NovelToon NovelToon
Di Balik Lavender Marriage

Di Balik Lavender Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Terlarang
Popularitas:869
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

‎Ren Damaris, seorang pria tampan dan sukses, memutuskan memilih Edelia Lavendra untuk dinikahi demi menjaga nama baik keluarga dan menutupi rahasia terbesar dalam hidupnya. Edelia terpaksa menerima pernikahan itu untuk membahagiakan kedua orangtuanya.

‎Tetapi setelah menikah, ‎Edelia menemukan fakta yang mencengangkan di balik pernikahannya. Meski begitu, Edelia tak bisa mengakhiri pernikahan itu begitu saja. Ada sesuatu pada diri Ren yang membuat Edelia merasa harus mempertahankan pernikahan itu.

Apa yang membuat Edelia bertahan? ‎Simak kisah selengkapnya dalam Di Balik Lavender Marriage!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka yang Terlupakan dan Rasa Baru yang Hangat

Ren keluar dari kamarnya setelah mandi. Seperti janjinya pada Lia, dia akan menerima hukuman karena telah melanggar kontrak. Hukuman yang seharusnya berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun diganti Lia dengan menemaninya menonton film horor seminggu dua kali selama satu bulan.

Lia sudah duduk di sofa ruang tengah —yang lampunya sengaja Lia matikan— sambil memilih film horor yang ingin ditontonnya. Ren berjalan mendekat ke arah Lia.

"Sini, Tuan. Saya udah pilih filmnya. Duduk sini!" ajak Lia sambil menepuk-nepuk sofa disebelahnya.

Ren melirik sofa yang ditepuk-tepuk Lia lalu duduk agak sedikit lebih jauh. Lia mengambil mangkuk besar berisi popcorn. Ren mengerutkan alisnya sambil menatap Lia.

"Tuan mau? Saya bikin sendiri tadi," kata Lia sambil menyodorkan mangkuk popcorn ke arah Ren.

Ren mengambil popcorn dan memakannya. Lia menatap Ren sambil tersenyum lalu meletakkan mangkuk popcorn di antara dirinya dan Ren.

Lia memilih film horor Indonesia berjudul Gerbang Setan. Awalnya Ren hanya menonton film dengan ekspresi datar, tapi saat film sudah berjalan setengah, tangan Ren bergerak mengambil bantal kursi dan memeluknya. Saat adegan jump scare, Ren sesekali terlihat terkejut hingga menaikkan kedua kakinya ke atas sofa. Setelah delapan puluh menit yang menegangkan, akhirnya film pun usai.

"Kamu suka film horor?" tanya Ren pada Lia saat layar televisi menampilkan kredit.

"Mmm... Sebenernya saya lebih suka thriller atau action sih, Tuan," jawab Lia sambil mematikan televisi.

"Tapi, sesekali pengen nonton horor juga. Cuma kalau nonton horor sendirian itu nggak seru," kata Lia sambil menoleh menatap Ren. Ren hanya terdiam menatap layar televisi yang gelap.

"Tuan suka nonton film? Suka film apa?" tanya Lia membuat Ren menoleh ke arahnya.

"Eh? Aku nggak begitu suka nonton. Aku... jarang nonton," kata Ren sambil kembali menatap layar televisi yang gelap.

Ren menyadari bahwa malam itu adalah pertama kalinya Ren menonton film setelah sekian lama dia tidak menonton film. Ren sendiri bahkan tak ingat kapan terakhir kali menonton film. Setelah putus dari Vio, Ren sama sekali tak ingin lagi menonton film apapun. Hal itu hanya akan mengingatkannya pada Vio dan pengkhianatannya.

Namun, entah mengapa, malam itu, Ren sama sekali tak mengingat Vio. Dia benar-benar menikmati film yang sedang ditonton Lia dari awal hingga akhir.

Lia menangkap kesedihan di mata Ren saat menatap layar televisi yang hitam. Lia meletakkan tangannya di atas tangan Ren membuat Ren terkejut dan menatap Lia.

"Mulai sekarang, Tuan jadi temen nonton saya. Setuju?" kata Lia sambil tersenyum lebar.

Ren tertegun tapi kepalanya mengangguk perlahan membuat senyum Lia semakin lebar. Lia menarik tangannya dari tangan Ren lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju dapur. Ren menatap tangannya yang baru saja Lia pegang. Ada desir aneh dalam dirinya saat Lia tiba-tiba meletakkan tangannya di atas tangan Ren begitu saja.

"Tuan beneran nggak mau cokelat panas?" tanya Lia pada Ren, menyadarkan Ren dari lamunannya.

"Mungkin kalau tidak terlalu manis aku mau," kata Ren. Lia tersenyum lalu sibuk dengan dua cangkir di hadapannya.

Ren kembali menatap tangannya, mencoba memahami perasaannya, memahami dirinya. Ren lalu teringat apa yang dia lakukan sepulang dari kantor. Mendadak wajah Ren terasa panas mengingat apa yang dia lakukan pada Lia sepulang kerja. Ren lalu menoleh ke arah dapur, menatap Lia yang sibuk mengaduk cokelat panas untuk mereka.

'Bagaimana dia bisa bersikap seolah tak terjadi apapun?'

***

"WHAT?! DICIUM?!" tanya Lidia, terkejut.

"Ssstttt!!!" Lia berusaha menenangkan kehebohan Lidia.

"Eh, tapi itu kan bukan hal yang mengejutkan. Bukannya tempo hari Tuan Muda Ren kesini cuma buat nyium lo di depan lift?" tanya Lidia heran.

"Beda, Lidia," kata Lia.

"Beda apanya?" tanya Lidia sok polos.

"Kamu belum pernah ciuman?" Lia balik tanya.

"Lo pikir? Pacaran aja nggak pernah, mau ciuman sama siapa, Lia? Tembok?" tanya Lidia gemas.

"Yaaa... kalik. Jaman sekarang kan ciuman nggak harus sama pacar," kata Lia. Mata Lidia melotot seketika.

"Itu lebih ke murahan sih ya. Oke. Kalo di barat kissing means greeting. Tapi kalo di kawasan Asia, kissing itu tetep sakral yaaa. Nggak bisa sama sembarang orang," kata Lidia. Lia manggut-manggut.

"Trus, trus? Apa bedanya?" tanya Lidia, penasaran. Lia menatap sahabatnya sesaat, ragu.

"Oh! Ayolah, Lia! Lo udah bikin gue penasaran setengah hidup!" bujuk Lidia.

"Setengah mati, Lidia," kata Lia.

"Gue zombi soalnya! Udah buruan cepet jelasin," kata Lidia. Lia menghela napas panjang, menyerah.

"Waktu di depan lift itu, Tuan Muda cuma nempelin bibir dia aja. Tapi, kalau semalem..." kalimat Lia terhenti. Bayangan Ren menciumnya semalam kembali terlintas di benaknya, membuat jantungnya berpacu seketika.

"Kalo semalem apa? Gimana?" tanya Lidia tak sabar, membuat Lia tersadar dari lamunannya.

"Yaaa... gitu," kata Lia, bingung menjelaskannya pada Lidia.

"Gitu gimana?" tanya Lidia makin penasaran.

"Ck! Aku nggak bisa jelasinnya, Lid. Yang jelas, sama kek adegan-adegan di film-film gitu," kata Lia sambil beranjak dari sofa tempatnya duduk menuju meja kerjanya. Mata Lidia membulat.

"Serius kek yang di film-film? Gimana rasanya? Enak?" tanya Lidia dengan senyuman penuh makna. Lia menyipitkan kedua matanya.

"Kalau kamu penasaran, rasain aja sendiri!" kata Lia gemas, lalu memfokuskan diri pada komputer di meja kerjanya, mencoba menghapus bayangan ciumannya dengan Ren semalam.

"Diiih... suruh rasain sendiri. Gimana coba? Ya udah, gue balik ke ruangan gue," kata Lidia kesal sambil berjalan keluar dari ruangan Lia.

Lia memutar bola matanya sambil menghela napasnya melihat tingkah sahabatnya itu. Lia menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran kursi kerjanya sambil kembali teringat apa yang Ren lakukan padanya semalam.

"Rasanya... dingin dan... sedih," gumam Lia sambil meraba bibirnya sendiri dengan telunjuknya.

"Apa yang bikin dia melakukan itu? Dia nampak sangat rapuh semalam," Lia masih menggumam sambil memikirkan kemungkinan masalah yang dihadapi Ren.

"Ding,"

Bunyi email masuk di komputer Lia menyadarkan Lia dari lamunannya. Lia mengecek email itu. Kedua alisnya terangkat.

"Damaris Digital Group?" gumam Lia saat mengetahui siapa pengirim email. Lia kemudian membaca isi email dari DDG itu dengan seksama.

"Kerjasama kolaborasi dengan Narendra Tour and Travel? Proposal dari Narendra Tour and Travel sudah dilampirkan dalam surat undangan ini. Kami berharap mendapatkan respon positif dan kabar baik dari Lavendra Hotel and Resort terkait kerjasama ini. Terimakasih. Tertanda, CEO Damaris Digital Group, Ren Damaris," gumam Lia membaca potongan email yang dikirimkan padanya.

Lia mengunduh proposal yang terlampir di email dari perusahaan Ren. Lia membaca dengan. Seksama rencana kerjasama yang ditawarkan. Lia manggut-manggut membaca rancangan kerjasama yang menurutnya akan sangat menguntungkan semua pihak itu.

Lia terus membaca proposal kerjasama itu hingga akhir. Kedua alis Lia mengerut saat membaca satu nama di akhir proposal itu. Dia merasa pernah mendengar nama itu sebelumnya.

'Arka Bara Aditama? Jangan-jangan... kemarin... karena ini?'

***

1
Nanaiko
dari awal aku slalu membayangkan visualisasi Tuan Ren ini adalah Byon woo soek pemeran utama pria di drakor Perfect Crown🤭
Purnamanisa: untuk visualisasi, author serahkan pada imajinasi reader yang budiman 😁😁
total 1 replies
Vivi Zenidar
Good Lia
Vivi Zenidar
semoga Ren sadar.. dia jatuh cinta je Lia
Vivi Zenidar
cerita menarik.... semoga akan banyak yg membaca
Purnamanisa: terimakasih kak 😊😊
total 1 replies
Nanaiko
sabar.. tunggu kelanjutannya besok sore.. sabar..
Nanaiko
Kek lagu Bang Iwan yee Bund😅
Purnamanisa: ide 🤭🤭
total 1 replies
Nanaiko
zaa ampuun🙈🙈
Nanaiko
tuh kan.. kalau baca cuma 2 episode itu kurang😅
Purnamanisa: update tiap hari kak 🤭🤭
total 1 replies
Nanaiko
nah lho..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!