Aini terpaku di ruang tamu kontrakannya yang kecil. Suara itu...suara Dimas yang sedang melakukan transaksi dengan seseorang telah menghancurkan seluruh hidupnya. Diusapnya perut yang sudah besar. Dia sudah hamil delapan bulan dan anak itu...!!! anak yang dia pertaruhkan dengan seluruh jiwa raganya.... kini...!!!! ayahnya sendiri sedang melakukan transaksi penjualan entah dengan siapa. Pandangan perempuan muda itu menggelap......!!!!
Aini meninggalkan rumah, suami...pergi dengan satu tujuan "Menyelamatkan sang Bayi". Menghadang hujan badai dan petir yang sambar menyambar. Ketika hidup mulai berpihak padanya, Aini dihadapkan lagi pada kenyataan...anak yang sudah dia besarkan bertemu Ayah kandungnya. Bisakah Aini meredam semua kebaikan yang sudah dia tanam tetap ada di dalam diri putra semata wayangnya itu??? Bagaimana akhir kisah yang menguras air mata ini? Ikuti saja di "Pembalasan Anak yang Kau Jual"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sikumbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Kebebasan
Mobil itu berhenti di halaman gedung Pengadilan Agama. Aini turun dengan hati berdebar, tangannya tak lepas dari tas berisi berkas-berkas yang sudah ia siapkan selama berminggu-minggu.
Ditatapnya bangunan itu dengan perasaan campur aduk.....ada rasa takut, cemas, namun yang paling besar adalah rasa pengharapan untuk sebuah kebebasan. Di sinilah....ditempat ini, dirinya akan memutuskan ikatan yang sudah mati itu..... selamanya.
"Mari, Bu. Ibu masuk saja duluan," ucap Jaja sambil memarkirkan mobil dengan rapi. Ia turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Aini. Penampilannya yang sederhana dengan kaos lusuh dan celana jeans itu membuatnya tampak berbeda , tidak mencolok, namun setiap gerak-geriknya memancarkan ketenangan dan kepercayaan diri yang luar biasa.
Aini mengangguk ragu.
"Terima kasih, Pak Jaja. Tapi... Bapak tidak ikut masuk? Nanti saya bingung kalau harus mengurus semuanya sendiri."
Jaja tersenyum tipis, matanya yang tajam berkilat jenaka.
"Saya ada urusan sebentar di sebelah sana. Ada teman yang harus saya temui. Tapi tenang saja... saya sudah titip pesan sama kenalan saya di bagian administrasi. Bilang saja nama Ibu, urusan gugatan cerai. Nanti akan diarahkan semua. Saya janji, tidak akan lama kok. Saya akan kembali sebelum urusan Ibu selesai."
Aini menurut. Ia melangkah masuk ke dalam gedung itu dengan hati-hati.
Benar saja....!!!!
Begitu ia menyebutkan nama dan keperluannya, petugas laki-laki itu langsung menyambutnya dengan sangat ramah. Segala urusan berkas, pengisian formulir, hingga penjelasan prosedur berjalan dengan sangat lancar, jauh lebih mudah dan cepat daripada yang Aini bayangkan sebelumnya. Ia tidak perlu mengantre panjang, tidak perlu bingung menanyakan sana-sini. Semuanya seolah sudah diatur dan dipersiapkan dengan rapi untuknya.
Tak lama, Jaja sudah kembali muncul di ambang pintu ruangan administrasi. Ia melambaikan tangan menyapa Aini yang sedang duduk menunggu tanda tangan terakhir.
"Sudah selesai semua, Bu?" tanyanya santai, tungkainya yang panjang mendekat dengan langkah ringan.
Aini mengangguk takjub, matanya membelalak kaget melihat betapa cepatnya urusan itu beres.
"Sudah, Pak! Luar biasa sekali. Padahal saya dengar dari tetangga, urusan di sini bisa berhari-hari atau berbulan-bulan. Tapi ini... cuma sebentar saja sudah beres, dan katanya keputusan cerai sudah pasti dikabulkan karena suami saya hilang tanpa kabar lebih dari satu tahun dan tidak menafkahi."
Aini menatap Jaja lekat-lekat, penuh rasa ingin tahu.
"Bapak... Bapak pasti sudah mengatur ini semua kan? Bapak yang minta tolong ke teman Bapak tadi, Bapak yang melancarkan jalan saya?"
Jaja hanya tertawa kecil, tawanya terdengar renyah dan misterius. Ia mengangkat bahu seolah hal itu bukan apa-apa.
"Ah, mana ada. Kebetulan saja urusan Ibu memang sudah lengkap berkasnya, jadi memang sudah seharusnya cepat beres. Tuhan yang melancarkan jalannya, bu. Saya cuma sebagai perantara."
Aini menatap manik mata Jaja. Laki-laki itu melengos menghindari tatapan Aini.
"Jangan bohong, Pak. Saya bisa lihat sendiri betapa ramahnya mereka sama saya. Bapak pasti punya andil besar di sini," desak Aini. Dilubuk hari yang paling dalam, penuh rasa terima kasih, tapi hati kecilnya tak bisa dibohongi.
Jaja menatap Aini dengan sorot matanya yang tajam namun lembut, lalu menjawab dengan kalimat yang membuat Aini makin bingung.
"Bu Aini, percayalah... ada orang-orang yang berutang budi pada kebaikan hati wanita sepertimu. Ada orang-orang yang sangat ingin melihatmu bebas dan bahagia. Saya hanya perpanjangan tangan saja. Anggap saja... saya ini tukang antar pesan dan bantuan. Nanti kalau waktunya tiba, Ibu akan mengerti semuanya. Sekarang, yang penting Ibu sudah bebas. Ikatan itu sudah putus. Ibu sudah jadi wanita yang mandiri, sah, dan bebas sepenuhnya. Sangat simpel kan, Bu?."
Jawaban yang ambigu.
Aini mengerutkan kening, berusaha mencerna arti kata-kata itu, tapi ia sadar menekan lebih jauh pun tidak akan mendapat jawaban yang jelas. Ada sesuatu yang disembunyikan Jaja, sesuatu yang misterius, namun.....sudahlah!Aini yakin itu semua demi kebaikannya juga.
"Ya sudah... apa pun alasannya, terima kasih banyak ya, Pak. Bantuan Bapak tak akan pernah saya lupakan" ucap Aini akhirnya dengan tulus.
Mereka kembali berjalan menuju mobil. Aini berjalan sedikit di belakang. Jaja berhenti...menunggu! sampai langkah mereka beriringan.
Perjalanan pulang dimulai.
Suasana di dalam mobil terasa lebih santai. Beban berat yang selama satu tahun lebih membebani pikiran Aini akhirnya selesai. Ia bebas. Ia bukan lagi istri Dimas. Ia hanya Aini, ibu dari Syafa dan Satria, wanita yang berhak menentukan nasibnya sendiri.
"Senang ya, Bu. Akhirnya Ibu bebas tanpa ikatan." ujar Jaja pelan. Aini menoleh dan tersenyum.....sangat manis di mata Jaja.
"Iya, Pak Jaja. Sekarang saya sudah benar-benar lepas dari masa lalu yang buruk...kelam dan menakutkan. Kini saya cuma fokus pada masa depan kedua anak saya."
Jaja memandang sekilas, tatapan itu sulit diartikan. Tiba-tiba ia membelokkan mobilnya berhenti di depan sebuah toko makanan cukup terkenal di kota itu. Toko yang menjual berbagai macam kue kering, jajanan tradisional, dan camilan yang dikemas rapi.
"Tunggu sebentar ya, Bu. Saya beli sesuatu dulu," kata Jaja sambil membuka pintu.
Aini ikut turun.....penasaran.
"Mau beli apa, Pak? Saya ikut saja sekalian."
Ternyata Jaja masuk ke dalam dan langsung mengambil beberapa bungkus besar kue dan camilan. Ada kue lapis, ada kacang goreng, ada kerupuk khas kota itu, ada juga susu dalam kemasan. Semuanya dikemas dalam plastik yang rapi dan bersih.
"Ini buat apa, Pak?" tanya Aini heran saat melihat banyaknya barang yang diambil Jaja.
"Oleh-oleh buat anak-anak Ibu. Syafa sama Satria pasti senang kalau dapat oleh-oleh dari kota," jawab Jaja santai sambil berjalan menuju kasir untuk membayar.
Aini langsung menahan tangan Jaja, wajahnya tampak serius dan menolak dengan tegas.
"Jangan, Pak! Tidak usah! Saya punya uang kok, saya bisa beli sendiri. Bapak sudah terlalu banyak bantu saya hari ini, sudah antar, sudah bantu urus di pengadilan. Saya tidak mau merepotkan Bapak lagi. Taruh saja, biar saya yang bayar."
Aini sudah mengeluarkan uang dari dompetnya, uang hasil jerih payah berjualan nasi uduk yang ia simpan rapi. Ia tidak mau berutang budi lebih banyak lagi, dan ia merasa tidak pantas jika terus-menerus ditanggung orang lain.
Namun Jaja dengan tenang menepis tangan Aini pelan namun pasti. Ia tidak menggubris protes wanita itu sama sekali. Ia langsung menyerahkan uangnya sendiri ke kasir, menerima kembalian, lalu mengambil bungkusan-bungkusan itu sambil tersenyum tenang.
"Bu Aini, ini bukan buat Ibu. Ini buat Syafa sama Satria. Mereka kan anak baik, anak pintar, anak yang rajin bantu Ibu. Jadi ini kado dari Paman Jaja buat mereka. Dilarang menolak ya. Kalau Ibu menolak, berarti Ibu tidak suka kalau anak-anak Ibu senang."
Suara itu...tegas tapi tetap ramah, Aini tak berkutik lagi. Terdiam, tapi rasa hangat mengalir pelan disisi lain hatinya.
"Sudahlah, jangan bengong terus. Nanti cepat tua." ucap Jaja sambil meletakkan bungkusan itu di kursi belakang.
"Keburu sore, kasihan anak-anak lama menunggu." ucapnya lagi dan menghidupkan mesin mobil.
Aini duduk diam sambil menatap ke luar jendela. Bayangan pohon berlarian meninggalkan tanda tanya besar dibenak Aini.
"Pak Jaja ini...sederhana tapi penuh misteri. Jawabannya kadang membingungkan. Siapa dia sebenarnya?" batin Aini.
Aini menoleh sekilas ke arah Jaja yang sedang menyetir dengan tenang. Jenggot lebat dan pakaian lusuh. Tapi hatinya sangat baik dan penuh asih.
"Kenapa? Ada masalah lagi." tanya Jaja. Aini gelagapan, menggeleng dengan cepat.
"Eh....anu! Saya...tidak kok Pak....tidak apa-apa."
Jaja tersenyum tipis. Matanya untuk sesaat berkilat aneh....ada bayangan samar disana. Tapi cuma sepersekian detik saja.
*******