Menjalin hubungan dengan orang yang sangat dicintai selama beberapa tahun, tidak menjamin bahwa namamu yang akan dia sebut dalam janji suci dan bersanding bersamanya di pelaminan.
Seperti yang dirasakan oleh Laura Clarissa, gadis yang awalnya berharap segera dilamar oleh sang kekasih, malah yang terjadi adalah sebaliknya, kekasihnya itu memberi sebuah cincin, bukan sebagai lamaran akan tetapi hanya karena ingin dikenang, sebab kekasihnya itu akan menikahi orang lain.
Namun ditengah rasa sakit hati yang ia pikul seorang diri, ada sahabat yang diam-diam menyukainya, akan tetapi Laura sama sekali tak pernah menyadari perasaan sahabatnya itu
Di lain sisi, dia juga bertemu orang yang mengaku teman masa kecilnya, orang yang mengaku ingin mempersunting dirinya.
Kisah asmara seperti apa selanjutnya? dimanakah Laura akan memantapkan hatinya? tidak bisa move on dari mantan? menyadari perasaan sahabatnya? atau jatuh cinta kepada teman masa kecilnya?
Penasaran? ikuti kisahnya 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon israningsa 08., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Karena Sebuah Kalung
Mendengar kata cemburu membuat Laura terkejut, ia tak menyangka kata itu keluar dari mulut Reyhan, saking kagetnya Laura menutupi mulutnya yang menganga dengan kedua tangan.
"Aku tau aku juga tidak berhak untuk cemburu karena aku bukanlah siapa-siapa, tapi aku tetap merasa iri dengannya Ra! Kamu selalu bersama dengannya disaat kita belum bertemu, dia pernah menggandeng tanganmu sedangkan aku tidak pernah sekalipun, kamu selalu tersenyum dan tertawa bersamanya tapi aku kapan? Aku malah menantikan moment itu tapi kamu selalu saja menganggapku berlebihan Ra! Padahal aku hanya berusaha ingin mengejarmu!" ungkap Reyhan lirih.
"Lalu apa menurutmu aku salah jika aku cemburu? Kalau kamu masih menganggapku berlebihan tidak masalah karena aku melakukannya semua demi kamu, jujur aku tidak pernah merasa cemburu sebelumnya Ra! Ini pertama kalinya dan itu semua karena kamu!" Lanjutnya.
Seketika Laura berdiri, dia melirik Reyhan dari sudut matanya, "Aku mau pergi!" ucap Laura hendak melangkah.
Tiba-tiba Reyhan bertindak, ia mencegah dengan memeluk Laura dari belakang, melingkarkan tangannya di perut Laura, "Jangan pergi Ra! Aku mohon jangan mencari laki-laki lain, aku tidak mau sakit hati melihatmu dekat dengan Vanno! " Selanya.
Laura memukul-mukul tangan Reyhan yang melekat diarea perutnya, "Lepaskan kak! Aku mau pergi, kalau sampai ada orang yang melihat kakak seperti ini, pasti akan ada kesalahpahaman! Dan aku tidak mau punya masalah lagi, aku sudah cukup menderita sebelumnya kak! Aku sudah tidak mau merasa sakit lagi! Jadi lepaskan aku sekarang juga!" tegas Laura memukul keras tangan Reyhan hingga suara decaknya terdengar jelas
Ahk...
Namun sayang ketika dia sudah bebas, Reyhan sekali lagi meraih pinggulnya lalu menarik hingga Laura terhempas masuk dalam dekapannya.
"Kak Rey!!!" ia memberontak, "Kenapa? Aku kan sudah bilang jangan pergi dulu! Aku sadar diri Ra! Aku tidak tau bagaimana bersikap Romantis pada seorang wanita, semua rayuan yang sebelumnya kamu dengar dariku itu hanyalah rekayasa, aku berusaha mencarinya di salah satu situs online karena apa! Itu semua agar kamu bahagia dan langsung terpikat padaku, tapi ternyata aku salah kamu bukanlah wanita yang mudah tergoda dengan rayuanku, maaf aku tidak tau bagaimana cara membahagiakanmu!" ungkap Reyhan.
Laura memalingkan wajah, "Kak Rey tidak perlu capek-capek melakukan hal bodoh itu, karena aku juga tidak pernah meminta sesuatu sama kakak selain berhenti membuatku stres itu saja!" balas ketus Laura.
"Kamu tenang saja! Aku tidak akan menyerah meskipun kamu menolakku seribu kali Ra! Mulai sekarang...."
Seketika ucapannya terhenti kala melihat sebuah kalung terpasang di leher Laura, kalung dengan berlian kecil berkilau itu membuat Reyhan kembali emosi.
"Ini... siapa yang memberimu kalung ini?" tanyanya.
"Dari Vanno!" jawab singkat Laura tapi membuat Reyhan kembali memasang raut wajah seram, "Kenapa kamu memakainya?"
"Dia meminjamiku, dan aku sangat suka jadi aku pakai saja!" jawabnya belum menyadari emosi Reyhan.
"Lepaskan sekarang juga!" titahnya mendorong Laura menjauh beberapa meter darinya.
"Melepaskan kalung ini? Kenapa aku harus melakukannya? Lagian aku merasa berjodoh dengan kalung ini, bukankah sangat pas dengan gaun yang ku pakai?" ia malah meminta pendapat Reyhan, tanpa tau apa yang akan terjadi dengannya.
Dari mulutnya Reyhan tampak berdecih, Penuh amarah dengan kedua tangannya angkuh berada di pinggang.
"Aku bilang lepaskan!!! Kamu mau melepaskannya sendiri atau aku yang dengan senang hati menghancurkannya? Ra... Aku tidak suka kamu memakai barang pemberian orang lain, kalau kamu ingin sebuah kalung berlian, aku bisa saja memberimu beberapa set kalung, kamu tinggal minta padaku apa susahnya?" Laura melongo, tak percaya akan sikap Reyhan yang terlalu posesif padanya.
"Kak Rey... Sudah cukup!!! Hentikan semua ini, aku sudah bilang aku tidak suka kakak memperlakukanku seperti ini, kita belum terpikat hubungan apa-apa kak tapi kenapa kak Rey seolah memaksakan kehendakku, kalung ini? Ini hanya kalung yang Vanno berikan untukku semalam karena aku bersedia menjadi pasangannya! Hanya itu, itu saja kak!"
"Tapi tetap saja, aku mau kamu melepaskan karena aku tidak suka!"
"Tidak mau!" tolak Laura menutupi permata kalung tersebut dengan telapak tangannya.
"Laura!!!" jerit Reyhan mendekati Laura hanya 2 langkah besar dan dia seketika melepas tangan Laura, menarik kalung tersebut hingga lepas dengan kasar, meninggalkan goresan di leher belakangnya, Sekilas Ia merasa perih namun itu tidaklah penting.
Ia melihat kalung tersebut sudah berada di tangan Reyhan, "Kak! Jangan keterlaluan, itu bukanlah milikku! Berikan padaku kak!" pintanya dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu mau ini, Kenapa Ra? Kenapa kamu tidak rela jika kalung murahan ini terlepas dari lehermu? Apa ini lebih penting dariku?" Sekanya.
Laura sempat terbelalak aneh dengan ucapan Reyhan, lelaki yang selalu membuatnya kesal, ia hanya bisa mendengus sembari memandang kalung tersebut.
"Yah... Kalung itu sangat penting! Kakak puas sekarang?" jawabnya ketus.
Reyhan geram, ia menggertakkan gigi dengan tatapan intens diremasnya kuat kalung itu lalu membuangnya tepat di dekat sepatunya.
"Apa yang kakak Lakukan?" jeritan Laura tak ia gubris.
"Lihat baik-baik jika kamu menganggap sesuatu yang tidak berharga lebih penting dariku!" cekamnya.
Dia mengangkat kakinya, diinjaknya kalung tersebut bukan hanya sekali atau dua kali tetapi sebuah injakan bertubi-tubi sontak Laura terperangah menyaksikan kegilaan Reyhan.
"Kak Rey! Hentikan nanti kalungnya bisa rusak!!" lagi-lagi Reyhan seolah tak mendengar teriakan Wanita yang kini penuh amarah.
Tak terima melihat Reyhan melakukan itu tanpa henti, Laura mengepal kedua tangannya mendorong keras Tubuh Reyhan hingga dia akhirnya mundur beberapa langkah.
Sungguh, Laura menangis menyaksikan betapa malangnya kalung tersebut, berlian kecilnya tak lagi utuh, bahkan ada bagian yang putus namun dia masih memungutnya.
"Kenapa, Kenapa kak? Ini adalah sebuah hadiah pertama untukku dari Vanno! Tapi kenapa kakak malah merusaknya?" Marah Laura berdiri dengan sikap menantang.
"Karena aku tidak suka Ra! Aku benar-benar tidak suka!!!"
"Terserah, aku capek bicara sama kakak!" Laura berbalik badan melangkah meninggalkan Reyhan yang masih di liputi emosi.
"Kamu mau kemana?" Tanyanya, tapi Laura tak menoleh ia bahkan tak punya niat untuk sekedar menjawab pertanyaan itu.
Laura juga tak perduli jika Reyhan menyusulnya atau tidak, karena menurutnya menjauh dari dia sekarang adalah yang terbaik, lagipun Reyhan masih begitu emosi, jika saja Laura masih ada disana mungkin hanya akan menambah masalah.
.
.
.
.
Halo para readers 🤗 makasih udah mampir di cerita ini, makasih untuk like dan votenya , aku mau minta pendapat kalau cerita ini menurut kalian bagus nggk? soalnya suka down kalau lihat nggak ada yang koment di beberapa Part😣
sukses
semangat
mksh
sukses
semangat
mksh
keren