"Tatapan seperti itu bukanlah tatapan yang dimiliki orang yang takut dan putus asa"
"Tetapi, keberanian tanpa kemampuan hanyalah omong kosong belaka"
Tidak pernah terbayangkan oleh Giro sebelumnya, bahwa hari itu merupakan hari yang akan menentukan arah takdirnya.
Di usia yang begitu muda, Giro harus mengalami pengalaman yang akan selalu membekas di benaknya, pengalaman yang akan selalu menghantui bunga tidurnya setiap malam.
Tetapi, bayangan dari orang-orang yang ia sayangi mampu membuatnya mengangkat asanya yang perlahan hilang, menariknya agar terus melangkah tanpa peduli seberapa berat halangan yang menantinya.
Mampukah Giro menjawab kepercayaan orang-orang terhadapnya?
"Kau tidak akan bisa melakukannya jika kau bahkan tidak bisa bertahan hidup"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bophi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Act 29 : The End of the Nightfall
Malam semakin mencekam. Gemuruh teriakan perjuangan memenuhi langit malam. Harapan dan keputusasaan saling berbenturan, menghiasi gemerlap sang bintang. Malam itu, sejarah baru tercipta. Sejarah yang mungkin, kelak menjadi kebaikan atau keburukan.
"SERAAAAAANG!!!" dengan begitu lantang, Huesca meneriakan perintahnya. Para prajurit yang sudah bersiap langsung berhamburan keluar dari kastil untuk segera memenuhi tanggung jawab mereka.
Mata para prajurit seolah bersinar di bawah sinar rembulan, menambah kengerian dari tekanan yang mereka berikan kepada para pasukan musuh. Namun tentu saja, musuh mereka bukanlah kelompok biasa yang bisa tertekan hanya karena hal demikian.
"Semuanya, mari kita catatkan sejarah baru untuk kota ini. Maju!" teriak Lazor kepada pasukannya yang sudah tidak sabar segera menerjang.
Seketika pasukan ravager menyerang, rasa lapar mereka akan pertarungan tidak bisa mereka tahan lebih lama lagi. Mereka berhamburan menyambut pasukan kota yang menyerbu mereka dari arah depan.
Tak butuh lama, bentrokan pun terjadi. Suara lantang dari senjata yang saling berbenturan menghiasi suasana malam itu. Teriakan kemenangan maupun keputusasaan saling bercampur, memekik telinga siapapun yang mendengarnya.
"Kemampuanmu sepertinya tidak berkurang" ujar Huesca yang melihat Rendi dengan tenang menghadapi serangan pasukan musuh.
"Tentu saja. Aku mungkin sudah kehilangan insting bertarungku, namun teknikku tidak akan pernah hilang" ujar Rendi dengan tenang. Dia menghabisi banyak pasukan musuh dengan mudah.
"Tuan, sebaiknya Anda tetap berada di belakang, biar kami yang menahan mereka! Orang-orang ini tidak ada apa-apanya dibandingkan pasukan kita yang terlatih!" seru Ervern yang meminta Huesca agar mundur dari sana.
"Kau pikir aku siapa? Aku adalah pemimpin dari kota ini! Jika aku hanya berdiri di belakang tanpa melakukan apapun, apa yang bisa aku banggakan kepada keluargaku?" tolak Huesca.
"Biarkan saja, Ervern. Tuan kita bukanlah pria yang lemah! Beliau tidak akan membiarkan kota ini hancur begitu saja!" ujar Hijai yang bersemangat menahan gempuran musuh.
Pertarungan semakin memanas. Puluhan orang telah tumbang dari kedua belah pihak. Teriakan dari para petarung semakin membahana, memikul beban rekan-rekan mereka yang telah tiada.
"Tuan, aku merasa ada yang tidak beres. Mereka yang berada di sisi kanan dan kiri sama sekali tidak bergerak." Ujar Ervern yang merasa ada yang janggal dengan keadaan saat itu sambil menangkis serangan yang menuju kearahnya.
Huesca mencoba melihat keadaan saat itu. Pasukan mereka masih cukup kokoh bertahan dari gempuran pasukan musuh. Para ketua dari tiap pasukan masih terlihat bersemangat. Namun yang Ervern katakan benar, rencana mereka adalah menyerang dari depan agar pasukan mereka yang berada di kanan dan kiri bergerak ke depan dan membantu pasukan mereka yang bertarung di depan. Namun sampai saat ini, pasukan mereka terlihat masih tetap di posisi mereka.
"Apa mereka tidak mempedulikan teman-teman mereka yang gugur disini?" gumam Huesca.
"Bagaimana rencana kita selanjutnya, Tuan?" tanya Rendi yang bergerak mendekatinya.
"Kita tetap lanjutkan rencana kita! Semuanya, jangan beri kelonggaran kepada pasukan musuh!" teriaknya sambil kembali memicu semangat para prajurit.
Mereka pun melanjutkan pertarungan, berharap jika rencana yang telah mereka siapkan akan berjalan dengan lancar.
"Mungkin mereka masih belum merasa terpojok oleh serangan kita sehingga mereka tidak berpikir harus membantu pasukan di depan. Kita harus tetap seperti ini dan mencoba membuat mereka akhirnya bergerak!" ujar Huesca memberikan perintah kepada para ketua pasukan.
"Dimengerti!" ujar mereka serempak dan langsung memberikan perintah kepada pasukan mereka masing-masing.
Sementara itu di tempat lain. Hanzo yang memimpin pasukan yang bertugas untuk menyerang dari belakang terlihat gusar. Pertarungan terlihat sudah berlangsung beberapa saat namun sinyal yang mereka harapkan masih belum terlihat.
"Apa kau yakin tidak ada yang salah? Mereka seharusnya sudah bergerak sesuai rencana kita..." tanya Hanzo kepada salah satu ketua yang juga menanti disana.
"Percayalah kepada mereka. Tuan Huesca tidak akan melakukan hal yang tidak perlu. Tapi untuk memastikan apa yang terjadi, kita harus mencoba memeriksa keadaan disana. Bir, kau pergi kesana dan kau temui Huesca yang berada disana" ujar Dessoca yang juga terlihat cemas melihat keadaan saat itu.
Bir segera pergi dari sana menuju pasukan yang sedang bertarung di garis depan.
Sementara itu pasukan Huesca yang berada di depan perlahan semakin terpukul ke belakang, jumlah mereka sedikit demi sedikit berkurang. Gempuran dari para savager tidak mampu mereka tahan lebih lama lagi. Rasa cemas di wajah para prajurit yang sedang bertarung semakin terlihat begitu kentara.
"Tuan, para pasukan yang berada di belakang sudah bersiap menerima perintah dari Anda" ujar Biar yang tiba-tiba berada di belakang Huesca.
"Rendi, bagaimana menurutmu?" tanya Huesca kepada Rendi yang masih sibuk menahan beberapa orang sekaligus.
"Ada yang aneh... yang kupikirkan sekarang adalah kita harus segera bergerak sebelum semuanya terlambat. Sepertinya mereka mengetahui rencana kita" jawab Rendi.
"Kau benar..." ujar Huesca mencoba mencari jalan keluar dari keadaan yang sedang mereka hadapi.
"Bir, kau pergi kesana dan berikan perintah untuk menyerang. Serang mereka dari sisi kiri sekuat mungkin" perintahnya kepada Bir.
"Baik, Tuan" ujar Bir dan langsung pergi dari sana.
"Semuanya! Tetap pertahankan posisi kita! Kita tidak boleh menyerahkan garis depan kepada mereka!" teriak Huesca memberikan semangat kepada para prajurit yang masih bertarung di garis depan.
"Para ketua mereka mulai bergerak, Tuan!" teriak Hijai yang melihat pergerakan dari para ketua yang sejak tadi masih berdiam diri.
"Sial! Ini bukan waktu yang tepat untuk menghadapi mereka! Ervern, Goki, Hijai! Kalian ikut aku dan kita akan menghadapi mereka!" perintah Huesca kepada para ketua tim yang bersamanya.
"Baik, Tuan!" jawab mereka serempak.
"Tidak, Tuan. Anda harus tetap disini dan memberikan perintah kepada pasukan yang masih bertarung. Biar aku yang pergi dengan mereka" ujar Rendi yang meminta Huesca agar tetap disini dan mencari jalan keluar dari situasi ini.
"Tapi aku tidak bisa membiarkan mereka berbuat semaunya! Biar aku yang memberi mereka pelajaran karena telah berani menekan kita seperti ini!" ujar Huesca.
"Anda adalah pemimpin kelompok ini! Jika terjadi sesuatu kepada Anda, pasukan kita tidak akan bisa tetap bertahan!" seru Rendi meyakinkan Huesca.
"Percayakan kepada kami, Tuan. Kami akan memastikan para ketua itu tidak akan mampu berbuat banyak!" ujar Ervern yang juga meyakinkan Huesca.
"Baiklah, aku percayakan kepada kalian! Kalian berempat majulah, biar aku yang menangani keadaan disini" perintah Huesca.
"Laksanakan, Tuan!" jawab mereka dan langsung pergi menuju para ketua dari kelompok lawan yang bersiap menyerang.
Sementara itu dari pihak lawan, Kapten Lazor terlihat masih tenang dengan situasi saat itu. Dia merasa jika rencana para pasukan kastil sudah bisa ia tangani dengan baik.
"Aku akan pergi" ujarnya.
"Kau yakin?" tanya Eadgar yang berada di sebelahnya.
"Ya, aku akan segera mengakhiri perlawanan mereka" jawab Lazor dengan serius.
"Baiklah kalau begitu. Aku ikut denganmu" ujar Eadgar yang juga bersiap mengikuti Kapten.
Mereka segera menerobos pertarungan dan menuju Huesca yang sendirian tanpa para pengawal utamanya.
"Tuan Huesca, awas!" teriak salah satu prajurit yang melihat serangan dari Kapten Lazor menuju Huesca.
Braakkk!!
Huesca bisa menghindari serangan kejutan dari Lazor tersebut. Dia menatap mata Lazor dengan tajam.
"Kau muncul juga. Kita akhiri semuanya disini!" ujar Huesca yang langsung menyerang Lazor.
"Itu yang aku inginkan" gumam Lazor yang juga menyerang Huesca.
Mereka berdua langsung bertempur. Huesca yang terlihat cukup kelelahan, terlihat kewalahan dengan serangan-serangan yang dilancarkan oleh Lazor. Dia bersusah payah menahan gempuran yang dilakukan Lazor.
"Ervern! Kita dijebak! Kapten mereka menyerang Tuan Huesca yang sendirian!" teriak Hijai yang sedang bertarung dengan salah satu ketua dari kelompol lawan.
Ervern segera melihat ke arah Huesca. Dia melihat Huesca sedang bertarung dengan Kapten Lazor dengan susah payah.
"Sialan! Tidak akan aku biarkan!" serunya sambil mencoba mencari sesuatu yang bisa ia lakukan untuk membantu Huesca.
"Kalian pergilah bantu dia, aku akan menahan orang-orang ini" ujar Rendi yang terlihat begitu serius.
"Tuan Rendi... tapi, mereka adalah para ketua kepercayaan Kapten, Anda tidak bisa mengalahkan mereka sendirian!" ujar Ervern yang tidak yakin jika Rendi bisa menahan mereka sendirian.
"Pergilah! Kau kira siapa aku? Cecunguk seperti mereka tidak akan bisa melewatiku!" perintah Rendi kepada para ketua yang masih berada disana.
"Baiklah! Kami serahkan mereka kepada Anda, Tuan Rendi!" ujar Ervern yang segera pergi dari sana untuk membantu Huesca.
Ervern dan yang lainnya segera menuju ke arah Huesca untuk membantunya menghadapi Kapten.
"Dasar kau pria licik!" seru Ervern sambil menyerang Kapten yang sedang bertarung dengan Huesca.
"Oh tidak bisa, kalian tidak bisa mengganggu Kapten dengan mudah" ujar Eadgar yang langsung menahan serang Ervern sebelum sempat mengenai Kapten.
"Kau!" ujar Ervern yang kesal karena ia dihalangi oleh Eadgar.
Pertarungan mereka pun tidak dapat dihindari. Ervern yang mencoba membantu Huesca, harus menghadapi Eadgar yang merupakan tangan kanan Kapten Lazor. Dia tidak bisa meremehkan kekuatannya.
"Kau adalah pengawal yang selain kuat, juga sangat setia dengan tuanmu. Aku merasa sangat terhormat karena bisa menghadapimu" ujar Eadgar kepadanya.
"Terima kasih atas pujianmu. Tapi aku disini bukan untuk mengobrol, aku akan melindungi Tuanku dan kota ini dengan semua yang aku punya!" ujar Ervern yang langsung menyerang Eadgar dengan seluruh kekuatannya.
Mereka berdua pun bertarung di posisi mereka. Sedangkan Hijai dan Goki yang datang bersama Ervern bisa lolos dari halangan Eadgar dan menuju ke arah Huesca yang sedang bertarung dengan Kapten.
"Maafkan kami telat, Tuan!" ujar Hijai yang langsung berdiri di sebelah Huesca.
"Kenapa kalian datang kesini? Bagaimana dengan para ketua yang berada disana?" tanya Huesca kepada mereka.
"Tuan Rendi melawan mereka seorang diri, dan menyuruh kita agar membantu Anda menghadapi orang ini" jawab Hijai.
"Kau yakin hanya ini yang menjadi bala bantuanmu?" ujar Kapten.
"Kau akan menyesal jika berani meremehkan kami" ujar Hijai yang langsung menyerang Kapten.
Mereka pun segera bertarung melawan Kapten yang hanya seorang diri. Di tempat lain, Ervern masih sengit melawan Eadgar, masih belum terlihat tanda-tanda pertarungan mereka akan segera berakhir.
Sementara itu para pasukan yang bertugas menyerang dari belakang berhasil menumbangkan pasukan yang berada di sisi kiri. Mereka bergerak menuju lokasi Huesca untuk membantunya menahan gempuran pasukan ravager yang tidak ada hentinya.
Tetapi ternyata semua itu tidak ada artinya. Kekuatan Huesca dan pengawalnya masih belum bisa menahan kekuatan yang ditunjukkan oleh Kapten. Satu persatu dari mereka tumbang melawan Kapten yang hanya seorang diri. Teriakan keputusasaan terdengar begitu nyaring di langit kota malam itu.
Perlawanan yang begitu gigih dari para pasukan kota tidak mampu menahan kekuatan dari pasukan Kapten Lazor. Perjuangan yang telah mereka tunjukkan ternyata masih belum cukup menghentikan Kapten Lazor untuk menguasai kota itu.
"Menyerahlah, Huesca. Kau adalah orang yang sangat kuat. Tapi, kau masih belum cukup kuat untuk menghentikanku. Berhentilah, dan aku mungkin akan mengampuni nyawamu" ujar Kapten yang melihat Huesca terengah-engah. Wajahnya penuh dengan amarah saat melihat pengawal-pengawalnya dikalahkan befitu saja.
"Aku tidak akan pernah menyerahkan kota ini kepada kelompok seperti kalian! Lebih baik aku mati daripada harus berlutut kepadamu!" ujar Huesca yang terlihat begitu kelelahan. Tubuhnya sudah penuh dengan luka dari serangan-serangan Kapten.
"Baiklah, akan ku kabulkan permintaanmu" ujar Kapten yang langsung menyerang Huesca dengan kekuatan penuhnya.
Suasana seketika hening. Semua mata tertuju kearah pertempuran antara Huesca dan Kapten. Rasa putus asa dari para prajurit kota seketika memenuhi medan perang. Raut wajah para prajurit kota terlihat begitu rapuh. Mereka tidak menyangka jika seperti inilah akhirnya.
"Tuan Huesca!" teriak Ervern yang melihat Huesca tumbang di tangan Kapten Lazor.
Ervern berlari kearahnya. Meninggalkan pertarungannya bersama Eadgar. Saat ia tiba disana, tubuh Huesca sudah lemas tak bernyawa. Dia menangis, mengangkat tubuh Huesca yang terbujur kaku ke pelukannya. Dia mendekapnya dalam kesedihan. Dia merasa tidak berguna, tugasnya sebagai pengawal adalah memastikan keselematan dari tuannya. Namun dia gagal.
"Kau akan membayarnya!" teriaknya sambil membalikkan badannya, hendak menyerang Kapten.
Namun, tepat saat dia membalikkan badan, pedang Kapten sudah menusuk tubuhnya. Membuatnya terdiam kaku, tidak bisa bergerak. Darah segar begitu deras keluar dari perutnya. Dia menyesal, bukan karena ia akan mati. Tetapi karena ia akan mati tanpa mampu melakukan apapun untuk tuannya.
"Kalian bertarung dengan luar biasa. Semua pasukan dengarkan aku! Hentikan perlawanan kalian! Dan aku akan menjamin keselamatan kalian beserta kota ini! Jika kalian masih melawan, jangan salahkan aku jika kota ini akan berakhir dengan tragis!" teriak Kapten kepada para pasukan kota yang tersisa.
Para pasukan yang sejak kematian Huesca sudah kehilangan semangatnya langsung menjatuhkan pedang mereka, tanda bahwa mereka menyerah dan tidak akan melawan lagi.
"Kumpulkan jasad siapapun yang gugur. Dan kubur tubuh mereka dengan layak" perintah Kapten dan segera pergi dari sana.
Malam itu pun kembali menjadi malam yang sunyi. Suara pertarungan yang sebelumnya menghiasi langit berubah menjadi kesunyian yang mencekam. Mereka yang masih hidup sudah kehilangan semangat mereka. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kota yang selama ini mereka tinggali setelah kejadian itu.
Dan lembar sejarah baru pun tercipta malam itu.
salam dari Broken Angel'S
Fuhhh Giro kau memang terbaik!!!! Siapa yang akan mereka lawan?