NovelToon NovelToon
Bukan Salah Takdir

Bukan Salah Takdir

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Contest / Tamat
Popularitas:146.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ratih mirna sari

Sheerin dan Nindi bak pinang dibelah dua, mereka adalah dua perempuan dengan wajah yang sama. Di awal pertemuan, mereka tak percaya kalau didunia ini ada orang yang mirip dengan diri mereka. Namun setelah pertemuan antara keduanya, akhirnya mereka percaya jika didunia ini ada 7 orang yang mirip dengan mereka.

Tanpa mereka ketahui jika sebenarnya mereka adalah saudara kembar yang terpisah oleh jarak dan waktu.

Dengan penuh ancaman, karena kesalahan yang Nindi lakukan, Sheerin meminta Nindi untuk menggantikan posisinya untuk menikah dengan laki-laki asing yang akan dijodohkan dengannya.

Kebenaran demi kebenaran mulai terkuak saat mereka bertukar peran, rahasia, masa lalu dan penyebab kedua saudara kembar itu terpisah akhirnya perlahan mulai terbongkar.

Lalu bagaimana kehidupan keduanya setelah bertukar peran dengan karakter keduanya yang bertolak belakang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratih mirna sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Om Arya

"Kak Bima, ayo lebih cepat lagi!" Ucap Nindi dengan tidak sabaran saat melihat mobil yang dikendarai Lukman terhalang oleh kendaraan lain.

Padahal mobil yang dikendarai Bima sudah mencapai batas maksimum, tapi Bima yang didesak Nindi masih bisa bersikap tenang dan fokus pada jalanan, tidak terpengaruh sama sekali dengan kepanikan yang dirasakan oleh sang istri.

Sebenarnya, Nindi takut kehilangan jejak, lalu kalau dia kehilangan jejak, dia akan menyusul ayahnya Sheerin itu kemana? Sedangkan dia sama sekali tidak tau dimana om Arya nya Sheerin tinggal.

"Tenangkan dirimu dulu, semua akan baik-baik saja!" Bima mulai berkoar.

Ah, kak Bima ini ada benarnya juga, Nindi mencoba menenangkan dirinya, berusaha untuk berpikir jernih, meyakinkan dirinya kalau semua akan baik-baik saja seperti apa yang dikatakan kak Bima.

Tapi jika semua tidak terjadi sesuai dengan yang dia harapkan, maka Nindi tidak akan tinggal diam, dia akan membongkar habis seluruh kebusukan mama Anya, dia akan mengadu kepada Lukman kalau mama Anya dan Luis lah yang memaksa Sheerin untuk menikah dengan Bima, jika perlu dia akan menyeret Sheerin secara paksa kehadapan ayahnya agar dia bisa terbebas dari semua beban perasaan bersalah ini.

Setelah lebih dari setengah jam kejar-kejaran dijalan raya, akhirnya Bima berhasil membuntuti mobil Lukman sampai mobil itu berhenti di basemen sebuah apartemen.

Tanpa berkata apapun kepada Bima, Nindi langsung berhambur keluar dari mobil, secepat kilat dia menyusul Lukman yang berjalan menuju lobi apartemen itu. Bima tidak hanya tinggal diam, dia langsung ikut turun dan menyusul Nindi.

"Ayah, tunggu aku!" Nindi berseru, dia berjalan dengan cepat di belakang Lukman saat melihat punggung yang semakin menjauh itu.

Lukman tidak mengindahkan seruan Nindi, dia mempercepat langkahnya, ingin segera bertemu dengan sang adik dan meminta penjelasan sejelas-jelasnya mengenai pernikahan sang putri.

"Ayah!"

"Ikuti saja dia, tidak ada gunanya berteriak." Bima yang berhasil menyamai langkah Nindi berujar.

Nindi mengangguk, tapi perasaan masih belum bisa tentang, apa lagi saat melihat Lukman hendak memasuki lift.

"Ayah!" Kepanikan Nindi bertambah, bukan apa-apa, dia takut kehilangan jejak ayahnya Sheerin.

Terlambat! Saat Nindi tiba didepan lift, saat itu pula pintu lift tertutup, dia masih bisa melihat kekecewaan dimata Lukman saat detik-detik pintu liftnya tertutup.

Nindi terdiam, tatapan kecewa dari ayahnya Sheerin terasa menusuk kedalam relung hatinya, kenapa dia baru merasakan hal itu sekarang? Kenapa dia baru menyadari saat dirinya telah kehilangan jejak?

Nindi merasa darahnya berhenti mengalir, lututnya melemas, serasa kaki tak sanggup lagi untuk menopang berat tubuhnya. Dia benar-benar telah kehilangan jejak, tak tau harus bagaimana untuk meluruskan kesalah pahaman ini.

"Ayah naik ke lantai 11, ayo!" Bima meraih tangan Nindi agar ikut bersamanya. Nindi yang termangu serasa mendapatkan kembali kekuatannya saat mendengar ucapan Bima, Bima benar-benar menjadi super hero bagi Nindi yang bodoh itu.

"Kak Bima kok tau?" Tanya Nindi dengan bodohnya. Saking bodohnya pertanyaan Nindi, sampai-sampai Bima enggan untuk menjawabnya.

Bima menekan angka 11 pada lift sebelah, saat lift terbuka, laki-laki itu dengan cepat menarik Nindi agar ikut masuk kedalam lift, sedangkan Nindi hanya pasrah dan mengikuti langkah kaki Bima, menunggu jawaban yang tak kunjung keluar dari mulut suaminya itu.

Didalam lift, Nindi melupakan jika dirinya sedang berada dalam zona merah saat menatap wajah teduh di depannya, wajah teduh itu seolah mampu meredam kegundahan yang bersarang di hati Nindi. Perasaan Nindi bisa sedikit tenang, apa lagi saat merasakan tangannya menghangat ketika digenggam oleh Bima. Nindi tidak bisa menahan senyumnya untuk tidak merekah, ternyata jatuh cinta itu seindah ini rasanya, hal sederhana yang dilakukan oleh orang kita cintai saja mampu membuat hati bergejolak dan meronta, minta untuk tidak dilepaskan genggaman tangannya.

Jika tau jatuh cinta seindah ini rasanya, maka Nindi menyesal kenapa tidak dari dulu saja dia jatuh cinta. Tapi, cinta tidak bisa kita rencanakan datangnya kapan dan menentukan pada siapa kita akan melabuhkan hati? Terkadang Cinta datang tanpa diduga, datangnya secara tiba-tiba, masuk tanpa permisi, bersemayam didalam hati lalu bertahta dan merajai hati.

Lantai demi lantai mereka lalui dalam keheningan, akhirnya 10 lantai terlewati dengan waktu yang singkat, Bima sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya pada Nindi, tangan perempuan itu terasa dingin, seperti butuh kehangatan, oleh sebab itu Bima dengan suka rela memberi pinjaman berupa tangannya yang hangat.

Pintu lift terbuka, menyadarkan Nindi untuk segera kembali dari dunia khayalannya.

"Ayo!" Bima kembali menarik tangan Nindi, lagi-lagi Nindi hanya bisa mengikuti jejak langkah Bima.

"Ehh, itu ayah!" Ucap Nindi setelah keluar dari lift, baru sadar alasannya berada ditempat ini sekarang, ini bukan saatnya untuk membanggakan cinta pertama. Selesaikan dulu masalahmu Nindi, baru pikirkan soal cinta!

Dengan langkah tergesa setengah berlari, Nindi mengejar Lukman, meninggalkan Bima yang masih bisa bersikap santai, bahkan genggaman tangan Bima dia lepaskan begitu saja, padahal tadi dia sendiri yang mohon-mohon untuk tidak di lepaskan. Kamu memang benar-benar pendusta Nindi!

Meskipun kecewa Nindi meninggalnya, tapi Bima bisa memakluminya, Sheerin palsu itu sedang gundah gulana karena ayahnya sedang merajuk. Bimapun segera menyusul Nindi.

"Ayah, tunggu aku!" Sedikit lagi, Nindi akhirnya berhasil menggapai ayah Sheerin. Tentu saja, karena Lukman berhenti didepan sebuah pintu bertuliskan 108 yang artinya itu adalah kamar nomor 108. Apa itu adalah apartemen temat om Arya tinggal? Kemungkinan itu 90 % benar.

"Masih bisa kamu memanggilku ayah setelah penghianatan yang kamu lakukan terhadapku?" Kalimatnya itu datar tapi menancap tepat di ulu hati Nindi, perkataannya itu seolah Lukman merasa sangat tersakiti.

"Maafkan aku ayah." Nindi menunduk dalam, dia terdiam saat melihat tangan Lukman menari diatas mesin pembuka kunci, mengetikan kata sandi untuk membuka pintu, itu kebiasaannya jika datang ke apartemen sang adik, nyelonong masuk tanpa permisi karena memang sudah dia anggap sebagai rumahnya sendiri.

Pintu apartemen itupun benar-benar terbuka, Nindi berharap cemas, apa yang akan terjadi selanjutnya? Sedikit melongokkan kepalanya, melihat keadaan didalam sana, terasa sepi, terlihat dekorasi apartemen yang indah, didesain se-apik mungkin, menciptakan kesan mewah saat kita melihatnya.

'Jadi ini yang namanya apartemen?' Nindi berdecak kagum, jiwa noraknya kembali muncul. Jika saja dia sedang tidak dalam masalah, maka dia ingin ber-selfie dulu disana.

Lukman melangkahkan kakinya masuk kedalam apartemen Om Arya, mencari keberadaan sang adik yang tidak dia temukan diruang utama.

"Arya!" Suara Lukman menggema disetiap sudut rumah itu, terdengar marah. Nindi tersadar, dia cepat-cepat mendekati ayahnya Sheerin itu.

"Om Arya nya nggak ada mungkin yah, ayo kita pulang aja!" Hasutan Nindi sepertinya tidak mempan, Lukman terus mencari sang adik disetiap ruangan yang ada, dapur dan kamar mandi juga tidak dia lewatkan.

Tidak menemukan keberadaan sosok Arya di semua ruangan, Lukman akhirnya beralih pada ruangan terakhir yang belum dia datangi, Arya pasti ada disana, dimana lagi kalau bukan kamar tidurnya.

Nindi masih setia membuntuti, tiba-tiba saja Bima datang untuk bergabung dan ikut mengekor dibelakang Lukman. Menatap Nindi, tatapannya seperti bertanya 'Bagaimana?' Nindi menjawab dengan mengangkat bahu pertanda dia tidak tahu.

Krek!

Tanpa aba-aba Lukman membuka pintu kamar yang ada di hadapannya, yang disinyalir adalah kamarnya om Arya.

Deg!

Tiga pasang mata itu memicing saat pintu dibuka lebar-lebar oleh Lukman, pemandangan yang janggal tercipta di hadapan mereka, pemandangan yang akan membuat orang yang melihatnya merasa ikut tercekik dan mungkin sulit untuk bernafas.

Nindi, Bima dan Lukman tampak syok saat melihat tubuh Arya yang tergantung di langit-langit kamar itu dengan seutas tali tambang di lehernya, lidahnya menjulur keluar, matanya melotot sempurna seperti diakhir hayatnya menahan rasa sakit yang teramat.

"Aryaaaa!" Lukman berteriak histeris memanggil nama sang adik, tidak percaya dengan apa yang dia lihatnya ini nyata terjadi.

Lututnya melemas, seketika tubuhnya ambruk, bersimpuh tempat di hadapan tubuh yang telah kaku itu. Awalnya suara tangisan Lukman terdengar pelan, semakin lama semakin kuat, akhirnya dia menangis sejadi-jadinya, menangisi nasib sang adik yang naas, kenapa dia harus mengakhiri hidupnya dengan cara seperti ini? Lukman tau masalah rumah tangga yang di hadapi Arya memang berat, tapi dia tidak menyangka Arya bisa senekat itu.

"Arya, Aryaa! Kenapa kamu melakukan ini?" Lukman terus meraung-raung, tak kuasa melihat Arya dalam keadaan menyedihkan seperti itu. Dia benar-benar merasa kehilangan, sosok adik, teman, sahabat, mereka kecil bersama, tumbuh besar bersama-sama lalu menua bersama, bagaimana mungkin Lukman mampu menepis semua kenangannya bersama dengan sang adik. Dia sangat menyayangi Arya dan seluruh keluarganya melebihi nyawanya sendiri. Begitu Lukman mencintai Arya.

Lukman merasa gagal menjadi pengganti orang tua untuk Arya, dia tidak mampu menjaga sang adik dengan baik sampai Arya meregang nyawa dengan cara seperti ini.

Nindi menitihkan air mata saat melihat jasad Arya yang masih tergantung, dia tidak menyangka jika pertemuan keduanya dengan om Arya nya Sheerin sekaligus pertemuan terakhirnya. Nindi memang tidak mengenal sosok itu sebelumnya, tapi entah kenapa Nindi bisa merasakan kasih sayang yang begitu besar saat om Arya menyentuh kepalanya sebelum pernikahan kemarin, tatapan yang hangat sekarang tidak lagi Nindi temukan di mata itu, yang ada hanya kesakitan yang terlihat diwajah pucat itu.

Nindi benar-benar tidak percaya jika orang sebaik om Arya harus meninggal karena bunuh diri.

Kenapa? Kenapa semuanya jadi seperti ini? Jika Nindi boleh memilih, lebih baik om Arya tetap hidup, Nindi tidak akan menyangkal apa yang dipikirkan om Arya tentang dirinya, biarkan saja mereka berekspektasi sesuka hati mereka, asalkan sosok hangat itu kembali mendapatkan nyawanya.

Bima mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, baru kali ini dia melihat secara langsung orang yang bunuh diri, meskipun baru sekali dia bertemu dengan om Arya, tapi dia merasa sangat berempati. Menyayangkan sebuah nyawa harus melayang dengan cuma-cuma, padahal diluar sana masih banyak orang yang berjuang keras untuk bisa sekedar tetap bertahan hidup.

Dalam situasi panik seperti ini, Bima masih bisa berpikir jernih, dia segera menghubungi pihak berwajib juga ambulance. Biar hukum yang bekerja.

Lukman merasakan nyeri yang teramat di bagian dadanya, di dekap nya dengan sangat erat tangan di depan dada agar bisa mengurangi rasa sakitnya.

Bukannya hilang, rasa sakit itu semakin menjalar kebagian tubuhnya yang lain.

"Aarrgh!" Lukman mengerang kesakitan.

Nindi yang mendengar itu jadi kalang kabut, dia berjongkok menyamai posisi Lukman, tampak Lukman sedang menahan kesakitan, wajahnya mendadak jadi pias.

"Ayah!" Nindi benar-benar panik, apa yang dia khawatirkan akhirnya terjadi juga, sakit ayahnya Sheerin kambuh ketika mendapat kabar yang tidak mengenakkan.

"Aarrgh! S ss sakit!"

Nindi tidak kuasa, bagaimana rasa sakitnya? Pasti sakit sekali.

"Sebentar lagi ambulance datang, ayo kita bawa ayah ke lobi!"

______________

Jangan lupa budayakan like, corat-coret juga di kolom komentar...

1
🌷💚SITI.R💚🌷
sprtiy di bunuh luis sm anya ini
🌷💚SITI.R💚🌷
lanjuuut
🌷💚SITI.R💚🌷
lama² mereka jatuh cinta de..skrng ribut trs tr sdh berpisah br rindu de
🌷💚SITI.R💚🌷
urakan tp kamu suka kan....🤣🤣
🌷💚SITI.R💚🌷
nyimak dl..lanjuut
Asrinda 24
Aku mampir
Imelda Nurrahmah
next
TiiehAtieh: udah habis kak, lanjut baca THE SECRET yuk, masih on going, banyak misterinya disana 🙏
total 1 replies
Imelda Nurrahmah
kejrm banget si bima
Imelda Nurrahmah
keren
anthy haryanti
kasihan banget sih loe levin,,,hampir nggak jadi nikah,,,hehehehe
anthy haryanti
wahhh nindi udah hamidun nih
abimasta
akhirnya nindi punya anak,happy ending selamat ya thor sudah memberikan bacaan yg menarik
anthy haryanti
rumah kosong itu bener2 bakal jadi angker,,,
TiiehAtieh: baca juga ekstra partnya ya kak 😊
total 1 replies
anthy haryanti
waduhhh siapa lagi tuh yg kena
anthy haryanti
siapa tuh yg kena
anthy haryanti
waduhhhh
anthy haryanti
kok aku yg deg degan yah
anthy haryanti
makin seru nihhh
abimasta
aku sudah selesai bacanya..makasih ya thor meskipun saya telat mampir disini
abimasta: menurut ku ceritanya bagus,cm kasian nindi blm punya momongan
total 3 replies
anthy haryanti
wahh kebiasaan si nindi,,kasihankan si tengil,,,hehehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!