang itu lemas melihat Raka yang sepertinya mencari-cari dompetnya.
Raka bingung bagaimana dia harus membayar basonya itu. Di saat itulah Arya menghampiri mobil Raka karena si abang lama tak kunjung kembali ke gerobaknya.
"Aduuhh gawaaaat, dia malah kemari," ujar Raka menggigit bibirnya.
"Kenapa Mas Pi, kok lama banget?" tanya Arya mendekat.
"Ini lho mas, mas ini makan baso tapi nggak bisa bayar, alasannya nggak bawa dompet,"jawab abang tukang baso yang diipanggil Mas Pi oleh Arya.
"Masa sih, bawa mobil kok ga bawa dompet, sita aja dulu mobilnya!" kata Arya sambil melongokkan kepalanya ke dalam mobil.
"Eloe!" teriak Arya.
"Eh, Bang Gor, apa kabar?" jawab Raka sambil melambaikan tangannya. Dia menampilkan senyum kotaknya pada Arya. Jujur dia sudah pasrah kalau sudah kepergok begini sama Arya.
"Ngapain loe di sini, malu-maluin gue aja loe makan baso kagak bisa bayar," kata Arya kemudian menyuruhnya keluar dari mobil.
"Mas Pi, udah biar aku aja yang bayar basonya dia," kata Arya pada Mas Pi.
"Lho, emangnya Mas Arya kenal sama dia?" tanya Mas Pi.
"Kenal, dia makhluk astral dari LA," jawab Arya asal.
Raka dengan perasaan yang cemas, takut dan kesal turun dari mobilnya. Sementara Arya dan Mas Pi kembali ke gerobaknya. Raka keluar dan menyandarkan tubuhnya di samping mobilnya. Dia melihat Arya sedang menuntaskan pesanannya. Wajahnya biasa saja saat tadi, apakah dia belum tahu masalah yang dihadapi Ajeng. Raka bersyukur kalau Ajeng belum sempat cerita pada abangnya. Kalau nggak, dia bakal dihajar habis-habisan sama dia malam ini.
Kemudian Arya memegang dua mangkok baso hendak dibawa ke dalam rumah. Dan melihat Raka yang masih berdiri menyandar di mobilnya.
"Hei Tung, ngapain loe disitu, kemari bantuin gue bawa ini!" teriak Arya memanggil Raka. Sementara Raka bingung siapa yang dimaksud Arya.
"Wooooiii yang lagi nyandar di mobil, ya eluu,siapa lagi yang gue panggil kalo bukan elu," teriak Arya. Kemudian Raka segera berjalan menuju Arya.
"Bawain Tung punya si Ajeng sama Bunda!" perintah Arya sambil memberi kode ke gerobak. Ada dua mangkok baso yang masih menunggu untuk di bawa.
Dengan sigap Raka kemudian membawa dua mangkok itu dan mengekor berjalan di belakang Arya dengan jantung dag dig dug takut. Kenapa dia memanggilnya dengan sebutan "Tung", Kentung, Buntung, apa sih. Namanya Raka Mahesa, apa dia mencoba memanggil namanya dengan julukan sama seperti dia memanggil Ajeng dengan sebutan "Nyet".
Mereka sampai di dalam. Ternyata ada Bunda dan Merry sedang menonton televisi di ruang tengah. Melihat kedatangan Arya dibuntuti Raka di belakangnya membuat Bunda dan Merry terkejut.
"Nak Raka, kok bisa bawa mangkok baso," kata Bunda sambil meraih satu mangkok basonya.
"Iya Bun, kebetulan tadi ketemu di depan."
"Dia makan baso tapi kagak bisa bayar Bun," curhat Arya sambil memberi satu mangkok baso ke istrinya Merry.
"Hehehe, iya Bun, dompet Raka ketinggalan, tadi buru-buru," jawab Raka sambil tertawa dengan suara khasnya. Bunda tersenyum dan tertawa kecil mendengarnya.
"Loe punya hutang sama gue Tung, ingat lima belas ribu!" kata Arya sambil memulai suapan pertama basonya. Kemudian fokus menatap layar televisi yang sedang menayangkan program kontes penyanyi dangdut.
"Siap Bang, nanti aku ganti!" jawab Raka merasa heran dengan keadaan ini.Dia tidak melihat yang aneh dengan keluarga ini setelah Ajeng kembali ke rumah. Seharusnya suasana rumah pasti sedang tidak nyaman. Apalagi setelah mereka batal pergi ke rumahnya untuk membicarakan masalah pernikahan. Seharusnya Raka, Bunda, dan Merry sudah mencecarnya dengan pertanyaan atau pukulan dari Arya.
"Kok masih berdiri di situ, sana anterin basonya ke kamar Ajeng!" suruh Arya.
Raka gelagapan mendengar perintah Arya. Hatinya jadi kembang kempis saat Arya menyuruhnya membawakan baso ke kamarnya Ajeng. Dengan perasaan yang entahlah Raka sendiri tidak sanggup mengartikan degupan jantung itu. Berdebar karena takut digebukin Arya atau berdebar karena mau bertemu dengan Ajeng.
Dengan perasaan yang belum tahu apa itu, Raka mengetuk pintu kamar Ajeng.
"Bang, Ajeng udah bilang, Ajeng nggak mau ba ..." Ajeng terkejut melihat yang datang Raka membawa semangkok baso. Saat itu Ajeng sedang asyik melihat sebuah film di laptopnya dengan posisi telungkup di ranjang dengan kepala menghadap layar monitor laptop. Raka melihat Ajeng sedang memakai hot pants hitam dan kaos gombrang berwarna pink. Raka baru melihat kaki dan paha Ajeng yang mulus karena selama ini Ajeng tak pernah tampil minim di depannya.
Melihat yang datang bukan abangnya Ajeng langsung bangun terduduk di tepi ranjang.
"Ka-kamu kenapa bisa ke sini?" tanya Ajeng.
Raka kemudian masuk dan langsung menyodorkan mangkok baso.
"Makan dulu, enak lho, tadi aku udah nyobain di depan!" kata Arya.
"Aku lagi nggak mau makan baso!"sahut Ajeng menolak mangkok baso itu.
"Aku suapin ya?" kata Raka sambil menatap wajah Ajeng yang mencoba menghindari tatapannya.
"Aku kan dah bilang nggak mau, habisin sama kamu aja!" kata Ajeng dengan nada yang ketus dan tidak peduli.
Raka kemudian menyimpan mangkok basonya di atas meja rias Ajeng yang terletak di samping tempat tidurnya. Raka melihat-lihat isi kamar Ajeng. Tidak terlalu luas dan sangat sempit. Hanya ada satu ranjang berukuran satu orang, satu meja rias dan satu lemari pakaian yang tidak terlalu besar. Melihat Raka yang sedang melihat-lihat kamarnya Ajeng kemudian mendorong tubuh Raka yang kekar itu.
"Keluar sana, jangan ada di sini!" kata Ajeng mendorong-dorong tubuh Raka agar dia mau keluar dari kamarnya. Tenaga Ajeng ternyata jauh lebih besar daripada tubuhnya yang kecil itu rupanya berhasil membuat Raka tersudut dan hampir terjatuh kalau dia tidak menahan tubuhnya dengan menarik tangan Ajeng. Karena tarikan Raka Ajeng kehilangan keseimbanganny karena berat badan Raka yang jauh lebih berat dari tubuhnya yang kecil. Ajeng pun terjengkang ke belakang tepat ke atas kasur dengan posisi Raka hampir menindihnya.Kalau saja Raka tidak menahan kedua tangannya di ranjang. Ajeng menatap wajah Raka yang sedang berada di atas wajahnya. Seperti terkena setrum listrik Ajeng pun terkesima dengan tatapan maut Raka.
"Kamu cantik dan manis kalau lagi diam seperti ini," kata Raka dengan suara pelan dan membiarkan Ajeng tetap dalam cengkraman tangannya.
Merasa mendapatkan pelecehan dari Raka. Ajeng pun menendang Raka dengan lututnya dan mengenai aset berharganya.
"Aaawwww," teriak Raka langsung berdiri dan memegang selangkangannya yang terkena tendangan Ajeng.
"Dasar mesum!" sumpah serapah ala khas Ajeng pun keluar.
Raka meringis kesakitan menahan malu dan marah.
"Keluar dan pergi dari sini!"usir Ajeng.
"Aku ke sini kan cuma mau bicara sama kamu," kata Raka masih memegang selangkangannya yang sakit.
"Tidak ada yang mesti dibicarakan lagi!" kaa Ajeng tidak peduli.
"Tentu ada dan harus dibicarakan, pokoknya aku nggak mau kamu menikah sama Bayu TITIK," kata Raka langsung ke akar masalah yang ingin dia katakan.
"Memangnya kalau aku menikah sama Kak Bayu kenapa?" tanya Ajeng berbalik tanya. Padahal jelas dia juga sudah tidak memutuskan untuk tidak mengikuti rencana Bayu.
"Pokoknya aku nggak mau, kalau kamu menikah sama Bayu, aku akan ...."
"Akan apa?"tanya Ajeng penasaran dengan jawaban Raka.
Raka tidak bisa menjawab.Dia juga tidak tahu harus mengatakan apa. Karena memang dia tidak menginginka Ajeng jadi kakak iparnya. Kalau itu terjadi, Raka tidak bisa menjamin kalau nanti mungkin dia menginginkan Ajeng menjadi istrinya juga. Sebelum itu terjadi, dia harus mencegahnya.Namun saat ini dia juga belum terlalu yakin apakah dia sebenarnya menyukai Ajeng hanya karena menginginkan malam pertamanya saja atau dia sungguh-sungguh menyukainya.
Ajeng terlihat menunggu jawaban Raka yang masih tidak mau menjawab. Wajah Raka nampak memerah dan terlihat tertekan.
Bersambung...
"Bayu, kemana kau bang?" panggil author. Sudah lama sekali author tidak memanggil Bayu untuk promosiin MMMM.
"Bayu lagi ngumpet dulu Thor, dia kan mesti siapin mental dulu buat menjadi suami yang poligami,kikikikik," jawab Randy cekikikan.
"Eh kenapa loe yang muncul?" tanya author.
"Haruslah, aku juga kan punya peran penting di sini thor," kata Randy dengan senyuman evilnya.
"Hmmmmm, gimana ya, kamu itu sebenarnya tipe-tipe asisten yang misterius, kamu tuh orang baik apa jahat ya?" tanya author.
"Terserah author mau ngasih peran apa sama aku, yang jelas peranku di sini jangan dilupakan!" kata Randy.
"Baiklah, aku akan buat peranmu lebih menarik lagi, sekarang buru gantiin Arya promo, soalnya kelihatanya dia lagi mules gara-gara makan baso kebanyakan sambel!" kata author.
Randy pun mengacungkan jempolnya pertanda paham.
"Reader, seperti biasa jangan lupa like,komen, kasih vote yang banyak. Dan please jangan malas untuk membagikan link MMMM ke medsos kalian."
Pokonya jangan lupa!
Dont Forget!
Ojo lali!
Tong hilap!
Ij-ji maseyo!
mungkin dengan raka jujur di awal ajeng akan mengerti tidak salah paham begini