Cinta adalah anugerah ilahi. Saat cinta kepada pasangan halal didasarkan tuntunan Sang Mahacinta, semua menjadi indah.
Cinta sepasang suami istri tidak hanya sampai tua, tetapi hingga kehidupan berikutnya. Di kala senang, suasana indah dinikmati penuh syukur. Di saat susah, dihadapi bersama penuh tawakal.
Itulah yang dilakukan Azka dan Meli. Pasangan muda yang menikah saat mereka belum lama saling mengenal. Cinta tumbuh subur dalam ikatan yang halal.
Di saat cobaan melanda, mereka dengan penuh kesabaran melewatinya. Mereka saling menguatkan untuk kembali menikmati indahnya mentari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rancangan Baksos
Rinai gerimis masih setia mengiringi perjalanan malam. Suhu dingin membungkus udara. Senyap pun melengkapi suasana.
Kebanyakan orang memilih berdiam diri di rumah. Tak sedikit yang membungkus tubuh dengan selimut tebal.
Azka dan Meli pun sama-sama memilih berdiam diri di rumah. Meski esoknya libur, mereka enggan bepergian.
Keduanya malah berada di ruang kerja. Azka menyelesaikan pengecekan laporan. Sementara Meli berkutat dengan tugas kuliah 2 hari sebelumnya.
Karena hanya mengecek satu laporan, Azka tidak membutuhkan waktu yang lama. Ia segera membereskan dokumen-dokumennya. Setelah rapi, ia memperhatikan Meli yang masih menarikan jemari lentiknya di atas keyboard.
“Banyakkah tugasmu? Baru minggu pertama kuliah langsung diberondong tugas. “ Azka mengomentari aktivitas sang istri.
“Kalau tugas sebetulnya sudah selesai. Meli sedang mengedit proposal baksos.”
“Kampusmu mau mengadakan kegiatan baksos? Kapan? Kamu sekretarisnya?”
Meli menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia menatap Azka dengan memasang muka cemberut.
“Nanyanya satu-satu kenapa? Meli kan sedang mencermati proposal ini. Bingung deh jawabnya.”
“Satu satu, aku sayang ibu.” Azka malah bersenandung.
Meli mendengus kesal. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
“Kamu hebat banget, sih? Baru saja masuk sudah terpilih menjadi sekretaris.” Azka mengulang pembicaraan sebelumnya.
“Tadinya Meli memang ditunjuk sebagai sekretaris. Tapi Meli nggak mau, minta tukar. Akhirnya, Meli tukar dengan Hani. Dia yang sekretaris, Meli di humas.”
“Memang menyiapkan proposal menjadi tugas humas? Bukankan itu job sekretaris?”
“Iya. Tapi, proposal yang dibuat Hani masih banyak yang salah. Dia sendiri bingung untuk membetulkan. Karena kasihan, ya Meli bantu. Toh humas belum bertugas.”
Azka mengangguk-angguk paham. Dalam hati ia memuji kegesitan Meli.
“Sumber dana dari mana?” tanya Azka.
“Iuran suka rela mahasiswa, dosen, juga donatur.”
“Kenapa tidak cari sponsor? Memang kegiatannya apa saja? Nggak butuh dana besar?”
Meli kembali berhenti. Ia mengambil print out proposal yang disusun oleh Hani.
“Ini, Mas Azka baca sendiri jenis kegiatannya.”
Azka menerima proposal dari tangan Meli. Ia mulai membuka-buka halaman demi halaman.
“Boleh kasih saran?” Azka meletakkan proposal ke atas meja.
“Apa?”
“Pasar murahnya diadakan dulu. Hasil penjualannya, nanti masuk untuk modal kegiatan selanjutnya. Barang-barang yang dijual di pasar murah bisa didapat dari sponsor kalau buat sponsorship. Untuk sanitasi, sudah survey lokasi? Apa saja yang dibutuhkan?” Azka berbicara panjang lebar.
Meli mengulas senyum manis. Ia menatap Azka penuh kekaguman.
“Meli belum tahu. Besok akan Meli tanyakan ke Aldo.”
“Kalau perlu, jangan hanya edukasi kepada masyarakat. Seandainya daerah tersebut sarana sanitasi tidak memadai, kalian bisa bantu membangun sarana tersebut. Misalnya masih banyak warga yang belum memiliki ****** yang standar. Nah, buatkan ****** yang memenuhi standar. Tentunya ini ditujukan kepada KK yang tidak mampu.”
“Biayanya besar, dong!” ucap Meli.
“Makanya, kalian jangan hanya mengandalkan donatur! Cari sponsor! Kalian ajukan proposal ini ke perusahaan-perusahaan. Tentu saja harus ada kompensasi. Misal, mereka dibuatkan banner promosi di lokasi.”
Mata Meli berbinar. Ia bisa mencerna ide Azka.
“Wah, Mas Azka hebat! Meli akan bicarakan ini dengan panitia yang lain.”
“Kamu baru tahu kalau suamimu ini hebat?”
“Iiih, kumat deh narsisnya.” Meli mencebikkan bibirnya.
Azka terkekeh melihat reaksi Meli. Diacaknya rambut istrinya dengan gemas.
“Kebiasaan, deh. Mas Azka seneng banget bikin Meli jadi berantakan.”
“Kamu tetap cantik meski berantakan.”
“Ya iyalah. Meli kan perempuan. Masa iya berubah jadi ganteng? Saingan ntar sama Mas Azka.”
Azka terbahak-bahak mendengar sahutan Meli. Sekarang Meli semakin pandai menanggapi obrolan dengan konyol.
“Kamu ajukan proposal ke kantor Mas kalau sudah disetujui. Insya Allah Mas bisa bantu sedikit. Kalau mau, kamu juga bisa ke kantor Mas Farhan dan Mbak Via. Mas yakin mereka nggak keberatan.”
Meli mengangguk. Ide-ide pun bermunculan bak jamur di musim penghujan.
***
Di ruangan itu ada 6 orang panitia ditambah Yoga sedang membahas rencana bakti sosial. Mereka duduk lesehan di atas karpet biru. Aldo sengaja membuat suasana tidak formal dengan menggelar rapat lesehan. Ia ingin rapat berjalan santai tetapi menghasilkan sesuatu yang besar.
Ia pun tidak mengundang semua panitia. Selain sekretaris dan bendahara, ia hanya mengundang koordinator seksi kegiatan.
Setelah membuka rapat dan basa-basi sejenak, Aldo menjelaskan pembahasan utama rapat kali itu.
“Rekan-rekan panitia, maaf nggak semua aku undang. Kita matangkan dulu planning kita. Kalau sudah, baru aku floor-kan ke seluruh panitia lalu konsultasi ke PD III. Rancangan baksos kemarin sudah bagus, tetapi ada masukan yang aku rasa patut dipertimbangkan. Meli, coba jelaskan ide kamu!” perintah Aldo.
Meli dengan tenang memaparkan ide yang ia dapat dari Azka. Ia pun menyampaikan dengan detail rancangan kerja panitia seandainya gagasan itu disetujui.
“Gila! Itu butuh dana yang gede banget. Berapa lama waktu penggalangan dana untuk mengumpulkan duit sebanyak itu?” celetuk Fani, koordinator seksi penggalangan dana.
“Sekitar 10 sampai 15 hari. Ingat, tidak harus berupa uang. Selain itu, kita bisa membuat sponsorship dengan kompensasi yang menarik.” Meli tetap tenang.
“Papamu kan kerja di perusahaan besar, Fan. Kenapa kamu nggak lobi papamu?” sahut Hani.
Fani tampak gugup. Ia tidak menanggapi ucapan Hani.
“Seksi lain juga bisa bantu menggalang dana, entah itu dari donatur maupun sponsorship,” lanjut Meli.
Yoga hanya diam sembari menatap Meli terus-menerus. Kekaguman pria itu terhadap Meli makin subur. Ia memang bukan panitia, tetapi ia sudah biasa terlibat kegiatan kemahasiswaan tanpa jabatan.
“Yang lain bagaimana? Ada masukan? Kita tetap seperti rencana awal atau ada perubahan seperti ide Meli?” Aldo melempar ke teman-temannya.
“Aku setuju usul Meli.”
“Aku juga.”
Selain Fani, panitia lain menyetujui usul Meli. Aldo pun memutuskan melakukan perubahan kegiatan.
“Han, rancangan proposalmu mana? Sini, aku tandai bagian yang harus kamu ubah!” kata Aldo, “Sinta, kamu selaku bendahara, buat rancangan anggaran lagi!”
Hani mendekat ke Aldo. Ia menyodorkan rancangan proposal yang sudah ada perbaikan dari Meli, tetapi belum memuat ide baru yang Meli sampaikan.
Meli mencolek Sinta. Ia menarik Sinta sedikit menjauh dari yang lain.
“Ini, aku sudah buat rancangan anggaran. Nanti kamu tunjukkan ke Aldo.” Meli berbisik ke telinga Sinta sambil menyerahkan flash disk diam-diam.
Sinta menatap Meli seakan tak percaya. Meli membalas dengan anggukan dan senyuman.
“Buka saja, nanti kamu tunjukkan laptopmu ke Aldo,” ucap Meli dengan suara berbisik.
Sinta menurut. Ia mengeluarkan laptopnya lalu membuka file dalam flash disk Meli.
Setelah beberapa saat, Sinta mendekat ke Aldo dan menyodorkan laptopnya.
“Nih rancangan anggarannya. Kalau seperti ini, bagaimana?”
Aldo menoleh. Ia tampak heran karena dalam waktu singkat Sinta sudah menyelesaikan tugas.
“Coba aku lihat!”
Aldo mencermati uraian dan angka yang tertera di layar monitor. Yoga turut mengamati.
“Wah, hebat kamu, Sin! Rancanganmu oke banget,” puji Yoga.
“Sepertinya Meli yang kasih file ke Sinta. Tadi ia membisikkan sesuatu ke Sinta. Kalau benar ini dari Meli, aku harus acungkan banyak jempol untuknya. Aku makin tak bisa berpaling,” batin Yoga.
Setelah membahas beberapa masalah, mereka pun membubarkan diri. Sinta mendekati Meli.
“Makasih, Mel. Berkat kamu tugasku menjadi sangat ringan,” ucap Sinta tulus.
“Sama-sama. Itu kan ideku, jadi aku sekalian membuat rancangan anggaran kemarin malam.”
Mereka meninggalkan sekretariat. Yoga mengekor di belakang Meli.
“Kamu pulang ke ruko, Mel?” tanya Yoga.
“Iya, Kak. Mbak Mira hari ini tidak masuk lagi. Wati sedang pergi ke tempat saudaranya. Sementara order online cukup banyak. Kalau hanya bertiga sambil tetap buka toko, mereka kewalahan,” jawab Meli.
“Oh, kamu kerja di ruko?” ucap Fani yang tiba-tiba di samping Yoga.
“Iya, bareng Salsa. Kamu sekelas sama Salsa, kan?” sahut Meli ramah.
“Hem, iya,” jawab Fani.
“Rupanya dia pelayan toko, sama seperti Salsa. Huh, nggak level dong sama aku.”
Sesampai tempat parkir, Meli mendekat ke motor barunya.
“Kamu berani sekali, ya? Masih baru di sini sudah putar-putar pakai motor sendiri,” komentar Sinta.
“Kan cuma dari ruko ke sini dan sebaliknya. Aku belum berani keliling kota sendiri naik motor.”
“Itu sepeda motor inventaris ruko?” tanya Fani sinis.
Meli hanya tersenyum. Fani menganggap senyum Meli sebagai persetujuan ucapannya. Ia berjalan dengan angkuh menuju mobil jazz warna putih.
***
Bersambung
Nantikan kelanjutannya, ya! Ada yang sudah berharap Meli hamil seperti Anjani, sahabatnya? Sabar, ya! Untuk yang kangen Anjani, cusss ke TAKDIRKU BERSAMAMU karya Kak Indri Hapsari.
semoga bs SEGERA UP nya....