Pada masa putih abu-abu. Jeviza menjalin cinta dengan Keandra, tetapi baru 1 tahun pacaran, hubungan keduanya harus berakhir karena sebuah kesalah pahaman. Lalu keduanya dipertemukan lagi setelah 2 tahun berpisah, lebih gilanya, Jevi dan Kean berada di satu rumah. Seatap dengan mantan itu lah yang terjadi setelah perpisahan.
Mantan tapi masih cemburu, cinta tapi gengsi menjadi bumbu kehidupan keduanya setelah berada di satu rumah yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya
Angin malam ini terasa semakin dingin menyapu area kaki Jeviza yang tidak tertutup apa-apa. Gadis itu duduk dengan masih memakai daster selutut juga kemeja coklat muda Keandra. Di sebelahnya, duduk Keandra yang diam menunggu Jeviza berbicara. Keandra terlampau sabar menghadapi Jeviza yang masih membiarkannya bahkan setelah 10 menit keduanya duduk di taman belakang rumah.
"Lo nggak mau jelasin apa-apa ke gue, Je?" pertanyaan Keandra yang sedari dia tahan akhirnya terlontar begitu saja.
Menunggu Jeviza berbicara sama saja dengan menambah kesabarannya, dan Keandra sudah tidak sabar lagi menunggu diamnya gadis itu.
"Lo menghindar, menjauh, hilang, dan biarin gue pergi gitu aja." Keandra melirik pada wajah tenang Jeviza di sebelahnya.
Meski terlihat sangat tenang, tetapi dalam hati Jeviza sudah berdebar dengan sangat hebat, yang selalu Jeviza takutkan kini terbukti.
Keandra meminta penjelasan darinya, padahal Keandra sendiri tahu penyebab perginya ia, dan Jeviza harus kembali membuka luka lama yang selama ini coba ia hilangkan.
Jeviza beranikan diri menoleh pada Keandra yang ternyata masih setia menatapnya, lalu mengalihkan pandangan matanya, rasanya Jeviza tidak akan bisa berucap dengan pandangan mata mereka bertemu seperti tadi. Jeviza tidak akan mampu.
"Lo bohongi gue."
Satu kalimat cukup singkat itu berhasil membuat sorot mata Keandra berubah tajam. Keningnya sedikit berkerut, namun belum menjawab, seakan membiarkan Jeviza untuk berbicara.
Terdengar helaan napas yang cukup dalam, Jeviza tersenyum tipis, ingatan tentang dua tahun lalu, dimana ia melihat sendiri Keandra berpelukan dengan Agnes terulang dengan jelas di otaknya. Rasa sakit dan kecewa itu muncul lagi, tetapi sebisa mungkin, Jeviza tidak ingin membuang air matanya di depan Keandra.
"Gue liat lo pelukan sama kak Agnes."
Mata Keandra menyipit, menatap tidak percaya pada Jeviza, tetapi belum mengatakan apa-apa selain mencoba mengingat apa saja yang dilakukan olehnya pada saat hari kelulusannya itu.
Memejamkan matanya sejenak, Keandra baru ingat, jika sebelum Jeviza menghilang, Agnes memang menemuinya di kelas, bahkan gadis itu menyatakan cintanya pada hari itu, ternyata Jeviza melihatnya dan salah paham.
"Gue salah," ujar Keandra pada akhirnya. Mau bagaimana pun waktu yang sudah berlalu tidak bisa lagi diulang lagi, tetapi setidaknya ada kejelasan. "Yang lo liat memang benar, Je. Tapi-gue sama sekali nggak balas pelukan Agnes, dia minta itu sebagai salam perpisahan."
Kini Jeviza yang diliputi rasa penasaran, tetapi juga kesal karena ia mendengar sendiri dari mulut Kean jika memang Keandra yang berpelukan dengan Agnes dua tahun lalu.
Meski sudah sangat jelas bukti yang ia lihat sendiri, tetapi dalam hati Jeviza masih berharap jika yang dilihatnya hanya suatu kesalah pahaman.
"Dia nyatai perasaannya, tapi Je, harusnya lo udah tahu jawaban gue ke dia akan seperti apa, gue pikir lo percaya dengan hubungan ini."
Jeviza mengepalkan tangannya, kenapa ia jadi merasa bersalah? Tetapi tetap saja Keandra dipeluk oleh Agnes, mau itu tidak dibalas sekalipun olehnya, tubuh mereka sudah sedekat itu.
"Gue minta maaf, karena lo harus liat itu." Keandra menelan ludahnya susah, ia kembali melirik Jeviza yang diam seribu bahasa di sebelahnya. Terdengar kekehan dari Keandra. "Gue sendiri nggak nyangka dia akan senekat itu, but-itu murni salam perpisahan sebelum dia pergi."
Jeviza kebingungan sendiri setelah mendapat penjelasan dari Keandra, ia merasa bersalah, tetapi masih ada perasaan kesal yang tidak tahu harus Jeviza ekspresikan seperti apa.
"Udah malam, ayo kita masuk," ajaknya tanpa meminta Jeviza untuk menjawab atau memberi penjelasan.
Harusnya Keandra juga menuntut penjelasan dari Jeviza setelah meninggalkannya begitu saja, membiarkan Keandra pergi ke kota orang dengan hubungan mereka yang tidak baik-baik saja pada waktu itu. Tetapi tanpa diminta penjelasan pun, kini Keandra paham alasan dibalik menjauhnya Jeviza dua tahun lalu, karena kesalah pahaman.
"Kak," lirih Jeviza saat keduanya tiba di depan kamar masing-masing.
"Nggak papa Je, gue ngerti kok," ujar Keandra seakan tahu isi pikiran Jeviza.
Jeviza menatap Keandra sesaat, lalu membuka pintu kamarnya dan segera masuk ke dalam.
Sampai di kamar, Jeviza baru bisa bernapas dengan normal, ia memejamkan matanya dengan perasaan lega, seakan beban berat yang selama ini ia pikul terlepas begitu saja.
"Jadi, gue salah paham bukan sih ini?"
"Kak Kean nggak pernah khianati gue?"
Jeviza menghempaskan tubuhnya, mengingat dari cara Keandra tadi menjelaskan padanya, sangat tenang dan bahkan tidak ada keraguan sama sekali. Seakan apa yang dikatakan oleh Keandra murni apa yang terjadi, bukan karangan seseorang yang ketahuan telah berkhianat.
Jeviza menggigit bibir bagian dalamnya, ia jadi berpikir kenapa duli tidak menanyakan langsung pada Keandra, Jeviza pergi begitu saja sebelum bertanya apa-apa pada orang yang bersangkutan langsung. Jeviza sangat pengecut karena pergi dari masalah yang sebenarnya ia buat sendiri.
"Ya ampun, malu banget Je, harusnya lo nggak kesetanan gitu waktu itu." Jeviza menutup wajahnya.
Ia malu sendiri mengingat dulu langsung menutup akses apa saja yang menghubungkan dirinya dan Keandra. Lebih malu lagi Jeviza nangis berhari-hari karena tindakannya itu. Padahal jika dipikir masalahnya tidak akan berlarut jika Jeviza menanyakan langsung pada Keandra, atau mungkin mereka sampai detik ini bisa saja masih menjalin hubungan. Mengingat itu, Jeviza jadi kepikiran untuk mencari tahu bagaimana kehidupan Keandra dua tahun ini tanpa dirinya.
Ia mengambil ponsel miliknya, mencari akun yang sudah dia blok dua tahun lalu. Mata Jeviza menyipit melihat salah satu akun media sosial milik Keandra yang baru saja memposting kegiatan cowok itu, ada banyak sekali like dan komen di sana, tetapi ada salah satu komentar yang membuat dada Jeviza berdebar dengan sangat hebat.
"Kak Agnes?"
bomloppp deh😍
tahan ke,,, tahan!!!