"Zee, kalau Zee udah besar nanti. Zee nikahnya sama Kak Bian, ya?" ucap Albian pada bayi mungil yang ada di dalam pangkuan sang Ibu. Seolah mengerti maksud Bian. Zeeviana kecil pun tersenyum, sambil menggerakkan tangganya. Mencoba untuk menyentuh wajah tampan Albian yang menatap ke arahnya.
"Janji, ya?" Bian memberikan jari kelingkingnya, dan Zeeviana menggenggamnya, dengan genggaman yang begitu erat.
× × ×
"Aku tidak menyangka, kalau aku benar-benar jatuh cinta padanya!"
- Zeeviana.
"Aku akan melakukan apapun yang membuatnya bahagia. Tidak akan memaksa jika dia tidak ingin menepati janjinya!"
- Albian Wijaya Saputra.
× × ×
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha Annisa Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan?
...💙 Episode - 28 💙...
"Morgan? Apakah kamu sedang diet?" tanya Bian karena Morgan hanya memakan satu buah apel merah segar dan segelas susu hangat saja.
"Tidak, Kak. Aku ada janji dengan seseorang malam ini. Jadi aku pikir, aku akan makan malam di sana saja nanti," jawab Morgan jujur.
"Siapa? Apakah dia gadismu?" Tebak Bian lalu memasukkan suapan terakhirnya ke dalam mulutnya. Kunyah, kunyah, habis juga makan malam yang Bi Erna hidangkan.
"Bukan, dia bukan gadisku," bantah Morgan.
"Lalu? Apakah dia rekan bisnismu?" Bian mulai tertarik untuk menggoda Morgan.
"Bisa dibilang begitu."
Ya, Fathia bisa dibilang rekan kerja. Tidak ada salahnya kan jika Morgan menganggap Fathia sebagai rekan kerjanya?
"Baiklah, kamu berhak melindungi privasimu dariku. Siapapun dia, aku harap kencan kalian berjalan dengan lancar!" ujar Bian kemudian membersihkan sudut bibirnya dengan tisu. Pria itu merapikan meja makan, meletakkan semua piring kotor di dapur.
'Kencan? Kak Bian bilang kencan tadi!' Batin Morgan geram. Morgan bangkit dari duduknya. Ia berjalan menghampiri Bian yang sibuk mengaduk susu hangatnya.
"Aku tidak ken...,"
"Sudah, sudah. Jangan banyak mengelak, Morgan! Lebih baik kamu rapikan sedikit penampilanmu itu. Supaya kamu terlihat lebih sempurna, dan gadismu lebih terpesona lagi padamu!" Sela Bian dengan tersenyum kejam.
"Terserah, aku tidak peduli dengan apa yang Kak Bian pikirkan! Intinya, aku tidak pergi berkencan!" Tegas Morgan lalu beranjak meninggalkan Bian.
"Jangan lupa bawakan bunga juga untuknya! Aku jamin, dia semakin jatuh cinta padamu...," Teriak Bian memecahkan gendang telinga Morgan. Morgan hanya menoleh sejenak lalu berdecak kesal sendiri pada Bian.
'Aku menyesal berkata jujur padamu, Kak! Aku benar-benar menyesal!' Batin Morgan.
Morgan merapikan jas dan juga rambutnya. Ia membuka pintu mobil kemudian melajukan mobil itu menuju kafe Nirwana. Morgan berpikir, Fathia pasti sudah datang dan menunggunya.
Sesampainya di sana. Morgan langsung mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kafe. Tenyata apa yang Morgan duga salah, Fathia sama sekali tidak ada di sana. Dan mungkin sedang dalam perjalanan ke kafe sekarang. Atau mungkin, gadis itu masih di rumah dan tidak akan datang menemui Morgan?
'Semoga saja dia tidak lupa!' Batin Morgan. Seolah dia mengharapkan Fathia datang. Dan bisa menemaninya makan malam. Karena jujur, Morgan sudah lama tidak berkencan dan makan malam dengan seorang wanita selama ini. Ini adalah makan malam pertamanya setelah hampir 3 tahun dengan seorang wanita.
Sambil mengunggu kedatangan Fathia. Morgan pun memutuskan untuk memesan makanan dan minuman terlebih dahulu. Karena Morgan tidak tau makanan dan minuman apa yang Fathia sukai, dia pun menyamakan dengan pesanannya saja.
10 menit kemudian ...
Seorang gadis dengan jaket hitam dan baju kaos berwarna putih memasuki kafe. Gadis itu menatap ke arah seluruh sudut kafe. Matanya melebar saat melihat sosok yang sedang dicarinya. Ia pun melangkah mendekati meja yang diduduki oleh pria berjas biru tua dengan kemeja berwarna putih itu.
"Kamu datang rupanya!" gumam Morgan saat Fathia melangkah semakin dekat ke arahnya. Entah apa yang mendorong tubuh Morgan sampai ia berdiri dan menarik kursi untuk gadis itu.
"Duduklah," ucap Morgan dengan wajah datar. Dia sedang menjaga harga dirinya di hadapan Fathia.
"Terimakasih, Tuan!" Fathia duduk di hadapan Morgan. Otak halunya mulai aktif saat melihat wajah pria setampan Morgan. Morgan sudah seperti visual yang sangat cocok untuk bayangan jodoh di dalam kepalanya. Hehehe.
"Khemm!" Morgan berdehem, mengagetkan Fathia yang sedang bertraveling dengan otak halunya.
"Kenapa, Nona? Apakah ada yang salah dengan wajah saya?" tanya Morgan sambil memajukan wajah ke arah Fathia.
"Ti-Tidak, Tuan. Tidak ada yang salah dengan wajah tampan Anda!" Jawab Fathia kemudian menutup mulutnya dengan tangan kanan.
"Maksud saya, tidak ada yang salah dengan wajah Anda." Fathia menjelaskan lagi. Tanpa menggunakan kata "Tampan."
"Hemmm, wajahku memang tampan. Jadi tidak heran kalau kamu juga memuji ketampanan wajahku," ucap Morgan lalu kembali duduk dengan tenang.
'Idih, ternyata Tuan Morgan ini pede juga, ya?' Batin Fathia. Tapi tetap saja dia memuji ketampanan Morgan dalam hatinya.
"Permisi, Tuan." Dua orang pelayan datang. Satunya membawakan nampan yang berisikan makanan pesanan Morgan. Dan satunya lagi membawakan minuman.
"Selamat menikmati, Tuan, Nona," ucap kedua pelayan itu, setelah mereka meletakkan dan menyusun semua pesanan di atas meja.
"Terimakasih," ucap Fathia mewakili Morgan.
Morgan menatap Fathia sejenak. Fathia tidak jauh berbeda dengan Zeeviana. Hanya saja yang ini lebih mudah untuk diajak bekerja sama. Tidak seperti Zeeviana yang selalu tertutup dan memberi garis besar seperti apa hubungan mereka. Zeeviana terlalu formal bagi pria seperti Morgan.
"Jangan melirikku terus, bisa-bisa kamu tersedak karena terlalu mengagumi ketampananku!" ucap Morgan saat menangkap basah mata Fathia yang terus melirik ke arahnya.
"Aku tidak melirikmu!" Bantah Fathia lalu mengalihkan pandangannya. Ia mengunyah kesal makanan yang ada di dalam mulutnya.
Morgan hanya tersenyum tipis melihat tingkah Fathia. 'Katanya tidak melirikku, tapi matamu selalu mencuri kesempatan untuk menatap ke arahku,' Batin Morgan. Kini dia yang menatap ke arah Fathia dengan kedua tangan dilipat di depan dada.
"Habiskan dulu makannya. Santai dan tenang saja," ucap Morgan. Dia sendiri sudah kenyang, bahkan dengan memakan seperempat dari makanannya. Matanya kini lebih tertarik untuk memperhatikan gadis yang masih menyantap makanan di depannya.
"Jangan menatapku seperti itu! Nanti kamu diabetes karena kemanisan yang ada di wajahku!" Ujar Fathia. Morgan langsung keselek biji salak mendengarnya.
"Tidak ada manisnya sama sekali! Yang ada pahit, sepahit kopi hitam gosong!" ucap Morgan. Ia menahan tawanya saat melihat ekspresi kesal di wajah Fathia.
"Sudah, aku sudah tidak berselera makan lagi." Fathia meneguk minumannya. Rasanya begitu aneh di tenggorokan Fathia. Namun karena haus, Fathia tetap meneguknya.
"Sekarang katakan, apa yang ingin Tuan Morgan tanyakan pada saya?"
"Sussst...," Morgan meletakkan jari telunjuknya di atas bibir gadis itu. "Jangan ngegas, santai dan kecilkan suaramu. Aku tidak ingin orang-orang berpikir kalau aku sedang bertengkar dengan istriku!"
"Siapa juga yang mau jadi istrimu, Tuan Morgan!"
jdi om Mateng inikah yg akan jdi pendamping omom.
tapi benar jangan tatap matanya takutnya kena hipnotis ...