Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB XXXIV
Setelah upacara Pemakaman selesai, Pangeran Haoran dengan lembut membawa ibunya, Permaisuri, menuju ke kamarnya untuk beristirahat.
Setelah mengantar ibunya, ia pun pergi menuju kamarnya, sesampainya di dalam kamar, terlihat Luna yang sedang duduk di kursi dekat jendela. Tatapannya kosong, menatap ke luar jendela. Langkah kaki Pangeran Haoran terdengar mendekat, dan saat ia masuk ke dalam ruangan, Luna segera bangkit dan bergegas menghampirinya. Tanpa berkata apapun, Luna langsung memeluk tubuh Pangeran Haoran dengan sangat erat, seakan takut jika ia akan pergi meninggalkannya.
Pangeran Haoran tertegun, merasa heran dengan sikap Luna yang tiba-tiba itu. "Istriku... ada apa denganmu? Kenapa kau memelukku?" tanya Pangeran Haoran dengan nada bingung.
Namun, Luna tetap diam, hanya memperkuat pelukannya tanpa menjawab pertanyaan itu. Beberapa saat kemudian, ia perlahan melepaskan pelukannya, menatap wajah Pangeran Haoran dengan tatapan yang sulit diartikan. Pangeran Haoran membalas tatapan itu, masih dengan rasa heran yang memenuhi benaknya. Namun, apa yang dilakukan Luna selanjutnya benar-benar di luar dugaan.
Luna perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Pangeran Haoran, hingga jarak keduanya begitu dekat. Tanpa ragu lagi, ia mencium bibir pangeran Haoran, memberikan ciuman yang panjang dan penuh perasaan. Pangeran Haoran diam saja, ia tidak membalas ciuman itu, hanya membiarkan Luna meluapkan apa yang ia rasakan. Merespon ketidakberdayaan Pangeran Haoran, Luna pun menghentikan ciumannya, menatap mata Pangeran Haoran dengan pandangan yang kini berubah, terpancar rasa takut dan keraguan yang mendalam di sana.
Melihat ketakutan di mata istrinya itu, hati Pangeran Haoran seakan tergugah. Tanpa banyak bicara, ia langsung mengangkat tubuh Luna dan membawanya mendekati meja yang sedikit tinggi yang tidak jauh dari mereka berdiri. Di sana, ia menaruh Luna dan langsung membalas ciuman yang tadi diberikan. Ciuman itu kini penuh dengan gairah dan emosi yang tertahan, seolah keduanya ingin melupakan segala duka yang ada.
Setelah cukup lama saling berciuman, Pangeran Haoran perlahan melepaskan bibirnya dan menatap wajah Luna yang terengah. "Istriku, aku harus pergi. Masih banyak urusan yang harus kuselesaikan sekarang," ucap Pangeran Haoran mencoba mengendalikan dirinya.
Namun, Luna tidak membiarkannya pergi. Ia menarik ujung pakaian Pangeran Haoran, mendekatkan wajahnya ke leher lelaki itu, dan mulai mencium lehernya dengan lembut. Tindakan itu membuat kesabaran Pangeran Haoran habis seketika. Ia kembali menarik tubuh Luna, menciumnya dengan penuh gairah, lalu membawa gadis itu ke tempat tidur yang ada di sana.
Di atas tempat tidur, Pangeran Haoran seakan tak lagi mampu menahan gejolak di dalam dadanya. Tangannya yang hangat mulai menyusuri tubuh Luna, menciumi setiap bagian sensitif yang membuat Luna mendesah pelan. Namun, di saat situasi mulai tak terkendali, Pangeran Haoran tiba-tiba berhenti. Ia mengangkat tubuhnya, bangkit dari tempat tidur, dan memalingkan wajah.
"Maafkan aku istriku. Sekarang bukan waktu yang tepat," ucapnya dengan suara pelan namun tegas. Ia segera merapikan pakaiannya. "Ada hal yang jauh lebih penting dan harus ku selesaikan sekarang. Hal ini... harus kita tunda dulu."
Tanpa menunggu respon Luna, Pangeran Haoran berbalik dan segera meninggalkan kamar itu, menutup pintu dengan rapat.
Luna yang duduk sendirian di tempat tidur hanya bisa menatap pintu yang tertutup itu. Rasa kecewa perlahan merayapi hatinya. Ia merasa sedikit sakit hati ditinggal begitu saja di saat dirinya sudah membuka hati sepenuhnya. Namun, di sisi lain, pikirannya mulai kacau. "Kenapa aku melakukan semua itu?". batinnya bertanya-tanya. "Apakah aku benar-benar sudah jatuh cinta pada Pangeran Haoran? Sampai-sampai aku tidak bisa lagi mengendalikan diriku sendiri saat berada di dekatnya?". Tanya Luna pada dirinya.
Sementara itu, Pangeran Haoran berjalan menuju ruang pertemuan Kaisar. Rasa kesal dan amarah kini menggantikan gairah yang tadi sempat ada. Ia ingin menuntut keadilan.
Sesampainya di hadapan Kaisar, Pangeran Haoran tidak sendirian. Putra Mahkota Hao Yu berdiri di sampingnya, wajah kakaknya pun sama dingin dan tegangnya. Keduanya menatap tajam ke arah Kaisar yang duduk di singgasana. Suasana di ruangan itu menjadi begitu mencekam.
Kaisar membalas tatapan kedua putranya, namun tak lama kemudian ia memalingkan wajah, seolah tidak berani menatap mata mereka lagi. Ada rasa bersalah yang jelas terlihat di raut wajahnya.
Pangeran Haoran melangkah maju, suaranya terdengar tegas dan penuh emosi. "Ayah... apakah Ayah sudah puas dengan semua yang telah Ayah lakukan? Apakah hati Ayah tidak terasa sedikit pun bersalah setelah membuat semua ini hancur?"
Putra Mahkota Hao Yu pun ikut angkat bicara, suaranya terdengar kecewa. "Aku tidak menyangka, Ayah. Aku selama ini selalu menghormati Ayah... Aku tidak pernah menyangka bahwa Ayah yang aku hormati bisa melakukan perbuatan sekeji ini. Perbuatan yang menghancurkan hidup putrinya sendiri dan masa depan orang lain demi egonya."
Mereka berdua menyudutkan Kaisar dengan kata-kata yang menusuk tepat ke ulu hati. Namun, Kaisar hanya diam, bibirnya terkatup rapat tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk membela diri. Rasa bersalah semakin menekan dadanya, membuatnya tak berani menatap putra-putranya sendiri.
Melihat ayahnya yang hanya diam membisu, Pangeran Haoran menggelengkan kepalanya dengan pandangan yang penuh kekecewaan. Ia kemudian menoleh ke arah kakaknya.
"Ayo, Kak. Kita pergi dari sini," ucap Pangeran Haoran pelan namun tegas. "Tidak ada gunanya berbicara dengan orang sepertinya."
Tanpa menunggu jawaban lagi, Pangeran Haoran berbalik dan berjalan keluar ruangan, diikuti oleh Putra Mahkota Hao Yu yang juga meninggalkan Kaisar sendirian di dalam kesunyian dan penyesalannya.
Setelah meninggalkan ruangan Kaisar, Pangeran Haoran berniat kembali ke kediamannya. Sebelum kembali, ia menoleh ke arah kakaknya, Putra Mahkota Hao Yu, dan berbicara dengan nada serius.
"Kak, aku akan kembali ke kediamanku untuk sementara. Bisakah Kakak tetap tinggal di sini dan menjaga Ibu untukku? Aku khawatir kondisi Ibu masih sangat lemah dan butuh pendampingan," pinta Pangeran Haoran dengan penuh harap.
Putra Mahkota Hao Yu mengangguk tanda mengerti, tatapannya lembut namun masih menyisakan kekecewaan terhadap ayahnya. "Tenang saja, Haoran. Pergilah, Kau tidak perlu khawatir, aku akan menjaga Ibu dengan baik," jawab Putra Mahkota Hao Yu meyakinkan adiknya.
Pangeran Haoran tersenyum tipis, lalu segera bergegas meninggalkan istana menuju kediaman nya.
Di kediaman Pangeran
Sesampainya di sana, ia melihat Luna sedang berdiri di ruang tengah. Wanita itu hanya diam membisu, wajahnya tertunduk lesu. Saat melihat kedatangan Pangeran Haoran, Luna tidak menyapa maupun bertanya, ia hanya berbalik badan dan langsung masuk ke dalam kamar, menutup pintu pelan.
Pangeran Haoran berdiri terpaku sejenak, mengerutkan keningnya. Ada yang berbeda dengan sikapnya, batinnya merasa heran. Namun, ia tidak ingin memaksanya saat itu juga. Pangeran Haoran membiarkan Luna beristirahat dulu, sementara ia sendiri menuju ruang kerja untuk menyelesaikan sisa tugasnya yang tertunda.
Beberapa jam kemudian, setelah semua urusannya selesai, Pangeran Haoran berjalan menuju kamarnya. Saat membuka pintu, matanya langsung tertuju pada meja makan di sudut ruangan. Nampan berisi makanan yang disiapkan pelayan sejak tadi masih utuh, belum tersentuh sedikit pun. Rasa khawatir mulai menyelinap di hatinya.
Pangeran Haoran melangkah perlahan mendekati tempat tidur. Di sana, Luna sedang berbaring miring memunggungi pintu, seolah sedang tertidur. Pangeran Haoran menaiki ranjang dengan hati-hati, lalu berbaring di samping istrinya. Ia mendekatkan tubuhnya, melingkarkan lengannya dan memeluk pinggang Luna dengan lembut, mendekapnya erat ke dalam pelukan hangatnya.
Pangeran Haoran mendekatkan bibirnya ke telinga Luna, berbisik pelan namun terdengar jelas. "Istriku... Apakah kau marah padaku karena sikapku di istana tadi?" tanyanya lembut.
Luna tetap diam, ia tidak bergerak maupun menjawab, hanya memejamkan mata berpura-pura sudah tertidur, meski hatinya sebenarnya sedang bergemuruh mendengar suara dekat itu.
Melihat istrinya yang diam saja, Pangeran Haoran tidak marah. Ia justru mencium lembut pundak Luna yang tertutup kain, lalu kembali berbisik, "Maafkan aku, ya. Aku tahu tadi situasinya sangat sulit. Tapi percayalah, kita masih memiliki banyak waktu untuk melakukannya lagi. Tidak perlu terburu-buru."
Tangannya bergerak mengusap lengan Luna dengan penuh kasih sayang. "Tapi sekarang, kesehatanmu lebih penting. Aku melihat makanan di sana sama sekali belum kau sentuh. Bagaimana bisa kau kuat jika perutmu kosong begini?"
Pangeran Haoran perlahan membalikkan tubuh Luna menghadap ke arahnya. Ia menatap wajah istrinya yang masih terpejam, lalu mengusap pipinya dengan lembut. "Ayo bangun sebentar, kita makan dulu. Aku akan menyuapimu, bagaimana?"
Mendengar kata-kata penuh kelembutan itu, hati keras Luna perlahan luluh. Rasa kesal dan kecewa yang sempat ia rasakan tadi perlahan hilang. Ia membuka matanya perlahan, menatap mata Pangeran Haoran yang begitu tulus padanya.
"Kenapa... kau begitu baik padaku?" ucap Luna pelan, suaranya terdengar sedikit parau.
"Karena kau Istriku, dan aku sangat... sangat mencintaimu," jawab Pangeran Haoran lembut sambil tersenyum. Ia membantu istrinya berdiri, kemudian mereka berdua berjalan ke arah meja makan.
Pangeran Haoran duduk di samping Luna, mengambil nasi yang sudah ia campur lauk, lalu menyuapkannya ke mulut Luna dengan penuh perhatian. "Buka mulutnya, istriku. Makanlah yang banyak agar tubuhmu kembali bertenaga."
Luna menurut saja, membuka mulutnya dan menerima suapan dari suaminya itu. Setiap kali Pangeran Haoran menyuapinya dengan senyum yang hangat, rasa lelah dan gelisah di hatinya semakin hilang. Di saat itu, Luna sadar bahwa meskipun Pangeran Haoran sering sibuk dan tegas, namun kasih sayang padanya tidak pernah berkurang sedikit pun.
"Enak?" tanya Pangeran Haoran sambil mengusap sisa nasi di sudut bibir Luna dengan lembut.
Luna mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis. "Terima kasih, Suamiku," jawabnya pelan, membuat senyum di wajah Pangeran Haoran semakin melebar.