Ren Damaris, seorang pria tampan dan sukses, memutuskan memilih Edelia Lavendra untuk dinikahi demi menjaga nama baik keluarga dan menutupi rahasia terbesar dalam hidupnya. Edelia terpaksa menerima pernikahan itu untuk membahagiakan kedua orangtuanya.
Tetapi setelah menikah, Edelia menemukan fakta yang mencengangkan di balik pernikahannya. Meski begitu, Edelia tak bisa mengakhiri pernikahan itu begitu saja. Ada sesuatu pada diri Ren yang membuat Edelia merasa harus mempertahankan pernikahan itu.
Apa yang membuat Edelia bertahan? Simak kisah selengkapnya dalam Di Balik Lavender Marriage!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dari Debat Bisnis Hingga Debat Hati
Minggu pertama pernikahan Lia dan Ren yang penuh kejutan seolah menjadi pembukaan sandiwara yang menggugah minat penonton untuk terus menyimak. Minggu kedua Ren dan Lia diawali dengan pertemuan mereka dengan Arka untuk membahas kebutuhan bisnis.
Ren dan Arka terpaksa harus sering bertemu untuk proyek Venara yang telah meraka sepakati bersama dengan Lia. Seperti pagi itu, rapat antara Damaris Digital Group, Lavendra Hotel and Resort, dan Narendra Tour and Travel yang baru berjalan sekitar tiga puluh menit, sudah terasa menegangkan.
Setelah membahas berbagai hal —tujuan proyek, identifikasi target pelanggan, kebutuhan Lavendra Hotel and Resort, kebutuhan Narendra Tour and Travel, kebutuhan teknologi—, kini tiba saatnya membahas fitur utama aplikasi Venara. Ren menawarkan berbagai macam fitur untuk pelanggan Venara App, seperti booking hotel, booking paket wisata, pembayaran online, membership, e-voucher, customer support, serta rekomendasi wisata oleh AI. Arka terlihat mengerutkan kedua alisnya melihat fitur terakhir yang Ren tawarkan.
"Saya rasa rekomendasi wisata AI ini tidak terlalu dibutuhkan," kata Arka. Ren menatap Arka datar.
"Fitur ini bisa menurunkan nilai jual layanan kami, karena pelanggan merasa tidak membutuhkan konsultasi dengan perusahaan kami," lanjut Arka.
"Di jaman sekarang, orang bahkan lebih mempercayai rekomendasi AI dibandingkan dengan rekomendasi manusia," kata Ren datar. Arka tersenyum sinis.
"Maksud Anda, perusahaan tour and travel kami tidak mampu merekomendasikan tempat wisata yang cocok untuk pelanggan?" tanya Arka pada Ren disertai tatapan tajam.
Lia menatap bergantian dua pria yang saling bersitegang itu. Dirinya hanya mampu menghela napas panjang menyaksikan drama debat argumen dari dua pria yang dia tahu pernah —atau masih— memiliki hubungan spesial.
"Saya rasa..." kata Lia, mencoba menjadi penengah antara Ren dan Arka. Kedua pria itu menoleh bersamaan ke arah Lia, menunggu apa yang akan Lia katakan selanjutnya.
"Fitur rekomendasi AI ini akan memiliki pasarnya sendiri," kata Lia. Ren tersenyum tipis. Arka terlihat mengerutkan kedua alisnya.
"Tidak semua orang terbiasa menggunakan jasa konsultan perjalanan. Ada yang memang ingin mendapatkan rekomendasi wisata tanpa bertanya pada siapa pun," lanjut Lia.
"Saya rasa, fitur ini cocok untuk tipe pelanggan seperti itu," tutup Lia. Ren terlihat tersenyum puas.
Arka menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi sambil menatap wanita yang ada di hadapannya itu. Dia merasa wanita yang dipilih Ren untuk menjadi isterinya itu cukup menarik.
'Sepertinya, akan semakin menarik dari sini,'
***
"Terimakasih," ucap Ren pada Lia saat rapat usai. Lia tersenyum.
"Saya hanya menyampaikan pendapat saya," kata Lia sambil mengemas berkas-berkasnya.
"Kamu mau langsung ke hotel?" tanya Ren. Lia mengangguk.
"Oh ya, ini. Saya lupa memberikannya pada Anda," kata Lia sambil menyerahkan tas bekal kecil.
Ren tertegun. Dirinya mengira Lia tidak sempat menyiapkan bekal karena meeting proyek Venara dimajukan satu jam lebih cepat dari rencana awal.
"Jangan lupa makan siang, Tuan. Saya permisi," kata Lia sambil tersenyum lalu berjalan keluar dari ruang meeting Damaris Digital Group. Ren menatap punggung Lia dengan perasaan yang tak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.
Ren membereskan berkas di meja setelah Lia benar-benar pergi. Diliriknya tas bekal yang Lia berikan. Sudut bibir Ren terangkat sedikit, membentuk senyuman tipis.
"Sepertinya Tuan Muda sedang senang hari ini," sebuah suara memudarkan senyum tipis Ren.
Ren menoleh. Entah sejak kapan Arka sudah berada di depan pintu ruang meeting. Seingat Ren, Arka dan timnya sudah lebih dulu keluar sebelum Lia.
"Sepertinya, Tuan Arka memiliki banyak waktu luang hingga bisa memperhatikan saya saat ini," kata Ren sambil menumpuk berkas di meja. Arka berjalan mendekat ke arah Ren.
"Sepertinya Tuan Muda lupa bahwa dulu Tuan Muda selalu membutuhkan perhatian saya," kata Arka dengan nada setengah berbisik. Mata Ren membulat.
"Tapi, sekarang, sepertinya Anda tak membutuhkan saya lagi," kata Arka sambil duduk di kursi di dekat Ren.
"Saya pernah mencari Anda saat Anda tiba-tiba menghilang," kata Ren. Arka menaikkan kedua alisnya.
"Oh ya? Untuk apa?" tanya Arka. Ren terdiam.
"Untuk meminta saya kembali? Atau... untuk mengakhiri hubungan kita?" tanya Arka, membuat Ren semakin terdiam.
Ren mencoba mengingat kembali untuk apa dia mencari Arka saat itu. Arka pernah menjadi dunia untuk Ren, tempat sandaran saat Ren merasa begitu lelah dengan tuntutan ayahnya.
"Kamu tahu? Kamu hanya tak mau disalahkan, Ren," kata Arka.
"Saat Vio melakukan kesalahan, kamu membuangnya," kata Arka. Ren tercekat. Rahangnya sedikit mengeras.
"Alih-alih memaafkan dan meminta penjelasan, kamu justru menepisnya dan lari. Padahal bisa jadi, alasannya melakukan kesalahan adalah karena sikapmu," lanjut Arka. Ren terdiam. Tangannya terkepal.
"Lalu, saat ayahmu mengetahui hubungan kita, kamu hanya bisa diam saat aku diusir dari rumahmu. Kamu bahkan tak berani membantah ayahmu waktu itu," kata Arka.
Arka melirik tas bekal di seberang meja. Dia tersenyum sinis.
"Dan sekarang, ada Nona Edelia di sampingmu yang bisa membuatmu melupakanku. Aku rasa kamu sudah tak membutuhkanku lagi. Bukan begitu?" tanya Arka sambil beranjak dari kursi.
Ren terdiam. Bergeming. Dia sama sekali tak bisa membalas argumen Arka.
"Dia wanita yang luar biasa," komentar Arka sambil menatap kotak bekal di atas meja.
"Aku harap kamu tak akan melakukan kesalahan yang sama kali ini," pesan Arka sebelum berlalu pergi meninggalkan Ren yang masih mematung.
Ren terdiam. Kata-kata Arka benar-benar menghujam tepat pada sasaran. Selama ini Ren dididik untuk selalu sempurna. Kesalahan adalah kegagalan. Dan itu tanpa sadar membuatnya memiliki standar penilaian yang sama tentang sebuah kesalahan.
Ren menatap tas bekal Lia. Selama ini, Lia selalu menerimanya tanpa menghakiminya, membuat Ren bertanya-tanya, jika Lia melakukan kesalahan yang menyakiti hatinya, bisakah Ren memperlakukan Lia dengan cara yang sama seperti Lia memperlakukannya.
Ren berjalan dan mengambil tas bekal dari Lia. Ren menatapnya sesaat sebelum akhirnya membuka kotak bekal yang ada di dalamnya. Seperti biasa, Lia meninggalkan catatan kecil di atasnya.
Karena tak banyak waktu, saya hanya bisa menyiapkan ini. Semoga Tuan suka
^^^—Lia—^^^
Di dalam kotak bekal, tertata rapi nasi porsi kecil dengan salmon panggang dan sayuran kukus seperti brokoli dan wortel. Tak lupa Lia menyertakan apel yang dipotong rapi di samping kotak berisi sayur kukus.
Ren menatap kembali catatan kecil dari Lia. Ren bertanya-tanya, apakah Lia benar-benar tulus ingin berteman dengannya, bagaimana sebenarnya perasaan Lia terhadap pernikahan yang mereka jalani.
Kemudian satu pertanyaan yang membuat dada Ren tiba-tiba terasa sesak: apa jadinya jika Lia... tiba-tiba pergi.
Ren menatap kembali ke dalam kotak bekalnya.
'Bagaimana perasaannya saat menyiapkan semua ini? Mengapa aku tak pernah menanyakannya? Apa karena aku takut mendengar kebenarannya?'
***