Dareen yang selalu dibandingkan oleh papanya dengan kakak kandungnya yang bernama Aril. Dareen madih kuliah sedangkan Aril sudah bekerja. Dareen akhirnya membuktikan pada papanya bahwa ia bisa mandiri tanpa bantuan dari papanya. Dareen mulai ikut bekerja sebagai montir, karena dia mempunyai paras yang tampan. Akhirnya banyak yang menjuluki Montir Ganteng.
Bagaimana Dareen bisa sukses?
Ikuti ceritanya di Montir Ganteng.
Thank's.
Dareen_Naveen (Boezank Jr.)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dareen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part. 29 (Wisuda dan Duka)
Akhirnya, Yumna mendapatkan gelar sarjana. Yumna wisuda hari ini. Gue meminjam mobil Papa untuk menjemput Yumna.
Yumna terlihat cantik mengenakan kebaya yang simpel, berlengan panjang berwarna ungu muda, membuat ia terlihat fres. Masih dengan sentuhan make up natural yang menyempurnakan penampilannya.
Yumna tersenyum, melihat gue turun dari mobil untuk menjemputnya.
Gue, Yumna dan Ibunya berangkat ke kampus untuk menggelar prosesi wisuda. Papanya akan datang terlambat karena ada urusan yang belum selesai di luar kota. Hingga prosesi wisuda selesai, Papanya belum juga terlihat. Rona kebahagiaan yang terpancar dalam wajah cantik Yumna kini mulai memudar. Mungkin Yumna kecewa terhadap Papanya, karena moment ini adalah hari bersejarah untuknya yang mengharapkan adanya orang-orang terkasih untuk mendampinginya.
“Na, jangan sedih. Papa kan lagi di perjalanan,” ucap Ibunya.
“Iya, Bu. Tapi Papa tidak melihat ketika prosesi wisuda aku,” ucap Yumna tertunduk.
Gue memilih mundur, memberikan waktu pada ibu dan anak, untuk saling bercerita dari hati ke hati. Karena ini memang urusan keluarga Yumna. Tentang kekecewaan terhadap Papanya yang belum datang hingga saat ini. Semua acara telah selesai, capek serasa mendera tubuh ini. Kami memutuskan untuk pulang, karena dari tadi pagi kami berada di kampus.
“Ayok, mampir Nak Dareen.” Ajak Ibunya Yumna.
“Makasih Tante. Udah sore, Saya pulang aja.”
Ibunya Yumna tersenyum dan berlalu pergi, memasuki gerbang yang menjulang tinggi meninggalkan kami. Yumna masih duduk dalam mobil. Dimana bibirnya yang mengerucut, membuat mimik wajahnya semakin terlihat kek anak kecil yang lagi ngambek gak dibeliin permen.
“Na,” ucap gue.
“Hem.”
“Masih sedih?”
“Gak.”
“Lalu?”
Yumna terdiam.
Hening.
Gue mematikan mesin mobil dan menunggu Yumna untuk bicara.
10 menit berlalu.
20 menit berlalu.
“Aku kesel sama Papa, Oppa!”
Ucapan Yumna membuat gue yang sedang menyenderkan punggung dalam mobil sedikit kaget dan terperanjat. Gue tersenyum. Akhirnya ni anak ngomong juga, ucap dalam hati.
“Jangan ngambek gitu dong, nanti cantiknya ilang,” ucap gue merayu.
“Biarin! Kalau aku gak cantik lagi emang kenapa?”
“Ya, nyari lagi,” ucap gue terkekeh.
“Icchhhh ... Oppa jahat! bukanya ngerayu, malah kek gitu.” Bibir Yumna semakin mengerucut.
“Lah. Cowok tuh selalu salah di mata cewek. Tadi udah dirayu, jawabannya jutek bener. Giliran ngomong mau nyari cewek lagi dikatain jahat. Terus Kakak mesti gimana?”
Hening.
Gak ada jawaban dari Yumna. Malah, bibirnya semakin mengerucut.
“Hey,” ucap gue sambil memandang Yumna yang masih tertunduk.
Tuhan jagakan dia
Dia kekasihku
Kan tetap milikku
Aku sungguh, sungguh mencintai
Sungguh menyayangi
Setulus hatiku.
“Maafin Kakak, ya?” Setelah gue bersenandung.
Yumna mulai mengangkat wajahnya, terlihat matanya berkaca-kaca. Hingga akhirnya, ia memeluk gue.
Ayey, manjur juga tuh lagu.
“Oppa, jangan tinggalin Aku, ya?” ucap Yumna.
Gue mengusap pelan rambutnya, seraya menganggukan kepala gue. Setelah acara nangis selesai, Yumna bergegas masuk menyusul ibunya yang sedari tadi telah masuk ke dalam rumah. Seperti biasa, gue tunggu hingga Yumna terlihat membuka kaca jendela kamarnya dan melambaikan tangan. Gue kembali memacu mobil menuju rumah.
***
Seperti biasa, kak Manda masih terlihat murung. Karena sampai kehamilan kak Manda yang menginjak lima bulan, bang Aril belum juga berubah. Terlihat perut yang mulai membuncit dan pipi yang mulai cuby.
“Hai, Kak,” ucap gue menyapa kak Manda.
“Ehh, udah pulang, Reen?” jawab kak Manda yang tersadar dari lamunannya. Sangat terlihat di awal, tatap mata kak Manda kosong.
“Boleh gue pegang perutnya, Kak?”
Kak Manda menganggukan kepalanya.
Gue memegang perut kak Manda setelah gue minta ijin. Terlihat air mata kak Manda meluncur membasahi pipi. Namun, dengan cepat ia menyeka air bening itu. Gue tersadar dan langsung melepaskan tangan gue dari perut kak Manda.
“Maaf, Kak. Gue enggak ada maksud apa-apa,” ucap gue.
“Enggak papa Reen. Kakak enggak marah, Kakak hanya terharu, mendapat perhatian dari adik ipar Kakak. Karena suami Kakak sendiri tidak pernah seperti ini,” ucap kak Manda.
Ya Allah, terlihat sekali guratan kesedihan pada wajah kak Manda. Sejak kak Manda hamil, memang gue yang lebih dekat dengannya. Karena memang, gue yang paling tahu keadaan semuanya. Keadaan bang Aril yang sedang bingung dengan masalah Nila, dan keadaan kak Manda yang menuntut perhatian dari bang Aril tanpa mengetahui keadaan bang Aril saat ini.
Entah, apa yang akan dilakukan kak Manda apabila mengetahui semua permasalahan ini? Gue selalu berharap, hubungan kak Manda sama bang Aril menjadi lebih baik. Semoga urusan bang Aril cepat selesai tanpa merugikan atau membuat sakit hati ke semuanya.
“Kak,” ucap gue.
Kak Manda mengangkat wajahnya dan melihat ke arah gue.
“Jaga baik-baik calon ponakan gue, ya? Gue yakin, anak ini nanti jadi orang yang kuat seperti Kakak.”
Lagi-lagi, kak Manda menitikan air mata.
“Iya, pasti Kakak akan jaga baik-baik Reen, makasih, ya?” kak Manda mengusap pelan lengan gue.
.
Jam telah menunjukan pukul sepuluh malam. Gue belum juga mendengar suara mobil bang Aril pulang. Di rumah cuma ada kak Manda sama gue. Nyokap sama bokap gak ada di rumah, mereka sedang pergi ke rumah Nenek yang sedang sakit.
Terlihat Kak Manda sedang duduk di balkon kamarnya.
“Shit! Apa sih, mau bang Aril?”
Gue lanjut ambil kunci motor dalam laci, menyambar jaket yang tergantung di balik pintu kamar. Menuruni anak tangga dan bergegas membuka pintu gerbang setelah gue menunggangi motor kesayangan, melaju dalam kecepatan tinggi agar dapat sampai dengan cepat menuju kantor bang Aril.
Seperti biasa, bang Aril sedang tidur si sofa ruangan nya. Di mejanya terdapat botol minuman. ‘Kalau saja bang Aril ini adek gue, udah habis gue hajar ni orang!’ terucap dalam hati.
“Bangun bang!”
“Hem.”
Tanpa ragu lagi, gue ambil air dari dispenser. Gue siram mukanya. Bang Aril terperanjat, mungkin dia udah gak mabuk.
“Apa sih, Dek?” tanya bang Aril melotot.
“Mau lo apa sih, bang?”
“Mau apanya?” Timpal bang Aril lagi.
“Lu malah molor di sini, sedangkan Kak Manda nungguin lo di balkon kamar! Mentang-mentang Papa, Mama enggak ada. Lo jadi seenak jidat menelantarkan istri!” ucap gue yang terlanjur emosi.
Bang Aril menggaruk kepalanya, lalu menghempaskan tangannya. Seperti orang yang penat dengan keadaan sekarang. Akhirnya, bang Aril menceritakan tentang Nila sama gue. Bang Aril nyuruh Nila cuti sampai Nila melahirkan. Karena perut Nila yang mulai terlihat membuncit, Nila menjadi omongan karyawan kantor. Secara, Nila gak punya suami saat ini.
Namun, masalahnya. Nila meminta biaya hidup 30 juta per bulan, dengan alasan membiayai dirinya dan janin yang ada di perutnya. Makanya bang Aril jadi bingung.
“Stres, tu orang!” Gue menggelengkan kepala mendengar cerita bang Aril.
Bang Aril hanya terdiam. Karena bang Aril telah menyetujui syarat yang diajukan Nila. Bang Aril menyuruh Nila untuk ke luar kota agar tidak ada seorang pun yang mengetahui dirinya hamil.
“Ya udah Bang, nanti dipikirin lagi. Kasihan kak Manda di rumah sendirian nungguin lo!”
***
‘Dareen, Om Beni meninggal. Tolong tante, bujukin Yumna. Yumna tidak mau melepaskan pelukan pada Papanya.’ WA dari Ibunya Yumna.
“Inalillahi! Iyeu naon deui, Gusti? (Ini apa lagi, gusti?)
Masalah bang Aril aja belum menemukan titik terang, sekarang Yumna juga terpuruk karena kehilangan Papanya.”
Pikiran gue semrawut dengan keadaan saat ini. Bang Aril dengan masalah yang berbulan-bulan belum beres. Ditambah kesedihan Yumna yang kehilangan Papanya.
Gue hanya menitipkan kunci bengkel kepada Ferdy dan memberi tahu kalau gue gak kerja hari ini. Langsung meluncur ke rumah Yumna.
Dalam rumah megah itu banyak sekali orang yang datang untuk melayat. Terlihat, Yumna menangis dan memeluk jasad Papanya. Seolah, Yumna tidak mengijinkan papanya untuk dimakamkan.
Gue masuk dan mendekati Yumna. Ibunya memberikan kesempatan pada gue untuk membujuk Yumna. Gue mengusap rambutnya pelan dan berbisik pada Yumna.
“Kamu tidak kasihan sama Papa, Na?”
Mata Yumna menatap gue. Namun, tangannya tetap memeluk erat jasad papanya.
“Lepaskan, Sayang. Iklaskan dan do’akan Papa agar ia mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah.”
Yumna menangis, kini tangannya berpindah memeluk gue.
“Allah telah ambil Papa dari aku, Oppa,” pekik Yumna dalam tangisan.
Yumna masih nangis sesegukan. Gue membiarkan ia menangis dalam dekapan. Setelah agak tenang. Kini gue memegang kedua pipi Yumna, memandang matanya dan berusaha menguatkan Yumna.
“Yumna sayang Papa?” tanya gue.
Yumna menganggukan kepalanya.
“Allah lebih sayang sama Papa Yumna, iklaskan Papa agar Papa bisa dengan mudah menuju surganya. Yumna percayakan, kalau Papa orang baik?”
Yumna mengangguk.
“Insya Allah, dengan do’a dari Yumna, Papa akan diampuni dosa-dosanya.”
Hening.
Terlihat air mata masih membasahi pipinya. Gue tahu, iklas itu hal yang paling sulit untuk dilakukan. Namun, apabila dihadapkan dengan kematian, kita bisa apa?
Banyaknya para pelayat, menambah sesak dalam ruangan ini. Banyak juga yang mengirim karangan bunga di depan halaman rumah Yumna.
Yumna masih belum mau bicara. Matanya tetap memandang lekat pada wajah Papanya. Seolah, ia sangat berat berpisah dari papanya untuk selama-lamanya.
Satu jam berlalu.
“Iya. Yumna sekarang udah iklasin Papa.”
Pekik Yumna, yang terdengar parau.
jd penasaran aq thoor
salken....
Kuy.....nyimak nih...😊🤝👍💪