NovelToon NovelToon
My Arrogant Prince

My Arrogant Prince

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Contest / Poligami / Berondong
Popularitas:308.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wardah Rose

Tidur Pangeran Rayyan Muhannad Arnauth tak akan pernah nyenyak jika ia tak bisa mendapatkan seorang wanita yang menghantui mimpinya tiap malam. Bagaimanapun caranya ia harus bisa menjadikan wanita itu sebagai salah satu selirnya.

Selir? Bilqist sangat membenci status itu. Dia merasa tak jauh beda dengan wanita simpanan yang tak mempunyai status dan dihargai hanya bila tubuhnya mampu menjadi pemuas napsu sang pangeran.

Sampai tulang belulangnya mengering di gurun pasir pun Bilqist rela. Asalkan dia tidak akan pernah menjadi selir Rayyan Muhannad Arnauth.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardah Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapan

Sebelum menghadapi sesuatu Bilqist selalu melakukan persiapan dahulu. Ia bertanya kepada ibunya yang dulu pernah diundang ke istana kerajaan Inggris. Bagaimana persiapannya? Untungnya dulu ada saudara dari pihak mendiang Kakek Ahmad yang memberinya petunjuk. Jadi semua bisa lebih mudah. Hal itu ternyata tidak bisa membantu Bilqist, karena negaranya beda, budayanya beda, aturannya beda.

Sebalnya lagi, yang namanya Rayyan tidak muncul atau memberi kabar. Hanya utusannya saja yang membawa surat undangan acara perkenalannya ke keluarga Sultan.

“Dad hubungi Rayyan, dong. Minta bawakan asisten dari kerajaan.”

Zach dan Gwen saling berpandangan dan tersenyum. “Kayanya anak kamu sudah rela menjalani perannya sebagai calon istri, manggil Rayyan tanpa gelar fasih banget,” kata Zach.

“Apaan sih, Dad,” protes Bilqist. “Di sini kan cuma ada kita berempat, ngapain juga sok resmi. Buruan, Dad ini acaranya lusa, orangnya gak nongol. Eeh kasih tau kita pakai baju apa kek, bawa oleh-oleh apa gak, gak dikasih tahu.”

“Ah Iya kamu benar.”

“Tanyain juga, besok kita harus pakai bahasa apa, nih. Bahasa Inggris katanya gak boleh, pakai bahasa Indonesia mereka gak paham. Pakai bahasa Arab, kita yang gak paham,” ujar Gwen.

-----

Rayyan yang terhubung pada panggilan telepon terdengar bingung mendapatkan pertanyaan beruntun dari Zach. “Tunngu-tunggu, banyak sekali pertanyaannya.”

Bilqist menahan tawa agar tak terdengar di telepon, sambil melihat ke arah Al. Terima kasih untuk Al yang membuat daftar pertanyaan penting untuk persiapan besok. Dia persis seperti EO yang  menyusun check list sewaktu mempersiapkan acara.

“Tolong satu-satu dulu.”

“Bahasa yang kami gunakan besok apa? Bahasa Inggris, kah?” ulang Zach.

“Tidak, jangan bahasa Inggris,” jawab Rayyan dengan cepat.

Sunyi beberapa detik, Rayyan sedang berpikir bagaimana baiknya. “Kita pakai bahasa Arab saja.”

“Kami tidak bisa bahasa Arab,” kata Zach.

“Tentu saja, saya usahakan ada penterjemah nanti.”

“Dad minta Asisten,” bisik Bilqist. Zach lalu menanyakan apa Rayyan bisa memberi mereka asisten dari keluarga istana, agar mereka tahu apa yang dipakai, apa yang dibawa, atau apa yang dilakukan sebelum hadir ke istana.

Rayyan menjawab, “Oh saya belum memikirkannya.”

“Apa Anda bisa carikan sekarang? Kalau bisa yang bisa berbahasa Inggris atau Indonesia.”

Terdengar suara pelan antara dua pria sepertinya Rayyan bertanya kepada Imran di mana dia bisa mendapatkan asisten yang bisa berbahasa Inggris atau Indonesia. Imran tak bisa menjawabnya langsung.

“Dad, mintakan password mengakses web ini,” kata Al kepada Zach.

Zach melihat layar laptop Al yang menampilkan sebuah logo elang sebagai lambang kesultanan Julunda.

Zach kemudian menanyakan kepada Rayyan. Tentu saja Rayyan terkejut, karena ternyata Al menanyakan password basis data pekerja di rumah kalangan pejabat pemerintah, keluarga kerajaan, dan keluarga bangsawan.

Zach tahu bahwa Al bisa saja membobol masuk dengan keahliannya sendiri tanpa menanyakan password pada Rayyan. Tapi tak etis kalau Al melakukannya. “Kami hanya berniat membantu, Yang Mulia. Putra saya ahli dalam bidang seperti ini.”

Dengan pertimbangan berat, akhirnya Rayyan mau memberikannya.

Mereka kemudian membicarakan tentang hal-hal lain yang ada di daftar yang telah disusun Al.

Setelah menunggu beberapa menit lamanya, setara dengan proses menunggu mi instan matang, Al yang duduk di sebelah Bilqist sudah berhasil mendapatkan beberapa nama dan data warga Julunda yang bisa berbahasa Inggris atau Indonesia. Data itu sudah diperkecil dengan mereka yang bekerja untuk istana atau kalangan ningrat saja.

“Sudah semua?” tanya Zach.

“Ya.”

“Mmm ada apa? Sepertinya kalian membicarakan sesuatu,” tanya Rayyan mendengar lawan bicaranya—Zach—menggunakan bahasa Indonesia yang tak ia mengerti.

“Oh maaf. Saya bicara dengan putra saya. Dia sudah mendapatkan beberapa nama orang-orang yang bisa berbahasa Indonesia yang sekarang  di keluarga kerajaan atau bangsawan.”

Rayyan belum berkata apapun untuk merespon Zach. “Sayyid Rayyan?” tanya Zach.

“Ah maaf, saya tadi sedang berpikir sesuatu,” jawab Rayyan. “Bagaimana putra Anda bisa mendapatkan informasi itu? Sedangkan Imran saja perlu waktu untuk mencarinya.”

“Al mempunyai keahlian di bidang informatika. Jadi dia bisa mengakses informasi apapun jika bentuknya data yang dikomputerisasi."

Untungnya Rayyan sebelumnya memberikan ijin kepada Zach untuk memakai internet. Zach dan keluarganya membutuhkan akses internet untuk bisa terhubung dengan perusahaan mereka. Semua bisnis mereka tidak bisa ditinggalkan begitu saja meskipun sedang pergi karena belum terencana.

Jadi karena itu, Al tidak perlu membobol password WiFi lagi.

“Cepat sekali,” pikir Rayyan. “Kalau begitu kelihatannya lebih mudah kalau Imran memakai data dari Al daripada ia mencari sendiri.”

“Tentu, Al akan mengirimkan data itu ke email.”

------

Keesokan harinya, seorang wanita datang ke hotel tempat keluarga Bilqist menginap. Wanita itu merupakan utusan dari Rayyan, cukup muda, berkisar awal tiga puluhan tahun. “Nama saya, Khansa. Saya diperintahkan Pangeran Rayyan untuk membantu kalian selama di Julunda. Dan tentu saja beliau menyebutkan tentang undangan makan siang besok,” kata wanita itu memperkenalkan diri dengan bahasa Indonesia. Logat Arab sangat kental dari lidahnya.

“Hai,” Gwen langsung mengulurkan tangannya. Khansa menyambutnya tapi dengan gerakan yang sangat kikuk. “Nama saya Gwen.”

 Khansa mengangguk. Dengan gerakan pelan, dia melepaskan jabatan tangan. “Maaf saya tidak terbiasa seperti ini.”

“Ah, mungkin karena adat kebiasaan di Julunda berbeda, ya? Kalau di Indonesia sudah biasa bersalaman.”

“Mmm ya mungkin. Karena kalau kami baru kenal tidak langsung bersalaman, tapi sebenarnya karena kami para pelayan tidak pernah bersalaman dengan atasan kami,” ungkap Khansa jujur.

“Pelayan?”

“Iya. Saya sebelumnya adalah pelayan keluarga Sayyid Hanif, gubernur wilayah Maghfirah. Saya “dipinjamkan” ke istana untuk melayani Anda.”

Gwen kemudian mengangguk. “Oh begitu.” Lalu Gwen mengajak Khansa masuk ke ruangan makan. Di sana ada Bilqist yang sedang sarapan.

“Oh, Masyaa Allah Anda cantik sekali,” puji Khansa dengan wajah takjub yang tak dibuat-buat.

Bilqist bingung mau menjawab bagaimana. “Ah mmm terima ka sih,” katanya agak canggung.

“Ah maaf saya terdengar seperti orang gila,” kata Khansa dengan malu.

“Tidak mengapa,” kata Gwen sambil tersenyum. “Khansa ya nama kamu tadi?”

“Iya benar,” jawabnya.

“Sudah sarapan?”

“Sudah, terima kasih.”

“Eh aku belum nawarin kamu, kok,” jawab Gwen langsung.

Khansa terlihat shock, takut salah bicara dia langsung minta maaf, “Ah saya tidak sopan, maafkan saya.”

“Kamu serius sekali, saya cuma bercanda loh,” kata Gwen sambil tertawa.

“Eh bercanda?” tanya Khansa tak percaya.

Gwen dan Bilqist tertawa. “Kamu tegang sekali, nih duduk dulu.” Bilqist menggeser bangku di sebelahnya agar Khansa bisa duduk.

Khansa masih tampak ragu-ragu. “Ayo duduk, jangan berdiri terus. Gak perlu sungkan sama kami,” kata Gwen. Khansa akhirnya mau duduk.

Gwen kemudian mengambil tempat duduk di depan Bilqist dan Khansa. “Apakah juga peraturan kalau pelayanan tidak boleh duduk bersama dengan majikan?” tanya Gwen.

Khansa mengangguk. “Kami terbiasa harus berdiri selama majikan makan dan melayani mereka.”

Gwen mengangguk. “Maaf saya tidak tahu kalau peraturannya seperti itu, tapi khusus untuk kami kamu tidak perlu melakukannya. Kami bisa mempersiapkan makanan kami sendiri. Tugas kamu adalah untuk membantu kami mempersiapkan diri untuk menghadiri acara kerajaan. Kamu bukan pelayanan kami tapi asisten, mengerti?”

Khansa mengerutkan dahi dan mengangguk. “Baiklah, sambil sarapan kita bisa ngobrol dengan santai. Cerita ke kami dong, bagaimana kamu bisa berbahasa Indonesia, apa orang tua kamu orang Indonesia?”

1
Dewi Djordan
bakal di up g nih atau selesai sampai dsini ?( nanya dgn nada lembut)
Dewi Djordan
bggussssss
Mey Kusrini
hadeeeh
Mey Kusrini
saya suka Al bobol wifi
Mey Kusrini
salam saya pembaca baru pengen langsung skiming aza
Mey Kusrini
ga sabar mau melihat matanya😂
Mey Kusrini
Luar biasa
Erni Fitriana
keren👍🏾
buna
muhannad tuh apa😭
Eskael Evol
keren banget
Eskael Evol
keren thor syukron doa nya🙏
Nuning Setiyawati
ini gak ada ending nya ya thor
novi taurusita
selalu setia menanti kak
Dian Kartika Dewi
hai author. sehat2 ya . kapan lanjut cerita. udah lama nungguin lanjutannya. semoga segera update ya.
bank sha one
aku nunggu up nya othor tayangkuuuh
Babo Saram
ini tidak ada kelanjutan'a ya?
Dewi Djordan
cerita yang sangat menarik,alur y bagus,, tapi sayang up y lamaaa bangetttt,rasanya udah 1 tahun lebih nunggu
Fitri Octawaty
jangan lama lama lanjitin cerita,aku penasan ini🤔🤔🤔
Verdut Ndut
thor kpn up lg suwiii nya torrr 😩😩😩
novi taurusita
karyanya yang bagus sekali, suka dengan tokoh dan alurnya. tak bosan-bosannya untuk melihat up selanjutnya. semangat kakak semoga sehat selalu😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!