Butuh waktu lima tahun lamanya bagi Mer untuk siap bertemu lagi dengan cinta pertamanya. Teman masa kecilnya yang begitu ramah dan ceria itu seketika berubah menjadi sesosok pria misterius nan dingin. Akan tetapi, kepribadian Vallen yang berubah tetap tak melunturkan perasaan yang telah lama bersinggah di hatinya. Mer tetap mencintai Vallen meski pria itu tak menganggap Mer ada.
Perjuangan terus Mer lakukan untuk mendapatkan perhatian Vallen. Ia terus mendekati Vallen walau pria itu selalu melontarkan kata yang menyakitkan. Meski sering tak diacuhkan olehnya, bukanlah sebuah alasan bagi Mer untuk menyerah. Semua itu dilakukannya untuk mendapatkan cinta Vallen kembali.
Hanya soal waktu saja Mer dapat meluluhkan hati Vallen. Merubah kepribadiannya kembali menjadi sosok yang hangat. Menjadikan hal yang mustahil dapat diraihnya. Meski begitu, Vallen tetap menolak cintanya dengan alasan takdir yang selalu ia katakan. Akankah alasan takdir itu suatu saat akan menenggelamkan cinta mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIFA IFTITA RAHMA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tiga
Hari baru disambut dengan semangat baru. Burung-burung berkicauan dengan merdu. Membuat alunan musik mengadu. Hingga suara burung dan jaros(bel) saling beradu. Melupakan kisah yang lalu. Mengobarkan lembaran kertas-kertas baru.
Jaros yang menandakan sholat tahajut telah berbunyi. Ketika itu Alifan membangunkan Akhyar yang masih terlelap di sampingnya. Juga teman-teman yang tak mendengar akan jaros telah berbunyi. Kini giliran Hanif yang masih sibuk dengan mimpinya. Untuk sesaat, rasa kaget membangunkan Hanif. Membuatnya dengan sinisnya menatap Alifan tajam. Ia membentak Alifan yang kali ini dengan bahasa ter dilarang di pondok
"Heehh! Beraninya lo ganggu mimpi indah gua!” bentaknya
Alifan berusaha tenang seperti air mengalir, berpikir dengan kepala dingin layaknya dinginnya hujan, dan mengingatkan dengan bijaksana bagai seekor kancil yang selalu bijaksana dalam bertindak.
"Kita disunnahkan oleh Rasulullah Saw untuk melaksanakan sholat tahajud. Karena seorang hamba apabila melaksanakan sholat tahajud di sepertiga malam dan mengharapkan sesuatu dari-Nya, Niscahya Allah akan langsung turun dari langit ketujuh untuk mengabulkan doa-doa hambanya,"
"Kalo lo mau ceramah, disono noh! Di masjid, bukan disini!"
Alifan menggeleng-gelengkan kepala. Tak percaya akan kata-kata yang barusan Hanif lontarkan. Seperti ada sesuatu gelap menyelimuti hatinya. Tiba-tiba seseorang datang entah dari mana mengingatkan Hanif dengan suara lantangnya.
"Hanif! Kalo dinasihati dengerin! Jangan buang muka! Siapa yang ngajarin?!"
"PAPA! Papa yang buat aku kayak gini!"
Suasana panas. Dingin angin pagi berubah drastis. Terlihat rahang mereka yang mengeras. Alifan ingin mencairkan suasana, tapi takut malah membekukan yang panas. Seluruh santri yang sudah melek pada memperhatikan pertengkaran ini. Sedangkan yang lain masih ada yang tertidur. Juga beberapa lainnya yang telah menunaikan sholat tahajud di masjid.
Hening, tak ada yang berani berkomentar. Bahkan heningnya hutan terpelosok kalah dengan heningnya asrama saat ini.
" Man fiid dahil?"(siapa yang ada didalam?)
Suara qismul lughoh(bagian bahasa) menggelegarkan seisi asrama. Para santri yang menonton adegan ini berhamburan menuju masjid. Meninggalkan mereka bertiga yang masih berdiri terpaku.
"Wajadtu, fii haadal hujroh takalamtum bil lughotil 'aamiyah. Maan daalik?" (aku menemukan, didalam asrama ini kalian telah berbicara menggunakan bahasa gaul, siapakan itu?)
Alifan ,Akhyar, dan Hanif saling pandang. Namun mereka bertiga tetap memutuskan untuk menghentikan suara. Mendengar ocehan dari qismul lughoh.
"Ajibi!"(jawablah!)
"Ana(aku) al'akh!"
"Hal anta sanatu uula?"(apakah kamu masih kelas satu?)
"Naam"(iya)
"Kholas, ghoddan la uridu an asma'u tatakallam bil lughotil 'aamiyah kaman, naam?!"(ya sudah, besok lagi, aku tidak mau mendengar kamu berbicara menggunakan bahasa gaul lagi oke?!)
"Naam al'akh"
Qismul lughoh itu meninggalkan mereka yang masih terpaku. Beruntung kepala Alifan tidak lagi dibotak. Hembusan napas keluar dari mulut mereka, pertanda risau yang telah hilang. Akhyar melirik kekanan, kearah Alifan dengan tatapan bingung. Disikutnya lengan Alifan menggunakan sikunya.
"Allah Swt akan memuliakan seorang hamba apabila dia rela mengorbankan dirinya untuk orang lain. Seperti kisah seorang gadis pelacur dengan seekor anjing. Di saat gadis itu sedang kehausan, keletihan, dan kelelahan, dia rela memberikan air yang tidak seberapa itu kepada seekor anjing yang sudah tak berdaya. Hingga akhirnya gadis itu meninggal dengan kondisi yang kehausan. Dan Allah Swt memuliakan gadis itu berada disisi-Nya memberikan hadiah atas apa yang telah diperbuatnya menjelang ajal.
Dan kisah itu tidak ada seberapanya dengan yang kuperbuat tadi. Akan tetapi semoga kamu dapat mengambil hikmah dari ceritaku tadi,"
Pada saat itu, dunia lalu memang tidak selalu identik dengan dunia modern saat ini. Saat kaum zaman dahulu rela mati-matian demi menyelamatkan sesama, kaum sekarang justru mencari cara untuk mencelakai sesama. Bahkan belum lama ini ada yang menutupi kesalahannya dengan melibatkan orang lain. Kejadian itulah yang membuat bumi ini runtuh akan keegoisan.
Alifan bershodaqoh kepada Akhyar dengan cara tersenyum kepadanya. Akan tetapi ada sesuatu yang mengganjal dari wajah Hanif.
"Gak usah sok suci lo! Emangnya dengan cara lo nyelamatin gua tadi gua bakal jadi temen lo?! Lo tu mirip papa, sok alim. Ujung-ujungnya nanti nyebelin!"
Berjuta-juta kesabaran harus dihadapinya dengan baik. Jangan sampai amarah mengacaukan segalanya. Cukup mengucapkan "Astaghfirullah" agar dapat menahannya. Begitu Akhyar menepuk pundak Alifan , Alifan menoleh dengan senyum tegarnya akan rasa sesak yang menghantui.
---
Hayya nabda' al-ma'tsurat, waahid,itsnaani,salasah"(marilah kita mulai membaca al-ma'tsurat, satu,dua,tiga,)
Lantunan al-ma'tsurat dibacakan sampai akhir. Hingga tiba saatnya mereka pergi meninggalkan masjid. Dengan semangat empat lima Alifan mengemas barangnya. Disiapkannya kamus dan beberapa alat tulis hendak mengikuti mufradat pagi. Para mulqii (pembimbing) mendatangi mereka. Memberikan sebuah kosa kata baru untuk digunakan dalam kesehariannya.
"Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh,"
"waalaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh,"
"Haadal yaum sau'tiukum ilaa mufradat al jadiid,ithba'i jama'atan!"(hari ini, saya akan memberikan kalian kosa kata bahasa arab baru, ikutin semuanya!)
"Kitaabun,kitaabun,kitaabun,"
"Man ta'rif alma'na?"(siapa yang tau apa artinya?)
"Buku"
"Naam,shohih"(iya, benar)
Begitupun selanjutnya hingga berakhir sudah.
aku akan lanjutin nanti... 🥰
salam cilamici