NovelToon NovelToon
MANISNYA SI BOS NARSIS

MANISNYA SI BOS NARSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.


Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.

Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.

Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: STRATEGI PULANG BERSAMA

Sorak-sorai riang Bu Ambar masih menggema di langit-langit ruang makan, sementara kaki Anaya di bawah meja masih setia menekan sepatu slop hitam Bima dengan sisa tenaga yang dia punya. Bima, alih-alih meringis kesakitan, justru sengaja membiarkan kakinya menjadi tumpuan amarah sekretarisnya, malah senyumnya makin melebar memamerkan deretan gigi rapinya yang menawan.

"Tuh, Pa, lihat! Belum apa-apa calon menantu kita sudah agresif mau buru-buru meresmikan berkas pernikahan," goda Bima dengan nada santai tanpa beban, melirik ke bawah meja seolah-olah tendangan Anaya adalah bentuk kode cinta terselubung.

"Pak Bima, stop ya! Jangan bikin Ibu sama Bapak makin salah paham!" desis Anaya dengan volume suara sekecil mungkin, matanya melotot tajam memberikan peringatan level bahaya. Namun, di bawah lampu gantung kristal yang terang, wajahnya yang sewarna buah stroberi matang sama sekali tidak memberikan kesan mengintimidasi.

Bu Ambar yang melihat interaksi gemas di depannya langsung menepuk kedua telapak tangannya senang. "Aduh, sudah, sudah! Jangan bertengkar di depan makanan. Pokoknya Mama gak mau tahu, besok akhir pekan kita harus agendakan pertemuan keluarga. Anaya, nanti Mama telepon ibumu ya?"

"Eh? J-jangan dulu, Bu! Maksud saya—" Kalimat Anaya menggantung di udara. Otaknya mendadak macet total saat menyadari bahwa Bu Ambar bukan tipe wanita yang bisa dinegosiasi jika sudah memegang kendali atas perjodohan ini.

Pak Hartawan yang sejak tadi hanya menyimak sambil menikmati sup iganya akhirnya berdeham, menatap anak laki-lakinya dengan pandangan serius namun santai. "Sudah, Ma. Biarkan mereka berproses dulu. Lagipula, Bima harus menyelesaikan urusan internal kantor sebelum membawa hubungan ini ke tahap yang lebih resmi. Papa gak mau profesionalitas Bimantara Group terganggu karena gosip murahan."

"Papa tenang saja," sahut Bima sambil meraih gelas air putihnya, menyesapnya pelan sebelum kembali menatap Anaya dengan tatapan elang yang dalam. "Semua mitigasi risiko sudah saya siapkan. Posisi Anaya di kantor akan aman, begitu pula posisinya di hati saya."

Glek. Anaya bersumpah, gombalan narsis tingkat dewa dari bosnya ini jauh lebih berbahaya bagi kesehatan jantungnya daripada hantaman air shower dingin tadi.

Makan malam penuh tekanan batin itu akhirnya selesai setelah menghabiskan waktu hampir satu jam. Anaya buru-buru menawarkan diri untuk membantu Bik Sumi merapikan piring kotor di meja makan, sekadar untuk melarikan diri dari tatapan intens Bima yang terus menguncinya tanpa ampun.

Namun, usaha pelarian itu tidak bertahan lama. Begitu jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam, Pak Hartawan sudah memberikan kode bahwa waktu kunjungan telah usai karena faktor usia mereka yang butuh istirahat lebih awal.

"Ya sudah, Anaya Sayang, karena ini sudah malam, kamu pulangnya bareng Bima saja ya. Gak aman kalau anak gadis pulang naik taksi sendirian jam segini," ujar Bu Ambar sambil mengusap lengan Anaya yang kini sudah kembali rapi dengan pakaian gamis pastelnya.

"Ah, tidak usah repot-repot, Bu. Saya bisa pesan taksi daring dari depan gerbang kok. Lagipula, arah rumah saya dan apartemen Pak Bima kan berlawanan arah," tolak Anaya halus, mencoba mencari celah aman agar tidak terjebak berduaan lagi dengan sang singa narsis di dalam ruang tertutup bernama mobil.

Bima yang baru saja turun dari lantai atas dengan jaket bomber hitam membungkus kemeja kasualnya langsung menyambar kunci mobil di atas meja konsol. Pria itu menatap Anaya dengan senyuman licik yang sangat familiar.

"Saya gak menerima penolakan, Sekretaris Anaya. Sesuai dengan instruksi dari keselamatan karyawan, bos wajib memastikan sekretaris utamanya sampai di rumah dalam kondisi utuh tanpa kurang satu apa pun," potong Bima santai, suaranya terdengar mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.

"Tuh, dengerin Bima, Nay. Sudah, sana pulang bareng. Hati-hati di jalan ya!" Bu Ambar langsung mendorong pelan punggung Anaya menuju pintu keluar, menutup segala akses negosiasi yang coba Anaya bangun sejak tadi.

Atmosfer di dalam kabin sedan hitam mewah milik Bima mendadak terasa begitu sunyi begitu mobil itu bergerak membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang. Hanya ada suara sayup-sayup lagu instrumen jazz yang mengalir dari sistem audio mobil, mencoba mencairkan ketegangan yang kembali merayap di antara mereka berdua.

Anaya memilih untuk melemparkan pandangannya ke luar jendela, menatap deretan lampu jalanan yang berkelebat cepat. Pikirannya masih berputar-putar pada kejadian gila di dalam kamar mandi tamu tadi—tentang bagaimana tubuh tegap Bima menguncinya di dinding marmer, tentang tatapan matanya yang menggelap penuh gairah, dan tentang kalimat yang hampir saja diucapkan pria itu.

"Kamu masih marah soal ucapan Mama tadi?" Suara bariton Bima memecah keheningan, terdengar begitu santai namun ada nada perhatian tersembunyi di dalamnya.

Anaya tidak menoleh, tetap menatap jendela. "Saya gak marah sama Ibu, Pak. Saya cuma... bingung saja kenapa Bapak malah ikut-ikutan manasin suasana. Harusnya Bapak bantu saya jelasin kalau hubungan kita itu murni cuma sebatas bos dan sekretaris."

Bima terkekeh rendah, tangan kirinya yang berada di atas kemudi bergerak santai, sementara tangan kanannya diletakkan di atas tuas transmisi. "Jelasin gimana, Anaya? Memangnya ucapan Mama saya ada yang salah?"

Anaya spontan menoleh, menatap Bima dengan dahi berkerut dalam. "Banyak yang salah, Pak! Terutama bagian Bapak dibilang penurut! Itu bener-bener hoaks terbesar abad ini!"

"Oh, jadi kamu merasa saya gak penurut, hmm?" Bima melirik Anaya sekilas melalui spion tengah, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang menyebalkan. "Asal kamu tahu, Anaya... selama lima tahun ini, hanya kamu satu-satunya wanita yang punya otoritas penuh untuk mengatur apa yang harus saya pakai dan apa yang harus masuk ke dalam perut saya setiap hari. Kalau itu bukan dari bentuk kepatuhan seorang pria pada calon masa depannya, lalu apa namanya?"

Anaya mendengus sebal, melipat kedua tangannya di depan dada untuk menyembunyikan debaran jantungnya yang kembali berulah akibat ucapan narsis bosnya. "Itu namanya profesionalitas kerja, Pak Bima! Karena saya digaji kantor untuk memastikan penampilan Bapak gak memalukan saat bertemu klien! Gak usah baper deh!"

"Saya gak baper, Anaya. Saya cuma bicara berdasarkan fakta di lapangan," sahut Bima lempeng, kembali fokus menatap jalanan di depan. "Dan soal kejadian di dalam kubikel shower tadi... saya bener-bener serius dengan ucapan saya."

Mendengar kata 'shower', tubuh Anaya seketika menegang. Memori tentang siluet bra hitamnya yang terekspos jelas di balik kain sifon putih basah mendadak berputar kembali seperti film horor sensual di otaknya.

"P-Pak Bima, tolong jangan bahas itu lagi! Saya bener-bener malu!" cicit Anaya sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, tidak berani menatap wajah Bima yang tampak begitu tenang di sampingnya.

Bima melirik respons menggemaskan dari sekretarisnya, lalu perlahan menurunkan kecepatan mobilnya saat mereka mulai memasuki area kompleks perumahan tempat tinggal Anaya. Senyuman tipis yang tulus—bukan senyuman narsis—kini terukir di wajah tampan sang CEO.

"Saya bahas ini karena saya mau kamu bersiap, Anaya," ujar Bima, suaranya merendah menjadi sangat lembut dan penuh penekanan yang lambat namun pasti. Mobil sedan hitam itu akhirnya berhenti dengan sempurna tepat di depan pagar rumah minimalis milik keluarga Anaya.

Bima mematikan mesin mobil, lalu memutar tubuhnya menghadap Anaya sepenuhnya. "Batas sabar saya sudah mencapai final malam ini. Besok hari Senin, status kita di kantor mungkin masih sama. Tapi di luar kantor... saya gak akan membiarkan ada cowok moge atau atlet mana pun yang mencoba mendekati kamu lagi. Paham, Sekretaris Anaya?"

Anaya terpaku di tempatnya, menatap sepasang mata elang Bima yang kini nampak memancarkan keseriusan. Namun, mengingat track record Bima yang perfeksionis dan hobi menjahilinya selama bertahun-tahun, Anaya tidak langsung percaya begitu saja. Dia memilih untuk menepis keinginannya untuk memastikan lebih jauh situasi ini, menganggapnya sebagai bagian dari banyolan narsis sang bos demi menjatuhkan mentalnya.

"Ah... ini sudah larut, Pak. Saya pamit duluan ya, makasih sudah diantar," ujar Anaya buru-buru.

Anaya sama sekali tidak memberi celah kepada Bima untuk mencegahnya. Dengan gerakan cepat, dia langsung membuka pintu, melesat keluar dari mobil, dan berjalan cepat masuk ke halaman rumah tanpa menoleh ke belakang lagi.

Bima hanya duduk terdiam di kursi kemudi, menatap dan memperhatikan seluruh gerakan cepat Anaya yang tampak kelimpungan. Setelah melihat pintu rumah tertutup dan memastikan Anaya sudah aman di dalam, barulah seulas senyum tipis penuh arti terbit di bibirnya. Bima menyalakan kembali mesin sedan mewahnya, lalu melesat pergi membelah keheningan malam.

1
English Lesson
semangat 💪🏻
English Lesson
Bagus👍🏻
Mar lina
Kirain mau kiss
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
Mar lina
Di tunggu
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!