NovelToon NovelToon
Royal Bride

Royal Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Setara untuk segala bibit, bebet, bobot dan kedudukan adalah aturan tak tertulis namun paten dalam pernikahan para bangsawan.

Kerajaan memiliki aturan ketat soal pernikahan, selain harus setara maka hubungan pernikahan harusnya memiliki keuntungan untuk kerajaan. Seperti memperkuat wilayah kerajaan atau membangun relasi yang lebih luas.

Tapi apa jadinya, jika pangeran mahkota memilih calon istrinya sendiri demi memperkuat kekuatan kedudukannya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

A Softer Night

Malam turun perlahan di atas mansion tengah hutan pinus. Akhirnya setelah keramaian yang terjadi sejak pagi, koridor-koridor besar itu mulai terasa lebih tenang.

Beberapa ruang telah disulap menjadi tempat dilaksanakan pesta.

Chandelier kristal tampak berkilauan dengan pantulan cahayanya di lantai marmer. Beberapa ornamen bunga ditambahkan di beberapa sisi.

Suara langkah para pelayan yang sejak tadi berlalu-lalang perlahan menghilang, menyisakan keheningan panjang seperti sebelumnya.

Gadis itu masih berdiri di depan cermin ruang fitting. Tatapannya jatuh pada manekin tempat gaun champagne keemasan itu dipajang.

Dan entah mengapa—

tidak lagi terasa sepenuhnya asing.

Jemarinya perlahan menyentuh bagian korset gaun itu. Pada pita satin yang beberapa saat lalu sempat dilonggarkan Noah.

Tanpa sadar, Lilly mengingat kembali ucapan pria itu.

Melawanlah jika memang diperlukan.

Degup kecil kembali muncul dalam dadanya.

Ia merasa didengar dan dilihat sebagai manusia lagi setelah sekian lama terkurung dalam mansion.

Tok.

Tok.

"Nona, makan malam telah disiapkan."

Suara Ruth dari balik pintu memecah lamunannya.

Lilly terdiam sesaat sebelum akhirnya mengalihkan pandangan dari gaun yang masih dipajang di hadapannya.

"Baik."

Pelan, gadis itu melangkah meninggalkan ruang fitting.

Dan mengikuti pelayan menuju ruang makan.

Namun langkah Lilly perlahan melambat ketika pelayan membawanya melewati ruang makan utama mansion. Bukan ke ruang makan dengan meja oval yang besar itu.

Melainkan menuju sisi mansion yang jauh lebih tenang. Pada satu ruangan paling ujung.

Ketika pintu dibuka—

Sebuah ruang makan pribadi berukuran kecil yang tersembunyi di sudut koridor. Cahaya lampunya jauh lebih redup dibanding meja makan utama.

Di dekat meja makan terdapat perapian yang telah menyala—

seakan memang telah disiapkan untuk kehadirannya.

Dan sejak datang ke mansion ini, Lilly melihat ruang yang terasa benar-benar seperti rumah dalam bayangannya.

Lilly baru saja duduk ketika langkah kaki terdengar dari arah koridor. Noah masuk beberapa detik kemudian.

Lilly hampir tidak terbiasa melihat penampilan pria itu.

Rompi formal yang biasanya melekat rapi di tubuh Noah telah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang terbuka longgar.

Seolah pria itu baru saja melewati hari panjang yang melelahkan.

Aura dingin Noah masih tetap ada. Wajahnya tenang seperti biasa.

Sulit ditebak.

Tak lama setelah Noah duduk, para pelayan mulai membawa hidangan makan malam satu per satu.

Stew daging hangat dengan aroma rempah yang lembut. Keranjang kecil berisi potongan baguette.

Dan sebuah teko teh chamomile yang masih mengeluarkan uap tipis diletakkan di atas tungku dekat perapian.

Lilly sempat terdiam sesaat. Makan malam itu jauh lebih sederhana dibanding yang ia bayangkan seperti sebelumnya.

Para pelayan masih sibuk menata alat makan untuk keduanya, sebelum Noah menatap mereka semua.

"Kalian bisa keluar."

Seluruh pelayan langsung menundukkan kepala sebelum perlahan meninggalkan ruang makan pribadi itu.

Dan ketika pintu tertutup, suasana di antara mereka berubah menjadi jauh lebih sunyi. Hanya derak api dari perapian di sudut ruangan yang mampu terdengar.

Dan cahayanya memberi rasa yang jauh lebih akrab.

Noah mulai dengan menuangkan air putih ke dalam dua gelas kaca di hadapan mereka.

Suasana ruang makan itu tetap hening. Suara aliran air dari teko kaca terdengar lebih nyaring daripada hembusan napas keduanya.

Setelahnya, pria itu mengambil stew daging dari mangkuk besar di tengah meja sebelum menuangkannya perlahan ke mangkuk Lilly.

"Makanlah."

Sesaat Lilly terdiam. Tatapannya jatuh pada uap tipis dari stew daging di hadapannya.

Aroma rempah yang lembut perlahan memenuhi ruang makan kecil itu.

Lilly menggenggam sendoknya pelan. Pandangannya jatuh pada mangkok berisi stew daging.

"Aku pikir kita akan makan malam seperti biasa."

Noah mengangkat pandangannya.

"Makanan yang tidak membuatku kenyang." Lanjut Lilly.

Noah terlihat tersenyum samar mendengar ucapan Lilly.

"Aku tidak terlalu menyukai itu."

Netra hazel Lilly jatuh kembali pada stew daging di hadapannya. Roti baguette yang menjadi pendampingnya juga tampak renyah.

"Jadi, Yang Mulia lebih menyukai makanan seperti ini?"

"Makanan hangat lebih masuk akal dibanding jamuan yang terlalu sibuk dipamerkan."

Lilly menatap stew di hadapannya cukup lama. Uap tipis masih naik perlahan dari permukaan kuahnya.

"Ibuku dulu sering membuat stew seperti ini."

Ia berhenti sesaat. Melihat reaksi Noah yang memandangnya lurus.

"Terutama saat musim gugur mulai datang."

Suara Lilly terdengar jauh lebih pelan dibanding biasanya.

"Katanya makanan hangat terasa lebih menenangkan ketika udara mulai dingin."

Sesaat gadis itu terdiam. Dirinya sendiri baru menyadari bahwa ia mulai membicarakan sesuatu yang telah lama tidak ia sentuh.

"Dulu aku selalu menunggu aroma masakannya memenuhi rumah."

Keheningan kembali jatuh di antara mereka. Namun kali ini tidak terasa canggung.

Noah tidak memotong satu kata pun dari cerita kecil itu. Setelah itu, mereka kembali makan dalam tenang.

Suara dentingan kecil alat makan sesekali terdengar pelan di tengah ruang makan pribadi itu.

Sementara api dalam perapian terus menyala hangat, mengusir dingin malam yang perlahan turun di luar mansion.

Hingga tanpa terasa, makan malam mereka selesai. Noah kembali bangkit pelan sebelum mengambil teko chamomile yang diletakkan di dekat tungku perapian.

Uap tipis kembali naik ketika pria itu menuangkan teh hangat ke dalam cangkir Lilly.

"Minumlah selagi hangat."

Suara Noah terdengar rendah dan tenang seperti biasanya.

"Ini lebih menenangkan."

Lilly menerima cangkir itu perlahan.

Kehangatan langsung terasa di jemarinya.

Mata hazelnya menatap uap tipis dari cangkir chamomile di tangannya.

"Aku dulu berpikir dunia bangsawan pasti selalu seperti hari ini."

Lilly tampak ragu melanjutkannya,"Sesak."

Suaranya jauh lebih lirih..

"Penuh aturan. Penuh orang-orang yang terus mencoba membentuk orang lain seperti yang mereka mau."

Ia tersenyum tipis melihat cangkir teh itu. Jemarinya mencengkeram sisi cangkir. Kehangatan menjalar di kedua tangannya.

"Makanya aku sempat berpikir mansion ini juga akan terasa seperti itu."

Gadis utu mengangkat sudut bibirnya.

"Tapi ternyata..." Lilly berhenti sesaat.

Tatapannya perlahan jatuh pada ruang makan kecil itu..

"Masih ada sisi yang terasa manusiawi di sini."

Noah tidak langsung menjawab. Pria itu hanya menatap samar api perapian yang terus menyala hangat di sudut ruangan.

Beberapa saat keheningan kembali jatuh di antara mereka.

"Aku menyukai hal-hal seperti ini." Suara Noah terdengar rendah dan tenang.

Lilly mengangkat pandangannya pelan. Menatap Noah yang terus melihat ke arah perapian.

Noah masih memegang cangkir chamomile di tangannya.

"Makan malam yang tenang."

Tatapannya perlahan jatuh pada stew yang hampir habis di meja mereka.

"Makanan hangat."

Lalu untuk sesaat, pria itu terdiam sebelum melanjutkan dengan suara rendahnya yang tenang.

"Dan suasana yang tidak terasa seperti istana."

Untuk sesaat Lilly membeku.

"Tapi bukankah Yang Mulia terlahir di dunia itu?"

Mata hazelnya menatap lekat pria di hadapannya, "Puncak tertinggi yang bahkan tidak bisa disentuh kebanyakan orang."

Noah terdiam sesaat. Cahaya api perapian memantul samar pada wajah tenang pria itu.

"Aku hanya dibentuk oleh dunia itu."

Tatapan pria itu jatuh pada cangkir chamomile di tangannya sebelum kembali menatap Lilly perlahan.

"Bukan berarti aku menyukainya sepenuhnya."

Lilly mengedarkan pandangannya pelan ke seluruh ruang makan kecil itu.

"Yang Mulia sering makan di sini?"

Noah menggeleng samar.

"Jarang."

Pria itu menyandarkan tubuhnya pelan pada kursi.

"Hanya sesekali."

Tatapannya jatuh pada nyala api perapian beberapa saat sebelum kembali tenang seperti biasa.

"Aku tidak terlalu menyukai jamuan."

Noah kemudian mengalihkan pandangannya pada mangkuk besar stew daging yang masih tersisa di tengah meja.

"Bagaimana Gardenia saat musim gugur?"

Lilly terdiam beberapa saat—

Seolah sedang membayangkan tempat itu kembali dalam kepalanya.

"Musim gugur di Gardenia jauh lebih dingin dibanding ibu kota."

Matanya bergerak perlahan jatuh pada cahaya api dalam perapian. Derak apinya bagai alunan musik malam ini.

"Tapi juga lebih tenang."

Suara Lilly terdengar pelan.

"Daun-daun maple mulai berubah warna memenuhi jalanan. Oranye. Merah. Kadang kekuningan."

Senyum tipis yang sangat samar muncul di wajahnya.

"Dan setiap pagi aroma roti hangat selalu keluar dari toko-toko kecil di dekat pasar."

Gadis itu membuka senyum lebih lebar. "Beberapa restoran akan buka hingga malam demi menyajikan stew daging dan sup hangat. Ada cider hangat tanpa alkohol."

Noah mendengarkannya dalam diam.

"Lalu malamnya di rumah warga..." Lilly berhenti sesaat. Bola matanya bergerak ke langit-langit ruangan.

"Asap dari cerobong rumah mulai terlihat di mana-mana."

Entah mengapa, suaranya terdengar semakin lembut.

"Gardenia selalu terasa hangat saat musim gugur datang."

Noah memandang Lilly beberapa saat sebelum akhirnya bertanya pelan,

"Apakah kau merindukan Gardenia?"

Lilly tersenyum samar.

"Tentu."

Lilly mengangkat sayu sudut bibirnya. Pandangannya kembali jatuh pada cangkir teh di tangannya.

"Aku lahir dan tumbuh di sana."

Suara Lilly terdengar jauh lebih lembut dibanding biasanya. Emosinya jauh lebih stabil. Mata hazel itu akhirnya hidup.

"Mungkin karena itu aku selalu menyukai hal-hal sederhana seperti ini."

"Makanan di Gardenia selalu terasa hangat."

Sesaat Lilly terdiam sebelum melanjutkan pelan,

"Dan rasanya...," Gadis itu mendongakkan wajahnya. Air mata menitik di ujung matanya.

"Lebih seperti rumah."

Noah terdiam beberapa saat. Napasnya bergerak tenang. Pandangannya jatuh pada stew daging di atas meja.

"Kalau begitu..."

Suara pria itu rendah.

"Suatu hari nanti, mari pergi ke Gardenia."

Lilly mengerutkan dahinya samar. Ia melihat ke arah Noah. Bagaimana cahaya perapian memantul ke wajah pria itu, membentuk siluet rupawan. Dada bidang yang bergerak lebih stabil.

"Aku ingin mencoba makanan hangat yang kau katakan tadi."

"Apakah masih akan ada kesempatan untuk pergi ke sana?"

Pertanyaan itu terdengar pelan.

Hampir seperti gumaman kecil untuk dirinya sendiri.

Noah menengok ke arah Lilly beberapa saat sebelum akhirnya menjawab pelan,

"Kita akan bisa pergi ke sana jika memiliki kesempatan."

Tatapannya jatuh pada mata hazel Lilly dalam redupnya ruangan ini.

"Meski aku belum tahu kapan.".

"House d'Orvain sebagian besar berasal dari Gardenia."

"Itu sebabnya wilayah itu memiliki cukup banyak pendukung untukmu."

Setelah itu, tidak ada percakapan panjang lagi di antara mereka.

Hanya keheningan tenang yang perlahan memenuhi ruang makan kecil itu.

Api dalam perapian masih menyala hangat.

Sesekali terdengar suara kayu yang terbakar pelan di tengah malam yang semakin dingin di luar mansion.

Lilly menggenggam cangkir chamomile di tangannya sementara uap tipis masih naik perlahan dari permukaannya.

Di seberangnya, Noah duduk dalam diam.

Namun anehnya—

keheningan di antara mereka tidak terasa lagi sekadar canggung.

Dan malam itu, untuk beberapa saat kecil yang sederhana. Mereka benar-benar hanya menjadi dua orang yang menikmati hangatnya perapian.

Bukan lagi sebagai Pangeran Mahkota ataupun calon Putri Mahkota.

***

1
dysa
AAA NOAH MANIS BANGET😍😍
Ana Dww: Noah adalah impian para gadis 👻
total 1 replies
dysa
😍
dysa
Semangat up teruss ya kaaaa❤️❤️❤️
Ana Dww: Terimakasih untuk dukungannya kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
Ana Dww
🤭🤭🤭
dysa
asbun bangt noah😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!